ARZU

ARZU
Chapter 64


__ADS_3

"Hai cantik, selamat ya. Sebentar lagi kamu akan pulang. Kita akan berpisah. Jangan nakal ya, bunda pasti akan merindukan kalian." ucap wanita cantik dengan jas putih yang melekat indah ditubuh rampingnya. Ia mencium pipi kedua bayi mungil itu bergantian. Kedua bayi itu tersenyum senang. Mungkin mereka mengira ia adalah ibunya.


"Ini bunda kasih sesuatu buat kalian." imbuh wanita itu memasang gelang kaki pada kedua bayi itu.


"Sudah, sekarang kalian sudah siap untuk pulang. Maaf ya, bunda tidak bisa selamanya bersama kalian. Tapi bunda janji, jika ada waktu. Bunda akan menjenguk kalian." wanita itu dengan cekatan memakaian topi rajut untuk kedua bayi.


"Hmmm...perfect... Tinggal menunggu jemputan." ucapnya. Ia membereskan beberapa peralatan yang cukup berantakan. Memang sulit mengurus dua bayi sekaligus. Tapi hal itu memiliki kesan tersendiri. Walaupun keduanya bukan lah buah hatinya.


Dibalik jendela telihat seorang Pria berseragam sama dengan sang wanita terus memperhatikan dirinya. Mata tajam nya tak pernah berpaling dari pergerakan yang wanita itu lakukan.


"Hey, apa yang kamu lihat? Tidak jadi masuk?" ucap seseorang yang berhasil mengejutkan sang pria. Wanita dua anak itu tertawa kecil saat melihat ekspresi lucu sang adik.


"Kenapa? Kamu mulai jatuh cinta dengannya?" senyuman jahil itu mulai terbit.


"Cukup kak, kakak tahu aku hanya mencintai Monik. Tidak ada yang bisa menggantikan dia dihatiku." ucap Arzu. Ia membuka pintu kamar dimana kedua putrinya berada. Elya menggelengkan kepalanya dan mengikuti langkah Arzu dari belakang.


"Wah sudah cantik ya?" ucap Elya menghampiri ponakan cantiknya. Matanya langsung tertuju pada benda yang melingkar indah di kaki bayi mungil itu.


"Ini sangat lucu." ucap Elya menatap Cella yang sedang sibuk merapikan pakaian bayi kedalam tas.


"Hanya hadiah kecil kak. Semoga mereka menyukai itu." ucap Cella menatap Arzu sekilas. Arzu sama sekali tak bergeming.


"Pasti suka dong, iya kan sayang." ucap Elya. Ia menggendong salah satu dari mereka.


"Mereka lebih gemukan ya?"


"Iya kak, mereka sangat lahap minum susu." ucap Cella memberikan tas yang berisi peralatan baby pada Arzu.


"Jangan lupa, setiap jam 7 pagi mereka harus minum susu. Jangan sampai mereka menangis, karena akan susah untuk tenang. Mereka juga akan tidur dengan cepat jika boneka ini berada di sampingnya." ujar Cella memberikan dua boneka kecil pada Arzu. Arzu hanya diam membisu mendengarkan semua ucapan Cella. Wanita itu sudah seperti seorang ibu yang akan meninggalkan anaknya.


"Satu lagi, mereka tidak menyu... "


"Aku tahu, aku ayahnya. Jadi tidak perlu mengajarkan aku." ucap Arzu ketus. Cella mengatupkan mulutnya saat mendengar itu. Elya sangat paham dengan suasana canggung kali ini.


"Terimakasih sudah merawat mereka dengan baik. Kamu sangat cekatan." ucap Elya. Cella tersenyum dan mengangguk. Elya sangat tahu perasaan gadis itu saat ini. Bisa terbaca dari raut wajahnya yang menunjukan kesedihan.


"Kalau begitu saya pamit dulu. Ada pasien yang menunggu saya. Permisi." ucap Cella yang langsung beranjak pergi.


"Arzu. Kenapa kamu begitu jahat padanya? Dia sudah berusaha...


"Itu sudah tugasnya sebagai seorang dokter. Ayok kita pulang, mama sudah menunggu kita." ucap Arzu yang langsung beranjak keluar. Elya menghela napas, ia pun mengikuti Arzu dari belakang.

__ADS_1


'Ah, ternyata pangeran Es sudah kembali.'


***


Tengah malam suara tangisan bayi memenuhi rumah besar keluarga Willson. Semua orang terjaga. Arzu dan Inna terus berusaha untuk menenangkan kedua bayi itu. Namun tak ada yang berhasil. Kedua bayi itu semakin mengencangkan tangisannya.


"Shhuut, ini papa sayang. Kamu haus? Iya?" ucap Arzu memberikan bayi mungil itu susu. Namun lagi-lagi bayi itu menolak.


"Apa tadi siang Cella mengatakan sesuatu?" tanya Inna yang mulai bingung.


"Tidak." ucap Arzu datar. Ia meletakkan putrinya diatas kasur. Ia mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.


"Hallo kak, mereka menangis. Baik lah, aku tunggu dirumah." ucap Arzu mematikan telepon. Ia meletakkan kembali ponselnya diatas nakas. Ia menatap kedua putri nya yang masih menangis. Rasa bingung mulai melanda dirinya.


Tak berapa lama pintu kamar pun terbuka. Namun Arzu sangat terkejut saat melihat siapa yang Elya bawa. Ya, Elya membawa Cella. Gadis itu telihat seperti orang yang baru bangun tidur. Ia juga masih memakai piyama yang ditutupi blajer hitam.


Tanpa pikir panjang, Cella langsung menghampiri ranjang dan duduk disebelah dua bayi yang masih menangis itu.


"Mereka tidak menyukai pakaian panjang. Tadi siang aku ingin mengatakan ini padamu Arzu. Tapi kau keras kepala, kau mengatakan jika kau tahu semuanya." ujar Cella dengan nada kesal. Ia membuka baju bayi itu dengan lembut.


"Sabar sayang. Kita ganti ya bajunya, iya sayang. Jangan menangis." ucap Cella begitu lembut. Inna tersenyum, Ia tak pernah menyangka jika Cella begitu tulus menyayangi cucunya.


"Mereka kepanasan. Jika mereka haus, mereka hanya akan menggerakkan bibirnya. Mereka juga menyukai pelukan." ucap Cella bangun dari duduknya. Kedua bayi itu sudah kembali tenang.


"Malam ini kamu tidur disini aja ya? Kamu pasti capek." ucap Inna menatap Cella.


"Tidak apa-apa tante, Cella pulang saja. Lagian...


"Kamu nurut aja deh Cel, mama benar kok kamu pasti capek. Lagian kalau mereka nangis lagi kan ada kamu." ucap Elya.


"Tapi kak... baik lah." ucap Cella mengalah. Ia tidak tega melihat wajah memelas Inna. Cella menatap Arzu, namun Arzu memalingkan wajahnya. Cella tersenyum getir. Ia kembali duduk menatap kedua bayi mungil itu yang susah tertidur.


"Kamu hanya satu bulan merawat mereka, tapi kamu sudah begitu hafal apa yang mereka sukai dan tidak." ucap Inna menatap Cella lekat.


"Cella juga tidak tahu tan, mereka sudah seperti anak Cella sendiri." ucap Cella yang mendapatkan tatapan tajam dari Arzu. Sadar akan hal itu, Cella langsung meminta maaf.


"Arzu, tidak ada salahnya dia menganggap anak kamu sebagai anaknya. Dia seorang wanita, jiwa keibuan yang ada pada dirinya pasti akan muncul." ucap Inna tersenyum. Arzu terdiam, ia menatap Cella begitu intens.


'Apa tujuan dia mendekati kedua putriku? Apa dia merencanakan sesuatu?'


Begitu banyak pertanyaan yang tersirat di kepala Arzu.

__ADS_1


Semua orang kini sudah kembali kekamar masing-masing. Hanya tersisa Arzu dan Cella disana. Keduanya terdiam. Arzu menatap wajah Cella yang terlihat lelah.


"Tidur lah, aku akan tidur disebelah." ucap Arzu bangun dari duduknya. Cella menatap Arzu, ia mengangguk. Cella menaikkan selimut kedua bayi itu dengan palan. Tak lupa ia mengacup kening keduanya.


"Aku menepati janjiku Monik, aku sudah merawat mereka. Lihat, mereka sangat mirip dengan kamu." ucap Cella menatap foto pernikahan Monik dan Arzu. Cella menatap wajah Arzu yang terlihat begitu bahagia. Bibirnya melengkung sempurna. Ia sangat senang bisa melihat senyuman Arzu. Bagaimana rasanya jika ia berada di posisi Monik? Mungkin ia akan menjadi wanita yang paling bahagia.


"Ya tuhan, apa yang kamu pikirkan Cella. Kau sudah gila. Maafkan aku Monik." ucap Cella merasa bersalah. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan memejamkan matanya. Rasa kantuk pun mulai membawanya kealam mimpi.


Pagi hari Cella sudah terbangun. Ia mengecek keadaan baby dengan cekatan. Kedua bayi itu sudah terbangun. Bibir mereka terus bergerak, yang menandakan mereka haus.


"Tunggu sebentar sayang, bunda buatkan minum buat kalian ya." ucap Cella beranjak keluar. Namun ia sangat terkejut saat pintu sudah terlebih dahulu terbuka.


"Maaf, mereka haus." ucap Cella seperti orang bingung. Arzu menatap Cella lekat. Ia mengangkat tanganya dan terdapat dua buah botol susu.


"Ah, syukur lah. Mereka sudah sangat haus." ucap Cella hendak mengambil susu dari tangan Arzu. Namun dengan cepat Arzu mengelak.


"Aku bisa melakukannya sendiri. Kau sudah bisa pulang, kak Elya sudah menunggu di luar." ujar Arzu datar. Ia berjalan menghampiri kedua putrinya. Cella terdiam sesaat.


"Baik lah. Setelah minum, tolong gendong mereka dan tepuk bahunya pelan. Aku pamit dulu. Assalamualaikum." ucap Cella langsung pergi.


"Wa'alaikumusalam." ucap Arzu menatap kepergian Cella. Lalu ia langsung memberikan susu pada kedua putrinya.


"Kalian haus?" ucap Arzu mengelus kepala putrinya. Ia tersenyum saat melihat salah satu dari mereka tertawa.


"Papa senang kalian tertawa." ucap Arzu. Ia mencium kedua pipi putrinya.


"Arzu, kamu tidak kerumah sakit?" tanya Inna duduk disebelah Arzu.


"Sebentar lagi ma, Arzu ingin menemani mereka dulu." ucap Arzu.


"Kamu belum memberi mereka nama Arzu?"


"Sudah ma, Arzu akan memberi mereka nama Arsyila Qasandra Wilson dan Aqilla Qiandra Wilson. Mereka bisa dipanggil Syila dan Qila." ujar Arzu menggendong salah satu dari mereka.


"Yang ini Arsyila. Dia akan menjadi kakak yang baik untuk Qila." ucap Arzu menepuk punggung Syila dengan lembut. Sesuai dengan arahan Cella.


"Nama yang bagus." ucap Inna ikut menggendong baby Qila dan ikut menepuk punggung Qila. Kedua bayi itu tertidur.


"Mama harap kamu bisa melanjutkan hidup kamu Arzu. Jangan berlarut dalam masa lalu. Anak kamu juga butuh kamu, kamu harus bisa menjadi ayah yang baik."


"mulai sekarang jangan hanya memikirkan diri kamu sendiri. Tapi kedua putri kamu juga harus kamu perhatikan. Menjaga anak perempuan itu tidak mudah Arzu."

__ADS_1


Arzu mengangguk pelan. Ia mengerti dengan perkataan sang mama. Ia juga akan berusaha untuk menjadi ayah yang baik. Ayah yang bisa mendidik anak - anaknya dengan baik hingga dewasa. Walaupun ia tak yakin bisa melakukan semuanya sendiri.


__ADS_2