
Ya tuhan, kenapa semua badanku terasa remuk. Ku angkat tangan suamiku perlahan. Aku berusaha bangun, namun pinggangku sangat sakit. Hah, apa ini yang namanya malam pertama? Sakit sekali.
Aku menarik pakaianku yang tergeletak di lantai. Badanku sangat lengket. Arzu sangat keterlaluan, dia sama sekali tak memberikan aku waktu istirahat. Aku tidak pernah menyangka pria dingin sepertinya bisa.... Ck, sudah lah. Aku harus segara mandi sebelum singa itu kembali terbangun. Bisa-bisa pagi ini aku akan menjadi sarapan lezatnya.
Sedikit susah payah aku berjalan menuju kamar mandi. Sungguh, ini sangat menyakitkan. Aku menghidupkan shower untuk menghilangkan rasa penatku. Aku tersenyum saat mengingat setiap ungkapan yang keluar dari mulutnya tadi malam.
'Aku mencintaimu Cella, jangan pernah pergi dariku. Tetap disampingku, apapun yang terjadi. Jangan membuat aku kecewa, aku ingin menghabiskan hidupku bersamamu dan anak-anak kita.'
Uh, aku sangat senang. Cinta yang selama ini aku harapkan akhirnya terbalaskan. Itu sangat membahagiakan, bagaikan ribuan bunga bermekaran di hatiku.
Tok tok tok tok
Aku sangat terkejut saat mendengar gedoran pintu.
"Sayang, kamu didalam?" teriak seseorang dari luar. Ck, ada apa dengannya? Apa dia tidak dengar suara gemercik air? Aku sangat kesal, dia sudah mengganggu ritualku. Rasa sakit di tubuhku belum hilang sempurna. Ku sambar handuk dan melilitkan ditubuhku. Dengan perasaan kesal aku membuka pintu.
"Arzu, aku sedang mandi. Apa tidak dengar suara... " belum selesai aku bicara, dia sudah terlebih dahulu masuk kedalam. What? Mau apa dia? Aku kan belum selesai mandi.
"Arzu, kenapa masuk? Aku belum selesai. Keluar," pintaku mendorong tubuhnya perlahan.
"Aku mau mandi, kau terlalu lama." ucapnya dengan wajah es nya. Huh, bahkan dia masih memasang wajah itu.
"Ya sudah, aku mengalah. Aku akan mandi di kamar si kembar." ucapku sambil menghentakkan kaki. Namun tiba-tiba dia menarik tanganku.
"Siapa yang menyuruhmu pergi, kita akan mandi bersama. Lagian... " dia menggantungkan ucapannya sambil menatapku dari ujung kaki hingga ujung kepala. Aku sedikit tersentak saat Arzu mendekatkan wajahnya.
"Aku sudah melihat semuanya tadi malam." bisiknya tepat di telingaku. Ya tuhan, pipi dan telingaku sangat panas. Dasar mesum!
"A...apa yang kamu katakan? Lepas, aku mau keluar," Aku terus berusaha melepaskan tangannya dari pinggangku.
"Jangan bergerak, jika tidak mau kejadian tadi malam akan berulang." ancamnya yang berhasil membuat mulutku terkatup rapat. Enak saja! sakit sisa semalam saja belum reda.
"Em, Arzu. Bisakah kamu lepaskan aku. Aku benar-benar lelah, aku ingin mandi dan kembali istirahat. Aku masih sangat mengantuk. Kamu tahu kan? aku harus mengurus si kembar dan juga kamu." ucapku memelas. Aku harap dia melepaskanku secepatnya.
"Kalau begitu ayok kita mandi, setelah itu kamu bisa istirahat."
Ck, aku kira dia akan melepaskanku. Ternyata, sudah lah. Seperti aku memang harus banyak mengalah. Aku mengangguk pelan.
"Arzu, bisa bantu aku?" tanyaku saat rambutku tersangkut di resleting baju. Kenapa aku jadi bodoh begini ya?
"Lain kali hati-hati." ucapnya sambil membenarkan rambutku. Aku sedikit menunduk agar ia mudah melepaskan rambutku yang tersangkut.
"Terimakasih." ucapku saat ia sudah selesai membantuku. Aku melihat pantulan Arzu di cermin. Di tersenyum dan memelukku dari belakang.
"Kau sangat cantik," ucapnya mengecup pundakku. Aku tersenyum dan menyetuh kedua tangannya yang masih melingkar di perutku.
__ADS_1
"Sejak dulu aku memang cantik, hanya saja pria bodoh itu tak pernah menyadarinya." ucapku tersenyum geli. Ku lihat wajah Arzu langsung berubah. Apa aku salah bicara?
"Jadi kau mengatakan aku bodoh?" tanya Arzu melepaskan pelukannya. Aku membalikan tubuhku dan tersenyum.
"Ya, kamu memang bodoh. Selalu mengabaikan aku dan pada akhirnya kamu jatuh cinta padaku kan? Tapi aku juga sangat bodoh, mencintaimu walaupun aku tahu itu... " belum selesai aku bicara, sebuah jari terlebih dahulu menempel di bibir ku.
"Jangan mengatakan itu lagi, kau benar aku memang bodoh. Tapi aku tidak menyesal, karena kebodohanku. Aku bisa mendapatkan dua cinta sekaligus. Walaupun cinta keduaku sedikit lambat aku sadari." ujarnya sambil menyetuh wajahku. Aku tersenyum senang. Aku tidak perduli aku cinta pertama atau kedua, yang aku tahu saat ini dia juga mencintaiku, itu sudah cukup membuatku bahagia.
"Terimakasih sudah membalas cintaku yang hampir kandas, kamu jahat sekali sudah membuatku menunggu lama." ucapku langsung memeluknya. Air mata kebahagiaan pun kini mengalir dipipiku.
"Sepertinya aku harus membuatmu menunggu lebih lama lagi." ucapnya. Aku tertawa renyah karena tahu dia sedang bergurau.
"Arzu, jangan membuatku takut." rengekku sambil memukul dadanya. Aku bisa mendengar Arzu tertawa. Jantungku semakin berpacu hebat, ini adalah pertama kali aku mendengar ia tertawa. Aku merasa saat ini dunia adalah miliku seorang.
"Aku mencintaimu," ucapku memeluknya semakin erat. Dia sudah resmi menjadi milikku, sampai kapanpun tak akan pernah aku lepaskan. Tak mudah untuk mendapatkan hatinya.
"Kita harus keluar dari kamar, mama akan berisik karena aku tidak memperhatikan istriku. Aku tahu kamu lapar, suara cacing di perutmu sudah terdengar hingga monas." ujar Arzu yang berhasil membuatku malu setengah mati. Sangat memalukan, kenapa cacing ini demo di waktu yang tidak tepat sih? Mama, aku benar-benar sangat malu.
Aku bisa mendengar suara tawa Arzu lagi. Menyebalkan, dia pasti menertawakan suara cacing di perutku yang terus berdemo.
"Aku sangat lapar, " rengekku semakin menenggelamkan wajahku di dada bidangnya.
"Aku tahu, ayok." ajak nya merangkul pundakku. Aku tersenyum dan mengangguk. Walaupun pipiku masih sedikit panas karena malu.
"Arzu, apa kalian benar-benar akan pergi? Semua anak mama pergi, hanya tinggal mama dan papa disini." ucap mama. Aku merasa tidak enak, aku menatap Arzu.
"Ma, Arzu tidak akan lama. Hanya 2 tahun, setelah itu kami akan kembali kesini. Arzu tidak mau Cella mengorbankan impiannya." ucap Arzu menggenggam tanganku. Aku menatap mama dan Arzu bergantian. Jika Arzu memintaku untuk tetap di sini, aku pasti akan menyetujuinya. Tapi, aku juga tidak ingin membuatnya kecewa.
"Ma, Cella janji. Cella akan menjaga Arzu dan anak-anak dengan baik. Kami akan kembali, mama jangan khawatir." ucapku menatap mama.
"Mama tahu, mama hanya merasa kehilangan anak-anak mama. Semuanya menjauh, Elya juga sudah jarang pulang kesini. Mama akan merasa kesepian." ujar mama dengan air mata yang hampir tumpah. Aku tahu, ini memang sangat berat.
"Sudah lah Ma, anak kita memiliki kehidupan masing-masing. Arzu dan Cella masih cukup muda, mereka harus melanjutkan pendidikannya. Biarkan kita disini berdua, untuk mengenang masa muda." ujar papa, aku tersenyum.
"Papa, malu dengan anak-anak." ucap mama memeluk papa. Aku tersenyum dan ikut memeluk Arzu. Aku mengangkat kepalaku dan menatapnya lekat.
"Mau jalan-jalan?" tanya Arzu. Aku langsung menggeleng. Aku masih ingin istirahat.
"Aku mau istirahat, ini semua salah kamu." ucapku. Aku memejamkan mataku karena merasa ngantuk. Apa lagi perutku terisi penuh.
"Arzu, masuk lah. Istri kamu sepertinya kelelahan." Aku membuka mataku dan melihat mama tersenyum geli. Aku menatap Arzu bingung.
"Ayok masuk," ajaknya. Aku tersenyum dan mengangguk.
"Ma, pa. Cella kekamar dulu." ucapku yang di jawab anggukkan oleh mama dan papa. Aku mengikuti langkah Arzu dengan sedikit berlari.
__ADS_1
Tepat di depan kamar si kembar, aku menghentikan langkahku.
"Arzu, aku mau tidur disini aja ya?" pintaku menatapnya penuh harap.
"No, kita punya kamar sendiri." ucapnya langsung beranjak menuju kamar.
Aku mengerucutkan bibirku dan mengikutinya dari belakang.
"Istirahatlah," titahnya. Aku masih sangat kesal. Ku tarik selimut dan menenggelamkan diriku di sana.
"Jangan marah, aku hanya ingin kamu istirahat. Aku tahu kamu tidak akan tidur jika bersama mereka."
Aku masih memejamkan mataku dan enggan untuk berbalik. Biarkan saja dia, aku ingin tidur.
"Masih marah?" tanyanya. Aku merasakan sebuah benda kenyal menempel di pipiku. Ingin sekali aku tersenyum, sangat senang mendapatkan kehangatan sang pangeran es.
"Tidurlah." ucapnya kembali mengecup pipiku. Ya ampun, pipiku sangat panas. Aku yakin saat ini pipiku sangat merah. Aku menarik selimut untuk menutup wajahku. Namun sebuah tangan menahannya terlebih dahulu.
"Tidak perlu di sembunyikan, aku sudah melihatnya." ucapnya. Aku langsung bangun dan menatapnya.
"Ck, Arzu. Kenapa kamu jadi orang menyebalkan seperti ini sih?" ucapku menatapnya kesal.
"Menyebalkan? Bukankah kau terlalu mencintaiku? Bagaimana mungkin aku menyebalkan?" tanyanya. Aku membulatkan mataku karena tak percaya dengan perkataan percaya dirinya itu. Memang sih aku sangat mencintainya, tapi itu kan bukan masalah. Lagian sekarang dia kan sudah menjadi suamiku.
"Terserah!" Aku kembali tidur dan membelakangi dirinya.
"Berbaliklah, aku punya sesuatu untukmu." pintanya, aku hanya menggeleng.
"Sayang, aku serius. Berbaliklah," pintanya lagi menarik bahuku. Aku mantapnya lekat.
Cup! Sebuah kecupan dibibirku berhasil membuatku terkejut. Lalu aku melihat Arzu mengeluarkan sesuatu. Aku menatapnya bingung.
"Aku sengaja memesannya untukmu," ucapnya mengeluarkan sebuah kalung. Aku menatap Arzu tak percaya. Aku kembali menatap kalung itu.
"ALC? Apa itu?" tanyaku bingung.
"Kamu pikirkan saja sendiri," ucapnya memasangkan kalung itu di leherku. Aku menyetuh ukiran inisial itu dengan lembut. ALC? Apa maksudnya. Hah, apa jangan jangan...
"Arzu love Cella? Apa itu kepanjangannya?" tanyaku dengan semangat. Aku tak pernah menyangka Arzu bisa seromantis ini.
"Ya, semoga kau menyukainya." ucap Arzu merapikan rambutku. Aku mengangguk senang.
"Aku sangat menyukainya, terimakasih." ucapku memeluk Arzu dengan hangat. Aku benar-benar sangat senang, bukan hanya cinta yang saat ini aku dapatkan. Tapi aku juga meraskan betapa romantisnya suamiku ini. Aku akan terus bersamanya, apapun yang terjadi. Aku berjanji Arzu.
"Aku juga mencintaimu Arzu, sangat mencintaimu."
__ADS_1