ARZU

ARZU
Chapter 27


__ADS_3

Suasana gedung begitu riuh karena malam ini adalah malam terakhir para dokter berada di Singapura, malam penutupan diadakan begitu meriah. Namun Arzu sama sekali tidak menikmati pesta yang sedang berlangsung, ia sudah tidak sabar untuk menunggu pagi. Arzu meneguk sisa jus nya hingga tandas, ia berusaha menghindari minuman yang akan membuatnya mabuk.


"Hai, drink?" ucap seorang wanita menghampiri Arzu sambil menawarkan segelas minuman beralkohol pada Arzu, Arzu melirik wanita itu sekilas lalu ia kembali pokus menatap orang-orang yang sedang bencanda ria.


"No, thanks" ucap Arzu menolak tawaran wanita itu, wanita itu pun tersenyum dan semakin merapatkan tubuhnya dengan Arzu. Arzu yang terkejut langsung bangun dari duduknya, ia menatap wanita itu tajam dan langsung pergi meninggalkan wanita itu yang masih tersenyum menatap kepergian Arzu. Arzu melangkahkan kakinya dengan cepat menuju kamarnya, ia melonggarkan dasi yang melingkar dilehernya dengan kasar.


"Kenapa semua orang selalu mengganggu ku? Apa mereka tidak punya pekerjaan lain?" ucap Arzu mengomel sendiri. Namun tak lama Arzu seperti mendengar suara seseorang meminta tolong. Ia menghentikan langkahnya tepat didepan sebuah kamar, ia mendekati pintu dan dengan jelas terdengar suara ribut dari arah dalam. Suara teriakan wanita pun semakin jelas terdengar. Arzu menyentuh kenop pintu kamar, ia sangat terkejut karena pintu tidak terkunci.


"Help me please... " teriak seorang wanita, Arzu lagi-lagi terkejut saat melihat seorang wanita sedang ditindih oleh pria. Arzu menarik pria itu dan langsung menghajar pria itu tanpa ampun, wanita itu langsung memeluk Arzu dari belakang hingga membuat Arzu terkejut dan membalikan tubuhnya. Pria itu langsung lari keluar kerena Arzu memberinya peluang untuk kabur.


"Vivian? Kenapa kamu disini?" seru Arzu saat melihat wanita yang tadi ia tolong, Vivian adalah mahasiswi koas yang Arzu bimbingan. Ia adalah anak dari pemilik rumah sakit yaitu anak dari Firmansyah dan Mayya.


"Vivi takut kak, orang itu hampir memperkosa Vivi. Hikshiks..." ucap Vivian tak menghiraukan pertanyaan Arzu, Vivian mengeratkan pelukannya pada Arzu.


"Lepaskan, pria itu sudah pergi" ujar Arzu mencoba melepaskan Vivian dari tubuhnya, Arzu berhasil mendorong Vivian namun dengan cepat Vivian menarik tangan Arzu hingga keduanya terjatuh keatas ranjang, lebih tepatnya posisi Arzu berada diatas Vivian.


"Aku mencintaimu kak, aku menginginkanmu" ucap Vivian menarik tengkuk Arzu dan mencium bibir Arzu, Arzu sangat terkejut dan langsung mendorong Vivian. Namun Vivian tak kehabisan akal, ia langsung menarik baju Arzu hingga kini posisi Arzu berada diatas Arzu. Arzu sangat bingung kenapa tubuhnya semakin lemas, ia berusaha untuk menyingkirkan Vivian dari atas tubuhnya.


"Nikmati saja kak, apa kakak tahu aku sudah meletakkan obat pada semua makanan yang ada dipesta. Malam ini hanya milik kita berdua" ujar Vivian menyeringai sambil mengelus wajah Arzu.


"Brengsek, kau wanita murahan. Menyingkir dari tubuhku" ucap Arzu mendorong tubuh Vivian, namun Vivian sama sekali tidak bergerak seakan tenaga Vivian lebih kuat dari Arzu.

__ADS_1


"Haha... Kau semakin tampan kak saat sedang marah. Aku sudah tidak sabar untuk menikmati tubuhmu yang kekar, kau tahu kak... " Vivian menjeda ucapanya, ia mengelus bagian vital Arzu hingga Arzu mengerang, bagaimana pun Arzu adalah pria normal.


"Haha... Kakak menikmati bukan? Makanya jangan terlalu sombong kak, katakan saja jika kamu juga menginginkan tubuhku" ujar Vivian mencium leher Arzu, Arzu sudah tidak tahan dengan perlakuan Vivian. Ia mendorong tubuh Vivian hingga terjatuh kelantai, Arzu sendiri bingung kenapa tenaganya sudah kembali normal.


Tanpa pikir panjang Arzu langsung keluar dari kamar Vivian dengan kemarahan yang memuncak, ia mengerutuki dirinya karena tidak mempercayai ucapan Cella. Sedangakan Vivian tertawa lepas karena rencananya berhasil, ia mendapatkan kunci untuk bisa memiliki Arzu sepenuhnya.


Di luar sana seorang wanita mengepalkan kedua tanganya, Ia begitu marah karena rencana yang sudah ia rancang benar-benar hancur.


"Aku tidak akan memaafkan kamu Vivian, tunggu pembalasanaku kau akan menyesal sudah bermain-main denganku" ujar wanita itu menatap kamar Vivian penuh amarah.


"Brengsek" teriak Arzu memukul dinding kamar mandi hingga tanganya membiru. Arzu menghidupkan shower, ia memejamkan matanya saat air membasahi rambutnya. Wajah Monik seketika terlintas di pikiran Arzu, ia sangat merasa bersalah pada Monik.


"Maafkan aku" ucap Arzu begitu prustasi, ia tidak pernah menyangka jika hal ini akan terjadi.


Semua peserta training kini baru tiba di Indonesia, Arzu berjalan dengan sangat cepat karena ia ingin cepat sampai ke rumah. Arzu menaiki taksi untuk pulang kerumah, namun saat Arzu masuk kedalam mobil Vivian ikut masuk melalui pintu sebelah. Arzu sangat terkejut dan hendak turun, namun dengan cepat ditahan oleh Vivian.


"Jangan buru-buru, lagian apa gunanya pulang kerumah" ucap Vivian menyentuh wajah Arzu, Arzu menepis tangan Vivian dengan kasar.


"Apa mau kamu Hah?" seru Arzu memalingkan wajahnya, Vivian tertawa renyah sambil menatap lurus kedepan.


"Mau aku? Aku cuma mau kamu dan kamu" ucap Vivian menatap wajah Arzu yang dingin.

__ADS_1


"Keluar" ucap Arzu mengeratkan rahangnya.


"Haha... Padahal aku ingin memberi kabar tentang Monik, tapi kamu mengusirku. Ya sudah lah" ucap Vivian hendak keluar dari taksi, namun dengan cepat ditahan oleh Arzu.


"Apa maksud kamu?" tanya Arzu menatap Vivian lekat, Vivian tersenyum dan melihat tangan Arzu yang memegang tangannya. Arzu yang menyadari hal itu langsung melepaskan tangannya.


"Owh jadi istri tersayang kakak belum cerita ya? Hmmm baik lah aku akan memberi tahu kakak jika.... " Vivian menggantung ucapannya karena ia ingin tahu tanggapan Arzu.


"Jangan bertele-tele, apa yang ingin kau katakan" ucap Arzu datar.


"Haha... Sudah tidak sabar rupanya, baik lah aku akan mengatakan semuanya dengan jujur. Jalan pak" ucap Vivian merubah posisinya menghadap Arzu, Arzu memalingkan wajahnya karena sangat malas melihat wajah Vivian.


"Apa kakak tahu, dihari yang sama saat kakak berangkat Aku bertemu dengan Monik di Mall" ucap Vivian tersenyum menatap Arzu yang mulai terpancing. Arzu sangat terkejut mendengar ucapan Vivian, pasalnya Monik tidak pernah bilang jika ia pergi ke mall, Arzu juga sudah melarang Monik untuk tidak terlalu lelah karena akan membahayakan kandunganya.


"Apa kakak tahu jika Monik hari itu juga kehilangan anak dalam kandunganya karena kecerobohannya? Haha pasti dia tidak cerita bukan?" ujar Vivian yang berhasil membuat Arzu terkejut.


"Jaga bicara kamu Vivian, aku tidak suka leluconmu" ucap Arzu penuh penekanan.


"Ah terserah kakak percaya atau tidak, setelah kakak pulang semua kebenarannya akan terungkap, pak saya turun didepan" ujar Vivian menatap Arzu penuh kemenangan, rencananya akan benar-benar berhasil untuk menghancurkan hubungan Arzu dan Monik.


Sepanjang perjalanan Arzu terus memikirkan perkataan Vivian, ia masih tidak percaya dengan ucapan Vivian.

__ADS_1


"Monik tidak mungkin membohongiku" ucap Arzu mencoba untuk mempercayai istrinya. Ia memijit pelepisnya karena begitu banyak masalah yang ia pikirkan.


__ADS_2