
Seluruh parkiran sudah dipenuhi dengan kendaraan roda empat berbagai brand. Suara musik begitu menggema memenuhi ruang aula sebuah hotel mewah. Para tamu undangan juga sudah memenuhi seluruh kursi yang sudah disediakan. Namun kedua pasangan berbahagia itu sama sekali belum menampakkan diri.
"Kak, apa paman dan tante belum juga selesai?" tanya Monik yang kini tengah memakan gado-gado.
"Sebentar lagi, mereka sedang bersiap. Nah, itu mereka," sahut Arzu sambil menunjuk kedua pengantin yang baru masuk sambil bergandengan tangan.
"Wah, mau juga seperti itu. Mereka sangat serasi!" seru Monik dengan mata berbinar hingga ia melupakan makanan yang ada di tangannya.
"Seperti kita," ucap Arzu mengecup pipi Monik, Monik sama sekali tak bergeming karena terlalu asik melihat pengantin.
"Kamu sangat cantik," bisik Rehan tepat ditelinga Mona, Mona yang mendengar itu langsung merona. Sangat beruntung wajahnya tertutup make up, jika tidak semua orang akan melihat semburat merah dipipinya.
"Jangan mengoda, jika orang lain dengar bagaimana?" protes Mona sambil mecubit perut Rehan. Rehan pun meringis menahan rasa sakit.
"Sakit sayang, biarkan saja mereka dengar. Kita sudah suami istri jadi tak ada yang larang," goda Rehan seraya merangkul pinggang Mona. Mona sangat terkejut dengan sikap Rehan yang ternyata sangat agresif.
"Ck, nyebelin," ketus Mona memalingkan wajahnya. Sedangakan Rehan tersenyum puas karena berhasil menggoda sang istri.
"Kak, lihat mereka benar-benar sangat serasi. Kita naik ya? Monik mau foto bareng, ayok." Ajak Monik yang langsung menarik tangan Arzu. Arzu hanya bisa menghela nafas dan mengikuti langkah Monik.
"Wah lihat pasangan kita sangat serasi, selamat ya paman dan tante cantik. Semoga kalian jadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Cepet nyusul, biar baby ada temannya," ucap Monik sambil mengelus perutnya. Mona yang mendengar itu langsung blushing, sedangkan Rehan tersenyum saat melihat ekspresi lucu wajah Mona.
"Tunggu saja, beberapa minggu kedepan kalian akan menerima kabar baik," ucap Rehan merangkul pinggang Mona dan mengecup pipi Mona. Mona yang diperlukan seperti itu sangat terkejut.
"Mas, malu dilihat mereka. Begini nih kalau nikah dengan orang tua," omel Mona karena kesal dengan sikap suaminya.
"Benar itu, kak Arzu juga seperti itu. Jangan-jangan mereka satu perguruan," tukas Monik yang berhasil mendapatkan tatapan tajam dari Arzu. Monik terkekeh saat melihat wajah garang Arzu, begitu pun dengan Rehan dan Mona.
"Ya, kami memang satu perguruan. Iya kan Arzu?" ujar Rehan pada Arzu.
__ADS_1
"Tidak, paman tidak cocok seperguruan denganku karena paman selalu terlambat dalam segala hal," sanggah Arzu merangkul pinggang Monik.
"Lihat suami mu itu, tak pernah mau kalah," ucap Rehan tertawa lepas.
"Sudahlah, selamat atas pernikahanmu Paman semoga kalian selalu bahagia," ucap Arzu menyalami Rehan.
"Terima kasih, kalian juga harus selalu bahagia dan tak ada lagi penghalang kebahagian kalian," balas Rehan menatap Arzu dan Monik bergantian.
"Terima kasih Paman," ucap Monik, lalu ia memeluk Mona dengan lembut.
Setelah selesai berfoto, Arzu membawa Monik turun dari pelaminan. Arzu terus berjalan membawa Monik keluar dari hotel.
"Kak, kita mau kemana?" tanya Monik saat tersadar saat ini mereka sudah berada diparkiran.
"Ikut saja, kita akan liburan." Sahut Arzu sambil membuka pintu mobil untuk Monik. Monik mengernyit bingung, namun ia tetap mengikuti perintah suaminya untuk masuk kedalam mobil.
"Kak, bagaiamana dengan ibu dan Moli?" tanya Monik memutar tubuhnya menghadap Arzu.
"Aku akan selalu membahagiakan kamu sayang," ucap Arzu begitu tulus. Mata biru miliknya bergerak untuk melirik Monik yang terlelap.
***
Monik membuka matanya karena merasa kedinginan. Namun, ia sangat terkejut saat melihat kamar yang begitu asing untuknya. Ia langsung bangun dari tempat tidur, lagi-lagi Monik dibuat kaget saat pakaiannya sudah berganti dengan piama.
"Kak...." teriak Monik saat tak menemukan keberadaan Arzu. Monik berjalan dengan ragu menuju pintu yang terbuka dengan gorden yang melambai tertiup angin. Monik memeluk tubuhnya sendiri saat hawa dingin begitu menusuk hingga ke tulang. Namun Monik tak menyerah, ia membuka gorden dan matanya membulat sempurna saat melihat pemandangan yang begitu indah. Sebuah pintu yang langsung menghubungkan kamar dengan kolam renang dan juga menampakkan hutan hijau yang begitu asri.
"Cantik sekali," ucap Monik begitu kagum. Ia terus bergerak tanpa memperdulikan suhu yang begitu dingin hingga membuat wajahnya memucat. Monik terus menyusuri tempat itu untuk melihat pemandangan lebih dekat sambil memeluk tubuhnya. Monik memejamkan mata dan menghirup udara segar. Namun ia kembali membuka matanya saat merasakan sesuatu yang melingkar diperutnya.
__ADS_1
"Ini sangat dingin sayang," ucap Arzu yang kini sudah memeluk Monik dari belakang, Monik tersenyum dan membalikan tubuhnya.
"Terimakasih, Monik suka tempatnya." Monik menatap manik mata Arzu, lalu ia sedikit berjijit dan mengecup bibir Arzu. Arzu menarik pinggang Monik dan langsung ******* bibir ranum Monik dengan lembut. Monik sama sekali tak menolak, ia memejamkan matanya dengan kedua tangan yang berpegang erat dibaju Arzu. Kicauan burung bagaikan alunan musik hingga membuat kedua insan itu semakin terhanyut dalam suasana dingin.
Arzu melepaskan ciumannya, ia menatap Monik yang kini sedikit tersenggal akibat ulahnya. Arzu merapikan rambut Monik yang menutupi sebagian wajahnya.
"Kau hanya milikku, selalu miliki Monik," ucap Arzu kembali mengecup bibir Monik begitu penuh penekanan. Arzu mengangkat tubuh Monik dan berjalan menuju gazebo, ia menidurkan Monik disana.
"Kak..." panggil Monik saat Arzu mulai mencium lekuk lehernya dan menjamah tubuh indah Monik.
"Kak, ini masih pagi. Monik juga sangat lapar," lanjut Monik yang berhasil membuat Arzu menghentikan aksinya.
"Maafkan aku, aku terbawa suasana. Kita mandi, setelah itu makan." ajak Arzu kembali menggendong Monik dan masuk kedalam kamar.
"Ini dimana?" tanya Monik.
"Bogor," sahut Arzu seraya menurunkan Monik di atas ranjang.
"Bogor? Kenapa kita ke sini? Kakak tidak kerja?" tanya Monik menatap Arzu heran.
"Honeymoon yang kedua," jawab Arzu membuka bajunya, Monik yang melihat itu langsung terkejut.
"Kakak mau apa!!" seru Monik mulai panik.
"Mandi, memangnya kamu kira mau apa?" ucap Arzu yang langsung beranjak menuju kamar mandi. Monik mengerucutkan bibirnya, ia sangat kesal karena Arzu berhasil mengerjainya lagi.
"Kak, Monik juga mau mandi," teriak Monik. Lalu tak lama Arzu menongolkan kepalanya di pintu kamar mandi.
"Masuk lah, tapi jangan harap kamu bisa selamat dan keluar cepat." Ancam Arzu sambil mengedipkan matanya.
__ADS_1
"Ih dasar mesum!! Monik tidak jadi mandi, sana mandi aja sendiri," gerutu Monik sambil melempar bantal kearah Arzu, namun dengan cepat Arzu menutup pintu.
"Uh, untung suami. Kalau bukan udah aku usir." lanjutnya dengan nada kesal, lalu ia pun membereskan tempat tidur selagi menunggu Arzu keluar.