
"Dasar bodoh, kenapa tidak diobati? Tanganmu sudah bengkak." omel Cella sembari mengobati tangan Arzu. Arzu sama sekali tidak bicara. Ia terus menatap wanita cantik yang ada di hadapannya.
"Aku menunggu dokter datang mengobatiku." ucap Arzu tanpa mengalihkan pandanganya dari Cella.
"Kamu itu seperti anak kecil, kamu kan dokter. Mengobati diri sendiri saja tidak bisa." omel Cella meletakkan kotak p3k di atas nakas. Arzu masih setia menatapnya.
"Sudah beres, aku akan pergi melihat si kembar. Aku sangat merindukan mereka." imbuh Cella hendak pergi. Namun dengan cepat ditahan oleh Arzu.
"Kau belum selesai mengobatiku." ucap Arzu yang berhasil membuat Cella bingung.
"Rinduku belum terobati." ujar Arzu yang berhasil membuat mata indah itu membulat sempurna.
"Lepaskan, mereka menangis." ucap Cella berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Arzu.
"Katakan kau mencintaiku." ucap Arzu. Cella memutar kedua bola matanya. Ia tak pernah menyangka jika seorang Arzu yang terkenal dingin bisa sehangat ini.
"I... Love.. you.. " ucap Cella yang langsung beranjak pergi. Arzu tersenyum senang melihat punggung Cella yang mulai menghilang di balik pintu.
"I love you to." balas Arzu. Ia membuka kemejanya dan langsung beranjak menuju kamar mandi.
"Hai sayang, bunda rindu kalian." ucap Cella menggendong Qilla, namun tak lama Syila menangis. Cella tertawa renyah, ia begitu gemas dengan dua bayi kembar itu. Masih sangat kecil tapi sudah tahu yang namanya cemburu.
"Iya sayang, bunda akan berlaku adil kok. Sini, Syila juga bunda gendong kok." ucap Cella menggendong keduanya dengan susah payah.
"Wah, kalian sudah berat ternyata." ucap Cella mencium pipi keduanya. Ia membenarkan posisi kedua bayi itu.
"Bunda sangat merindukan kalian." Ciuman hangat ia berikan pada kedua bayi mungil itu. Bibirnya terus menyunggingkan senyuman. Ia sangat bahagia karena bisa kembali melihat bayi kesayangannya. Entah sejak kapan mereka berdua ada dihatinya. Walaupun kedua bayi itu berasal dari wanita yang Arzu cintai.
"Maafkan aku Monik, aku tidak pernah bermaksud untuk merebut mereka darimu. Kamu akan tetap ada di hati mereka sampai kapanpun. Izinkan aku untuk melanjutkan perjuanganmu, menjaga mereka dengan baik." ujar Cella mengecup pipi kedua bayi mungil itu.
"Bunda janji, bunda akan terus menjaga kalian. Bunda sayang kalian." ucap Cella. Tanpa ia sadari, semua ucapannya didengar oleh seseorang. Orang itu tersenyum dan berjalan menghampirinya.
"Hanya mereka yang kamu jaga, lalu bagaimana denganku?" tanya orang itu yang berhasil membuat Cella sangat terkejut.
"Arzu, kaget tahu gak!" seru Cella dengan wajah kesal. Arzu tersenyum. Hal itu berhasil membuat Cella langsung terdiam.
"Kamu senyum?" tanya Cella begitu polos. Mendengar pertanyaan itu, wajah Arzu kembali seperti semula.
"Tidak, sejak kapan aku tersenyum padamu." ucap Arzu mengambil Syila dari gendongan Cella.
"Ck, ya sudah. Aku juga tidak lagi berharap melihat senyuman kamu. Iya kan sayang?" ucap Cella mencium pipi Qilla dengan gemas. Arzu kembali tersenyum, namun hal itu tak Cella ketahui.
'Ada saatnya aku akan selalu tersenyum padamu.'
"Cella, bagaimana dengan spesialismu?" tanya Arzu. Cella langsung menatap Arzu.
__ADS_1
"Aku sudah melepaskannya, mungkin itu bukan jalanku. Aku ingin berumah tangga dengan seseorang, tapi belum mendapatkan kepastian." ujar Cella yang memiliki arti sindiran.
"Minggu depan kita menikah, setelah itu lanjutkan spesialismu." ujar Arzu menatap Cella lekat. Cella sangat terkejut mendengar ucapan Arzu, ia tak menyangka jika pria di hadapannya itu menanggapi ucapannya.
"Tidak Arzu, bagaimana mungkin aku kembali kesana. Aku tidak mungkin meninggalkan suami dan anak-anakku. Itu mustahil Arzu." tangkas Cella menatap Arzu.
"Yang menyuruhmu pergi sendiri siapa? Aku juga tidak akan membiarkan istriku pergi sendiri ke negeri orang. Aku akan ikut." ujar Arzu kembali membuat Cella tekejut.
"Jangan bercanda Arzu, bagaimana dengan mereka?" ucap Cella menatap Arzu lekat. Apa yang sebenarnya pria itu pikirkan?
"Kamu ibunya, jadi mereka juga akan ikut." ucap Arzu dengan santai. Mulut Cella sedikit terbuka karena tak percaya dengan perkataan Arzu.
"Aku tidak mengerti." ucap Cella memberikan tatapan bingung.
"Kamu tahu aku adalah pria yang sangat percaya diri, aku sudah mendaftarkan diri universitas yang sama denganmu. Aku akan melanjutkan spesialisku di sana. Karena aku tahu, kau akan menjadi milikku." ujar Arzu tanpa malu. Sedangakan Cella mantap Arzu dengan mulut sedikit terbuka. Ia tak pernah menyangka pria itu benar-benar nekat.
"Huh, anda sangat percaya diri tuan." ucap Cella menggeleng pelan.
"Tapi itu terbukti, kau akan menjadi milikku." ucap Arzu sambil memainkan tangan Syila.
"Lalu bagaimana dengan mereka?" tanya Cella menunjuk kedua bayi kembar itu.
"Kita akan merawatnya bersama-sama. Jika kamu tidak keberatan." ucap Arzu.
"Jadi kau menyetujuinya?" tanya Arzu menatap Cella.
"Tapi, bagaimana kita akan membagi waktu Arzu? Itu bukan perkara mudah, anak seumuran mereka masih sangat membutuhkan kita." ujar Cella.
"Aku tidak akan membiarkan kau melepaskan impianmu Cella. Untuk masalah mereka, kita akan memikirkannya lagi. Pokus pada study mu." ujar Arzu dengan tegas. Cella tak bisa berkata kata lagi. Ia hanya mengangguk pasrah.
***
"Monik, maafkan aku. Saat ini aku sudah menggantikanmu sebagai istrinya. Semoga kamu tidak keberatan. Jangan khawatir, aku tidak akan menggeser posisimu di hatinya. Sampai kapanpun, dia akan tetap mencintaimu." ujar Cella memegang foto Monik. Ya, saat ini Cella memang sudah resmi menyandang status istri dari seorang Arzu. Beberapa jam yang lalu, acara resepsi berlangsung dengan lancar.
"Terimakasih sudah meninggalkan dua malaikat kecil untukku dan Arzu. Aku akan merawatnya dengan baik, aku merindukanmu Monik. Bagaimanapun kita pernah main bersama dan berebut mainan. Betapa bodohnya aku dulu, aku selalu membuat kamu menangis. Padahal kamu masih sangat kecil." ujar Cella sambil terkekeh karena mengingat masa lalunya.
"Kamu tahu, aku banyak belajar dari kamu. Menjadi wanita ceria, dan merubah hatiku yang keras. Kamu selalu bilang, Kak Cella harus senyum. Nanti jadi jelek. Aku masih mengingat semuanya Monik." imbuh Cella, tanpa sadar air matanya kembali menetes.
Cella sangat terkejut saat merasakan sesuatu melingkar di perutnya.
"Jangan menangis, dia tidak menyukainya. Dia sudah bahagia, lihat dia tersenyum begitu lebar." ujar Arzu mengecup pipi Cella.
"Aku tidak menangis, hanya kelilipan." elak Cella menghapus air matanya. Arzu tersenyum dan kembali mengecup pipi Cella. Ia mengambil foto Monik dan meletakkannya kembali diatas meja. Arzu menarik bahu Cella perlahan. Ia menatap wajah sembab sang istri begitu dalam.
"Ternyata kamu jelek saat menangis." ucap Arzu yang berhasil membuat Cella terkekeh.
__ADS_1
"Ck, jangan bercanda." ucap Cella memukul dada bidang Arzu.
"Arzu, aku sangat bahagia. Pada akhirnya aku bisa merasakan cinta yang sebenarnya. Aku kira, kamu hanya akan menjadi bayanganku. Tapi sekarang, kamu nyata. Ada di hadapanku dengan status sebagai suamiku. Aku bahagia." Cella langsung memeluk Arzu. Air mata bahagianya tumpah begitu saja hingga membasahi pakaian Arzu.
"Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku. Jadi jangan pernah menangis lagi dihadapanku. Karena aku akan merasa gagal membahagiakanmu jika kau menangis." ucap Arzu. Cella tersenyum dan semakin erat memeluk suaminya.
"Lusa kita akan langsung berangkat, bersiaplah." imbuh Arzu yang berhasil membuat Cella tekejut. Ia mengangkat kepala untuk menatap wajah Arzu.
"Arzu, apa tidak terlalu cepat?" tanya Cella.
"Masih banyak yang harus kita urus. Jangan khawatir masalah anak-anak. Ibu Monik menawarkan diri untuk ikut bersama kita. Sedangakan Moli, dia akan tinggal disini." ujar Arzu.
"Apa itu tidak merepotkan bik Yeni?" tanya Cella lagi.
"Dia neneknya, itu sudah keputusannya sendiri. Aku tidak bisa menolak." ucap Arzu menyelipkan anak rambut Cella. Cella tersenyum dan mengangguk.
"Terimakasih." ucap Cella mengecup bibir Arzu sekilas. Arzu menatap wajah cantik itu dengan seksama. Setiap inci lekukan wajah Cella tak lupa ia absen.
"Dokter Gracella, saat ini kau sudah resmi menjadi istriku. Jangan pernah berfikir untuk meninggalkan aku. Karena aku tidak akan membiarkan kau lari dari sisiku." ujar Arzu menangkup pipi Cella.
"Hey dokter Arzu alias es balok. Saat ini anda sudah sah menjadi suamiku. Jangan mencoba bermain di belakangku. Karena aku akan langsung mencincangmu! Anda juga harus bersedia untuk terus tersenyum padaku. Dan selalu mendengar setiap ocehan ku." balas Cella sambil mengagungkan kedua tangannya di leher Arzu.
"Hmmm... Kita lihat nanti." ucap Arzu tersenyum tipis.
"Hey, jangan main-main denganku!" seru Cella sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kau sangat menakutkan sayang, aku takut tidak bisa tidur karena ulahmu." ucap Arzu tersenyum devil. Cella sedikit merinding dan melepaskan tangannya.
"Ck, aku lapar. Bisa kita makan sebentar?" rengek Cella. Sebenarnya ia ingin mengalihkan pembicaraan Arzu.
"Tidak, kita akan makan disini." ucap Arzu menarik pinggang Cella. Ia sangat terkejut karena ulah suaminya itu.
"Iya, tapi lepaskan aku. Bagaimana kita mau makan? Lepaskan aku dulu, aku akan mengambil makanan." ujar Cella memukul dada Arzu. Arzu sangat kesal mendengar ucapan Cella.
Karena geram, Arzu mendorong tubuh Cella hingga terlentang di atas kasur. Ia tersenyum saat melihat wajah panik Cella.
"Aaaaa... Mau ngapain?" teriak Cella saat Arzu menghimpit tubuhnya.
"Makan malam sayang, bukankah kau lapar?" ucap Arzu memainkan rambut Cella. Sedangkan pemilik rambut itu hanya bisa menelan air ludahnya dengan susah payah. Ini adalah kali pertama dirinya begitu intim dengan seorang laki-laki. Dia sudah cukup dewasa dan mengerti dengan ucapan suaminya itu.
"A... Arzu, aku ingin ke kamar mandi. Bisa lepaskan aku?" Cella terlihat sangat gugup. Arzu semakin mendekatkan wajahnya. Bagi Arzu, wanita yang saat ini berada di hadapannya sangat menggemaskan. Pipi merona dan bibir seksi miliknya benar-benar sangat menggoda.
"Sudah aku katakan, aku tak akan melepaskanmu sayang. Tidak akan pernah!" seru Arzu sambil terus menatap wajah Cella yang sudah seperti kepiting rebus.
'Ya tuhan selamatkan aku, aku tak pernah menyangka jika Arzu semengerikan ini. Pipiku sangat panas, bagaimana ini?' jerit Cella dalam hati.
__ADS_1