ARZU

ARZU
Epilog


__ADS_3

Suara riuh anak-anak memecah keheningan di ruangan aula sekolah. Cella dan Arzu terlihat memasuki ruangan. Mereka terlihat serasi dengan pakaian cople. Mereka memang sudah berjanji pada anak-anak untuk hadir.


Arzu membawa Cella duduk di kursi lebih depan. Ia ingin melihat putra putrinya dengan jelas nanti.


"Mereka pasti gugup," ucap Cella sedikit cemas. Arzu tersenyum mendengarnya.


"Jangan khawatir, mereka memiliki jiwa pemberani, seperti bundanya." Cella menatap Arzu. Ia mencubit pelan perut suaminya. Arzu menarik tangan Cella dan menggenggamnya erat.


"Tidak akan pernah aku lepaskan," ucap Arzu mengecup punggung tangan Cella. Cella tersenyum malu. Untung saja belum terlalu ramai. Bisa-bisa Cella di buat malu oleh Arzu.


Kini ruangan sudah terlihat penuh. Semua orang sudah tidak sabar untuk menunggu acara dimulai. Menyaksikan putra dan putri mereka di atas pentas. Begitu pun dengan Cella. Ia sudah tidak sabar untuk menunggu penampilan putri kembar dan putra kesayangannya. Cella tidak tahu apa yang akan mereka tampilkan.


Seorang MC pun memulai acara. Setiap rangkaian acara berjalan dengan baik, mulai dari kata sambutan dan berapa ucapan dari perwakilan orang tua. Hingga acara yang di tunggu pun tiba. Semua lampu dengan sengaja dimatikan. Hingga suara alunan piano terdengar begitu merdu, perlahan tirai terbuka. Satu per satu lampu menyala. Menampakkan seorang gadis kecil sedang bermain piano dan satu lagi berdiri menghadap para penonton, menggenggam erat mikrofon.


Cella mengenali mereka. Ya, mereka adalah Syila dan Qila. Syila terlihat serius bermain piano, sedangkan Qila mulai menyanyikan sebuah lagu yang berjudul Bunda yang dipopulerkan oleh Potret.


Kubuka album biru


Penuh debu dan usang


Kupandangi semua gambar diri


Kecil bersih belum ternoda


Pikirku pun melayang


Dahulu penuh kasih


Teringat semua cerita orang


Tentang riwayatku


Kata mereka diriku selalu dimanja


Kata mereka diriku selalu ditimang


Nada-nada yang indah


Selalu terurai darinya


Tangisan nakal dari bibirku


Takkan jadi deritanya


Tangan halus dan suci

__ADS_1


Telah mengangkat tubuh ini


Jiwa raga dan seluruh hidup


Rela dia berikan


Kata mereka diriku selalu dimanja


Kata mereka diriku selalu ditimang


Oh, bunda ada dan tiada


Dirimu 'kan selalu ada di dalam hatiku


Pikirku pun melayang


Dahulu penuh kasih


Teringat semua cerita orang


Tentang riwayatku


Kata mereka diriku selalu dimanja


Kata mereka diriku selalu ditimang


Oh, bunda ada dan tiada


Dirimu 'kan selalu ada di dalam hatiku


"Lagu ini, khusus kami berikan untuk Bunda. Bunda yang selalu ada di saat kami butuh. Bunda yang rela mengorbankan kebahagiaannya untuk kami. I love you, Bunda." Qila tersenyum menatap Cella yang masih berdiri.


"Juga untuk mama yang sudah tenang di surga, kami merindukan mama. I miss you mom," ujar Syila. Keduanya terlihat menjatuhkan air mata. Cella yang melihat itu bergegas naik ke atas panggung. Ia tidak bisa menahan dirinya. Saat ini ia hanya ingin memeluk mereka.


"I love you to, sayang," ucap Cella memeluk kedua putrinya. Hingga Cella kembali di kejutkan oleh suara seseorang. Ya, Althan kini ikut bergabung di atas pentas. Ia membacakan sebuah puisi yang berjudul Ibunda Tercinta yang di tulis oleh seseorang yang tidak ingin namanya disebut. Mungkin pencipta puisi ini adalah orang yang luar biasa. Hingga ia tidak ingin banyak yang mengenalnya. Hanya tuhan yang tahu siapa pemilik pena itu.


Bunda..


Engkau pecahkan kegelisahan yang tetap membuatku jatuh


Engkau bagai penompang raga yang mulai runtuh


Engkau berikan semua yang kami butuhkan


Tapi kami, seketika kami butuhpun kami belum menyadari

__ADS_1


Bunda..


Kau buang waktumu tanpa penat untuk kami


kau buat kasih sayangmu jadi rutinitas yang sering kami lupakan


Engkau berikan tanpa kami minta


Engkau gugurkan siraman kasih yang ga ada tandingnya


Bunda..


Andai perasaan ini sepeka hatimu, setegas kasihmu


Semampu dan tetap tersedia untuk kami anakmu


Kan kurubah segala yang jadi kesalmu


Kan kucoba merangkuh rasa yang sering kau berikan kepadaku


Diatas langit yang tak terbatas


Kau topangkan kasihmu tanpa mulai lelah


Terimakasih bunda..


Terimakasih sudah menjagaku hingga sementara ini


Memberikanku cinta tanpa putus asa


Dengan cintamu, saya merasakan kemampuan yang sungguh luar biasa


Cella tidak bisa berkata-kata. Anak-anak yang selama ini ia besarkan benar-benar membuatnya bangga. Bahkan semua orang yang melihat itu begitu kagum dan merasa bangga. Arzu tersenyum puas melihat mereka diatas pentas. Di sana ia bisa melihat kasih sayang seorang ibu dengan nyata. Semua orang memberikan tepuk tangan yang begitu meriah.


"Bunda," panggil Althan setelah membaca puisi. Ia menghampiri Cella, memberikan pelukan hangat.


"Terima kasih, sayang." ucap Cella mencium pipi ketiga putra dan putri- putrinya.


Hingga dipenghujung acara, para juri memberikan pengumuman. Bahwa Qila dan Syila mendapatkan juara pertama dan Althan juara ke dua dalam pembacaan puisi. Arzu dan Cella merasa bangga memiliki mereka yang begitu cerdas.


Syila, Qila dan Althan terlihat senang mendapatkan hadiah. Mereka melihat kedua orang tuanya. Arzu dan Cella memberikan senyuman bangga pada mereka.


"Mereka seperti kamu," ucap Cella. Arzu tersenyum, mengecup pucuk kepala Cella.


"Jika tidak ada kamu, mereka tidak akan sampai disini. Terima kasih sayang, mereka benar. Kamu adalah sosok yang paling berharga. Aku suami yang begitu beruntung, memilikimu. Aku mencintaimu."

__ADS_1


Kekuatan cinta tidak akan bisa dikalahkan oleh apapun. Sekuat apapun kekuatan dari luar, akan tetap kalah dengan ketulusan cintamu. CELLA. Aku akan terus mencintaimu. Hingga akhir hayatku. Suamimu. ARZU.


SEKIAN....


__ADS_2