
Suasana malam semakin mencekam. Tak ada sepatah kata pun yang keluar. Semua orang hanya saling menatap. Gerald menggenggam tangan Cella dengan erat. Cella yang sedari tadi manatap Arzu menoleh pada suaminya.
"I'ts ok." ucap Gerald. Cella menghela napas gusar. Ada rasa sakit di hatinya saat melihat wajah kecewa dari Arzu. Dulu saat Arzu menikah dengan Monik, Cella juga merasakan kekecewaan yang cukup mendalam. Mungkin sama seperti yang sedang Arzu rasakan saat ini.
"Tidak perlu menatapku seperti itu. Aku baik-baik saja. Gerald, bisa aku pinjam istrimu sebentar? Hanya sebentar." ucap Arzu menatap Gerald.
Cella menatap Gerald, Gerald tersenyum dan mengangguk.
"Jangan telalu lama, aku bisa cemburu." ucap Gerald menatap Arzu. Arzu mengangguk. Ia bangun dari duduknya dan berjalan keluar rumah.
"Apa yang ingin kamu sampaikan Arzu?" tanya Cella memeluk dirinya sendiri. Cuaca begitu dingin hingga menusuk tulang dan sendi-sendinya.
"Tidak banyak yang ingin aku katakan. Aku hanya ingin berterimakasih. Terimakasih sudah mencintaiku hingga tahap ini, semoga kamu selalu bahagia." ucap Arzu menatap Cella.
"Sekarang aku tahu bagaimana perasaanmu. Maaf atas semua rasa sakit yang pernah aku berikan padamu. Besok aku akan langsung pulang, maaf aku tidak bisa menghadiri acara pernikahanmu. Aku harap kamu mengerti."
"Oh iya satu lagi, jika ada waktu. Pulanglah, mereka juga pasti akan merindukanmu."
Arzu tersenyum menatap Cella. Sedangkan Cella masih terdiam membisu. Sulit sekali rasanya mulut terbuka, hanya untuk mengatakan kata 'ya'.
"Aku mencintaimu." ucap Arzu menarik tengkuk Cella dan memberikan kecupan hangat. Cella sangat terkejut, tubuhnya menegang seketika.
"Masuklah, disini sangat dingin. Aku ingin jalan-jalan sebentar." ucap Arzu meninggalkan Cella yang masih mematung. Setelah kepergian Arzu, kaki Cella mendadak lemas. Ia bersandar di dinding. Air matanya kembali menetes.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Kenapa kau harus datang di waktu yang tidak tepat Arzu, kenapa? Aku masih mencintaimu, sangat mencintaimu." ujar Cella terduduk di lantai. Hatinya begitu sakit, sakit dan kecewa. Ia kecewa karena semuanya sudah terlambat. Kini dirinya sudah menyandang status istri. Ia tak mungkin menyakiti suaminya dan harus mengubur perasaan itu dalam-dalam.
***
Arzu menatap jalan yang begitu dipenuhi pejalan kaki. Malam semakin larut, namun masih banyak manusia yang berlalu lalang. Hembusan napasnya mengeluarkan asap. Suhu dingin di negeri paman Sam ini berhasil membekukan hatinya. Setelah ini dia tidak tahu apakah akan mendapatkan cintanya lagi atau akan terus mempertahankan statusnya.
Arzu memasuki sebuah caffe, ia akan menghangatkan tubuhnya sebentar. Ia memesan secangkir kopi sambil menikmati pemandangan ramainya para pengunjung.
"Sorry sir, tonight is the 10th caffe celebration. We share this gift with every visitor. Hope you like it." ucap salah seorang karyawan Cafe.
"Oh sure, thank you so much." ucap Arzu. Ia menerima gift itu dengan senang hati. Sebuah gantungan kunci yang begitu lucu. Arzu tersenyum, mungkin dia akan memberikannya pada seseorang.
Setelah merasa tubuhnya menghangat, Arzu berencana untuk langsung pulang. Besok pagi ia akan langsung pulang ke Indonesia. Perjalanan yang cukup jauh, jadi ia harus istirahat.
__ADS_1
Sesampainya di mansion. Arzu menaiki anak tangga untuk memasuki kamarnya. Namun tiba tiba seseorang menahannya.
"Bisa bicara sebentar?" ucap Gerald. Ya, Gerald lah yang menahannya. Arzu menatap Gerald lekat.
"Ikut aku sebentar." ucap Gerald berjalan mendahului Arzu. Arzu pun mengikuti langkah Gerald. Kini mereka sudah berada di balkon dapur. Gerald berdiri membelakangi Arzu dengan kedua tangan dimasukkan kedalam saku.
"Apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Arzu menatap punggung Gerald. Gerald tersenyum dan membalikkan tubuhnya.
"Jadi tujuanmu kesini ingin merebutnya dariku?" tanya Gerald tersenyum getir. Ia berjalan mendekati Arzu.
"Tidak, aku hanya ingin memperjuangkan apa yang seharusnya aku perjuangkan. Tapi aku bukan orang bodoh, aku tidak akan merebut istri orang." ucap Arzu datar.
"Huh, syukur lah kalau kau sadar diri. Ingat, Cella hanya akan menjadi milikku. Sampai kapanpun." bisik Gerald tepat di telinga Arzu.
"Aku akan mengingat itu sampai kapanpun." ucap Arzu datar. Ia menepuk pundak Gerald dan beranjak pergi.
"Tunggu! Jika suatu hari nanti aku mencampakkan dirinya, apa kau masih akan menerimanya?" perkataan Gerald berhasil menghentikan langkah kaki Arzu. Arzu kembali berbalik.
"Apa maksudmu?" tanya Arzu menatap Gerald tajam. Gerald tersenyum dan kembali mendekati Arzu.
"Come on guys, ini zaman modern. Tidak cukup hanya satu wanita, aku menikahinya karena sebuah perjodohan. Dia sangat cantik dan menarik. Jadi aku setuju untuk menikahinya. Aku juga sangat penasaran dengannya jadi...
"Hah, jangan pura pura bodoh, kau tahu apa maksud ucapanku. Aku bukan tipe pria yang bisa bertahan pada satu wanita. Aku membutuhkannya tiga atau lebih wanita. Jadi kau tahu kan maksudku?" ujar Gerald. Arzu mengeratkan rahangnya. Ia tidak pernah menyangka jika suami dari wanita yang ia cintai itu seorang pria ********.
"Kau ingat, aku tidak akan pernah membiarkan kau menyakitinya. Aku akan menghabisimu jika itu terjadi." ancam Arzu menarik baju Gerald. Namun pria itu sama sekali tak menunjukkan rasa takut. Ia malah tersenyum dan menepis tangan Arzu.
"Kau tidak ada hak untuk mengancamku. Dia sudah menjadi milikku seutuhnya. Kau sama sekali tak ada hubungan dengannya. Bahkan aku bisa melakukan apapun padanya." ucap Gerald menepuk pipi Arzu.
"Termasuk mengambil kesuciannya dan setelah itu aku akan membuangnya." bisik Gerald tepat di telinga Arzu. Arzu yang terbawa emosi pun langsung melayangkan tinjauan tepat di wajah Gerald. Bukan hanya sekali, ia menghajar wajah Gerald hingga babak belur. Bahkan tangannya pun terlihat membiru.
"Aku akan menghabisimu brengsek!!" seru Arzu kembali melayangkan tinjauan.
"Hentikan! Apa yang kau lakukan?" teriak seseorang. Arzu menghentikan aksinya. Ia melihat Cella berlari kearah Gerald yang tersungkur di lantai.
"Kau keterlaluan Arzu! Kenapa memukulnya, apa yang kamu mau sebenarnya Huh!" bentak Cella membantu Gerald bangun.
"Dia pantas mendapatkannya! Dia pria brengsek yang hanya akan menyakitimu. Dia pria brengsek Cella!"
__ADS_1
Plak! Sebuah tamparan berhasil di dapatkan oleh Arzu. Ya, tangan lentik itu berhasil memberikan tanda merah dipipi Arzu.
"Kau yang brengsek Arzu. Kau menyakiti suamiku. Sekarang aku mulai membencimu Arzu. Aku membencimu!" teriak Cella kembali menampar pipi Arzu. Arzu tersenyum getir. Ia mengangguk sambil menatap Cella. Tangan gadis itu bergetar hebat. Arzu bisa melihat telapak tangan Cella memerah.
Arzu menarik tangan Cella. Pemilik tangan berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman Arzu. Namun Arzu memperkuat cengkramannya. Ia merogoh saku bajunya dan dan meletakkan benda yang sangat lucu itu di telapak tangan Cella.
"Obati tanganmu dan semoga kamu selalu bahagia. Aku tidak akan mengganggumu lagi." ucap Arzu menatap Cella begitu sendu. Cella memalingkan wajahnya. Arzu melepaskan tangan Cella dan langsung beranjak pergi.
Di ambang pintu, kedua orang tua Cella melihat semua kejadian itu. Arzu sedikit tekejut, namun ia kembali memormalkan ekspresinya.
"Om, tante. Terimakasih sudah mau menerima saya disini. Saya pamit dulu." ucap Arzu mencium tangan keduanya.
"Arzu pipimu?" tanya Juju.
"Saya tidak apa-apa tante. Saya pamit Assalamualaikum." ucap Arzu langsung beranjak pergi. Ia sama sekali tak menoleh kebelakang. Semua rencananya memang sudah berantakan.
Sedangakan Cella. Ia terduduk lesu melihat kepergian Arzu. Ia melihat benda yang ada di tangannya. Merah di telapak tangannya kembali mengingatkan betapa jahatnya ia, karena sudah melukai pria yang ia cintai. Bukan hanya melukai fisiknya, tapi juga hatinya.
Di dalam kamar Arzu mengambil tas ransel miliknya. Ia mulai beranjak pergi meninggalkan kamar. Namun langkah Arzu terhenti saat melihat Juju sudah berdiri di depan pintu.
"Setidaknya obati dulu wajah kamu Arzu." ucap Juju menyentuh pipi Arzu. Arzu sedikit meringis karena sentuhan itu memberikan efek perih.
"Ini tidak sesakit yang Arzu berikan pada putrimu. Arzu berhak mendapatkan ini semua. Tante tidak perlu khawatir, Arzu akan baik-baik saja." ucap Arzu tersenyum.
"Tapi Arzu..."
" Arzu pamit dulu tante, tolong sampaikan kata maaf untuk Cella." ucap Arzu yang langsung beranjak pergi.
Juju tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tidak mungkin menahan Arzu. Bisa dikatakan bahwa nasi sudah menjadi bubur. Tak ada yang bisa mengubah semuanya, kecuali sang maha pencipta yang mengatur skenario kehidupan.
Di balik jendela, Cella menatap kepergian Arzu dengan air mata yang berlinang. Penyesalan dan rasa bersalah kini menguasai hatinya.
'Maafkan aku Arzu, aku tidak bermaksud melukaimu. Apa sebenarnya alasan kamu memukulnya? Kenapa kamu melakukan hal bodoh seperti ini? Mungkin aku akan belajar untuk membencimu mulai sekarang.'
Cella menutup gorden dengan kasar. Ia berlari menuju kamar mandi untuk menumpahkan semua sesak didada nya.
Pria yang melihat semua itu tersenyum getir. Ia menyentuh wajahnya dan rahannya yang terasa remuk.
__ADS_1
Sedangakan di luar sana. Arzu membalikan tubuhnya dan menatap mansion itu dengan tatapan nanar.
"Mungkin ini memang jalan kita. Kita harus berjalan masing-masing Cella. Jika takdir menginginkan kita untuk bersatu, maka kita akan bersatu." ucap Arzu. Ia pun langsung beranjak pergi tanpa ragu. Tidak ada yang perlu ia sesali. Rasa sakit yang ia dapat, semua itu berawal dari dirinya sendiri. Ia pantas mendapatkannya. Setidaknya ia berhasil, berhasil karena sudah mengungkapkan perasaannya.