ARZU

ARZU
Chapter 12


__ADS_3

Sinar matahari pagi mulai menerobos masuk melalui celah jendela. Kedua insan masih terlihat sangat pulas dalam tidurnya. Keduanya sama-sama kelelahan karena pertempuran yang sangat panas tadi malam. Monik mulai menggeliat dan mengerjapkan matanya beberapa kali, ia membuka matanya dan tersenyum saat melihat wajah tampan yang masih tertidur pulas. Hembusan nafas Arzu diwajahnya membuat Monik mengingat kembali percintaan panasnya tadi malam. Wajah Monik seketika merah, ia masih sangat malu jika mengingat akan malam tadi. Monik menatap wajah polos Arzu yang begitu tampan dan menggemaskan.


"Apa aku mimpi bisa memiliki suami tampan seperti dirinya?" ucap Monik pelan sambil mengelus pipi Arzu.


"Kau tidak bermimpi sayang, ini nyata." ucap Arzu yang masih menutup matanya, Monik sangat terkejut karena tidak menyangka jika Arzu sudah terbangun dan mendengar ucapannya.


"Morning." ucap Arzu yang kini sudah membuka matanya. Monik hanya tersenyum dan menenggelamkan wajahnya didada bidang Arzu.


"Apa aku tidak mendapatkan hadiah pagi?" tanya Arzu yang berhasil membuat Monik bingung, Monik menatap Arzu bingung.


"Morning Kiss." ucap Arzu yang memejamkan matanya kembali. Monik yang mendengar ucapan Arzu tersipu malu.


"Aku mau mandi." ucap Monik yang langsung bangkit dari tidurnya. Namun Arzu menarik tangannya hingga Monik kembali terbaring. Arzu kembali menidih Monik dan tersenyum jahil.


"Kak awas, Monik mau mandi." ucap Monik mendorong dada bidang Arzu. Tapi Arzu tidak memperdulikan ucapan Monik.


"Aku masih menginginkanmu sayang." bisik Arzu ditelinga Monik. Monik membulatkan matanya karena tidak habis pikir dengan suaminya itu. Sudah cukup tadi malam ia menahan lelahnya dan saat ini tubuh Monik masih terasa sakit dan pegal.


"Monik masih lelah kak. Monik mau mandi." rengek Monik yang berhasil membuat Arzu tersenyum karena gemas melihat ekspresi Monik.


"Baik lah, kita akan mandi bersama." ucap Arzu yang langsung bangkit dari tidurnya. Monik hendak bangun, namun Arzu sudah terlebih dahulu mengangkat tubuhnya dan menggendong Monik ala britdal style. Karena terkejut Monik melingkarkan kedua tangannya dileher Arzu karena takut terjatuh. Arzu melihat ada bercak darah dikasur, ia tersenyum dan menatap manik mata coklat milik Monik.


"Terimakasih." ucap Arzu mengecup bibir Monik. Monik hanya diam membisu karena bingung dengan ucapan Arzu. Arzu membawa Monik kedalam kamar mandi. Lalu tak berapa lama terdengar suara gemercik air dan tawa dari keduanya.


***


"Kak Zuuuuuu... Yuhuuuu..." teriak Elsha saat membuka pintu apartemen Arzu. Arzu dan Monik memang sudah pindah ke apartemen sejak tiga hari lalu.


"Elsha?" seru Monik saat melihat Elsha yang sedang tersenyum manis.


"Hai kak, kak Zu mana?" tanya Elsha sambil menyomot kue yang ada di meja.


"Baru saja kerumah sakit, katanya ada pasien yang harus segera dioperasi." ucap Monik sambil membuatkan Elsha minuman.


"Ya ampun, baru juga nikah udah kerja aja. Sabar ya kak emang gitu resiko nikah ama dokter." ujar Elsha.

__ADS_1


"Hmmm... Aku maklumin kok, lagian itu kan memang sudah tugas seorang dokter. Oh iya kamu gak kuliah?" ujar Monik menghampiri Elsha dengan dua gelas jus jeruk di tanganya.


"Hari ini gak ada kelas, oh iya hampir aja lupa." ucap Elsha merogoh tas miliknya, ia mengeluarkan sebuah kotak kecil yang dibungkus kertas kado.


"Ini kemaren ketinggalan di hotel, jadi Elsha bawakan deh." ucap Elsha memberikan kotak itu pada Monik. Monik mengernyitkan keningnya saat melihat benda itu.


"Siapa yang kasih ya? Kok gak ada nama." ucap Monik sambil membolak balikan kotak itu untuk mencari tahu identitas pemberi.


"Mungkin fans kakak kali." ucap Elsha santai.


"Fans? Tidak mungkin, aku tidak pernah merasa punya fans." ucap Monik sambil berfikir.


"Ya bisa aja." ucap Elsha sambil meneguk jus jeruknya. Karena penasaran Monik membuka kado itu dan betapa terkejutnya ia saat melihat isi kado tersebut adalah sebuah kotak beludru berwarna merah. Monik kembali penasaran dan membuka kotak itu, terlihat sebuah cincin berlian yang begitu indah. Monik menatap Elsha yang ternyata juga sedang menatapnya.


"Cobak lihat, ada suaratnya." ucap Elsha mengambil secarik kertas yang dilipat begitu rapi. Elsha membuka surat itu dengan gerakan cepat. Elsha membulatkan matanya saat membaca isi surat yang ia pegang.


"Apa isinya?" tanya Monik mengambil surat dari tangan Elsha. Monik membaca isi surat itu dengan seksama. Betapa terkejutnya ia saat membaca sebuah kalimat yang membuat Jantung hampir copot.


**Dear my love


Aku akan kembali Sayang, tunggu aku disana. Aku selalu merindukanmu. Aku juga membawa buah hati kita, buah dari cinta kita. Maaf aku menyembunyikan dia dari kamu.


I LOVE YOU ARZU...


Ariana your love**.


Monik menatap surat dan cincin itu bergantian. Elsha menggenggam tangan Monik dengan erat.


"Kita akan tanyakan ini pada kak Zu, tapi aku tidak yakin dengan isi surat itu. Kak Zu tidak mungkin melakukan itu. Dia tidak pernah dekat dengan perempuan mana pun. Percayalah." ujar Elsha meyakinkan Monik. Monik menganggukkan kepalanya, ia tidak mau berprasangka buruk terlebih dahulu pada suaminya. Ia akan mencari kebenaranya.


"Kak, ikut kerumah yuk. Pasti kakak bosan kan dirumah sendirian? lagian dirumah lagi pada kumpul tu. Kak Elya juga pulang kerumah." ucap Elsha mengajak Monik.


"Tapi aku harus minta izin kak Arzu dulu." ucap Monik.


"Ya sudah, kakak telpon atau Chat kak Zu deh, pasti dia kasih izin." ucap Elsha yang dijawab anggukan oleh Monik.

__ADS_1


"Tunggu sebentar ya?" ucap Monik yang langsung beranjak kekamar. Monik mengambil ponselnya dan langsung mengirim pesan pada Arzu.


"Ayok." ajak Monik yang sudah siap untuk pergi.


"Dikasih izin?" tanya Elsha.


"Belum ada balasan, mungkin dia masih sibuk." ucap Monik sambil tersenyum.


"Ya sudah, kita berangkat." ucap Elsha menarik tangan Monik.


Sesampainya dirumah besar keluarga Willson. Monik dan Elsha masuk kedalam rumah.


"Assalamualaikum." ucap Monik dan Elsha bersamaan.


"Wa'alaikumusalam.. "jawab semua orang rumah kompak. Inna begitu berbinar saat melihat menantunya datang. Inna menghampiri Monik dan memeluk erat tubuh Monik.


"Terus anaknya gak dipeluk?" tanya Elsha sedikit cemburu melihat Inna memeluk Monik.


"Kamu kan tiap hari bisa mama peluk." ucap Inna yang berhasil membuat Elsha kesal.


"Lihat deh Pah, mama mulai pilih kasih deh." rengek Elsha menghampiri Samuel yang sedang tersenyum menatapnya. Samuel mengelus kepala putri bungsunya dan merangkul bahu Elsha.


"Biarkan mama kamu bersama menantunya. Kamu kan masih punya papa." ucap Samuel yang dijawab anggukan oleh Elsha. Elsha memang sangat manja jika sedang dirumah. Namun jika diluar, dia terlihat dewasa dan bijaksana.


Monik duduk disebelah Elya yang sedang menyusui putranya.


"Hai kenzo, makin cubby aja pipinya. Gemes deh." ucap Monik mencubit pipi Kenzo. Kenzo menatap Monik dan tersenyum, ia mengangkat kedua tangannya untuk meminta Monik menggendongnya.


"Wah, Enzo mau sama tante ya? Sini biar tante gendong." ucap Monik mengambil Kenzo dari tangan Elya.


"Udah cocok, cepet kasih ponakan yang lucu juga dong Mon." ucap Elya menggoda Monik dan membuat pipi Monik merona seketika.


"Ish kamu ini Elya, lihat pipi menantu mama memerah gara gara kamu. Lagian kan mereka baru beberapa hari menikah." ujar Inna yang duduk disebelah Monik. Monik hanya menunduk malu saat mereka membahas tentang anak. Seperti ada ribuan kupu-kupu diperut Monik mendengar ucapan Elya. Ia masih belum bisa membayangkan jika ia hamil sekarang. Namun saat mereka sedang asik becanda, seseorang tiba tiba muncul.


"Assalamualaikum... "

__ADS_1


__ADS_2