
Monik membuka matanya, ia sangat terkejut karena hari sudah berganti malam. Monik keluar dari kamar nya karena ia tidak lagi mendengar suara Arzu. Monik menatap ke sekeliling apartemen, namun keadaan sudah gelap karena Arzu mematikan lampu. Monik merasa bersalah karena sudah mengabaikan Arzu dan tidak mau mendengarkan penjelasan Arzu.
Monik berjalan untuk menghidupkan lampu, namun saat lampu hidup. Ia sangat terkejut melihat Arzu tertidur di atas sofa dengan posisi menyamping. Monik mendekati Arzu dan menyejajarkan tubuhnya dengan wajah Arzu. Monik menatap wajah Arzu yang tak setenang seperti biasanya, Monik tahu saat ini banyak sekali yang sedang Arzu pikirkan.
Monik meneteskan air matanya karena merasa bersalah sudah membuat suaminya menanggung beban sendirian. Harusnya Monik lebih mempercayai Arzu dan tak menerima ucapan orang lain bulat-bulat yang tak pasti kebenarannya, tapi semua istri pasti akan marah saat mendengar seorang wanita mengaku hamil anak suaminya.
Arzu membuka matanya saat mendengar isakan yang keluar dari mulut Monik, ia langsung bangkit dari tidurnya dan menarik Monik dalam dekapannya.
"Maafkan aku sayang" ucap Arzu memcium pucuk kepala Monik, Monik menenggelamkan wajahnya di dada Arzu.
"Monik yang minta maaf, tak seharusnya Monik percaya omongan orang lain" ucap Monik yang semakin terisak.
"Tidak sayang, kamu berhak marah. Aku mengerti perasaan kamu saat ini" ucap Arzu mengelus kepala Monik.
"Jangan tidur disini, kita masuk ke dalam" ucap Monik melerai pelukannya, Arzu mengangguk dan keduanya langsung masuk ke kamar.
Monik menyadarkan kepalanya di dada Arzu, ia memeluk Arzu dengan sangat erat.
"Kak, boleh Monik nanya?" ucap Monik dengan lembut.
__ADS_1
"Hmmm.. Nanya apa?" ucap Arzu mengelus kepala Monik sambil sesekali mengecup kepala Monik.
"Emmm...video itu?" ucap Monik ragu, ia sangat takut jika bertanya hal itu akan membuat Arzu marah.
"... " Arzu terdiam dan tak menjawab pertanyaan Monik.
"Maaf, kakak gak perlu jawab Monik gak marah kok" ucap Monik merapatkan tubuhnya kedalam dekapan Arzu. Arzu mencium pucuk kepala Monik dan melerai pelukannya. Ia membenarkan posisi duduknya menghadap Monik.
"Aku akan menceritakan tentang video itu, malam itu.... " mengalirlah cerita dari mulut Arzu tetang jebakan Vivian saat di Singapura. Monik mendengarkan semuanya dengan seksama seakan tak ingin melewatkan satu kata pun. Setelah Arzu menceritakan semuanya, Monik kembali memeluk Arzu dan menangis.
"Maafkan Monik kak, Monik sudah berfikir buruk tentang kakak. Monik tak seharusnya percaya omongan wanita itu" ucap Monik disela isakannya.
"Sudah lah, aku mengerti perasaan kamu sayang. Sudah jangan menangis" ucap Arzu menangkup wajah Monik, ia menghapus air mata Monik dengan jarinya.
"hmmmm..Sayang, aku menginginkanmu" bisik Arzu yang berhasil membuat Monik terkejut dan melepaskan pelukanya, terlihat wajah Monik merona karena ucapan Arzu. Monik menggeleng kuat dan langsung tidur memunggungi Arzu, hal itu berhasil membuat Arzu semakin gemas.
Dasar suami, pikirannya selalu saja mesum. Orang lagi sedih juga, ih menyebalkan. batin Monik
***
__ADS_1
"Kak Za, apa kakak percaya ucapan Vivian?" tanya Elsha pada Arza yang sedang sibuk melukis, saat ini mereka sedang berada di lantai atas rumahnya.
"Jelas tidak lah, kita kan tahu seperti apa kak Arzu, dia bahkan tak pernah dekat dengan wanita lain sedari dulu. Cuma Monik wanita pertama yang dia dekati" ujar Arza tanpa menatap Elsha.
"Emmm... Kalau begitu kita harus cari bukti kalau kak Zu tidak bersalah. Tapi kita juga jangan sampai membuat kak Elya salah paham, bagaimana pun Vivian adalah adik kak Elya" ujar Elsha sambil menatap susunan lampu dari ruang warga yang sangat indah.
"Ya, kita akan membantunya. Kita tidak bisa tunggal diam, wanita itu sangat licik. Aku tidak sudi memiliki kakak Ipar seperti itu. Lagian banyak banget sih wanita yang mengejar pria dingin kayak dia" ujar Arza yang berhasil membuat Elsha menatapnya tajam.
"Jelas dong, kak Zu kan lebih tampan dari kakak. Cobak saja ni rambut di potong pasti banyak cewek yang naksir" ucap Elsha sambil menarik rambut Arzu.
"Ck, Elsha kau sangat tidak sopan. Jangan khawatir, banyak wanita yang tertarik padaku" ucap Arza begitu percaya diri.
"Mana buktinya, ah ia lupa. Kakak menyukai kak Aditi ya? Hayo ngaku" seru Elsha menatap Arza penuh selidik.
"Siapa Aditi?" tanya Arza tanpa menatap Elsha yang sedang tersenyum-senyum tidak jelas.
"Yakin tidak kenal? Padahal Elsha punya nih nomor telponnya, kirain kakak mau" ujar Elsha yang mulai tersenyum jahil. Arza yang mendengar itu langsung menatap Elsha.
"Kamu serius? Mana kakak mau lihat" ucap Arza menghampiri Elsha, namun dengan cepat Elsha berlari dan menjulurkan lidahnya.
__ADS_1
"Elsha, jangan bercanda" seru Arza yang mulai kesal. Elsha tertawa lepas dan terus berlari.
"Siapa suruh sok jual mahal, cari aja sendiri" teriak Elsha yang langsung pergi meninggalkan Arza yang terlihat kesal. Namun tak lama sebuah senyuman tersungging di bibir Arza. Ah, bahkan kini Arza sudah mulai gila.