
Suara riuh anak-anak memecah keheningan di ruangan aula sekolah. Cella dan Arzu terlihat memasuki ruangan. Mereka terlihat serasi dengan pakaian cople. Mereka memang sudah berjanji pada anak-anak untuk hadir.
Arzu membawa Cella duduk di kursi lebih depan. Ia ingin melihat putra putrinya dengan jelas nanti.
"Mereka pasti gugup," ucap Cella sedikit cemas. Arzu tersenyum mendengarnya.
"Jangan khawatir, mereka memiliki jiwa pemberani, seperti bundanya." Cella menatap Arzu. Ia mencubit pelan perut suaminya. Arzu menarik tangan Cella dan menggenggamnya erat.
"Tidak akan pernah aku lepaskan," ucap Arzu mengecup punggung tangan Cella. Cella tersenyum malu. Untung saja belum terlalu ramai. Bisa-bisa Cella di buat malu oleh Arzu.
Kini ruangan sudah terlihat penuh. Semua orang sudah tidak sabar untuk menunggu acara dimulai. Menyaksikan putra dan putri mereka di atas pentas. Begitu pun dengan Cella. Ia sudah tidak sabar untuk menunggu penampilan putri kembar dan putra kesayangannya. Cella tidak tahu apa yang akan mereka tampilkan.
Seorang MC pun memulai acara. Setiap rangkaian acara berjalan dengan baik, mulai dari kata sambutan dan berapa ucapan dari perwakilan orang tua. Hingga acara yang di tunggu pun tiba. Semua lampu dengan sengaja dimatikan. Hingga suara alunan piano terdengar begitu merdu, perlahan tirai terbuka. Satu per satu lampu menyala. Menampakkan seorang gadis kecil sedang bermain piano dan satu lagi berdiri menghadap para penonton, menggenggam erat mikrofon.
Cella mengenali mereka. Ya, mereka adalah Syila dan Qila. Syila terlihat serius bermain piano, sedangkan Qila mulai menyanyikan sebuah lagu yang berjudul Bunda yang dipopulerkan oleh Potret.
Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Kupandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda
Pikirku pun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku
Kata mereka diriku selalu dimanja
Kata mereka diriku selalu ditimang
Nada-nada yang indah
Selalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya
Tangan halus dan suci
__ADS_1
Telah mengangkat tubuh ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan
Kata mereka diriku selalu dimanja
Kata mereka diriku selalu ditimang
Oh, bunda ada dan tiada
Dirimu 'kan selalu ada di dalam hatiku
Pikirku pun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku
Kata mereka diriku selalu dimanja
Kata mereka diriku selalu ditimang
Oh, bunda ada dan tiada
Dirimu 'kan selalu ada di dalam hatiku
"Lagu ini, khusus kami berikan untuk Bunda. Bunda yang selalu ada di saat kami butuh. Bunda yang rela mengorbankan kebahagiaannya untuk kami. I love you, Bunda." Qila tersenyum menatap Cella yang masih berdiri.
"Juga untuk mama yang sudah tenang di surga, kami merindukan mama. I miss you mom," ujar Syila. Keduanya terlihat menjatuhkan air mata. Cella yang melihat itu bergegas naik ke atas panggung. Ia tidak bisa menahan dirinya. Saat ini ia hanya ingin memeluk mereka.
"I love you to, sayang," ucap Cella memeluk kedua putrinya. Hingga Cella kembali di kejutkan oleh suara seseorang. Ya, Althan kini ikut bergabung di atas pentas. Ia membacakan sebuah puisi yang berjudul Ibunda Tercinta yang di tulis oleh seseorang yang tidak ingin namanya disebut. Mungkin pencipta puisi ini adalah orang yang luar biasa. Hingga ia tidak ingin banyak yang mengenalnya. Hanya tuhan yang tahu siapa pemilik pena itu.
Bunda..
Engkau pecahkan kegelisahan yang tetap membuatku jatuh
Engkau bagai penompang raga yang mulai runtuh
Engkau berikan semua yang kami butuhkan
Tapi kami, seketika kami butuhpun kami belum menyadari
__ADS_1
Bunda..
Kau buang waktumu tanpa penat untuk kami
kau buat kasih sayangmu jadi rutinitas yang sering kami lupakan
Engkau berikan tanpa kami minta
Engkau gugurkan siraman kasih yang ga ada tandingnya
Bunda..
Andai perasaan ini sepeka hatimu, setegas kasihmu
Semampu dan tetap tersedia untuk kami anakmu
Kan kurubah segala yang jadi kesalmu
Kan kucoba merangkuh rasa yang sering kau berikan kepadaku
Diatas langit yang tak terbatas
Kau topangkan kasihmu tanpa mulai lelah
Terimakasih bunda..
Terimakasih sudah menjagaku hingga sementara ini
Memberikanku cinta tanpa putus asa
Dengan cintamu, saya merasakan kemampuan yang sungguh luar biasa
Cella tidak bisa berkata-kata. Anak-anak yang selama ini ia besarkan benar-benar membuatnya bangga. Bahkan semua orang yang melihat itu begitu kagum dan merasa bangga. Arzu tersenyum puas melihat mereka diatas pentas. Di sana ia bisa melihat kasih sayang seorang ibu dengan nyata. Semua orang memberikan tepuk tangan yang begitu meriah.
"Bunda," panggil Althan setelah membaca puisi. Ia menghampiri Cella, memberikan pelukan hangat.
"Terima kasih, sayang." ucap Cella mencium pipi ketiga putra dan putri- putrinya.
Hingga dipenghujung acara, para juri memberikan pengumuman. Bahwa Qila dan Syila mendapatkan juara pertama dan Althan juara ke dua dalam pembacaan puisi. Arzu dan Cella merasa bangga memiliki mereka yang begitu cerdas.
Syila, Qila dan Althan terlihat senang mendapatkan hadiah. Mereka melihat kedua orang tuanya. Arzu dan Cella memberikan senyuman bangga pada mereka.
"Mereka seperti kamu," ucap Cella. Arzu tersenyum, mengecup pucuk kepala Cella.
"Jika tidak ada kamu, mereka tidak akan sampai disini. Terima kasih sayang, mereka benar. Kamu adalah sosok yang paling berharga. Aku suami yang begitu beruntung, memilikimu. Aku mencintaimu."
__ADS_1
Kekuatan cinta tidak akan bisa dikalahkan oleh apapun. Sekuat apapun kekuatan dari luar, akan tetap kalah dengan ketulusan cintamu. CELLA. Aku akan terus mencintaimu. Hingga akhir hayatku. Suamimu. ARZU.
SEKIAN....