ARZU

ARZU
Chapter 61


__ADS_3

5 bulan kemudian...


"Akhhh... " Monik bangun dari tempat tidur saat merasakan perutnya mules bukan main. Ia melihat jam dinding yang masih menunjukkan pukul tiga dini hari. Monik mengambil ponselnya karena malam ini Arzu tidak pulang.


"Angkat kak, Akhhh..." ponsel itu terjatuh bersamaan dengan tubuh Monik. Betapa terkejutnya ia saat melihat darah segar mengalir di kaki jenjangnya.


"Ya Allah, tolong lindungi anak-anakku" ucap Monik berusaha bangun, namun ia tidak sanggup menahan rasa sakit yang semakin menjadi.


"Kak, aku mohon pulang lah" ucap Monik, ia mengigit bibirnya untuk menahan rasa sakit yang luar biasa.


Monik kembali mengambil ponselnya. Namun sayang, nomor ponsel Arzu tidak dapat dihubungi. Lalu ia menekan asal nomor yang ada di ponselnya. Suara sambungan telpon pun terdengar.


"Tolong... " ucap Monik saat mendengar suara seseorang dibalik telpon. Ia meringis dan marasakan sesuatu mengalir deras di kakinya. Kepalanya sangat pusing, ia melihat sekeliling yang seperti berputar hingga tak lama ia tak sadarkan diri.


Setelah beberapa saat terdengar suara pintu dibuka. Langkah kaki itu semakin mendekat.


"Kak mon, ya allah!!" teriak seorang wanita yang langsung menghampiri Monik. Wajahnya pucat seketika saat melihat darah segar yang sudah membasahi lantai.


"Ya allah, kak Zu kemana sih?" ucap wanita itu membantu Monik bangun. Sebelah tanganya merogoh ponsel untuk menghubungi seseorang.


"Ya allah kak, kenapa bisa seperti ini sih?" ucap wanita itu yang tak lain adalah Elsha. Ia langsung membawa Monik kerumah sakit terdekat.


"Halo Ma, kak Mon pendarahan. Sekarang Elsha dirumah sakit xxx... Iya Ma, kak Zu tidak bisa dihubungi. Iya Ma, Elsha mengerti. Wa'alaikumusalam" Elsha duduk di kursi tunggu dengan begitu lemas. Ia menatap pintu UGD begitu lekat. Bibirnya terus bergerak untuk memanjatkan doa, kedua tangannya terpaut.


"Ya allah, tolong lindungi kak Mon dan bayinya." ucap Elsha. Ia bangun dari duduknya untuk mendekati pintu. Dia benar-benar gelisah.


"Elsha, bagaimana keadaannya?" tiba-tiba Arzu muncul dan mengejutkan Elsha.


"Ya ampun, kakak kemana aja sih? Kak mon pendarahan. Sudah tahu istri sedang hamil malah tidak pulang" omel Elsha menatap Arzu tajam.


"Maaf, rumah sakit sedang kekurangan dokter. Lalu bagaimana sekarang?" ujar Arzu berjalan kearah pintu. Wajahnya terlihat sangat pucat. Ia mendapat kabar dari Cella, Inna lah yang menghubungi dokter cantik itu.


"Dokter masih menangani kak Monik, kakak duduk dulu" ucap Elsha menghampiri Arzu.

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa sebodoh ini, ponsel ku lowbat" ucap Arzu memgacak rambutnya kasar. Ia terus berjalan kesana kemari.


Tak berapa lama dokter pun keluar. Arzu langsung mendekati dokter itu dengan wajah pucat.


"Bapak suaminya?" tanya sang dokter yang langsung di jawab anggukkan oleh Arzu.


"Kami harus melakukan operasi secepatnya, istri anda mengalami pendarahan hebat dan anak yang ada dalam kandungannya harus segera di keluarkan" ucap sang dokter yang berhasil membuat Arzu lemas seketika.


"Ya tuhan, bagaimana ini bisa terjadi? Usia kandungannya belum genap 7 bulan dok" ucap Arzu mengusap wajahnya kasar.


"Maaf tuan, tapi istri anda harus segera di operasi. Jika tidak maka... "


"Lakukan yang terbaik dok, saya mohon selamatkan istri saya" ucap Arzu menatap sang dokter penuh harap.


"Kami akan segera melakukan operasi, tolong segera urus administrasi nya tuan" ucap sang dokter yang langsung dijawab anggukan oleh Arzu.


"Banyak berdoa kak, kak Monik pasti kuat dan baby selamat" ucap Elsha menepuk pundak Arzu. Arzu menatap Elsha lekat, lalu ia memeluknya. Elsha membalas pelukkan Arzu dengan lembut.


"Iya kak" ucap Elsha, ia mengelus pundak kakaknya dengan lembut.


Satu jam telah berlalu, Arzu terus menatap pintu ruang operasi. Lampu penanda belum juga menunjukkan jika operasi akan selesai. Walaupun Arzu sudah sangat sering melakukan operasi, namun kali ini ia benar-benar dirasuki rasa takut. Ia duduk dikursi tunggu dengan kaki yang terus bergoyang. Sesekali ia mengusap wajahnya.


"Kak, Elsha keluar sebentar ya? Mama udah dijalan" ucap Elsha yang dijawab anggukan oleh Arzu. Elsha pun menatap Arzu iba, lalu ia langsung beranjak pergi.


Ceklek. Pintu operasi pun terbuka. Arzu langsung bangun dari duduknya untuk menghampiri sang dokter.


"Tuan, istri anda mengalami pendarahan lagi. Kita harus mendapatkan pendonor yang cocok untuknya. Istri anda memiliki golongan darah yang langka, AB negatif." ucap sang dokter yang berhasil membuat Arzu terkejut. Satu kesalahan untuknya, ia tidak pernah tahu apa golongan darah istrinya. Arzu menjatuhkan kembali tubuhnya di kursi.


"Bagaimana aku bisa sebodoh ini?" ucap Arzu mengacak rambutnya kasar.


"Arzu, ada apa sayang?" tanya Inna yang baru saja muncul bersama ibu dan adik Monik. Arzu menatap Inna lekat, lalu ia langsung berhambur kepelukkan Inna.


"Ada apa sayang?" tanya Inna mengelus pundak Arzu.

__ADS_1


"Ada apa dok? Bagaimana keadaan anak saya?" tanya ibu Monik pada sang dokter.


"Anak ibu membutuhkan pendonor darah. Namun golongan darah anak ibu sangat langka" ucap sang dokter.


"Ambil darah saya dok, golongan darah kami sama. Dulu Monik pernah kecelakaan, dan saya yang mendonorkan darah untuknya" ucap Yeni. Namun adik Monik, Moli. Langsung menahan tangan ibunya.


"Tidak ibuk, ibu tidak sehat. Jika ibu melakukan donor darah, ibu akan sakit lagi" ucap Moli menatap Ibunya penuh harap.


"Kakak kamu lebih membutuhkan sayang, ibu sudah tua. Tapi kakak kamu masih harus melanjutkan hidupnya. Jangan khawatir, ibu akan baik-baik saja nak" ucap Yeni menggenggam tangan putrinya.


"Jika ibu yakin, mari ikut dengan saya. Kita tidak bisa membuang waktu lagi. Kondisi pasien semakin melemah" ucap sang dokter, Yeni pun mengangguk dan mengikuti sang dokter untuk melakukan pemeriksaan.


"Ya allah, tolong selamatkan istri dan anak-anakku" ucap Arzu memejamkan matanya.


"Insha allah Monik dan cucu mama akan baik-baik aja, mama tahu Monik wanita kuat" ucap Inna merangkul pundak Arzu. Arzu mengangguk untuk meyakinkan dirinya sendiri.


Arzu menggenggam tangan Monik begitu erat. Tangan yang biasanya hangat itu kini berubah dingin. Ketakutan kembali melanda hati Arzu.


"Bertahan lah sayang, aku akan selalu ada disini. Bersamamu" ucap Arzu mencium kening Monik cukup lama. Arzu menatap wajah istrinya lamat-lamat.


"Aku tidak akan membiarkan kamu berjuang sendirian sayang. Tidak akan pernah, maaf sudah meninggalkan mu sendiri dirumah." imbuh Arzu. Ia kembali mengecup kening Monik. Arzu memejamkan matanya saat mendengar suara denyit alat rumah sakit semakin menusuk telinganya. Suara para dokter dan suster pun menambah kecemasan Arzu. Ia sangat tahu bagaimana sulitnya sebagai seorang dokter dalam menangani pasien. Bukan sekali dua kali ia gagal menyelamatkan nyawa pasien. Hal itu juga semakin menambah rasa takut yang Arzu rasakan.


'Oekkk... Oekkk.. ' tangisan bayi kini memenuhi ruangan. Arzu sedikit lega dan bercampur bahagia saat melihat buah hatinya telah lahir kedunia.


"Suster, kita harus cepat menyelamatkan bayi satunya. Tahan, jangan sampai pasien kembali mengalami pendarahan" ujar sang dokter, keadaan pun kembali panik.


'Oekkk... Oekkk..' tangisan buah hati Arzu yang kedua pun kembali terdengar. Arzu menghela nafas, tanpa sadar air matanya sudah menetes.


"Terimakasih sayang, bangun lah. Kamu harus lihat, anak-anak kita lahir dengan sehat" ucap Arzu mengelus kepala Monik.


'bip bip bip' suara monitor terdengar semakin cepat. Semua dokter dan beberapa suster mulai terlihat tegang. Hal itu juga terjadi pada Arzu. Ia sangat tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


'Tidak sayang, kamu tidak boleh pergi. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Aku mohon bertahanlah.'

__ADS_1


__ADS_2