
Perjalanan yang cukup panjang benar-benar menyita tenaga wanita cantik yang saat ini tengah berbaring. Sebuah tangan mungil berhasil menyetuh wajahnya. Ia langsung berbalik dan tersenyum lebar.
"Eh, anak bunda sudah bangun? Kok tumben gak nangis? Haus ya?" ucapnya sambil mencubit pipi cubby bayi yang baru berusia empat bulan itu. Kedua bayi itu tertawa bersamaan.
"Wah, senang ya tadi naik pesawat? Capek gak huh? Lucunya anak bunda. Pingin gigit." dengan gemas ia mengigit kedua tangan bayi itu. Jangan khawatir, dia tidak benar-benar menggigitnya kok.
"Sayang, aku sudah memesan makanan. Makanlah dulu, setelah itu mandi." ujar seseorang di balik pintu yang terbuka sedikit.
"Hmmm... Sebentar lagi aku keluar, mereka terbangun." ucapnya sambil terus bermain dengan kedua anaknya.
Sedangkan pria yang saat ini masih berdiri di ambang pintu hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Sayang, bunda harap kalian betah disini. Bunda janji, bunda akan selalu ada buat kalian. Bunda sayang kalian." ucapnya mencium kening kedua bayi cantik nya.
"Papa juga sayang kalian." ucap Arzu yang entah kapan sudah duduk di disebelah Cella. Ia mencium kening sang istri begitu mesra.
"Terimakasih sudah mau menjadi ibu dari mereka." ucap Arzu menatap manik mata Cella. Cella tersenyum dan langsung memeluk Arzu.
"Aku bahagia, walaupun aku tidak melahirkan mereka. Tapi aku merasa ada sesuatu yang mengikat aku dengan mereka. Jadi aku mohon, jangan pernah pisahkan aku dengan mereka Arzu. Aku tidak bisa." ujar Cella menangis di pelukkan Arzu. Tidak tahu kenapa ada rasa takut dalam diri Cella. Takut akan kehilangan semua yang saat ini ia miliki.
"Mereka anak kita, tidak akan ada yang memisahkan kita sayang." ucap Arzu mengecup kepala Cella begitu lembut. Sedangakan di ambang pintu. Terlihat ibu Monik meneteskan air matanya.
'Terimakasih ya allah, engkau telah menghadirkan wanita yang begitu baik untuk menjaga cucu-cucuku. Engkau telah mengambilnya dariku, dan sekarang kau menggantikan sosok itu pada dirinya. Buat mereka selalu berbagai ya Allah.'
Ibu Monik tersenyum dan langsung beranjak menuju kamarnya. Ia memeluk foto putrinya sambil berbaring. Rasa rindu itu begitu menggebu-gebu.
"Arzu, katakan jika tak ada yang kamu sukai dari diriku. Aku akan memperbaikinya, jangan pernah tinggalkan aku." ujar Cella mendongakkan kepalanya untuk menatap Arzu. Arzu tersenyum dan mengecup bibir Cella.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, aku berjanji." ucap Arzu memeluk Cella dengan erat. Ia tak pernah menyangka jika gadis yang selama itu terlihat begitu kuat ternyata memiliki sisi rapuh.
"Aku mencintaimu Arzu. Sangat mencintaimu." ucap Cella membenamkan wajahnya di dada Arzu. Arzu memeluk Cella dengan penuh kehangatan. Hingga Cella pun tertidur dalam dekapannya.
Arzu membenarkan posisi Cella. Ia menidurkan Cella dengan sangat hati-hati. Ia tahu, istrinya pasti kelelahan. Sepanjang perjalan ia memangku putrinya yang cukup rewel. Arzu menatap kedua putrinya yang ternyata juga sudah tertidur. Ia menarik selimut untuk ketiga wanitanya.
"Cantik," ucap Arzu saat melihat wajah damai Cella yang tertidur pulas. Ia mengecup bibir ranum itu dengan lembut. Arzu beranjak dari tempat tidur. Ia menutup pintu perlahan agar ketiga wanitanya tak terbangun.
"Buk?" panggil Arzu saat tak melihat keberadaan ibu Monik. Arzu berjalan menuju kamar ibu Monik. Seulas senyuman terukir di bibirnya saat melihat ternyata ibu Monik juga sudah tertidur. Arzu menarik selimut, namun tangannya terhenti saat melihat benda yang ibu Monik peluk. Perlahan Arzu menariknya. Ia melihat foto Monik dengan seksama.
"Ibu pasti merindukannya, Arzu juga buk." ucap Arzu, ia meletakkan foto Monik dan langsung beranjak pergi.
Arzu terduduk sambil menatap makanan yang ia pesan diatas meja. Terdengar helaan napas panjangnya.
"Jadi malam ini aku makan sendiri?" gumamnya sambil membuka box makanan. Ia menyantapnya dengan tak semangat.
Setelah selesai makan dan membersihkan diri. Arzu ikut berbaring di sebelah sang istri. Ukuran kasur cukup besar hingga Arzu tak mengkhawatirkan kedua putrinya akan terjatuh. Di setiap sudut juga sudah di batasi dengan bantal.
"Hmmm..." gumam Cella membuka matanya perlahan. Matanya pun langsung bertemu dengan mata tajam milik Arzu. Cella tersenyum dan langsung memeluk Arzu.
__ADS_1
"Aku lapar, tapi malas untuk bangun. Peluk aku Arzu." ucap Cella sedikit merengek. Arzu memeluk Cella dengan erat.
"Ayok makan, aku akan menemanimu." ajak Arzu menyelipkan rambut yang menghalangi wajah Cella.
"Tidak mau, besok saja. Saat ini aku ingin tidur, aku sangat lelah." ucap Cella merapatkan dirinya untuk mencari kehangatan.
"Kau bisa sakit." ucap Arzu terus menciumi pucuk kepala Cella. Ia sangat menyukai aroma rambut istrinya. Cella kembali memejamkan matanya.
"Suamiku seorang dokter, jadi aku tidak takut sakit." Ujar Cella tersenyum dengan mata tertutup.
"Mana boleh dokter sakit," gurau Arzu. Cella tertawa renyah.
"Dokter juga manusia Arzu." ucap Cella. Arzu tersenyum dan ikut memejamkan matanya. Hingga mereka pun terlelap dalam dekapan kehangatan.
***
Suara tangisan kedua bayi mungil itu berhasil membuat kedua pasangan kekasih itu terbangun dari tidurnya. Cella membuka matanya dan menyingkirkan tangan Arzu yang melingkar di pinggangnya. Cella bangun dari tidurnya.
"Hey kenapa menangis sayang?" tanya Cella menggendong Qilla. Arzu ikut terbangun.
"Ada apa? Kenapa mereka menangis?" tanya Arzu dengan suara seraknya.
"biasa, basah." ucap Cella menidurkan Qilla kembali. Ia turun dari ranjang untuk mengganti celana kedua putrinya. Arzu hanya mengangguk dan kembali berbaring.
"Cup cup, anak bunda tidak boleh nangis. Iya sabar, ini sedang bunda ganti. Iya sayang." Dengan cekatan Cella mengganti pakaian mereka yang masih menangis.
"Sudah, Qilla sama Syila sudah bisa tidur lagi. Apa? Haus ya? Tunggu bunda buatkan dulu ya?" Cella bangun dari duduknya dan langsung beranjak keluar untuk membuatkan susu.
"Ini sayang," ucap Cella memberikan susu itu pada si kembar. Dengan sabar Cella menunggu kedua putrinya menghabiskan susu dan tertidur. Cella mengecup kening keduanya. Ia tersenyum sambil terus mengelus kepala Qilla. Kini Cella memilih untuk tidur di tepi ranjang sebelahnya. Yang tepatnya besebrangan dengan Arzu.
"Sayang?" panggil Arzu saat Cella mulai memejamkan matanya. Cella kembali terbangun dan menatap Arzu bingung.
"Kemari!" pinta Arzu. Cella menghela napas dan mengikuti perintah suaminya.
"Jangan terlalu jauh, aku bisa rindu." ucap Arzu menarik Cella agar tidur diatasnya. Cella hendak menolak, namun Arzu memeluknya dengan erat. Karena masih mengantuk, Cella pun pasrah dengan keinginan Arzu.
Keesokan paginya mereka terbangun saat matahari sudah menampakkan dirinya. Kebetulan saat ini sedang musim panas. Arzu membuka matanya saat merasakan sesuatu bergerak di hidungnya.
"Morning sayang," ucap Cella mengecup bibir Arzu sekilas. Arzu tersenyum senang, ia menarik Cella kedalam dekapannya.
"Sayang, aku mau bangun. Aku harus menyiapkan sarapan sebelum si kembar bangun." ujar Cella sedikit merengek saat Arzu kembali memejamkan matanya.
"Sebentar lagi." ucap Arzu semakin mengeratkan pelukannya. Cella menarik napas panjang, ia pasrah berada dalam dekapan suaminya.
Cella sangat bosan terus diam dan menatap wajah suaminya yang masih tertidur.
"Arzu, aku ingin kekamar mandi." rengek Cella agar Arzu melepaskan dekapannya. Namun itu sama sekali tak berhasil. Cella berusaha melepaskan tangan Arzu. Namun pria itu semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Sayang, please." Cella memohon. Terdengar Arzu berdecak kesal. Ia membuka matanya dan langsung beranjak bangun. Cella bernapas lega, namun itu tak lama. Karena tanpa aba-aba Arzu menggendong tubuh rampingnya. Cella yang takut terjatuh pun langsung melingkarkan kedua tangannya di leher Arzu.
"Kau kurus sekali, aku akan membuatmu gemuk. Aku tidak menyukai wanita kurus." Ujar Arzu, Cella membulatkan matanya tak percaya dengan perkataan suaminya.
"Kau tidak menyukaiku? Tapi kau terus memelukku sepanjang malam? Menyebalkan." gerutu Cella tak terima dengan ucapan Arzu. Cella memanyunkan bibirnya. Arzu tersenyum dan menurunkan Cella dalam bathup. Arzu menyeringai, ia menekan tombol hingga air tiba-tiba keluar dan berhasil membuat Cella memekik kaget.
"Arzu, ini sangat diingin." seru Cella hendak bangun. Namun dengan cepat Arzu menahan Cella dan mengekang tubuh sang istri.
"M... Mau apa?" tanya Cella gugup. Memang ini bukan yang pertama kali untuknya, namun Cella masih gugup jika Arzu menatapnya seperti itu.
"Aku mau sarapan pagi." ucap Arzu melepas bajunya. Mata Cella membulat sempurna. Ia bukan wanita bodoh yang tak mengerti maksud perkataan suaminya. Cella menelan ait liurnya saat melihat dada bidang Arzu. Arzu tersenyum devil, ia memulai aktivitas paginya. Cella tak mungkin menolak keinginan suaminya. Untung saja suara mereka tertutup oleh suara gemricik air. Karena Arzu sengaja menghidupkan shower.
Di depan cermin, Cella mengomel tidak jelas. Bagaimana tidak, saat ini lehernya di penuhi dengan hasil karya suaminya. Cella sudah berusaha untuk menutupinya, namun semuanya sia-sia. Pada akhirnya Cella memilih untuk memakai kemeja panjang agar sedikit menutup lehernya.
"Keterlaluan! Bagaimana jika ibu Monik lihat? Aku kan malu." gerutu Cella bangun dari duduknya. Ia melihat kasur yang sudah rapi dan kedua putrinya pun sudah tak ada disana. Entah berapa lama waktu yang mereka habiskan di kamar mandi?
"Pagi non." Sapa ibu Monik saat melihat Cella berjalan kearah meja makan.
"Buk, sudah Cella katakan. Panggil Cella aja, jangan pake non." sanggah Cella.
"Baik non, eh maksudnya nak Cella." ucap Yeni sedikit bingung dengan panggilan barunya. Cella tersenyum dan langsung memeluk Yeni.
"Terimakasih buk, Cella harap ibu menganggap Cella seperti anak ibu sendiri." ujar Cella. Yeni sangat terkejut dengan permintaan mantan anak majikannya itu.
"Mana bisa non, eh maksudnya nak Cella. Nak Cella kan masih punya nyonya." ujar Yeni mendorong Cella dengan lembut.
"Itu di Indonesia, disini ibu adalah ibu Cella." ujar Cella mencium tangan Yeni. Yeni sangat terharu bercampur bahagia. Sejak kecil Cella selalu bersikap baik padanya maupun Monik. Walaupun terkadang sifat dingin Cella muncul. Tapi Cella tetaplah Cella, ia memiliki hati yang begitu tulus dan lembut.
"Ya sudah, kalau begitu kamu makan dulu. Ibu sudah menyiapkan sarapan. Maaf, cuma bisa masak nasi goreng. Habis belum ada bahan apapun di kulkas." ujar Yeni.
"Seharusnya ibu tidak perlu repot, ini semuanya tugas Cella. Walaupun Cella tidak bisa memasak, tapi Cella akan berusaha belajar. Nanti siang kita belanja bahan dapur sama-sama." ujar Cella. Yeni tersenyum dan mengangguk.
Lalu tak berapa lama Arzu muncul sambil mendorong stroller bayi. Syila dan Qilla pun sudah terlihat cantik dengan pakaian yang sama. Cella menghampiri mereka dan mencium gemas keduanya.
"Habis jalan-jalan ya?" tanya Cella mencium tangan putrinya dengan gemas.
"Sudah makan?" tanya Arzu menatap Cella. Cella menggeleng pelan.
"Kenapa tidak makan? Sejak malam kamu tidak makan." ujar Arzu berjalan menuju meja makan.
"Lah, nak Cella belum makan dari semalam? Pantas saja masih banyak makanan tersisa. Sudah makan dulu sana, biar si kembar dengan ibu." ujar Yeni. Cella tersenyum dan mengangguk. Cella hendak membuka mulutnya untuk menanyakan apakah Yeni sudah makan apa belum. Tapi, Yeni sudah menjawabnya terlebih dahulu.
"Ibu sudah sarapan tadi sebelum mandiin si kembar." ucap Yeni tersenyum.
"Ah syukurlah. Cella kira ibu belum makan, terimakasih buk." ucap Cella yang di jawab anggukkan oleh Yeni. Cella pun ikut duduk disebelah Arzu. Cella mengernyit bingung saat melihat Arzu terus memperhatikannya.
"Ada apa? Apa ada yang salah?" tanya Cella sambil melihat penampilannya.
__ADS_1
"Kayak mau ke rumah sakit aja sudah rapi? " tanya Arzu sambil menyesap kopi. Cella memberikan tatapan tajam pada Arzu.
"Pake nanya, ini semua kan ulah kamu." ketus Cella sambil menyendok nasi dan memasukkannya kedalam mulut. Ia benar-benar sangat lapar, ditambah lagi pagi-pagi ia harus bermain air selama satu jam lebih. Arzu tersenyum saat melihat wajah kesal Cella. Baginya itu sangat menggemaskan.