ARZU

ARZU
Chapter 65


__ADS_3

"Arzu, gw lihat dokter Cella semakin dekat dengan lo. Apa kalian menjalin kasih?" tanya Aditya sambil menaikan kedua alisnya.


"Jangan berpikir yang bukan-bukan. Dia cuma merawat anak gw. Jangan menyebar gosip gak jelas." ucap Arzu memejamkan matanya.


"Ck, gw cuma nanya. Lagian lo cocok deh ama tu anak. Dia cantik, baik dan dia dari dulu ngejar-ngejar lo kan? Embat aja bro, kasian kalau di anggurin." ucap Aditya ngasal. Arzu bedecak kesal mendengar ucapan sahabatnya itu.


"Keluar! Bikin pusing kepala gw aja lo." ucap Arzu melempar map kearah Aditya.


"Ye... Dibilangin malah marah. Bucin baru tahu lo. Denger-denger dia bakal lanjutin kuliah spesialis nya di Amerika. Lo gak takut dia pergi?" sambung Aditya. Arzu menatap Aditya tajam. Pria itu tidak mau berhenti bicara.


"Bukan urusan gw." ucap Arzu melepas snelli miliknya. Ia membuka laptop untuk melanjutkan laporan yang belum selesai.


"Ah, gw harap Lo gak bakal nyesel. Kasian banget dokter Cella. Kalau gw jadi dia, gw gak akan mau jatuh cinta ama lo yang sombong. Gw bakal cari pria yang setia, contohnya kayak gw." ucap Aditya begitu percaya diri. Arzu sama sekali tak menghiraukan ucapan Aditya.


"Zu, besok weekend. Nge gym yuk, udah lama kita gak nge gym bareng." ucap Aditya duduk di hadapan Arzu.


"Gw sibuk." ucap Arzu datar.


"Ck, anak lo kan ada yang urus. Ayo lah, sebentar doang. Liat tuh lemak lo udah mulai keliatan." ucap Aditya mencoba merayu Arzu.


"Kita liat besok." ucap Arzu santai. Aditya tersenyum puas. Sepertinya ia berhasil merayu Arzu.


"Ok, gw tunggu. Gw balik dulu. Sepertinya ada pasien yang butuh aura ketampanan gw." ucap Aditya yang langsung melenggang pergi. Arzu hanya menatap sekilas kepergian Aditya. Lalu ia kembali pokus pada layar laptop.


'Ye... Dibilangin malah marah. Bucin baru tahu lo. Denger-denger dia bakal lanjutin kuliah spesialis nya di Amerika. Lo gak takut dia pergi?' perkataan Aditya kini melintas kembali.


"Benarkah?" ucap Arzu menatap lurus kedepan. Lalu ia pun menggelengkan kepalanya.


"Itu bukan urusanku." ucapnya. Ia mengambil beberapa berkas yang harus ia urus.


***


Sore hari Arzu sudah kembali kerumah. Ia turun dari mobil, tatapannya langsung tertuju pada mobil yang terparkir dihadapannya. Arzu menggeleng. Ia langsung beranjak masuk kedalam rumah.


"Hahaha...iya tan. Mereka sangat lucu. Ya ampun, lihat mereka tertawa." sayup-sayup Arzu mendengar suara wanita sedang mengobrol. Ia mendekati kamar kedua putrinya. Benar saja, suara itu berasal dari sana. Arzu membuka pintu kamar perlahan. Yang pertama ia lihat adalah senyuman manis wanita yang tengah menggendong salah satu putrinya. Arzu sempat dibuat terpana. Namun ia langsung tersadar dan kembali menutup pintu. Ia langsung beranjak menuju kamarnya.


Arzu menatap foto dirinya dengan sang istri. Ia tersenyum getir.


"Sudah dua bulan kau pergi dariku Monik. Aku sangat merindukan mu, bisa kau hadir dalam mimpiku? Sekali saja, aku sangat merindukanmu." ucap Arzu. Hatinya kembali sakit, sakit yang amat dalam.

__ADS_1


"Putri kita sudah besar. Mereka sangat mirip denganmu. Apa kau tidak merindukannya?" Arzu menyetuh foto Monik yang tengah tersenyum manis. Ia ikut tersenyum, seakan semua itu nyata.


Arzu kembali terdiam cukup lama. Lalu ia beranjak menuju kamar mandi.


Saat ini Arzu sudah terlihat lebih segar dengan baju santainya. Ia berjalan menuju kamar kedua putrinya. Ceklek! Pintu perlahan terbuka. Arzu mendapatkan Cella sedang menidurkan putri kecilnya. Cella yang menyadari kedatangan Arzu pun langsung menoleh. Ia meletakkan jarinya dibibir. Memberikan kode agar Arzu tidak berisik.


"Mereka baru saja tidur." ucap Cella berjalan kearah sofa. Hal itu tak luput dari pandangan Arzu.


"Kau akan melanjutkan spesialis mu di Amerika?" tanya Arzu yang berhasil membuat Cella tekejut.


"Ya." ucap Cella mengangguk pelan, ia menatap Arzu bingung.


"Emm, bagus lah." ucap Arzu berjalan kearah box bayi. Ia mencium kening kedua putrinya bergantian.


"Aku pulang dulu, jangan ganggu mereka. Assalamualaikum." ucap Cella yang langsung beranjak pergi.


"Wa'alaikumusalam." ucap Arzu tanpan menoleh. Ia mendengar suara pintu sudah ditutup dan membalikan tubuhnya.


"Amerika?" ucap Arzu menatap daun pintu dengan nanar. Ada sedikit rasa tak rela dalam hatinya.


"Apa yang kau pikirkan Arzu? Sudah berapa kali aku katakan, itu bukan urusanmu." ucap Arzu duduk di sofa. Ia bersandar disana sambil memejamkan matanya. Wajah Monik sedang tersenyum terlihat, namun sedetik kemudian wajah itu berganti dengan wajah Cella saat sedang tersenyum. Arzu membuka matanya.


"Maafkan aku Monik, aku tidak bermaksud untuk menghianatimu. Aku tidak mungkin menghianatimu." ocehnya tak jelas.


"Arzu, kamu kenapa?" suara itu berhasil membuat Arzu terkejut. Wajah teduh sang ibu pun membuat Arzu sedikit tenang.


"Tidak apa-apa Ma, Arzu hanya lelah sedikit." ucapnya tersenyum. Inna membalas senyuman Arzu dan ikut duduk disebelahnya.


"Jika lelah, istirahat lah sayang. Kamu harus menjaga kesehatan. Jangan sampai sakit." ucap Inna mengelus kepala Arzu.


"Iya Ma." ucap Arzu menyandarkan kepalanya di pundak sang mama.


"Oh iya, tadi Cella cerita. Katanya dua bulan lagi dia akan pergi ke Amerika. Melanjutkan spesialis nya disana. Apa kamu sudah dengar?"


"Hemmm." jawab Arzu malas.


"Syila dan Qila pasti akan kehilangan Cella. Mereka sudah sangat dekat." ucap Inna.


"Mama tidak perlu khawatir, Arzu, mama dan Kak Elya ada disini. Kita bisa merawat mereka sendiri." ucap Arzu.

__ADS_1


"Hmmm... Ya, memang benar. Tapi alangkah baiknya jika... "


"Ma, Arzu butuh waktu. Jangan paksa Arzu untuk melakukan apa yang Arzu tidak suka." potong Arzu. Ia sangat tahu apa yang akan mamanya katakan. Arzu memejamkan matanya dan mulai terlelap di pundak Inna.


"Mama hanya ingin kamu melanjutkan hidup kamu nak. Mama minta maaf." ucap Inna mencium pucuk kepala Arzu. Inna memindahkan kepala Arzu di kedua pahanya.


"Mama selalu mendoakan kebahagiaan kamu Arzu." ucap Inna mengelus kepala Arzu dengan lembut.


***


"Apa kakak mencintai Monik?" tanya Monik menyandarkan kepalanya di bahu Arzu. Arzu mencium kepala Monik dengan lembut.


"Kau sangat tahu, dari dulu aku sangat mencintaimu." ucap Arzu menggenggam tangan Monik. Arzu sangat terkejut saat merasakan tangan Monik sangat dingin.


"Kau kedinginan?" tanya Arzu merangkul pundak Monik. Monik tersenyum menatap wajah Arzu.


"Kakak mau kan mengabulkan keinginan Monik?" tanya Monik lagi. Kali ini wajahnya terlihat sangat serius.


"Apa itu?" tanya Arzu bingung.


"Kakak harus mencintai orang lain selain Monik. Monik tidak bisa menemani kakak lagi, kakak harus mencari orang yang bisa menggantikan Monik disini." ujar Monik menyetuh dada Arzu. Arzu menatap Monik bingung, ia sama sekali tak mengerti dengan ucapan Monik.


"Apa yang kau katakan, sampai kapan pun hanya kau yang ada dihatiku Monik." ucap Arzu mencium kening Monik begitu dalam.


"Tidak kak, masih ada cinta lain dihati kakak. Sejak dulu cinta itu sudah hadir, hanya saja kakak tidak menyadari itu." ucap Monik tersenyum ramah.


"Maksud kamu?" tanya Arzu menatap Monik penuh tanda tanya.


"Sejak dulu, sudah ada seseorang dihati kakak. Kakak tidak pernah menyadari itu, sebelum kita bertemu cinta itu sudah hadir. Dia adalah wanita yang tulus, cintanya tak pernah pudar sejak dulu. Kalian selalu bersama, sejak kecil hingga saat ini. Dia sudah ada disini sejak lama kak." Monik mengelus dada Arzu dengan lembut. Ia kembali meyandarkan kepalanya di dada Arzu. Mendengarkan detak jantung yang seperti musik penyejuk hatinya.


"Siapa yang kau maksud Monik? Aku sama sekali tidak mengerti. Sudah aku katakan aku hanya mencintaimu, hanya dirimu Monik." ucap Arzu memeluk Monik dengan erat. Namun tubuh Monik sedikit demi sedikit mulai memudar. Arzu sangat terkejut, ia semakin erat memeluk Monik.


"Maaf kak, aku harus pergi. Jangan terus bersedih, lanjutkan hidup kakak dengan baik. Dia menunggu kakak. I love you kakk, I love you... " tubuh Monik seketika menghilang. Arzu sangat panik.


"Monik... Jangan pergi, aku juga mencintaimu.. MONIK..." teriak Arzu. Ia terbangun dari tidurnya. Nafasnya memburu hebat.


"Jadi itu hanya mimpi? " Ia menyeka keringatnya yang sudah membasahi wajahnya. Suara tangisan bayi pun mulai terdengar. Arzu bangun dari duduknya dan berjalan menuju box bayi. Banar saja, kedua putrinya sudah terbangun. Mereka pasti tekejut karena mendengar teriakan Arzu. Arzu menenangkan kedua putrinya hingga mereka kembali tertidur.


'apa arti mimpi itu? Kenapa seperti nyata. Ah Monik, aku sangat merindukanmu.'

__ADS_1


__ADS_2