
Monik terlihat gelisah, ia sama sekali tidak bisa tidur. Beberapa kali ia merubah posisi tidurnya tapi hasilnya tetap sama matanya enggan untuk terpejam.
"Ck, kenapa gak bisa tidur sih? apa kak Arzu baik-baik aja ya?" ucap Monik bangkit dari tempat tidur, ia berjalan keluar kamar dan duduk di sofa. Monik melihat jam dinding masih menunjukkan pukul sepuluh, itu artinya dua jam lagi Arzu baru pulang.
Monik menyalakan tv karena merasa bosan, namun itu sama sekali tidak mengobati rasa bosan dan kegelisahan hatinya. Monik terus menekan remot tv dan mengganti chanel, tidak ada siaran tv satu pun yang menarik. Namun lama kelamaan kantuk pun mulai menyerang Monik, beberapa kali ia menguap dan akhirnya terlelap di atas sofa.
Pintu terbuka dan menampakkan Arzu dengan penampilan yang lusuh. Satu harian penuh ia berkutat di rumah sakit bermainkan alat-alat rumah sakit yang begitu mengerikan. Langkah Arzu terhenti saat melihat Monik tertidur di atas sofa, Arzu tersenyum dan menghampiri Monik yang begitu pulas tertidur. Arzu mematikan tv yang masih menyala, ia mencium kening Monik dengan lembut.
"Kenapa tertidur di sini?" tanya Arzu saat melihat Monik mulai mengerjapkan matanya.
"Emmm...." Monik menarik tubuhnya untuk merenggangkan ototnya yang kaku.
"Kakak capek?" tanya Monik dengan suara paraunya.
"Tadi capek, tapi pas lihat wajah kamu capek nya nguap begitu saja" ucap Arzu mengelus pipi Monik, Monik tersenyum lebar saat mendengar ucapan Arzu.
"Ya sudah, kita kekamar. Kakak keliatan sangat lelah" ucap Monik bangun dari tidurnya, Arzu tersenyum dan mengangguk tanda setuju.
***
"Kak" ucap Monik menyandarkan kepalanya di dada Arzu, tangan lentiknya terus bermain di dagu Arzu yang di tumbuhi bulu-bulu halus.
"Ada apa?" tanya Arzu merangkul Monik dan menarik Monik lebih merapat dengan dirinya.
__ADS_1
"Monik kangen kakak" ucap Monik menenggelamkan wajahnya di leher Arzu, ia menghirup aroma sabun yang begitu menyegarkan hidung Monik. Arzu yang mendengar itu hanya tersenyum, ia mencium pucuk kepala Monik berkali-kali.
"Kak"
"Hmmm... "
"Bagaimana kabar Elsha? Kapan dia akan pulang? Monik kangen Elsha" ucap Monik sambil memejamkan matanya.
"Minggu depan dia pulang, keadaannya mulai membaik. Dia sudah ceria seperti dulu lagi" ucap Arzu ikut memejamkan matanya.
"syukurlah, Monik senang deh dengernya" ucap Monik semakin mengeratkan pelukannya, lalu tak ada lagi pembicaraan karena keduanya sudah terlelap kealam mimpi.
***
"Dokter, kondisi pasien sudah siap untuk menjalankan operasi" ucap seorang suster pada Arzu.
"Baik lah, panggil dokter lainnya untuk segera masuk ke ruang operasi" ucap Arzu sambil memakai pakaian serba. hijau. Ia berjalan begitu pasti menuju ruang operasi di temani oleh beberapa suster dan juga Vivian yang ikut andil.
"Vivian perhatikan semua yang saya lakukan, jangan lengah. Lakukan apa yang bisa kamu lakukan" ujar Arzu dengan tegas, Vivian begitu bahagia bisa berdampingan dengan Arzu. Tidak sia-sia ia memohon pada ayahnya agar menjadikan Arzu sebagai dokter yang membimbing dirinya.
Satu jam lamanya Arzu berjuang untuk menyelamatkan nyawa seorang pria paruh baya yang mengalami masalah pada jantungnya. Arzu menghela napas saat operasi berjalan dengan lancar, ia membuka sarung tangan dan penutup mulutnya.
"Kontrol oksigen pasien, jangan sampai lengah. Detak jantungnya masih lemah" ujar Arzu yang di jawab anggukkan oleh beberapa suster. Arzu menatap para dokter dan memberi kode jika mereka sudah bisa keluar.
__ADS_1
"Dokter Arzu" ucap Vivian menahan tangan Arzu saat mereka keluar dari ruang operasi.
"Ada apa? Lepaskan tangan saya" ucap Arzu datar sambil menarik tangannya.
"Ck, selalu saja seperti itu. Dokter Arzu yang tersayang, jangan gitu dong sama calon istri? Gak malu apa diliatin sama yang lain" ujar Vivian bergelayut manja di lengan Arzu.
"Jaga bicara kamu Vivian" ucap Arzu melepaskan tangan Vivian dengan kasar, Arzu melangkah cepat untuk meninggalkan Vivian.
"Ck, aku akan buktikan jika ucapanku benar. Lagian buat apa pertahankan istri kakak yang gak bisa kasih keturunan buat kakak" ujar Vivian yang berhasil menghentikan langkah Arzu, Arzu berbalik dan menghampiri Vivian.
"Jangan bermimpi, apa pun yang terjadi aku tidak akan pernah meninggalkan istriku. Jadi jangan terlalu banyak menghayal" ujar Arzu yang langsung pergi dengan sangat kesal.
Vivian mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, ia menatap punggung Arzu yang semakin menjauh. Matanya mulai memerah karena menahan emosi.
"Akan aku buktikan, Vivian akan selalu mendapatkan apa yang diinginkan. Sekalipun itu kamu dokter Arzu" ujar Vivian tersenyum licik.
Kalau yang penasaran Arzu sama Monik seperti apa, aku punya fotonya kok. 👇
ARZU
__ADS_1
MONIK