ARZU

ARZU
Chapter 8


__ADS_3

Arzu menyeka keringatnya yang mulai membasahi keningnya. Ia begitu serius dengan pasienya yang kini sedang ia tangani. Ya, saat ini ia sedang menjalankan operasi besar. Arzu sesekali memberi kode pada rekan kerjanya untuk membantunya. Satu jam lamanya Arzu berkutat dengan alat-alat operasi yang sangat mengerikan. Arzu menghela napasnya saat operasi selesai dan berjalan dengan lancar.


"Dokter keadaan pasien sudah membaik, kita akan memindahkan pasien keruang rawat inap." ucap salah seorang suster cantik.


"Baik." ucap Arzu datar sambil membuat masker yang menutupi wajah tampannya.


Arzu keluar dari ruang operasi bersama beberapa temannya. Ia melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya untuk istirahat sejenak karena satu jam lagi ia akan melakukan operasi lagi. Hari ini memang jadwal Arzu sangat padat.


Arzu merebahkan tubuhnya diatas sofa dan mulai memejamkan matanya. Lalu tak berapa lama seseorang mengetuk pintu.


"Masuk." ucap Arzu yang langsung bangkit dari tidurnya. Seorang wanita masuk kedalam ruangan Arzu. Arzu menaikkan sebelah alisnya saat melihat ternyata Monik lah yang datang.


"Maaf mengganggu, bisa kita bicara sebentar?" tanya Monik menatap Arzu. Arzu menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Duduk lah." ucap Arzu pada Monik. Monik Itu pun duduk berhadapan dengan Arzu.


"Ada apa?" tanya Arzu menatap Monik penuh tanda tanya.


"Emmm, tadi buk, eh maksudnya mama Inna meminta kita untuk makan siang bersama." ucap Monik gugup.


"Tapi aku ada jadwal operasi satu jam lagi. Jika mama ingin menunggu tidak jadi masalah." ucap Arzu yang dijawab anggukan oleh Monik.


"Saya akan tanyakan pada mama nanti." ucap Monik tersenyum. Monik memang sudah memanggil Inna dengan sebutan mama karena Inna yang meminta.


"Ya." ucap Arzu datar.


"Kalau begitu saya pamit dulu." ucap Monik hendak pergi, namun Arzu menahan tanganya. Monik menatap Arzu penuh tanda tanya.


"Bisa temani aku disini sebentar? Kepalaku sangat sakit." ucap Arzu.


"Tapi saya harus kabari mama dulu soal ini." ucap Monik.


"Mama akan mengerti." ucap Arzu menatap Monik penuh harap.


"Baik lah, tapi hanya sebentar." ucap Monik yang disambut senyuman oleh Arzu. Monik sangat menyukai jika Arzu tersenyum padanya. Itu adalah hal terlangka yang bisa Monik lihat.


Monik duduk diatas sofa dan meletakkan kacamatanya dimeja. Hari ini adalah tepat seminggu setelah Arzu melamar Monik. Monik sengaja meminta waktu satu bulan untuk mengenal Arzu lebih dekat, Arzu menyetujui permintaan Monik.


"Memangnya hari ini jadwal kakak penuh ya?" tanya Monik. Monik juga sudah merubah panggilanya pada Arzu.


"Ya, hari ini jadwal full sampai sore." ucap Arzu yang mulai merebahkan tubuhnya disofa dengan berbantalkan paha Monik. Arzu memejamkan matanya karena merasa sangat nyaman dengan posisinya saat ini.


"Kenapa kakak memilih jadi dokter?" tanya Monik sambil mengelus kepala Arzu.


"Hanya ingin membantu orang lain." ucap Arzu yang tetap memejamkan matanya.


"Tapi jadi seorang dokter akan sangat sibuk dan punya banyak waktu, bagaimana jika kakak nanti sudah menikah?" tanya Monik menatap lurus kedepan. Arzu yang mendengar ucapan Monik membuka matanya.

__ADS_1


"Aku akan berusaha untuk memberikan sisa waktuku untuk istri dan anak-anakku nanti." ucap Arzu yang berhsil membuat wajah Monik bersemu.


"Kak, jika sudah menikah nanti Monik tidak bisa menjadi istri yang baik bagaimana? Monik tidak bisa memasak masakan yang enak seperti ibu dan mama." ujar Monik menatap Arzu yang juga sedang menatapnya.


"Aku menikahimu untuk dijadikan istri Monik, bukan untuk menjadi pembantu." ucap Arzu yang berhasil membuat Monik tersenyum.


"Tapi saya... "


"Sudah aku katakan jangan menggunakan kata saya Monik, aku tidak menyukainya." ucap Arzu memotong ucapan Monik.


"Maaf. Tapi saya, eh maksudnya aku tidak terbiasa." ucap Monik sedikit gugup.


"Mulai sekarang biasakan." ucap Arzu kembali memejamkan matanya.


"Ya tuhan, apa aku benar-benar akan menikah dengan pangeran es?" ucap Monik dalam hati sambil menatap wajah Arzu.


"Tapi wajahnya begitu polos dan terlihat begitu tampan saat dia tertidur." ucap Monik dalam hati, tanpa ia sadari Arzu sudah membuka matanya.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Arzu yang berhasil membuat Monik terkejut.


"Ti-tidak ada." ucap Monik terbata karena masih terkejut.


"Apa aku tampan?" tanya Arzu yang kembali memejamkan matanya dan menyilangkan kedua tangan didadanya.


"Tidak, lebih tampan kak Arza." ucap Monik yang ingin tahu seperti apa reaksi Arzu.


"Baik lah, aku akan meminta kak Arza menggantikan kakak di depan penghulu nanti." ucap Monik begitu santai. Arzu yang mendengar itu langsung bangun dari tidurnya dan menatap Monik tajam.


"Benarkah? Apa kamu berani melakukan itu?" tanya Arzu.


"Kenapa tidak, kak Arza juga tampan." ucap Monik.


"Baik lah, menikahlah dengannya." ucap Arzu yang langsung meninggalkan Monik.


"Kakak mau kemana?" teriak Monik.


"Ingin mencari wanita cantik." ucap Arzu datar dan langsung keluar dari ruangan. Monik yang mendengar itu hanya tertawa kecil.


"Apa kau benar-benar mencintai aku kak? Aku sangat bingung kenapa kamu begitu ingin menikahiku." ucap Monik menatap pintu. Lalu pandangan Monik berlalih pada foto yang terletak diatas meja kerja Arzu. Monik bangkit dari tempat duduknya dan beranjak menuju kursi Arzu. Monik duduk dikursi empuk Arzu dan mengambil foto Arzu tanpa ekspresi.


"Dasar pangeran es." ucap Monik menatap foto Arzu. Monik menopang dagunya dengan tangan kirinya sambil menatap wajah Arzu. Namun lama kelamaan Monik merasa kantuk mulai menyerangnya. Monik terus menguap dan melihat jam masih menunjukan pukul sebelas. Monik meletakkan wajahnya diatas meja dan mulai memejamkan matanya.


***


"Dokter Arzu kita berhasil, operasinya berjalan dengan lancar." ucap seorang pria yang merupakan rekan kerja Arzu.


"Ya, terima kasih atas bantuannya dokter Arfan." ucap Arzu yang dijawab anggukan oleh dokter Arfan.

__ADS_1


"Kalau begitu saya pamit dulu." ucap Arzu yang langsung beranjak pergi.


"'Arzu tunggu sebentar." seru seseorang yang berhasil membuat Arzu menghentikan langkahnya. Arzu berbalik dan mendapatkan Cella menghampiri dirinya.


"Ada apa dokter Cella?" tanya Arzu datar.


"Ini undangan ulang tahunku, aku harap kamu datang." ucap Cella memberikan sebuah undangan pada Arzu. Arzu menerima undangan itu dari tangan Cella.


"Bawa juga tante dan yang lainnya." ucap Cella menatap wajah Arzu.


"Baik lah." ucap Arzu menatap undangan yang ia pegang.


"Aku permisi dulu." ucap Cella yang langsung beranjak pergi. Arzu hanya menatap punggung Cella yang semakin menjauh.


"Ada apa dengannya?" tanya Arzu yang melihat sikap Cella yang berbeda dari biasanya. Arzu tidak mengambil pusing akan hal itu dan langsung beranjak menuju ruangannya.


Arzu membuka pintu dan mendapatkan Monik yang tertidur dikursi dengan kepala bersandar di atas meja. Arzu menghampiri Monik dan menatap wajah polos Monik. Arzu tersenyum sambil menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Monik.


"Emmm..." Monik bergumam karena tidurnya terasa terganggu. Arzu mendekatkan wajahnya dengan wajah Monik hingga ia meraskan hembusan nafas Monik. Arzu mengecup bibir Monik dengan lembut.


"Hey bangun, mau sampai kapan kamu tidur?" ucap Arzu menepuk wajah Monik.


"Sebentar lagi buk, Monik ingin istirahat sebentar. Banyak sekali tugas dari kampus." ujar Monik tanpa membuka matanya. Arzu yang mendengar itu mengernyitkan keningnya.


"Monik, aku hitung sampai tiga jika kamu tidak bangun aku akan menciummu didepan umum." ujar Arzu ditelinga Monik, Monik yang mendengar ucapan Arzu langsung membuka matanya. Monik mengangkat kepalanya dan melihat kesekelilingnya. Ia baru tersadar jika ia saat ini masih berada diruangan Arzu.


"Apa suaraku mirip dengan ibumu?" tanya Arzu yang duduk diatas meja.


"Apa aku mengatakan sesuatu saat tidur?" tanya Monik begitu polos.


"Iya, kamu mengatakan jika kamu mencintaiku dan ingin cepat menikah denganku." ujar Arzu berbohong.


"Benarkah?" Seru Monik terkejut dan menutup mulutnya karena mempercayai ucapan Arzu.


"Maafkan aku, itu kebiasaanku saat tidur." ucap Monik merasa sangat malu.


"Tidak jadi masalah, jadi sekarang aku sudah tahu jika nanti kamu tidur bersamaku, aku tidak akan terkejut lagi." ujar Arzu membuat Monik terkejut. Ia tidak pernah membayangkan tidur dengan seorang pria.


"Apa kita harus tidur berdua?" tanya Monik yang berhasil membuat Arzu membelalakan matanya.


"Tidak, aku akan tidur dengan Elsha." ucap Arzu yang langsung beranjak keluar.


"Aku menunggumu dimobil." ucap Arzu diambang pintu.


"Tunggu." ucap Monik yang hendak menyusul Arzu, namun ia melupakan kacamatanya dan kembali masuk keruangan Arzu. Saat monik keluar dari ruangan Arzu ia tak sengaja menabrak seseorang.


BRUUKK...

__ADS_1


__ADS_2