ARZU

ARZU
Chapter 44


__ADS_3

CEKLEK


Arzu membuka pintu kamar, ia melihat Monik terduduk menatap ke arah jendela dengan tatapan yang kosong. Arzu berjalan pelan menghampiri Monik, ia memeluk Monik dengan sangat lembut. Monik yang tak menyadari hal itu sangat terkejut.


"Maaf" ucap Arzu mencium pipi Monik, Monik membalikan tubuhnya menghadap Arzu. Monik menyentuh pipi Arzu dengan lembut, ia menatap manik mata Arzu begitu lekat.


"Monik minta maaf, tidak seharusnya Monik membuat kakak semakin terpuruk. Monik salah kak, Monik minta maaf" ucap Monik memeluk Arzu dengan sangat erat.


"Sudah lah, jangan membahas itu lagi. Saat ini aku hanya ingin membahas tentang kita, hanya ada aku dan kamu" ujar Arzu mengecup kening Monik, Monik mengangguk menyetujui ucapan Arzu.


"Jangan tinggalkan Monik kak, Monik takut kehilangan kakak. Monik cinta kakak" ucap Monik semakin mengeratkan pelukannya, Arzu yang mendengar itu pun ikut mengeratkan pelukannya.


"Aku tidak akan meninggalkanmu sayang, sampai kapanpun. Aku berjanji" ucap Arzu mengelus punggung Monik.


"Terimakasih, terimakasih sudah mau menerima semua kekurangan Monik dan mencitai Monik dengan begitu tulus" ucap Monik melerai pelukannya dan menangkup wajah Arzu dengan kedua tangannya. Monik mencium bibir Arzu dengan begitu lembut, Arzu memejamkan matanya dan menikmati semua permainan Monik.


"Kau sudah mulai berani honey" bisik Arzu saat Monik melepaskan ciumanya.


"Katakan sekali lagi jika kamu mencintai aku" sambung Arzu menatap Monik, Monik tersenyum dan kembali memeluk Arzu.


"I love yo Kak" ucap Monik.


"I love you more" ucap Arzu mengecup pucuk kepala Monik, Monik memejamkan matanya di dada bidang Arzu.


***


"Ma, makan dulu ya?" ucap Monik menyentuh lengan Inna, Inna tersenyum dan mengangguk. Dengan senang hati Monik menyuapi Inna, Inna menatap Monik dengan begitu lekat.


"Terimakasih" ucap Inna membuat Monik mengernyit bingung.

__ADS_1


"Terimakasih sudah selalu ada untuk Arzu, jangan pernah tinggalkan Arzu sayang. Dia sangat mencintai kamu, kami semua juga menyayangi kamu" ujar Inna menggenggam tangan Monik, Monik yang mendengar itu sangat terharu.


"Monik janji Ma, Monik tidak akan pernah meninggalkan kak Arzu. Monik juga menyayangi kalian semua, Monik berterima kasih karena di terima dengan baik di keluarga ini" ujar Monik, Inna yang mendengar itu tersenyum dan mengangguk.


"Ya sudah, mama harus habiskan makanannya supaya cepat sembuh" ucap Monik yang kembali menyuapi Inna.


"Ekhem... Mesra banget sih? Boleh ikutan?" seru Elsha yang tiba tiba muncul.


"Boleh dong" ucap Monik tersenyum pada Elsha.


"Hmmm... Mama beruntung banget sih bisa dapetin menantu yang baik seperti kak Monik" ucap Elsha duduk di sebelah Inna dan bergelayut manja pada Inna.


"Mama beruntung bisa memiliki kalian semua" ucap Inna mencium pipi Elsha.


"Kak, temenin Elsha belanja yuk besok? Pulang dari kampus kita langsung capcus deh" ucap Elsha menatap Monik penuh harap.


"Emmm.. Boleh deh, tapi kakak tanya dulu dengan kak Arzu" ucap Monik yang di jawab anggukkan antusias Elsha.


"Banyak Ma, ada keperluan juga di kampus. Mama harus cepat sehat, supaya kita bisa jalan-jalan" ucap Elsha menyadarkan kepalanya di pundak Inna.


"Mama tidak sakit sayang, hanya lelah sedikit" ucap Inna mengelus kepala Elsha.


"Monik, kenapa mama lihat akhir-akhir ini kamu selalu pucat. Apa kamu sakit?" tanya Inna memperhatikan wajah Monik.


"Pucat? Tapi Monik merasa baik-baik aja kok ma" ucap Monik menyentuh pipi nya sendiri.


"Kamu sudah makan?" tanya Inna pada Monik.


"Belum Ma, Monik tidak selera makan" ucap Monik menyuapi Inna.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu tidak enak badan? Kalau begitu istirahat, jangan terlalu capek" ucap Inna yang mulai khawatir dengan keadaan Monik.


"Enggak kok Ma, mungkin Monik memang lagi gak selera makan. Jangan khawatir Monik baik-baik aja Ma" ucap Monik tersenyum manis.


"Apa karena masalah ini huh?" tanya Inna menggenggam tangan Monik, Monik kembali tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Dalam setiap rumah tangga memang sangat banyak krikil-krikil yang kita lewati, jadi kita harus pandai-pandai berjalan dan memikirkan semuanya dengan matang" ujar Inna.


"Iya Ma, Monik paham" ucap Monik, Inna tersenyum mengeratkan genggamannya pada tangan Monik.


"Ma, berarti kalau nanti Elsha nikah gitu juga ya? Elsha kira nikah itu enak, jadi ratu terus bahagia deh" ucap Elsha begitu polos.


"Kamu kebanyakan nonton film" ucap Inna yang di sambut tawa oleh Monik. Elsha pun mengerucutkan bibirnya karena merasa di tertawakan.


"Kak, jangan lupa besok kita ke Mall ya. Awas kalau lupa aku seret" ucap Elsha menatap Monik tajam.


"Iya, aku ingat kok. Tapi siapa yang jaga mama?" tanya Monik menatap Elsha.


"Tenang disini masih ada pangeran tampan" ucap seseorang, siapa lagi kalau bukan Arza.


"Eleh, tampan tapi gak laku" ucap Elsha yang berhasil mendapatkan cubitan kecil dari Inna.


"Maaf ma, cuma becanda" ucap Elsha memeluk Inna.


"Kak Arzu ke rumah sakit?" tanya Arza pada Monik.


"Iya, tadi ada panggilan. Katanya ada pasien yang harus segera di operasi" ucap Monik yang di jawab anggukkan oleh Arza.


"Ma, Monik ke kamar dulu ya? Ada yang harus Monik kerjakan" ucap Monik yang di jawab anggukkan. Lalu ia langsung beranjak keluar dari kamar Inna. Monik memijit kepalanya yang tiba tiba sangat sakit, ia masuk ke kamar dan langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur.

__ADS_1


"Ya ampun, kenapa lagi ini? Sakit sekali" ucap Monik terus memijit kepalanya. Ia memejamkan matanya untuk menghilangkan sedikit rasa sakit.


__ADS_2