ARZU

ARZU
Chapter 77


__ADS_3

Tap tap tap...


Suara langkah kaki seseorang begitu nyaring. Seorang wanita cantik dengan balutan gaun musim dingin berjalan tergesa menuju sebuah kelas. Suasana kelas sudah cukup ramai.


"Huh, untung saja belum masuk. Selamat." ucapnya. Ia mengambil posisi duduk di bangku depan. Ia membuka catatan minggu lalu dan membacanya sekilas. Malam tadi ia tidak sempat membaca karena kedua putrinya sedang sakit. Saat ini pikirannya bercabang. Sebenarnya ia enggan untuk masuk kuliah, namun suaminya tetap memaksa agar ia tetap masuk kuliah.


"Grace, kau terlihat sangat pucat? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya salah seorang teman di sebelahnya.


"Aku baik- baik saja, hanya saja aku masih memikirkan kedua putriku yang sedang sakit." ucap wanita itu dengan tak semangat.


"Hmmm... Kenapa kau masuk kelas? Bagaimanapun putrimu lebih penting. Pergantian musim memang banyak membuat orang sakit."


"Aku tahu, tapi suamiku tetap memaksaku untuk berangkat. Huh, aku sedikit khawatir." ucap wanita itu yang tak lain adalah Cella. Memang seluruh teman kelasnya memanggil dirinya dengan nama Grace.


"Tenanglah, mereka baik-baik saja. Suamimu itu sangat baik, dia tidak ingin kau melewatkan kelasmu. Selain tampan, dia juga begitu pengertian. Kau sangat beruntung." ujar wanita yang bernama Eliana itu. Ia tersenyum sendiri.


"Hey, jangan pernah membayangkan wajah suamiku. Aku akan menghabisimu." ujar Cella yang mirip sebuah ancaman. Eliana tertawa nyaring mendengar ancaman Cella.


"Wow, kau begitu posessive Grace. Aku tahu suamimu itu sangat tampan, bisa di katakan hot daddy. Wanita mana yang tidak tertarik. Hati-hati, disini banyak sekali macan betina. Kapan saja bisa mencakar suamimu." ujar Eliana tersenyum jahil. Cella memasang wajah kesalnya. Memang benar apa yang di katakan Eliana. Kemarin Cella memergoki seorang wanita tengah menggoda suaminya. Untung saja Arzu tak perduli dan selalu memasang wajah datar. Jadi Cella sedikit tenang. Ya, hanya sedikit.


Cella tak mengeluarkan sepatah katapun. Pikirannya saat ini entah kemana. Hingga saat pelajaran di mulai pun ia tak menyadarinya.


Cella tersadar dari lamunannya, Ia sangat terkejut saat melihat dosennya sudah berdiri di depan. Cella mulai pokus pada pelajarannya. Ia berusaha untuk melupakan sejenak masalahnya.


"Ah, pinggangku sakit sekali." keluh Cella sambil merenggangkan badannya. Pelajaranpun telah usai beberapa saat yang lalu.


"Kau terlalu banyak bergelut di ranjang, makanannya pinggangmu sakit. Dasar pengantin baru."


Cella memberikan tatapan tajam pada temannya yang super bocor itu.


"Hey, mulutmu bisa tidak sekali saja di saring. Bikin malu tahu gak." Cella mengerucutkan bibirnya karena kesal.


"Hehe... Sorry, tapi kenyataannya gitu kan? Berapa ronde tadi malam?" bisik Eliana yang berhasil membuat pipi Cella merona.


"Kau gila, aku tidak mau terus bersamamu. Lama-lama aku bisa gila." ujar Cella menyambar tasnya dan langsung beranjak keluar. Perutnya terasa perih karena tadi pagi ia tidak sempat sarapan. Cella mengeluarkan ponselnya, tak lama ponsel pun berdering. "My hubby" calling.


"Hallo sayang, kamu dimana?" tanya Arzu dibalik telepon.


"Jalan kekantin, aku sangat lapar." jawab Cella sedikit merengek. Ia mengelus perutnya yang terus memberontak.


"Aku di depanmu." ucap Arzu. Cella melihat kedepan, namun ia sama sekali tak menemukan suaminya. Cella kembali melihat kiri dan kanan, namun ia tak juga menemukan keberadaan Arzu.


"Jangan bercanda, aku sudah seperti orang bodoh tahu tidak?" ucap Cella kesal. Terdengar suara Arzu tertawa.


"Jangan tertawa, nanti ada perempuan lain yang lihat kamu. Aku tidak rela." ketus Cella. Akhir-akhir ini Cella sering emosi saat melihat para wanita yang menggoda suaminya. Bagaimanapun ia seorang wanita, jiwa seorang istri akan memberontak jika melihat wanita lain mendekati suaminya.


"Kau sangat cemburuan sayang, aku menunggumu di kantin. Meja 34, kamu mau makan apa?"


"Emmm... Taco, grilled chicken, ice cream sundae dan vanilla latte." ujar Cella. Arzu yang mendengar pesanan istrinya sedikit tekejut. Pasalnya ini musim dingin, dan Cella memesan ice cream.


"Kamu yakin bisa habisin semuanya? ini musim dingin sayang, jangan ice cream." ucap Arzu tak habis pikir.


"Ck, jadi kamu tidak mau memesannya untukku? Ya sudah, aku bisa pesan sendiri." ujar Cella langsung mematikan sambungan telponya. Arzu menghela napas berat. Beberapa pekan ini ia kembali menemukan sifat baru Cella, yaitu cemburuan dan begitu cepat marah.


Arzu tersenyum tipis saat melihat Cella berjalan menghampiriya dengan wajah kusut. Cella menarik kursi dan menatap Arzu lekat.


"Senyumlah, aku sudah memesankan apa yang kamu mau." ujar Arzu menggenggam tangan Cella. Ia menatap wajah istrinya begitu lekat.


"Apa kamu lelah? Maaf," ucap Arzu mengelus wajah Cella. Mood Cella pun kembali normal. Ia menyetuh tangan suaminya dan tersenyum.

__ADS_1


"Aku tidak lelah, hanya lapar. Sejak pagi aku tidak makan." ucap Cella mengerucutkan bibirnya. Arzu sangat gemas melihat wajah istrinya.


"Makanya kamu pesan begitu banyak? Balas dendam huh?" tanya Arzu tersenyum. Cella yang melihat senyuman Arzu pun langsung menutup bibir Arzu. Arzu menatap Cella bingung.


"Jangan senyum, cuma aku yang boleh lihat senyuman kamu. Aku tidak suka jika wanita-wanita genit itu melihatnya." ujar Cella memasang wajah kesal. Arzu ingin sekali tertawa, tapi ia menahannya. Bisa-bisa Cella bakal ngamuk dan ngacak-nagacak kantin. Haha.. Arzu terlalu berlebihan.


Tak berapa lama pesananpun sudah datang. Cella terlihat begitu senang dan menatap makanan dengan mata berbinar.


"Ayo makan," ajak Arzu yang langsung di jawab anggukkan oleh Cella. Arzu kembali tersenyum saat melihat Cella makan dengan begitu lahap.


"Sayang, akhir-akhir ini aku perhatikan kamu begitu banyak makan dan sedikit aneh. Apa jangan-jangan...


"Aku butuh asupan nutrisi yang banyak, soalnya aku kan...


Cella menghentikan ucapannya. Hampir saja ia keceplosan. Ini belum waktunya untuk mengatakan kebenaran. Arzu menatap Cella penuh selidik.


"sebentar lagi mau ujian," ucap Cella sedikit kikuk. Arzu tahu ada sesuatu yang Cella sembunyikan. Tapi Arzu enggan untuk bertanya. Ia ingin Cella yang mengatakannya sendiri.


"Ya sudah, lanjutkan makannya." ucap Arzu yang langsung di jawab anggukkan oleh Cella.


'Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan?'


"Sayang, sore nanti temani aku ke Mall ya? Ada sesuatu yang harus aku beli. Boleh ya?" Cella menatap Arzu penuh harap.


"Hmmm.." jawab Arzu tanpa membuka mulut.


"Kok jawabnya gak iklas gitu? Gak mau ya temenin aku ke Mall? Kalau gak mau gak jadi masalah, aku bisa pergi sendiri." ujar Cella memasukkan makanan kedalam mulut dengan kesal. Arzu menghela napas berat. Ia mengambil tusue dan menyapu bibir Cella yang kotor kerena ice cream. Cella sangat terkejut, ia menatap Arzu.


"Kamu seperti anak kecil sayang, apa itu enak? Kamu seperti orang tidak pernah makan ice cream." Ujar Arzu terus memperhatikan Cella makan.


"Enak, ini menyegarkan. Kamu mau?" Cella menyodorkan sesendok ice cream pada Arzu. Arzu menggeleng pelan.


'Apa aku pria yang begitu beruntung? Bisa mendapatkan wanita cantik dan tegar sepertinya? Ya, sepertinya aku memang benar-benar beruntung. Aku tidak akan melepaskanmu sayang, tidak akan pernah.'


***


"Ya ampun, lucunya. Arzu kapan-kapan kita kesini ya?" seru Cella saat mereka berada di sebuah toko perlengkapan baby. Arzu tersenyum dan mengangguk. Lalu mereka pun berjalan untuk mencari barang yang Cella maksud.


"Sudah dapat sayang?" tanya Arzu yang baru kembali dari toilet. Cella mengangguk.


"Sayang, kita belanja perlengkapan dapur dulu ya? Sepertinya stock sudah mulai habis." ucap Cella.


"Terserah kamu sayang." ucap Arzu merangkul pinggang Cella. Tak sedikit pun Arzu melepaskan tangannya dari sang istri.


Setelah belanja beberapa keperluan, Arzu dan Cella pun berniat untuk langsung pulang karena Cella merasa sangat lelah.


Sesampainya penthouse, Arzu langsung membawa Cella kekamar karena ia tertidur di dalam mobil. Arzu meletakkan Cella diatas kasur dengan lembut.


"Kamu pasti lelah sayang, terimakasih sudah menjadi ibu dan istri yang baik. Aku mencintaimu." ujar Arzu mengecup kening Cella.


Arzu keluar dari kamar nya menuju dapur. Ia harus membereskan belanjaannya.


"Arzu, biar ibu saja nak." ucap bu Yeni menghampiri Arzu.


"Tidak usah buk, Arzu juga bisa kok. Ibu istirahat aja, ibu pasti capek seharian ngurusin si kembar yang rewel." ujar Arzu.


"Ibu gak pernah capek, ibu malah capek kalau diam." ucap Yeni membantu Arzu memasukkan barang belanjaan kedalaman lemari es.


"Ibu jangan terlalu capek, Arzu tidak mau ibu sakit." Ibu Yeni tersenyum.

__ADS_1


"Buk, Arzu kekamar dulu ya? Oh iya, si kembar di kamar ibu ya?" tanya Arzu. Ibu Yeni pun mengangguk.


"Arzu pindahkan mereka dulu kekamar, kalau Cella bangun terus anak-anak gak ada bisa repot buk." ujar Arzu.


"Namanya juga seorang ibu, pasti dia akan kehilangan kalau anaknya tidak ada. Ya sudah sana, bawa si kembar ke kamar. Ibu beresin dapur dulu." ujar Yeni yang di jawab anggukkan oleh Arzu.


"Anak papa pules banget boboknya, jadi gak tega mau pindahin kalian." ucap Arzu mengecup kening kedua putrinya. Dengan hati-hati Arzu menggendong mereka dan membawanya ke kamar. Arzu meletakkan kedua putrinya perlahan di atas kasur. Ia melihat Cella juga masih terlelap.


"Aku keluar sebentar," ucap Arzu mengecup kening Cella. Lalu ia langsung beranjak keluar.


Tengah malam Arzu terbangun saat mendengar suara ringisan Cella. Ia sangat terkejut saat mendapatkan Cella sudah terduduk di lantai sambil memegang perutnya.


"Sakit..." ringis Cella. Arzu langsung turun dari tempat tidur dan menghampiri Cella.


"Kamu kenapa?" tanya Arzu panik. Cella menatap Arzu, ia menangis dan langsung memeluk Arzu.


"Kamu kenapa? Apa yang sakit?" tanya Arzu semakin cemas.


"Sakit Arzu, sakit... " ucap Cella mengigit lengah Arzu.


"Kita kerumah sakit sekarang." ucap Arzu mengangkat tubuh Cella.


"Enggak mau," rengek Cella membenamkan wajahnya di dada bidang Arzu.


"Aku cuma mau dicium." ucap Cella yang berhasil menghentikan langkah Arzu. Cella menengadah sambil tersenyum.


"Cium.. " rengek Cella semakin membuat Arzu bingung.


"Kamu kenapa sebenarnya, jangan...


Belum selesai Arzu bicara, Cella sudah terlebih dahulu mencium bibir Arzu. Arzu membulatkan matanya karena terkejut. Namun ia menikmatinya dan membalas ciuman Cella. Cella menjauhkan bibirnya dan mengusap bibir Arzu dengan jari lentik nya.


"Happy birthday my hubby," ucap Cella kembali mencium bibir suaminya. Arzu sama sekali tak mengingat jika ini adalah hari ulang tahunnya. Arzu menidurkan Cella diatas sofa.


"Jadi kamu mengerjaiku?" tanya Arzu memberikan tatapan tajam. Namun Cella malah tertawa. Cella mengangguk, ia memeluk Arzu dengan erat. Arzu mendorong tubuh Cella dan mengapit tubuh ramping itu dengan mudah.


"Kau harus bertanggung jawab," bisik Arzu di telinga Cella. Cella tersenyum dan menangkup wajah Arzu.


"Kau hanya milikku Arzu, hanya milikku. Aku sangat cemburu saat kau bicara dengan teman wanitamu yang genit. Seakan mereka ingin merebutmu dariku." ujar Cella dengan mata yang sudah berair. Arzu tersenyum, ia menyetuh pipi Cella dengan begitu lembut.


"Lihat mataku, apa disana ada orang lain?" tanya Arzu mengunci netra milik sang istri. Cella menggeleng pelan.


"Jadi apa yang kau takutkan huh? Aku selalu bersamamu. Seluruh hidupku adalah milikmu sayang, hanya milikmu." ucap Arzu mengecup bibir Cella. Tangannya mulai meraih pengikat gaun malam yang Cella kenakan.


"Tunggu!" seru Cella menahan tangan Arzu.


"Kita tidak bisa melakukannya," ucap Cella yang berhasil membuat Arzu bingung. Cella tersenyum dan menarik tangan Arzu untuk menyetuh perutnya.


"Malaikat kecil sudah hadir disini." ucap Cella yang berhasil membuat Arzu terkejut. Ia menarik tangannya dan mengubah posisinya menjadi duduk. Cella bisa melihat perubahan raut wajah Arzu. Cella bangun dari tidurnya dan duduk di pangkuan Arzu. Cella mengerti dengan perubahan sikap Arzu. Ia menyentuh wajah Arzu dengan lembut.


"Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan sayang, tapi percayalah padaku. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kamu percaya kan?" ujar Cella menatap wajah Arzu lekat. Ia bisa melihat sebuah ketakutan di mata Arzu. Cella menangkup wajah Arzu dan menyatukan keningnya.


"Percayalah, aku akan baik-baik saja." ucap Cella manarik tangan Arzu untuk menyetuh perutnya.


"Dia baru sebesar biji kacang, besok masuk 6 minggu. Aku pikir ini adalah hadiah untukmu, tapi sepertinya..


"Aku bahagia.. " ucap Arzu yang berhasil membuat Cella senang. Cella tersenyum bahagia.


"Terimakasih, ini adalah kado terindah. Kita akan menjaganya dengan baik." ucap Arzu menarik Cella kedalam dekapannya. Cella meneteskan air mata bahagianya.

__ADS_1


Terimakasih sayang, kamu sudah hadir disaat yang tepat. Bunda dan papa akan selalu menjagamu.


__ADS_2