
"Sayang, bunda minta maaf." ucap Cella mengambil Qila yang masih menangis dalam dekapan Arzu. Sedangakan Syila sudah berhenti menangis.
"Jangan menangis lagi," ucap Cella menyeka air mata Qila. Ia mengecup kedua mata Qila dengan lembut.
"Baby dengan Ibu?" tanya Arzu yang di jawab anggukkan oleh Cella.
"Malam ini biarkan mereka tidur dengan kita ya mas?" pinta Cella. Bagaimana pun rasa rindu pada kedua putrinya begitu besar. Walaupun keduanya begitu manja, namun Cella begitu menyayangi mereka.
"Terserah kamu sayang," ucap Arzu mengecup pucuk kepala Syila.
"Mamama... " oceh Qila dengan hidung dan mata yang memerah karena menangis.
"Apa sayang?" tanya Cella mencium bibir mungil Qila.
"Tututu... " ucap Qila sambil memajukan bibirnya hendak menangis.
"Susu? Bukannya tadi sudah minum?" tanya Cella menyeka sisa air mata Qila. Qila semakin memajukan bibirnya dan kembali menangis. Cella tersenyum sambil memeluk Qila penuh kasih sayang.
"Iya, kita buat ya susunya. Jangan menangis lagi, bunda buatkan susu untuk Qila. Syila mau susu juga?"
Syila menatap Cella lekat, lalu mengangguk pelan.
"Ayok, sudah jangan menangis." ajak Cella menggendong Qila dan membawanya ke dapur. Sedangakan Arzu bersama Syila hanya mengikuti langkah Cella dari belakang. Buk Yeni yang melihat semua itu hanya bisa tersenyum. Ketakutan dalam dirinya mendadak hilang saat melihat kepedulian Cella pada cucu-cucu perempuannya. Awalnya ia takut Cella akan lebih menyayangi putranya dibanding si kembar. Namun hati wanita itu selembut kapas. Tetap memiliki kasih sayang yang sama.
"Kamu sangat beruntung memiliki ibu seperti bunda kamu sayang, jadilah anak yang berbakti." ujar buk Yeni mengecup kening baby boy.
***
"Althan Rachez Wilson, kembalikan buku kakak... " seorang gadis cantik berteriak keras dari kamarnya. Ia menutup pintu dengan kasar dan berjalan tergesa menuju kamar adiknya. Sedangakan pemilik nama malah bersembunyi di balik tempat tidur sambil memeluk sebuah buku.
"Keluar Al, jika tidak kakak akan mencubitmu... " teriak gadis itu semakin kesal.
"Stop it! You are very noisy," seru seseorang diambang pintu sambil berkacak pinggang.
"Lihat lah adikmu, dia begitu nakal. Mencuri buku, mengambil semua barang milikku, sangat menjengkelkan." omel gadis berkucir kuda itu sambil melipat kedua tangannya.
"Dia masih kecil, lagian dia juga adikmu. Al, keluarlah. Jangan membuat kakakmu marah," ujar gadis dengan wajah yang begitu mirip dengan gadis yang kini sedang kesal. Namun wajah gadis itu lebih hangat dibandingkan dengan si gadis cerewet dengan wajah datarnya.
"Al, kenapa bersembunyi? Ayok," ucapnya tersenyum saat menemukan sang adik di balik tempat tidur. Sang adik menunduk saat melihat wajah sang kakak.
__ADS_1
"Tidak perlu takut, ada kakak disini. Ayok, berikan buku itu pada kak Qila. Sebelum dia marah," ujar Syila mengusap kepala adiknya. Al, sang adik menggeleng pelan.
"Al, kamu bisa ambil buku kakak. Jangan ambil buku kak Qila ya? Ayok," ujar Syila berusaha membujuk adiknya. Namun Al kembali menggeleng.
"Ada apa ini?" tanya seseorang yang baru saja masuk. Syila langsung menoleh, ia tersenyum saat melihat sosok yang sangat ia rindukan. Wanita berpakaian putih kini berdiri diambang pintu.
Berbeda dengan Qila, ia langsung memasang wajah datar. Tatapannya begitu tajam. Ia terlihat mendengus kesal dan langsung beranjak pergi.
"Qila.." panggil Cella saat melihat Qila melewatinya tanpa sedikitpun bicara. Hatinya terenyuh saat melihat sikap dingin Qila padanya. Ia sendiri bingung dengan perubahan sikap Qila beberapa hari ini. Biasanya Qila selalu bersikap manja, namun sudah hampir satu minggu ia selalu bersikap dingin hingga Cella bingung harus berbuat apa.
Usia mereka kini sudah memasuki 8 tahun, dan anak bungsunya baru menginjak 6 tahun.
"Bunda," sapa Qila menghampiri Cella. Cella tersenyum, ia mencium kening Syila dengan lembut. Lalu pandangannya beralih pada sang putra yang sedang menunduk.
"Al, kamu mengerjai kakak lagi?" tanya Cella lembut.
"Al cuma mau ajak kakak main, tapi kakak tidak pernah mau lagi main dengan Al. Kakak jahat," ujar Althan mulai meneteskan buliran bening. Cella menghela napas panjang, ia menghampiri Al dan memeluknya erat.
"Mungkin kakak lelah sayang, kakak sedang sibuk belajar untuk ujian. Jangan ganggu kakak ya?" ucap Cella mengusap kepala Althan.
"Bunda, Al cuma mau main dengan kak Qila," tangisan Althan pun semakin pecah. Cella mengusap punggung putranya dengan lembut, ia sendiri bingung dengan perubahan sifat Qila.
"Al tenang aja, ada kak Syila kok disini. Ayok main, kasian bunda pasti capek baru pulang kerja." ujar Syila. Dibandingkan dengan Qila, Syila memang lebih dewasa dan bijaksana.
"Iya bunda," ucap Althan, ia mencium pipi Cella dengan lembut.
"Syila, jaga adek dengan baik." titah Cella pada Syila. Syila pun mengangguk antusias. Lalu keduanya pun langsung beranjak keluar. Cella menatap punggung kedua anaknya begitu sendu. Ia memijat keningnya karena merasa denyutan di kepalanya semakin menjadi.
"Ada apa dengan Qila?" ucap Cella, ia menopang keningnya yang masih terasa pusing. Setelah merasa lebih baikan, Cella kembali beranjak menuju kamarnya.
Malam hari Cella terbangun, ia merasa haus.
"Ternyata habis," ucapnya saat melihat gelas sudah kosong. Ia turun dari tempat tidur dan berjalan keluar. Saat ia melewati kamar dua bidadarinya, ia sedikit terkejut karena lampu kamar masih hidup. Cella memutar knop pintu perlahan, sedikit demi sedikit pintu pun terbuka. Cella bisa melihat Qila tengah membelakanginya sambil memegang sesuatu yang tak bisa Cella lihat dengan jelas.
"Mama, Qila mau ketemu mama. Kenapa mama pergi meninggalkan Qila dan kak Syila? Kenapa mama membiarkan wanita lain merebut papa? Qila mau mama kembali,"
Cella sangat terkejut, ia menutup mulutnya agar suara keterkejutannya tak terdengar oleh Qila. Selama ini Cella dan Arzu masih menyembunyikan kebenaran tentang Monik hingga kedua putrinya benar-benar dewasa. Namun tak ada yang tahu bagaimana Qila mengetahui semuanya.
"Bagaimana Qila bisa tahu?" ucap Cella pelan, ia menutup pintu kamar perlahan. Air matanya lolos begitu saja, kini ia tahu alasan dari berubahnya sikap Qila padanya dan juga Althan.
__ADS_1
"Bunda tidak pernah merebut papa dari mama kamu sayang," ucap Cella menyentuh dadanya yang terasa sakit.
Cella mengurungkan niatnya untuk mengambil air minum. Ia kembali ke kamar dengan langkah gontai. Pikirannya saat ini benar benar berkecamuk.
Sesampainya di kamar, Cella bersandar sikepala ranjang. Ia menatap wajah suaminya yang tengah terlelap.
"Apa itu kamu mas? Tidak mungkin, aku tahu kamu tidak akan memberi tahu tanpa diriku. Siapa sebenarnya yang sudah memberitahu semua ini tanpa sepengetahuanku?" gumam Cella. Ia memeluk kedua kakinya, perasaannya kini tak menentu. Hanya satu yang ia takutkan, kebencian yang akan ia dapatkan dari kedua putrinya yang sangat ia sayangi. Ia tidak sanggup jika mereka membencinya. Cella menangis tanpa suara.
***
Pagi hari semua orang sudah duduk rapi di meja makan. Sesekali terlihat Cella melirik kedua putrinya yang tengah makan.
"Sayang, hari ini kamu tidak masuk kerja?" tanya Arzu yang berhasil membuat Cella terkejut.
"Ah iya mas, hari ini tidak ada jadwal." jawab Cella.
"Ada apa?" tanya Arzu menyentuh lengan Cella. Cella tersenyum sambil menggeleng.
"Pa, besok weekend Qila mau nginap di rumah nenek. Tante Moli mau ajak Qila jalan-jalan, boleh ya?" tanya Qila pada Arzu.
"Boleh, tapi ingat. Jangan menyusahkan nenek dan tante kamu ok?" ujar Arzu yang langsung di jawab anggukkan oleh Qila.
"Syila, kamu juga harus ikut." tungkas Qila menatap kembaranya.
"Al juga mau ikut!" seru Althan begitu semangat.
"Tidak, kamu tidak boleh ikut." ketus Qila. Cella dan Arzu sangat terkejut mendengar ucapan Qila. Althan sangat sedih, ia menunduk lesu.
"Biarkan adik kamu ikut sayang, biasanya juga kalian selalu bersama-sama." ujar Cella tersenyum ramah. Namun tidak dengan Qila, ia memasang wajah kesalnya.
"Tidak, kalau Qila bilang tidak ya tidak!" bentak Qila bangun dari duduknya sambil melempar sendok hingga menimbulkan dentingan kuat.
"Qila! Jaga sikap kamu!" seru Arzu memberikan tetapan tajam pada Qila. Cella menahan tangan Arzu agar tak melanjutkan emosinya.
Qila menatap Cella tajam, terlihat air matanya sudah membendung.
"Ini semua salah bunda, bunda sudah merebut papa dari mama dan sekarang bunda juga merebut papa dari kami. Qila benci bunda dan juga dia!" ujar Qila menunjuk Althan. Lalu ia pun langsung beranjak pergi.
Hati Cella begitu sakit saat mendengar bentakan Qila dan perkataan yang membuat hatinya tertusuk. Cella bangun dari duduknya, ia berjalan perlahan menuju kamarnya tanpa memperdulikan panggilan Arzu.
__ADS_1
Cella menutup pintu kamar, ia menangis pilu di balik pintu. Hatinya benar-benar sakit saat kembali mengingat ucapan Qila.
"Bunda tidak pernah melakukan itu, bunda sayang kalian." ucap Cella menjatuhkan dirinya dilantai. Ia tak pernah menyangka jika hal ini akan terjadi, lebih baik ia kehilangan nyawanya di bandingkan kehilangan kedua putrinya. Cella terus menangis, membayangkan bagaimana tatapan Qila yang penuh dengan kebencian. Sikap manja yang dulu Qila miliki kini sirna entah kemana.