
Kini keluarga besar Willson sedang berkumpul untuk merayakan ulang tahun sekaligus atas kesembuhan Elsha. Acara yang di langsungkan memang sangat sederhana karena yang datang hanya keluarga besar dan para sahabat dekat. Namun tetap saja, rumah Willson terlihat sangat ramai oleh para tamu.
"Happy birthday honey" ucap Arzu memeluk Elsha dengan lembut, Elsha membalas pelukkan Arzu dengan erat.
"Makasih kak" ucap Elsha melerai pelukannya, lalu pandangannya beralih pada Monik yang sedang menatap Elsha dengan senyuman yang lebar di bibirnya.
"Selamat ulang tahun cantik" ucap Monik mencium kedua pipi Elsha, Elsha memeluk Monik dengan penuh kerinduan.
"Makasih kakak Ipar" ucap Elsha mencium pipi Monik dengan lembut. Saat ini Monik terlihat sangat cantik dengan gaun selutut berwarna pich.
"Sama-sama cantik" ucap Monik menyentuh pipi Elsha, lalu tak berapa lama muncul pria tampan yang sangat mirip dengan Arzu, siapa lagi kalau bukan Arza. Arza membawa sebuah kado dan memberikannya pada Elsha.
"Terimakasih kak" ucap Elsha memeluk Arza.
"Ok sama-sama, tapi itu bukan dari kakak. Tadi ada seseorang yang mengirim hadiah itu, tapi tidak ada nama" ujar Arza yang berhasil membuat Elsha terkejut.
"Siapa? Perasaan Elsha tidak punya fans deh" ucap Elsha menatap kado berukuran kecil di tangannya.
"penggemar rahasia kali?" ucap Monik menatap Elsha, Elsha mengernyit bingung.
"Sudah tidak perlu di pikiran, oh iya Elsha. Kado dari kami menyusul" ucap Arzu merangkul pinggang Monik.
"Ok kak, Elsha tunggu" ucap Elsha mengedipkan matanya, Arzu yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya.
"Kak, Monik lapar" rengek Monik pada Arzu.
"Ya sudah, kita makan sekarang" ucap Arzu menatap mata Monik, Monik tersenyum bahagia.
"Elsha, kami kesana sebentar ya?" ucap Monik yang di jawab anggukkan oleh Elsha. Lalu Monik dan Arzu berjalan menuju meja makanan, Monik mengambil beberapa makanan yang membuat air ludahnya menetes.
"Itu tidak boleh, asam lambung kamu bisa kambuh. Pilih saja yang lain" ucap Arzu saat melihat Monik hendak mengambil seafood pedas.
"Ck, tapi Monik mau ini kak. Boleh ya? Kali ini aja kok" ucap Monik memasang wajah memohon.
"Tidak sayang, itu sangat pedas. Tidak baik untuk lambung kamu" ucap Arzu mengambil piring yang ada di tangan Monik dan mengambil udang goreng.
"Monik gak mau itu kak, Monik mau ini" rengek Monik yang berhasil mendapatkan tatapan tajam dari Arzu. Monik menghela napas kasar, lalu ia mengambil piring di tangan Arzu dan langsung pergi meninggalkan Arzu.
"Ya tuhan, ada apa dengannya?" ucap Arzu menggeleng tak percaya dengan sikap Monik yang aneh. Arzu berjalan mengikuti langkah Monik, Monik memilih duduk di tempat paling ujung. Ia menatap makanan di piring tak selera.
"Dimakan sayang, jangan cuma di lihat" ucap Arzu duduk di sebelah Monik, Monik menatap Arzu sekilas. Lalu ia kembali menatap piringnya, selera makanan benar-benar sudah hilang.
"Ck, tunggu sebentar" ucap Arzu yang langsung pergi meninggalkan Monik yang masih diam mematung.
__ADS_1
"gini nih kalau nikah sama dokter, semua gak boleh. Ih nyebelin deh, aku kan mau makan yang pedas-pedas. Pasti enak deh" ucap Monik mengaduk makanan yang ada di piring tak beraturan. Lalu tak lama Arzu sudah kembali dan membawa piring di tangannya.
"Nih, cukup kali ini kamu makan pedas" ucap Arzu yang ternyata mengambil makanan yang Monik inginkan. Monik begitu bahagia dan langsung mengambil piring yang ada di tangan Arzu.
"Makasih kak, I love you" ucap Monik begitu senang, Arzu yang mendengar dan melihat itu hanya menggelengkan kepalanya. Monik makan dengan begitu lahap tanpa sedikit pun bersuara ke pedasan.
"Enak?" tanya Arzu menatap Monik lekat, lalu tanganya terulur menyentuh bibir Monik yang terkena bumbu.
"Enak, maaf belepotan ya?" ucap Monik tersenyum pada Arzu, Arzu mengangguk pelan dan mengecup bibir Monik dengan gemas. Monik membualatkan matanya karena terkejut, ia menatap Arzu tajam.
"Kak, kalau orang lain lihat bagiamana?" ucap Monik sambil meneliti kesekelilingnya.
"Tidak ada yang melihat sayang, jika ada yang lihat pun mereka tidak akan marah" ucap Arzu santai.
"Memang tidak ada uang marah, tapi malu kak" ucap Monik memutar kedua bola matanya.
"Malu malu tapi mau" bisik Arzu, Monik yang mendengar itu langsung merona. Ia mengerucutkan bibirnya karena sangat kesal dengan Arzu. Arzu merangkul Monik dan mengecup pucuk kepala Monik.
Setelah beberapa saat terlihat seorang wanita paruh baya menghampiri mereka.
"Arzu, ikut mama sebentar" ucap wanita itu yang tak lain adalah Inna, Arzu mengernyit bingung.
"Bawa Monik sekalian" ucap Inna yang langsung beranjak pergi, Arzu menatap Monik dengan tatapan bingung.
Arzu menghentikan langkahnya saat melihat keluarganya sudah berkumpul di ruang keluarga, sebenarnya yang membuat Arzu sangat terkejut karena keberadaan Vivian dan kudua orang tuanya.
"Ada apa ini?" tanya Arzu datar, Arzu melihat semua orang sedang menatapnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Duduk Arzu, kau harus menjelaskan semuanya" ucap Samuel dengan nada datar. Arzu menggenggam tangan Monik dan duduk di sebelah Elsha.
"Ada apa sebenarnya? Apa yang harus aku jelaskan?" tanya Arzu menatap Vivian tajam, ia sangat tahu jika saat ini ada yang tidak beres.
"Kamu harus jelaskan kak, apa yang sebenarnya terjadi diantara kita. Kita tidak bisa lagi membohingi mereka" ucap Vivian dengan nada sedih, Monik yang mendengar itu langsung menatap Arzu penuh tanda tanya.
"Aku hamil kak hiks...dan ini anak kamu" ucap Vivian yang mulai menangis sambil menyentuh perutnya, Arzu yang mendengar itu sangat terkejut.
"Hamil? Bagaimana kau bisa hamil anakku? Bahkan aku tidak pernah menyentuhmu" ujar Arzu mengeratkan rahangnya, ia sangat merah karena Vivian saat ini sedang mempermainkan harga dirinya.
"Apa maksudmu Arzu? Apa kau pikir anakku berbohong, lihat sendiri ini hasil tes dari rumah sakit jika Vivian sedang hamil" seru Firman melempar sebuah surat ke atas meja, Elya mengambil surat itu dan membacanya.
"Apa yang sebenarnya terjadi Arzu, Vivian? Kenapa kalian mempersulit aku, kalian berdua adalah adikku" ucap Elya menatap Arzu dan Vivian bergantian.
"Sudah aku katakan, aku tidak pernah memiliki hubungan apapun dengan wanita lain selain istriku" ujar Arzu sangat dingin, Vivian yang memdengar itu langsung menangis sejadi-jadinya dan memeluk ibunya.
__ADS_1
"Jadi kau menganggap anakku berbohong? Dimana hati nurani mu Arzu, putriku saat ini sedang mengandung anakmu dan kamu tak ingin mengakuinya?" ujar Mayya mendekap Vivian dengan erat.
"Sudah aku katakan jika aku tidak pernah menyentuhnya, jadi aku tidak akan pernah mengakui itu anakku. Sayang ayok kita pulang" ujar Arzu menarik tangan Monik.
"Tunggu, aku punya buktinya jika kita pernah melakukan hal itu. Aku sengaja merekamnya sembunyi-sembunyi dari kamu kak karena aku tahu hal ini akan terjadi" seru Vivian yang berhasil menghentikan langkah Arzu, Vivian merogoh tas miliknya dan mengeluarkan sebuah kaset. Ia berjalan menuju televisi dan mulai memutar kaset yang ia bawa.
Arzu membualatkan matanya saat melihat dirinya dan Vivian sedang di dalam kamar dengan posisi yang begitu intim. Arzu kembali mengingat kejadian dulu di Singapura saat Vivian mencoba untuk menjebak dirinya. Namun Arzu kembali terkejut saat mendengar suara dirinya yang menyatakan cinta pada Vivian.
Monik melepaskan genggaman tangan Arzu, dimatanya terlihat genangan air mata yang siap untuk tumpah.
"Sayang, percayalah jika itu semua bohong. Wanita ini menjebakku, aku tidak pernah melakukan hal apapun padanya. Video itu tidak sepenuhnya benar" ucap Arzu menangkup wajah Monik, kini air mata Monik benar-benar tumpah dan membanjiri pipinya.
"Apa kalian semua lebih percaya pada wanita ini Hah? Seharusnya kalian lebih tahu siapa aku. Aku tidak pernah memiliki hubungan apapun dengan wanita lain, karena sampai kapanpun aku hanya mencintai istriku, hanya Monik yang selalu ada di dalam hatiku. Terserah kalian mau percaya pada siapa" seru Arzu menatap seluruh keluarganya, lalu ia langsung pergi membawa Monik keluar dari rumah.
Sesampainya di lobby apartment, Monik langsung turun dari mobil mendahului Arzu. Saat ini hati Monik sangat berkecamuk, ia bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Sayang, kau harus percaya. Aku tidak pernah melakukan hal itu. Video itu palsu, aku hanya mencitai kamu" ujar Arzu menarik Monik ke dalam dekapannya.
"Monik capek kak, Monik mau istirahat" ucap Monik melepaskan diri dari dekapan Arzu, ia pergi kekamar meninggalkan Arzu yang diam mematung.
"Aaakhhhhh... Brengsek kau Vivian" teriak Arzu begitu prustasi, ia melempar tubuhnya di atas sofa dan menutup wajah dengan kedua tangannya. Monik yang mendengar teriakan Arzu hanya bisa menangis di kamar, ia menjatuhkan dirinya di lantai dan memeluk kedua lututnya.
ARZA
Arza dan Arzu
ELYA
ELSHA
SAMUEL dan INNA saat muda
__ADS_1
Vivian