
Arzu berdiri didepan pintu apartemennya, ia menatap pintu seakan tanganya enggan untuk membuka pintu. Arzu membuka pintu perlahan, ia meletakkan kopernya saat melihat Monik sedang sibuk didapur. Monik tidak menyadari jika Arzu kini sudah berada di belakangnya, Arzu tersenyum dan langsung memeluk Monik dari belakang. Monik sangat terkejut dan langsung membalikan tubuhnya menghadap Arzu dengan tangan masih memegang kain lap.
"Kak Arzu" ucap Monik tak percaya, Arzu memang tidak memberi kabar jika ia akan pulang.
"Kamu terkejut?" tanya Arzu menatap Monik, ia sangat merindukan wajah manis Monik.
"Kenapa tidak bilang jika kakak ingin pulang hari ini? Monik kira besok kakak pulang" ujar Monik mengerucutkan bibirnya karena sangat kesal pada Arzu, tapi Ia juga bahagia karena bisa melihat wajah Arzu yang selama ini ia rindukan. Mereka memang sangat jarang komunikasi karena Arzu memang sangat sibuk.
"Kejutan sayang" ucap Arzu mengecup bibir Monik sekilas. Monik menatap mata Arzu yang begitu sayu dan terdapat lingkaran hitam disana.
"Apa kakak tidak tidur? Kenapa kakak kurusan huh? Padahal cuma dua minggu kakak disana, apa kakak tidak makan dengan teratur?" omel Monik meneliti tubuh Arzu yang sedikit kurusan, Arzu tersenyum mendengar ocehan Monik.
"Aku terus memikirkan kamu" ucap Arzu yang langsung melumat bibir Monik untuk menyalurkan rasa rindunya. Monik yang terkejut sedikit tersentak, ia mendorong tubuh Arzu agar melepaskan ciumanya.
"Ada apa? Apa kamu tidak merindukanku Hah?" ucap Arzu menatap Monik penuh tanda tanya. Monik menunjuk kearah belakang Arzu dengan menggunakan matanya, Arzu mengernyitkan keningnya karna tidak mengerti dan langsung melihat kearah belakang.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau mama disini?" bisik Arzu menatap Monik yang sedang tertawa, Arzu yang kesal pun langsung mengecup bibir Monik dan berhasil membuat Monik terdiam.
__ADS_1
"Apa kamu sudah tidak melihat mama lagi Arzu? Kamu mengabaikan mama sekarang hah?" ucap Inna menarik telinga Arzu, Arzu mengaduh kesakitan dan meminta ampun pada Inna.
"Arzu tidak tahu mama disini" ucap Arzu memeluk Inna dan mencium pipi Inna dengan lembut, Monik tersenyum melihat kemesraan Arzu dan Inna.
"Ya sudah kalau begitu kamu mandi, setelah itu kita makan sama-sama ya?" ucap Inna mengelus wajah Arzu, Arzu mengangguk pelan dan langsung beranjak menuju kamarnya. Melihat kepergian Arzu, Monik kembali mengingat tentang anaknya yang sudah tidak ada. Ia bingung bagaimana menceritakan semuanya pada Arzu, Monik sangat takut jika Arzu akan marah.
"Jangan khawatir, mama akan selalu ada buat kamu sayang" ucap Inna yang bisa mengerti apa yang sedang Monik pikirkan, Monik meneteskan air matanya dan langsung memeluk Inna.
"Monik takut Ma, Monik takut kak Arzu marah dan membeci Monik" ujar Monik memeluk Inna begitu erat, hatinya dilanda gelisah karena rasa takutnya yang begitu besar.
"Mama yakin Arzu tidak akan marah, percayalah" ucap Inna menenangkan Monik, ia menghapus air mata Monik dengan lembut.
***
Malam hari Monik terus mondar-mandir karena ia sangat takut untuk mengatakan yang sebenarnya pada Arzu, Monik sangat khawatir jika Arzu akan benar-benar marah padanya karena tidak bisa menjaga anaknya dengan baik.
CEKLEK
__ADS_1
Monik menatap kearah pintu dengan sangat tegang, ia melihat Arzu tersenyum menatap Monik. Arzu berjalan menghampiri Monik yang diam mematung.
"Ada apa? Kenapa kamu sangat pucat, apa perut kamu sakit lagi?" tanya Arzu begitu panik, Monik yang mendengar itu langsung memeluk Arzu dan menangis sejadi-jadinya.
"Kenapa kamu menangis? Katakan jika kamu sakit" ucap Arzu melerai pelukan Monik dan menangkup wajah Monik.
"Anak kita sudah tidak ada kak.. Hiks" ucap Monik yang berhasil membuat Arzu bagaikan tersambar petir. Arzu melepaskan tangannya dari wajah Monik, ia menatap Monik seakan tak percaya dengan ucapan Monik. Ia kembali mengingat perkataan Vivian padanya tadi siang, jadi Vivian sama sekali tidak berbohong.
"Kenapa kamu menyembunyikan semuanya Monik? Kenapa orang lain yang terlebih dulu tahu dibandingkan aku sebagai suami kamu? Apa aku ini tidak berarti dimatamu?" ujar Arzu begitu kecewa karena Monik benar-benar menyembunyikan semuanya dari Arzu.
"Bukan seperti itu kak, Monik hanya takut kakak tidak akan pokus disana jika Monik mengatakan semuanya" ucap Monik kembali memeluk Arzu, namun Arzu melepaskan pelukan Monik dengan kasar.
"Jadi kamu lebih mementingkan pekerjaan aku Monik dibandingkan dengan kekhawatiran aku padamu? Apa kau tahu setiap hari aku terus memikirkan keadaan kamu karena perasaanku tidak pernah tenang, apa kau tahu itu Monik?" ujar Arzu dengan nada tinggi, Monik sangat terkejut mendengar bentakan Arzu. Ketakutannya benar-benar terjadi jika Arzu akan marah padanya. Monik menggelengkan kepalanya karena ia tidak pernah berpikir seperti apa yang Arzu katakan.
"Bukan seperti itu kak, Monik... "
"Sudah cukup, aku sudah tahu apa yang akan kamu katakan. Aku kecewa padamu Monik, aku benar-benar kecewa" ujar Arzu memotong ucapan Monik, Arzu langsung meninggalkan Monik dan membanting pintu dengan kuat. Monik menjatuhkan tubuhnya kelantai, semuanya benar-benar berantakan dan Arzu sangat marah padanya.
__ADS_1
"Maafkan Monik kak" ucap Monik menangis sambil memeluk kedua kakinya.
"Maafkan mama sayang, mama tidak bisa menjaga kamu" ucap Monik yang semakin terisak, ia terus mengutuk dirinya karena selalu bersikap ceroboh.