ARZU

ARZU
Chapter 55


__ADS_3

Arzu melangkah dengan tergesa menuju ruangan Monik. Setelah mendengar ucapan Elya, ia sangat merasa bersalah sudah meninggalkan Monik.


Arzu membuka pintu kamar inap Monik dengan pelan, namun ia sangat terkejut saat melihat Monik baru saja keluar dari kamar mandi.


"Sayang, kamu tidak apa-apa? Kak Elya bilang kalau kamu pendarahan?" tanya Arzu menghampiri Monik.


"Monik baik- baik aja kak" ucap Monik kembali naik ke atas brankar dengan bantuan Arzu.


"Maaf" ucap Arzu memeluk Monik begitu lembut.


"Monik yang minta maaf, Monik sudah membuat kakak marah" ucap Monik mulai menangis.


"Tidak sayang, jangan menangis" ucap Arzu menangkup wajah Monik, ia tersenyum dan menghapus air mata Monik dengan ibu jarinya.


"Tidur lah, aku akan menemanimu" ucap Arzu mencium kening Monik, Ia membantu Monik berbaring dan menarik selimut hingga sebatas dada.


"Jangan pergi" ucap Monik menatap Arzu, Arzu pun mengangguk dan duduk di sebelah Monik. Monik melingkarkan kedua tanganya di pinggang Arzu.


"Aku tidak akan pergi" ucap Arzu meletakkan dagunya di kepala Monik.


"Kak, bagaimana kabar kak Rangga? Apa dia sudah sadar?" tanya Monik mengangkat kepalanya untuk melihat Arzu.


"Keadaanya masih sama seperti kemarin-kemarin" ucap Arzu.


"Monik boleh kesana lagi?" tanya Monik, Arzu menatap mata Monik begitu dalam.


"Boleh, tapi sekarang kamu harus istirahat dulu" ujar Arzu menidurkan Monik.


"Tapi kak... "


"Sore nanti kita akan temui Rangga" ucap Arzu merapatkan selimut di tubuh Monik. Monik terus menatap Arzu, ia mengeggam tangan Arzu begitu erat.


"Ada apa lagi?" tanya Arzu, Monik menggelengkan kepalanya dan langsung memejamkan matanya.


"Aku mencintaimu" ucap Arzu mencium kening Monik, Ia terus menatap wajah Monik begitu lekat. Menyusuri setiap lekukkan wajah Monik yang begitu indah. Arzu tersenyum sambil mengelus pipi mulus Monik.


"Kak" ucap Monik kembali membuka matanya.


"Ada apa hum?" tanya Arzu menekan hidung Monik gemas.


"Dia mau dipeluk" ucap Monik menarik tangan Arzu dan meletakkan di perutnya.


"Dia pasti akan manja seperti kamu" ucap Arzu, Monik yang mendengar itu langsung tersenyum. Hati Arzu menghangat saat melihat senyuman Monik yang beberapa hari ini menghilang entah kemana.


"Heem, dan akan sangat tampan seperti kakak" ucap Monik.

__ADS_1


"Jika dia perempuan?" tanya Arzu menatap Monik.


"Emmmm... Pasti mirip kakak juga dong" ucap Monik dengan semangat.


"Tapi aku ingin dia mirip dengan kamu" ucap Arzu mengelus perut Monik.


"No, dia harus mirip kakak" ucap Monik tak mau kalah.


"Ya, terserah kamu aja deh" ucap Arzu, senyuman di wajah Monik seketika langsung pudar.


"Kakak marah?" tanya Monik dengan air mata yang mulai berlinang.


"Marah? Enggak" ucap Arzu.


"Tapi kakak marah, tadi suara kakak beda" ucap Monik mulai meneteskan air matanya.


"Enggak sayang, tidak ada yang marah" ucap Arzu mengelus pipi Monik, Monik mulai terisak hingga membuat hidungnya memerah.


"Kalau kakak tidak marah, Monik mau keluar" ucap Monik membuat Arzu terkejut.


"Keluar?" tanya Arzu bingung.


"Monik mau makan pecel lele kak, tapi kakak yang ulek sambelnya di tempat itu juga" rengek Monik, Arzu membulatkan matanya saat mendengar keinginan Monik.


"Kakak marah?" tanya Monik saat melihat mata Arzu terbelalak.


"Monik mau sekarang!!" seru Monik memotong ucapan Arzu dan menatap Arzu tajam. Arzu yang mendengar itu hanya bisa menghela napas.


"Baik lah, tunggu aku ambilkan jaket... "


"Monik mau pake baju dokter kakak" ucap Monik yang berhasil menghentikan langkah Arzu.


"Tapi baju ini tidak bisa.. Baik lah, ayok kita pergi" ucap Arzu mengalah saat melihat air mata Monik yang sedikit lagi akan tumpah. Mendengar itu air mata Monik menguap begitu saja, ia tersenyum lebar karena sangat bahagia. Arzu membuka snelli miliknya dan memakaikan pada Monik.


Semua orang di rumah sakit menatap Arzu kagum. Bagaimana tidak, saat ini Arzu menggendong Monik ala bridal style dan membawa Monik ke parkiran.


"Apa kamu bahagia?" tanya Arzu, Monik menatap Arzu dan menggeleng.


"Semua orang melihat kakak takjub, Monik gak suka. Cuma Monik yang boleh pandang kakak" ujar Monik mengerucutkan bibirnya. Arzu yang mendengar itu langsung tersenyum.


"Jangan senyum, mereka semua menatap kakak seperti orang lapar" ucap Monik ketus, Arzu yang mendengar itu langsung memasang wajah Datar.


"Kau sangat menggemaskan sayang, aku ingin sekali mengigitmu" ucap Arzu menatap lurus kedepan.


"Memangnya kakak vampire apa?" ucap Monik memukul dada bidang Arzu.

__ADS_1


"Ya, aku sangat haus darah manis kamu sayang" bisik Arzu tepat di telinga Monik. Monik tersenyum dan menenggelamkan wajahnya di leher Arzu.


***


Di warung pinggir jalan terlihat semua orang menatap pria tampan yang sedang mengulek sambal pecel dengan mata berbinar. Warung itu pun yang tadinya sepi kini mulai ramai oleh pengunjung yang penasaran.


"Wah ganteng banget tu cowok, dia penjual baru ya?" bisik para pengunjung yang berhasil membuat Monik kesal.


"Sayang, bisa di percepatan tidak? Baby nya udah lapar" rengek Monik menghampiri Arzu dan berhasil membuat semua orang terkejut.


"Wah si eneng nya udah gak sabaran ya?" ucap pemilik warung.


"Iya buk, lapar hehe" ucap Monik sambil mengelus perutnya. Monik melirik para pengunjung yang sedari tadi terus menatap Arzu.


"Ini sudah selesai" ucap Arzu, Monik mengangguk antusias saat melihat sepiring nasi pecel lele di tangan Arzu. Arzu menggenggam tangan Monik dan membawanya kembali duduk.


"Ya ampun, cocok banget yak. Cantik ama ganteng, mau juga dong kayak gitu" ucap seseorang dengan mata berbinar.


"Kak, mau di suapin ya?" rangek Monik.


"Iya manja" ucap Arzu sambil mengacak rambut Monik, Monik tersenyum sambil mengangguk.


Arzu menyuapi Monik dengan begitu sabar karena Monik sangat pelan mengunyah makanannya.


"Pahit" ucap Monik menatap Arzu.


"Pahit?" tanya Arzu bingung, Ia memasukkan sesendok nasi kemulutnya karena penasaran .


"Enak" ucap Arzu, Monik menggelengkan kepalanya dengan kuat.


"Kakak aja yang makan, Monik yang suap" ucap Monik begitu manja, ia mengambil piring dan mulai menyuapi Arzu.


"Jika ini di rumah, aku sudah menghukum kamu sayang" ucap Arzu menatap Dara mencubit pipi Monik dengan gemas.


"Sakit kak" ucap Monik mengerucutkan bibirnya.


"Kau sangat menggemaskan" ucap Arzu menyentuh bibir pink Monik.


"Kak, Monik gak mau lagi ke rumah sakit. Monik bosan, Monik rindu rumah dan kasur" ucap Monik menatap Arzu penuh harap.


"Kamu belum sembuh total, jadi harus tetap di rumah sakit. Jika dirumah aku sangat sulit mengawasimu, kamu sangat ceroboh" ucap Arzu mengelus tangan Monik.


"Tapi..."


"Tidak ada bantahan, ini demi kebaikan kamu dan anak kita" ucap Arzu menatap mata Monik begitu dalam. Monik pun ikut menatap Arzu, lalu ia mengangguk pelan.

__ADS_1


Setelah selesai makan, Arzu dan Monik kembali kerumah sakit. Monik yang kelelahan pun tertidur di mobil, Arzu melirik kearah Monik sekilas.


"Terimakasih kamu sudah meberiku kebahagiaan" ucap Arzu menggenggam tangan Monik dengan erat.


__ADS_2