
Monik mulai membuka matanya perlahan, ia melihat ruangan yang begitu asing baginya. Monik langsung terperanjat saat kembali teringat kejadian ia di Mall. Inna yang tertidur di sebelah Monik langsung terbangun saat merasakan ada pergerakan dari Monik.
"Monik kamu sudah sadar sayang?" tanya Inna bangun dari duduknya dan berpindah kesebelah Monik.
"Ma, anak Monik baik-baik aja kan Ma. Dia sehat kan Ma?" tanya Monik dengan penuh harapan, Inna bingung harus menjawab apa pada Monik. Inna memeluk Monik dengan erat, ia tidak sanggup untuk mengatakan yang sebenarnya terjadi.
"Ma, kenapa mama diam?" tanya Monik sedikit bergetar karena takut mendengar kabar buruk dari mertuanya.
"Ini semua salah mama, tidak seharusnya mama mengajak kamu keluar. Ini semua salah mama." ucap Inna menangis dipelukan Monik, Monik meneteskan air matanya karena sudah mengerti dengan ucapan Inna.
"Mama jangan bohongin Monik, anak Monik baik-baik aja Ma. Monik yakin." ujar Monik melerai pelukan Inna dan menangkup wajah Inna. Monik menatap manik mata Inna untuk mencari kebohongan, namun ia harus kecewa karena tidak ada kebohongan di mata Inna. Inna menundukkan kepalanya dan mulai menangis tersedu.
"Mama minta maaf sayang." ucap Inna menarik dagu Monik dan menghapus air mata Monik.
"Monik juga salah Ma, Monik tidak mendengar ucapan Kak Arzu untuk tetap dirumah. Mama tidak salah". ujar Monik memeluk Inna, ia tidak bisa menyalahkan Inna karena ia tak seharusnya menerima ajakan mertuanya. Monik melerai pelukannya dan langsung menatap Inna.
"Ma, kak Arzu?" tanya Monik sedikit ketakutan, ia sangat takut Arzu akan marah.
"Kami belum memberi kabar, ponselnya belum aktif". ucap Inna mengelus pipi Monik.
"Jangan katakan ini pada kak Arzu, tunggu dia pulang dulu Monik mohon ma. Monik tidak mau kak Arzu khawatir pada Monik Ma dan akan mengganggu kerja kak Arzu." ujar Monik menggenggam tangan Inna, Inna menggelengkan kepalanya karena tidak setuju dengan keinginan Monik.
"Tidak sayang, kamu harus memberi tahu Arzu. Dia harus tahu secepatnya, bagaimana jika ia mendengar dari orang lain?" ujar Inna mencoba meyakinkan Monik.
"Monik yang akan menanggung resikonya Ma, Monik mohon. Monik sudah sangat sering mengganggu dan menyusahkan kak Arzu." ujar Monik memohon pada Inna, Inna menatap Monik dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
__ADS_1
"Baik lah jika itu keinginan kamu." ucap Inna mengalah karena ia tidak tega melihat Monik yang masih terpukul karena kehilangan bayinya. Monik memeluk Inna dan kembali menangis.
"Monik tidak bisa menjadi istri yang baik Ma, Monik... Monik... "
"Sudah, jangan bicara lagi. Ini sudah takdir, tidak perlu bersedih sayang, Allah akan memberikan hadiah lain untuk kamu dan Arzu." ujar Inna memotong ucapan Monik, ia mengelus kepala Monik dan bisa mengerti apa yang saat ini Monik rasakan.
"Makan dulu ya, kamu pasti lapar". ucap Inna yang dijawab gelengan oleh Monik, Innw menghela nafas dan menggenggam tangan Monik.
"Makan, kamu harus sehat. Mama tidak suka kalau kamu seperti ini". Ucap Inna mengambil bubur diatas meja, Monik tidak bicara dan hanya menatap bubur yang Inna pegang dengan tatapan kosong.
"Maafkan aku kak, aku tidak bisa menjaga anak kita". Ucap Monik didalam hati, air matanya terus mengalir seakan tak ingin berhenti. Inna yang melihat itu ikut bersedih, Monik merebahkan tubuhnya kembali.
"Ma, Monik ingin sendiri". ucap Monik pelan, ia membalikan tubuhnya membelakangi Inna. Hatinya begitu berkecamuk tak menentu, ia terus memikirkan apa yang akan Arzu lakukan jika ia tau Monik keguguran. Inna mengerti dengan keadaan Monik, ia menaruh kembali bubur diatas meja dan langsung beranjak keluar.
"Aku minta maaf kak". ucap Monik disela isakanya, Monik *** selimutnya untuk menyalurkan rasa sakit dihatinya. Ia membenci dirinya karena tidak mendengar ucapan Arzu.
"Halo sayang". ucap Arzu disebrang telpon. Monik menutup mulutnya agar Arzu tak mendengar suara tangisannya.
"Halo sayang, kamu masih disana kan? Apa kamu baik-baik saja?" celoteh Arzu yang membuat Monik semakin sedih.
"Monika". ucap Arzu saat tak mendengar suara Monik, Monik berusaha menghentikan tangisannya.
"I-iya, Monik baik-baik aja kak. Kakak sudah sampai?" ucap Monik dengan suara serak khas orang sehabis menangis.
"Kamu menangis? Ada apa sayang? Apa perut kamu sakit lagi?" tanya Arzu bertubi-tubi, Monik yang mendengar itu kembali menutup mulutnya karena tidak tahan.
__ADS_1
"Sayang, jangan buat aku khawatir. Katakan ada apa huh?" ucap Arzu dengan nada Khawatir. Monik menghapus air matanya dan kembali menormalkan dirinya.
"Monik hanya merindukan kakak, Monik rindu pelukkan kakak." ucap Monik pelan, disebrang sana Arzu tersenyum saat mendengar ucapan Monik.
"Aku juga merindukanmu, kamu tahu tidak, dari tadi perasaanku tidak enak. Aku kira kamu kenapa-napa, tapi sekarang aku lega karena kamu baik-baik saja." ujar Arzu, Monik yang mendengar itu hanya menatap lurus kedepan.
"Aku tidak baik-baik aja kak, anak kita sudah tidak ada." Monik sangat ingin mengatakan hal itu, tapi mulutnya seakan tak ingin bicara.
"Sayang". panggil Arzu saat Monik kembali terdiam.
"Cepat pulang". hanya itu yang dapat Monik ucapkan, mulutnya seakan tak ingin berkata jujur.
"Pasti, aku akan pulang cepat. Aku tidak bisa jauh darimu, aku mencintaimu." ucap Arzu sambil menatap langit-langit kamar hotel.
"Monik juga cinta kakak, Monik mengantuk." ucap Monik berbohong, ia tidak sanggup lagi mendengar suara Arzu yang membuat dirinya ingin terus menangis.
"Ya sudah, tidur lah. Selamat malam honey, love you." ucap Arzu.
"Love you to". ucap Monik mematikan sambungan telponya, ia menangis tersedu sambil memeluk ponselnya.
Arzu menatap ponselnya heran, ia merasa ada yang aneh pada istrinya. Namun Arzu langsung menepis semua pikiran buruknya, saat ini ia sangat lega karena sudah mendapatkan kabar dari Monik.
"Gimana?" tanya Aditya yang baru keluar dari kamar mandi, ia merebahkan tubuhnya disebelah Arzu.
"Dia baik-baik aja, tapi hatiku masih mengganjal". ucap Arzu menatap langit-langit.
__ADS_1
"Apa lagi yang Lo pikirin Hah? Udah dapat kabar juga. Udah ah gw mau tidur, capek banget". ujar Aditya yang langsung membelakangi Arzu. Arzu beranjak keluar dari kamar untuk mencari udara segar agar pikirannya lebih fresh. Namun saat Arzu hendak masuk kedalam lift seseorang menarik tangannya.