
"Assalamualaikum... " ucap seorang pria yang tak lain adalah Arzu. Monik menatap mata Arzu dan seketika keduanya saling mengunci pandangan.
"Wa'alaikumusalam." ucap semua orang kompak kecuali Monik yang masih diam menatap Arzu. Lalu tak berapa lama seorang wanita cantik muncul dari belakang Arzu sambil menggendong bayi mungil.
"Arzu siapa dia?" tanya Inna yang langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Arzu.
"Dia Ariana Ma."
Deg
Monik menundukkan kepalanya dan kembali mengingat nama seseorang yang ada didalam surat. Ariana. Ya, itu lah nama yang tertera di dalam surat.
"Ma boleh kami masuk dulu? Ada yang ingin Arzu sampaikan." ucap Arzu sambil menatap Monik yang masih menunduk.
"Ya, mari duduk." ucap Inna mempersilahkan Arzu dan wanita itu duduk. Arzu merangkul pinggang wanita itu dan membawanya duduk. Monik yang melihat itu hanya diam mematung. Elya yang mengerti akan hal itu langsung menatap Arzu tajam.
"Siapa dia Arzu?" tanya Elya datar. Arzu menatap Monik sebentar, lalu ia mengalihkan pandangan pada Elya.
"Dia Ariana, kekasih aku dulu. Dan ini putri kami." ujar Arzu yang berhasil membuat air mata Monik lolos begitu saja. Monik memang tidak percaya saat membaca surat tadi, namun kali ini Monik mendengar semuanya dari mulut Arzu.
"Apa maksud kamu Arzu?" seru Inna.
__ADS_1
"Arzu minta maaf mah, Arzu sudah membuat kesalahan. Arzu sudah menghancurkan masa depan Ariana, dan aku juga minta maaf padamu Monik. Aku tidak ada maksud untuk menyakitimu. Aku hanya.... " belum selesai Arzu bicara, Monik sudah memberikan Kenzo pada Elya dan langsung beranjak pergi.
"Kejar dia Arzu." seru Inna, Arzu langsung mengejar Monik.
Monik terus berlari karena tidak sanggup menahan sakit hatinya, ia sudah terlanjur jatuh cinta pada Arzu. Monik merasakan seseorang menarik tangannya dan memeluk Monik dengan erat.
"Lepas." ucap Monik meronta-ronta untuk melepaskan pelukannya.
"Maaf." ucap orang itu yang tak lain adalah Arzu. Arzu memeluk Monik dengan begitu erat.
"Lepaskan kak." ucap Monik memukul dada bidang Arzu. Arzu mencium pucuk kepala Monik begitu dalam, ia memeluk tubuh Monik hingga Monik sedikit lebih tenang.
"Tolong dengarkan dulu penjelasan aku Monik. Aku mencintaimu, tapi aku juga harus bertanggung jawab atas semua kesalahanku. Anak itu adalah darah dagingku. Dua minggu lagi aku akan menikahi Ariana." ujar Arzu yang berhasil membuat Monik kembali berontak dan melepaskan pelukan Arzu.
"Maafkan aku." ucap Arzu menatap taksi yang dinaiki Monik mulai menjauh. Arzu kembali masuk kedalam rumah dan mendapatkan tatapan tajam dari semua orang.
"Jika terjadi sesuatu pada Monik aku tidak akan memaafkanmu." ucap Elya yang langsung pergi membawa Kenzo. Inna hanya terdiam dan mentap Arzu tak percaya.
"Terserah padamu Arzu, mama capek." ucap Inna langsung beranjak kekamar.
"Kita pulang." ajak Arzu menatap Ariana, Ariana menganggukkan kepalanya dan menghampiri Arzu. Arzu menatap Samuel sebentar lalu langsung beranjak pergi.
__ADS_1
***
Arzu berjalan memasuki apartemennya, ia bernapas lega saat melihat pintu kamar sedikit terbuka dan melihat Monik sedang berganti pakaian. Monik yang menyadari kedatangan Arzu hanya pura-pura tidak tahu. Ia melepaskan ikatan rambutnya dan merebahkan tubuhnya diatas kasur. Monik merasa sangat lelah dan butuh istirahat, matanya juga sendikit berat karena sehabis menangis.
Arzu menghela napasnya dan memasuki kamar. Ia melihat Monik tidur memunggunginya. Arzu menarik selimut, ia merebahkan tubuhnya membelakangi Monik. Lalu tak berapa lama Arzu mendengar suara isakan Monik, Arzu membalikan tubuhnya perlahan dan melihat punggung Monik sedikit bergetar. Wanita itu menangis, dan penyebabnya adalah Arzu.
Arzu bangun dari tidurnya dan langsung beranjak pergi. Monik yang menyadari itu membalikan tubuhnya dan melihat Arzu keluar dari kamar. Monik kembali menangis tersedu saat Arzu benar-benar mengabaikan dirinya.
"Kau jahat kak, kenapa kau menjadikan aku istirimu jika hanya untuk menyakitiku." ucap Monik di sela isakannya. Monik menatap foto pernikahannya, ia meraih foto itu dan memeluknya erat. Setengah jam lamanya Monik terus menangis. Karena terlalu lama menangis, kantuk mulai menyerang dan Monik tertidur dengan memeluk Foto pernikahannya dengan Arzu.
Arzu membuka pintu kamar perlahan, ia melihat Monik sudah tertidur memeluk sesuatu. Arzu mendekati Monik dan duduk disebelah Monik. Arzu bersandar ditempat tidur dan mengelus rambut Monik. Arzu menatap wajah Monik yang sembab dan masih ada jejak air mata dipipinya.
"Maaf." ucap Arzu mengecup pucuk kepala Monik. Arzu memejamkan matanya sambil memeluk Monik, Monik yang merasa mendapatkan kehangatan semakin merapatkan tubuhnya pada Arzu. Arzu melihat foto pernikahannya terjatuh dari tangan Monik. Ia menatap foto itu dan kembali meletakkan diatas nakas. Arzu memejamkan matanya sambil memeluk Monik.
Pagi hari Monik terbangun lebih awal dari Arzu, Monik melepaskan pelukannya pada Arzu perlahan dan langsung beranjak kekamar mandi. Tak lama Monik keluar dengan keadaan yang terlihat sudah segar. Ia melaksanakan kewajiban sebagai orang muslim dan setelah itu membangunkan Arzu yang masih tertidur pulas.
"Kak, bangun sudah subuh." ucap Monik, namun Arzu masih tidak bergeming.
"Kak." panggil Monik menyentuh lengan Arzu. Arzu sedikit tersentak dan langsung bangun dari tidurnya.
"Solat subuh dulu." ucap Monik yang langsung beranjak keluar. Arzu hanya menatap punggung Monik yang menghilang dibalik pintu. Lalu tak berapa lama ponsel Arzu berdering.
__ADS_1
"Halo. Baik lah aku akan kesana sebentar lagi." ucap Arzu memutuskan sambungan telponya dan beranjak kekamar mandi.