
Semakin aku menghindar, perasaan itu semakin kuat mengikatku. Jujur, saat ini aku menyadari jika aku memang mencintainya. Monik adalah cinta pertamaku dan.. Cella? Apa salah jika aku jatuh cinta untuk yang kedua kalinya?
Mungkin ini semua karma. Sejak lama, aku selalu mengabaikan perasaan gadis itu. Pada akhirnya, aku sendiri yang terjebak dalam permainan ini. Aku mencintainya. Aku sadar, saat ini mungkin tuhan sedang menghukumku. Aku pantas mendapatkannya.
Suara tangisan kedua putriku membuyarkan semua lamunanku. Aku berjalan menuju box bayi dimana Syila dan Qilla berada.
"Ada apa sayang? Kenapa kalian menangis?" tanyaku menyetuh pipi kedua putriku. Bukannya diam, mereka semakin kencang menangis. Aku jadi bingung.
"Ini papa sayang, cup cup cup... Jangan nangis ya?" ucapku menggendong keduanya. Mereka sedikit tenang.
"Kalian haus?" tanyaku menidurkan keduanya diatas kasur. Ku kecup kening mereka bergantian.
"Tunggu sebentar sayang, papa buatkan kalian susu dulu." ucapku, namun jariku digenggam erat oleh Syila.
"Hey, ada apa sayang? Tidak rela ya papa pergi? Cuma sebentar sayang, papa tahu kalian haus." ucapku menoel hidungnya dengan gemas.
Namun aku sangat tekejut saat Syila kembali menangis. Sudah pasti Qilla juga ikut menangis.
"Arzu, kenapa mereka menangis?" Aku melihat kearah pintu. Ternyata mama, ia membawa dua botol susu.
"Sepertinya mereka haus Ma." ucapku mengelus dada kedua putriku. Cella selalu mengatakan jika mereka sangat senang saat dada mereka dielus lembut. Hah, aku kembali mengingatnya. Hari ini adalah hari keberangkatan dirinya. Aku akan belajar untuk mengikhlaskan dirinya. Mungkin benar, jika cinta itu tak harus memiliki. Sudah cukup dia menderita karena diriku. Aku akan bahagia jika dia bahagia.
"Sayang cucu nenek, haus ya?Ini sayang, nenek sudah buatkan kalian susu." ucap mama. Aku mengambil sebotol susu dan memberikannya pada Syila. Sedangakan mama manyuapi Qilla.
"Sepertinya mereka sangat haus. Lihat, begitu lahap." imbuh mama. Aku tersenyum dan mengangguk. Ku tatap kedua putriku. Hampir semuanya mewarisi wajah Monik. Aku sangat bahagia, karena bisa melihat wajah istriku dalam diri mereka. Aku merasa dirinya hadir kembali. Melalui malaikat kecil yang menjadi sumber kekuatanku.
"Cepat besar sayang." ucapku mengecup tangan Syila dan Qilla bergantian.
"Arzu, tadi tante Juju menghubungi mama. Mereka sudah sampai di sana. Mereka juga berpesan, agar kita bisa hadir saat pernikahan Cella."
Aku menatap mama lekat. Ku buang napas dalam-dalam.
__ADS_1
"Mungkin mama dan papa saja yang hadir. Arzu akan menjaga mereka disini." ucapku kembali menatap kedua putriku.
"Tidak Arzu, kamu juga harus hadir. Bagaimana pun, Cella adalah rekan kerja kamu. Biar mama yang menjaga mereka. Pergilah." ucap mama mengelus kepalaku.
"Akan Arzu pikiran ma." ucapku. Mama mengangguk.
Apa iya aku harus menyaksikan semuanya? Apa lagi ini, apa tuhan benar-benar ingin menghukumku? Huh, aku tidak ingin pergi kesana.
"Ma, Arzu kekamar sebentar. Titip mereka." ucapku mengecup kening mama. Lalu aku langsung beranjak menuju kamar ku.
"Monik, kau mengatakan jika dia adalah cinta sejatiku. Mungkin itu benar, karena sekarang aku menyadari. Aku mencintaimu juga mencintainya. Aku sendiri bingung dengan perasaanku. Jangan marah padaku Monik. Ini semua bukan keinginanku."
Aku menatap foto istriku. Dia tersenyum begitu manis. Wajahnya yang berseri membuat hatiku menghangat. Mungkin aku sangat merindukannya.
"Ck, kau selalu saja tersenyum. Bahkan kau tetap tersenyum saat aku sedih. Kau sangat jahat Monik."
"Dia akan menikah, akhir minggu ini. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin menghancurkan kebahagiaannya. Mungkin dia memang bukan jodohku. Aku harap kamu tidak memaksa ku lagi. Dia sudah bahagia dengan pilihannya. Aku juga ikut bahagia."
Aku tarik bibir ku sebisa mungkin. Karena itu sangat sulit. Tapi aku harus melakukannya. Bukankah aku sudah cukup bahagia? Aku masih memiliki dua malaikat kecil yang akan menemani hidupku.
Ku letakan kembali foto itu ditempat semula. Namun tak sengaja tanganku memyenggol sebuah benda. Hingga benda itu terjatuh.
Aku menatap benda itu dengan seksama. Ya, itu adalah buku yang Cella berikan beberapa hari yang lalu. Tapi apa itu?
Aku mengambil benda itu dan membuka halaman paling akhir. Aku mengernyit bingung saat melihat terdapat tulisan tangan Cella lumayan panjang.
Aku duduk ditepi ranjang, aku penasaran dengan isinya.
Hy Arzu. Maaf masih mengganggu kamu. Mungkin ini yang terakhir kalinya aku mengatakan, aku sangat mencintaimu. Aku juga selalu merindukanmu, setiap saat. Maaf. Mungkin ini adalah titik kesabaranku Arzu. Rasa cinta ini tak akan pernah bisa pudar. Tapi penantianku semakin retak. Aku tidak sanggup lagi harus memendam semuanya sendirian. Aku menyerah Arzu. Aku menyerah. Terimakasih sudah mengajarkan aku apa itu cinta sejati. Kamu adalah cinta pertamaku. Seperti orang bilang, mungkin akan sangat sulit melupakan kamu. Tapi aku akan berusaha melupakan kamu. Hahaha...memang terdengar konyol, tapi aku akan berusaha. Jadi jangan khawatir, tidak akan ada lagi gadis yang mengganggumu. Dia sudah pergi, pergi keujung dunia.
Arzu, aku selalu berharap kamu bisa bahagia selamanya. Karena melihat kamu bahagia, aku juga sangat bahagia. Jujur, awalnya memang sakit. Tapi lama kelamaan aku sadar. Cinta memang tak harus memiliki.
__ADS_1
Maaf Arzu. Aku mengaku, aku sudah menyerah. Tapi... Aku masih memberikan kesempatan. Tanyakan pada hatimu. Apakah sama sekali tidak ada aku Arzu? Jika ada. Tolong perjuangkan aku Arzu. Karena aku tidak akan mengulang untuk meminta. Aku sudah lelah. Aku ingin mengikuti jalan takdir yang sudah ditetapkan untukku.
Tolong jaga dan rawat si kembar dengan baik. Mungkin aku tidak akan pernah kembali ke Indonesia. Aku akan menetap dengan suamiku disini. Aku akan sangat merindukan mereka. Aku tetap mencintaimu Arzu. Aku mencintaimu.
I love you Arzu
Ku tutup buku ini dengan perasan yang berkecamuk. Apa maksudnya? Apa dia akan menerimaku jika aku memperjuangkannya? Apa dia benar-benar akan menerimaku? Lalu bagaimana dengan pernikahannya?
"Kejar dia Arzu, sebelum terlambat." ucap seseorang yang berhasil membuatku terkejut. Aku langsung melihat kesumber suara, ternyata itu kak Elya.
"Kak, itu tidak mungkin." ucapku menatapnya lekat. Kak Elya tersenyum dan berjalan mendekatiku.
"Tidak ada yang tidak mungkin Arzu. Oh iya, ada yang ingin bicara sama kamu." ucap kak Elya aku menatapnya bingung. Lalu seseorang muncul didepan pintu. Aku sangat terkejut, kenapa dia ada disini? Apa tujuannya datang kesini?
***
"Satu minggu sebelum Monik pergi. Dia pernah datang kepadaku. Dia berpesan agar aku memastikan kau bahagia. Dia juga mengatakan sesuatu yang penting." ujarnya. Dia adalah Rangga. Sahabat kecil Monik.
"Mengatakan apa?" tanyaku bingung. Apa yang sebenarnya Monik katakan. Kenapa dia tidak mengatakan apapun padaku.
"Sebenarnya sudah lama Monik mengetahui jika dokter Cella, atau mantan majikannya itu mencintai kamu. Yang tepatnya beberapa minggu setelah pernikahan kalian. Tapi Monik tidak menanggapi semua itu, dia mengira dokter Cella akan melupakan kamu karena kalian sudah menikah. Tapi semua itu salah. Monik menyadari setiap tatapan Cella pada dirimu. Dia sadar, wanita itu masih mencintai suaminya.
Monik ingin menceritakan ini padamu, hanya saja dia tidak memiliki keberanian. Karena dia tahu, dirimu tak pernah mau membahas orang lain ketika kalian bersama. Jadi intinya, Monik memintaku untuk menyatukan dirimu dengan dokter Cella.
Kau tahu, pendonor darah Monik kala itu adalah Cella. Cella tahu jika golongan darahnya sama dengan Monik. Karena saat kecil dulu. Dia juga pernah mendonorkan darah untuk Monik. Dulu Monik pernah mengalami kecelakaan. Dia sengaja menyembunyikan semuanya. Dia tidak ingin kau menganggap dirinya hanya cari perhatian. Dia hanya berniat untuk membantu penyembuhan Monik. Tapi tuhan berkata lain, Monik pergi untuk selamanya. Dan saat itu, kau juga sempat menyalahkan dirinya bukan? Dia begitu tulus padamu Arzu. Bahkan aku sangat terkejut ketika mengetahui semuanya."
Jelasnya panjang lebar. Aku masih berusaha untuk mencerna ucapan Rangga.
"Bagaimana kau bisa tahu semuanya?" tanyaku menatapnya lekat.
"Aku kenal Monik dari kecil. Untuk masalah Cella, sejak Monik mengatakan semuanya padaku. Aku mulai mencari tahu tentang dirinya. Dia memang benar-benar mencintai dirimu Arzu. Terlebih lagi semua ucapanya ketika di pemakaman Monik. Dia begitu terpukul atas sikapmu padanya. Kau menyalahkan kematian Monik padanya."
__ADS_1
Aku sangat terkejut. Aku kembali mengingat saat aku dan Elsha meninggalkan Cella sendirian. Memang benar, aku pernah menyalahkan semua yang terjadi padanya. Tapi itu tidak lama, aku kembali sadar. Semua itu sudah takdir.
Akhhh... Kenapa jadi seperti ini? Saat aku ingin melepaskannya. Kenapa semuanya baru terungkap. Mungkin saatnya untukku berjuang. Berjuang untuk mendapatkan dirinya kembali. Aku akan memperjuangkannya. Aku akan menjemputnya pulang. Tunggu aku Cella. Tunggu aku. Aku akan memperbaiki semuanya.