ARZU

ARZU
Chapter 48


__ADS_3

Di rumah yang lumayan besar terlihat seorang wanita duduk dengan gelisah.


"Apa lagi yang kamu pikirkan, apa kamu sama sekali tidak mempercayai Arzu? Bukankah sejak kecil kamu sangat tahu, bahkan kamu orang pertama yang tahu tentang kisah cinta Arzu. Lalu kenapa sekarang kamu begitu ragu padanya?" ujar seorang pria mengelus punggung wanita itu.


"Bukan itu, aku hanya bingung. Aku malu untuk bertemu dengan mama Inna. Bagaimana pun Vivian adalah adikku, aku tidak tahu harus percaya pada siapa?" ucap wanita itu, ia adalah Elya.


"Tanyakan pada hatimu, aku tahu mereka berdua adalah adikmu dan itu berarti adikku juga. Tapi kau harus memebela yang benar, kau tidak bisa melindungi yang salah hanya kerena status adikmu" ucap Rijal sang suami. Elya menatap Rijal dengan air mata yang sudah berlinang.


"Bersiap lah, kita harus pergi ke acara itu. Kamu juga harus menemui keluarga kamu, mereka pasti sangat merindukanmu. Jangan menjauhi mereka, kamu akan membuat dirimu sendiri menderita. Aku tahu saat ini kamu sangat merindukan mama, mama sangat menyayangimu" ucap Rijal yang di jawab anggukkan oleh Elya.


"Mama pasti akan sangat merah padaku, bahkan saat mama sakit aku sama sekali tak menjenguknya. Aku anak durhaka, aku sudah terlalu larut dalam masalah ini" ucap Elya menumpahkan tangisannya di pelukan Rijal.


"Mama tidak akan marah, dia sangat baik. Dia pasti akan mengerti apa yang sedang kamu rasakan, sudah jangan menangis. Bersiap lah, kita bisa terlambat. Kita juga harus menitipkan Tasya dan Kenzo kerumah bunda" ucap Rijal yang di jawab anggukkan oleh Elya. Lalu Elya langsung beranjak menuju ruang ganti untuk bersiap.


***


Malam ini Monik terlihat sangat cantik dengan gaun hitam yang begitu cocok dengan tubuhnya. Arzu tersenyum dan berjalan mendekati Monik, ia memeluk Monik dari belakang.



"Kamu sangat cantik sayang" ucap Arzu mencium ceruk leher Monik. Monik menatap Arzu di cermin dan tersenyum lebar.


"Kakak juga sangat tampan" ucap Monik mengelus wajah Arzu dengan lembut.


"Kita berangkat sekarang, sebentar lagi acara akan dimulai" ucap Arzu, Monik mengangguk dan langsung membalikan tubuhnya. Malam ini adalah malam perayaan anniversary kampus yang ke-59, semua keluarga Willson sebagai pemilik resmi kampus pun harus berhadir.


"Pakai ini" ucap Arzu memasang topeng cantik pada Monik saat mereka sudah sampai di kampus.



"Kenapa harus pakai topeng?" tanya Monik menatap Arzu .


"Ini tema yang dibuat oleh mahasiswa, kita harus menghargainya" ucap Arzu, Monik mengangguk pelan karena ia tidak pernah tahu tentang masalah ini. Selama kuliah ia hanya pokus belajar dan tidak sempat berorganisasi karena harus membantu ibunya. Bahkan Monik sampai sekarang sama sekali tidak mempunyai teman dekat, kecuali Elsha adik iparnya.


"Ayok, kita hampir terlambat" ucap Arzu merangkul pinggang Monik, lalu keduanya langsung masuk kedalam aula kampus yang sudah dihias dengan begitu indah.


"Wah, sangat indah. Apa setiap tahun seperti ini?" tanya Monik yang berhasil membuat Arzu bingung.

__ADS_1


"Apa selama kuliah kamu tidak pernah ikut acara ini?" tanya Arzu yang di jawab gelengan oleh Monik.


"Monik cuma bisa mendengar cerita orang-orang, kakak tahu sendiri kan Monik bukan orang berada. Monik tidak punya pakaian bagus untuk ikut acara seperti ini, jadi Monik lebih memilih diam dirumah dan membantu ibu" ucap Monik sambil tersenyum, Arzu yang mendengar itu merasa bangga bisa memiliki istri seperti Monik. Tidak ada nada mengeluh pada setiap ucapan Monik.


"Mulai sekarang, kamu akan meraskan semua yang tak pernah kamu lakukan" ucap Arzu merangkul pinggang Monik dengan sangat erat.


Monik tersenyum saat melihat keluarga Willson sudah hadir dan duduk di kursi paling depan. Monik menghampiri Elsha dan Inna, sedangkan Arzu bergabung dengan Samuel dan beberapa tamu undangan.


"Hai sayang" ucap Inna bangun dari duduknya dan langsung memeluk Monik.


"Mama sangat cantik" ucap Monik menatap Inna penuh kagum, Inna yang mendengar itu pun tertawa renyah.


"Kamu lebih cantik sayang, lihat pasti gaun ini Arzu yang belikan?" ucap Inna, Monik mengangguk karena memang benar Arzu lah yang memberikan gaun itu tanpa sepengetahuan Monik.


"Kak, aku gimana? Cantik?" tanya Elsha dengan penuh semangat.


"Cantik, kamu tetap cantik pakai apapun El" ucap Monik yang berhasil membuat Elsha merona.


"Duduk sayang" ucap Inna menarik Monik untuk duduk di sebelahnya.


"Ma, Monik sedikit tidak enak badan" ucap Monik saat meraskan kepalanya sangat pusing.


"Tadi Monik baik-baik aja Ma, tapi gak tau kenapa kepala Monik tiba-tiba sakit" ucap Monik memijat keningnya dan membuka topengnya.


"Ya sudah, biar mama bilang pada Arzu untuk membawa kamu pulang" ucap Inna yang hendak bangun, namum dengan cepat ditahan oleh Monik.


"Gak usah Ma, acaranya sudah di mulai. Lagian Kak Arzu harus naik ke panggung" ucap Monik, Inna kembali duduk dan merangkul Monik.


"Apa kamu yakin?" tanya Inna yang dijawab anggukan oleh Monik.


"Pusingnya udah sedikit hilang Ma" ucap Monik, Inna mengelus punggung Monik dengan lembut.


"Jika sakit katakan pada mama" ucap Inna yang di jawab anggukkan oleh Monik. Lalu mereka kembali pokus menyaksikan penampilan mahasiswa di panggung.


Beberapa jam kemudian akhirnya semua acara selesai, kini tinggal acara penutup dan hiburan. Namun tiba tiba saja semua lampu padam dan membuat semua orang panik.


"Tes tes, emm kepada tuan Arzu dan nyonya Monik diharapkan naik kepunggung untuk berdansa" ucap seseorang seiring dengan hidupnya lampu. Monik dan Arzu sangat terkejut saat mendengar hal itu, yang membuat mereka semakin terkejut yaitu orang yang tadi bicara adalah Elsha.

__ADS_1


"Ayo dong naik, semua sudah menunggu untuk melihat persembahan dari kalian" ucap Elsha yang di ikuti suara riuh penonton yang setuju dengan ucapan Elsha.


"Ayo naik sana" ucap Inna menyuruh Monik untuk naik, namun Monik menggelengkan kepalanya.


"Monik malu" ucap Monik menatap Inna lekat.


"Tidak perlu malu" ucap Inna menepuk punggung tangan Monik.


"Ratuku, ikutlah denganku" ucap Arzu yang tiba-tiba muncul di hadapan Monik sambil mengulurkan tangan. Monik menatap Arzu tak percaya, lalu ia memandang Inna. Inna mengangguk, Monik pun menghela napas dan menerima uluran tangan Arzu.


Monik terlihat sangat gugup karena saat ini ia sudah berada di atas panggung, Ia semakin gugup saat semua mata tertuju padanya dan Arzu.


"Kak, Monik malu. Lagian Monik tidak bisa berdansa" ucap Monik menatap Arzu penuh harap.


"Ikuti saja gerakanku, ini tidak sulit" ucap Arzu, lalu tak lama suara musik pun mulai terdengar, Arzu menarik pinggang Monik agar tak ada jarang diatara mereka. Semua mahasiswi yang melihat itu begitu heboh, ada yang menatap Arzu dan Monik kagum dan bahkan sangat banyak wanita yang iri pada posisi Monik saya ini. Bagaimana tidak, dari banyaknya wanita cantik dan kaya raya yang mengejarnya. Arzu lebih memilih gadis yang terlahir dari keluarga biasa seperti Monik.


"Kau sangat cantik" ucap Arzu disela dansanya, Monik sama sekali tidak menghiraukan ucapan Arzu karena saat ini ia masih sangat gugup.


Seorang wanita cantik tersenyum senang melihat hal itu, ia memeluk tubuhnya sendiri dengan air mata yang sudah terbendung di matanya.


Aku sangat bahagia melihat kamu bahagia, aku harap kamu akan selalu bahagia. Aku mencintaimu, cinta memang tak harus memiliki. Batin wanita itu.


"Kak, bisa kita berhenti. Kepala Monik sakit, Monik juga huek... " Monik menutup mulutnya dan mendorong tubuh Arzu, ia turun dari panggung dan berlari kearah luar.


"Monik" ucap Arzu yang hendak menyusul Monik, namun tanganya di cekal oleh seseorang.


"Kau tidak bisa pergi kak, masih ada tayangan yang tak boleh kau lewatkan" ucap seorang wanita yang memakai baju merah dengan topeng yang senada.


Lalu tak lama sebuah video yang berisikan foto mesra Arzu dengan wanita itu terputar dan di saksikan oleh bayak orang. Semua yang menonton tayangan itu pun saling berbisik tak percaya, baru saja semua orang menyaksikan adegan romantis pemilik kampus itu dengan istrinya. Namun semua orang di landa kebingungan saat melihat beberapa foto adegan mesra Arzu dengan wanita lain yang tak bukan adalah Vivian.


"Hai semuanya, maaf mungkin hal ini membuat kalian terkejut. Tapi apa yang kalian lihat itu benar apa andanya, aku dan kak Arzu memang sudah lama menjalin hubungan"


"Cukup Vivian, hentikan omong kosongmu" teriak Arzu dengan wajah yang sudah merah padam.


"Kenapa? Kamu masih ingin menyembunyikan semuanya? Aku juga masih punya bukti kuat untuk hubungan kami" ucap Vivian, lalu tak lama terlihat sebuah foto hasil USG terpampang di layar monitor. Semua orang menutup mulutnya tak percaya.


Inna yang melihat itu pun tak habis pikir dengan apa yang di lakukan oleh Vivian, bahkan wanita itu rela merendahkan dirinya demi mendapatkan Arzu.

__ADS_1


"Hey kau wanita murahan, turun dari panggung sekarang" seru seseorang yang berhasil mendapatkan perhatian semua orang.


__ADS_2