
Monik mengikat rambut panjangnya dan membenarkan kaca mata yang bertengger di wajah cantiknya. Ia mulai membereskan pakain miliknya dan milik Arzu karena sore ini mereka akan kembali ke Indonesia.
"Sayang, menurut kamu mama mau tidak menerima kalung ini?" tanya Arzu menunjukkan sebuah kalung tradisional buatan masyarakat Maldives.
"Mama pasti mau kak, apa lagi pemberian anak tersayang. Lagian mama kan sering pakai kalung yang unik" ucap Monik yang masih sibuk membereskan pakaian. Arzu yang mendengar itu tersenyum, ia berjalan menghampiri Monik dan memeluk Monik dari belakang. Hal itu kini menjadi hobi baru bagi Arzu.
"Benarkah? Kalau begitu mama sangat mirip denganku karena menyukai hal unik, seperti kamu" ucap Arzu mencium leher Monik. Monik yang mendengar itu hanya memutar kedua bola matanya, akhir-akhir ini Arzu sangat sering gombal hingga membuat Monik jangah.
"Monik, bukan unik" ucap Monik kesal, Monik melepaskan pelukan Arzu dan berjalan keluar kamar. Ia berdiri menatap hamparan laut yang akan menjadi kenangan indah untuknya.
"Kamu tidak ingin pulang?" tanya Arzu merangkul pinggang Monik dan ikut menatap laut biru.
"Mau, Monik sangat merindukan mereka yang ada disana" ucap Monik menatap Arzu, Arzu tersenyum dan mengangguk kecil dengan tatapan lurus kedepan.
"Apa kamu bahagia?" tanya Arzu lagi yang berhasil membuat Monik terkejut, Arzu menatap Monik untuk meminta jawaban.
"Menurut kakak?" bukan menjawab, Monik malah balik bertanya sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Arzu.
__ADS_1
"Kamu tidak bahagia, karena selalu saja menangis" ucap Arzu menatap wajah Monik lekat, Monik menundukkan kepalanya dan tersenyum. Monik menenggelamkan wajahnya di dada bidang Arzu, Ia memindahkan tanganya ke pinggang Arzu.
"Monik akan selalu bahagia, asal kakak selalu bersama Monik" ucap Monik memejamkan matanya meraskan kehangatan tubuh Arzu. Tangan kekar Arzu semakin erat memeluk pinggang Monik hingga kini tak ada jarak diantara keduanya.
"Berjanji lah untuk selalu ada di sampingku" ucap Arzu yang memiliki perasan tidak enak dan sangat takut kehilangan Monik.
"Monik berjanji" ucap Monik mengangguk pelan, Arzu mencium pucuk kepala Monik begitu lembut. Lalu tak ada lagi pembicaraan diantara mereka, keduanya hanya diam menikmati suasana hangat dan keindahan Maldives untuk terakhir kalinya.
***
Di kamar yang besar terlihat Elsha masih terbaring lemah di atas tempat tidur, wajahnya terlihat pucat dan keringat mulai membasahi dahinya. Elsha menggenggam selimut yang menutup setengah tubuhnya dengan erat.
"Sayang, ini mama. Buka mata kamu" ucap Inna panik sambil menepuk pipi Elsha pelan.
"Tidak!! Jangan sentuh aku!!" Elsha kembali teriak dan menepis tangan Inna, Elsha terus meronta dan tubuhnya bergetar hebat.
"Ya tuhan" ucap Samuel yang baru masuk bersama Arza, ia menghampiri putrinya dan langsung menarik Elsha kepelukannya. Inna yang panik pun mulai meneteskan air matanya, ia tidak tega melihat putrinya setiap hari seperti ini. Elsha masih sangat trauma dengan apa yang terjadi seminggu yang lalu.
__ADS_1
"Ma, tolong ambilkan obat Elsha" ucap Samuel yang masih memeluk Elsha dengan erat, Elsha terus meronta dan berteriak. Inna mengangguk dan langsung mengambil obat di dalam laci dengan cepat.
"Ssshhtt, ini papa sayang, jangan takut lagi" ucap Samuel menangkup wajah Elsha, Elsha membuka matanya perlahan dan langsung menangis. Elsha memeluk Samuel dengan erat dan menangis tersedu.
"Dia datang lagi pa, dia ada disini. Elsha takut" ucap Elsha mengeratkan pelukannya pada Samuel.
"Tidak perlu takut, papa, mama dan kakak kamu ada disini" ucap Samuel mengelus kepala Elsha untuk menenangkan Elsha yang masih bergetar ketakutan.
"Pa, biarkan Arza menghabisi pria brengsek itu!! Dia sudah membuat Elsha menderita seperti ini" seru Arza yang tersulut emosi karena tidak sanggup harus melihat Elsha menderita seperti ini.
"Tidak perlu Arza, dia sudah mendekam di penjara. Biarkan dia menjalani hukumannya" ucap Samuel menatap Arza yang begitu emosi. Bagaimana tidak, Arza baru pulang dari Singapura siang tadi dan mendapatkan kabar tentang adik kecil kesayangannya hampir di perkosa seseorang.
"Mau sampai kapan pa? Bahkan dalang dibalik semua ini juga belum tertangkap" seru Arza yang masih emosi, Inna menghampiri Arza dan mengelus punggung Arza untuk menenangkan putranya.
"Ma?" ucap Arza menatap Inna, Inna menggelengkan kepalanya. Arza menghela nafas kasar dan langsung beranjak pergi meninggalkan kamar Elsha.
"Biarkan dia seperti itu" ucap Samuel menatap Inna, Elsha kembali terlelap dalam dekapan Samuel.
__ADS_1
"Pa, kita harus cepat menyembuhkan Elsha. Mama sudah tidak sanggup melihat Elsha seperti ini" ucap Inna kembali menagis, Samuel menungguk untuk menyetujui ucapan Inna.