ARZU

ARZU
Chapter 38


__ADS_3

Drrrttt Drrrttt


Arzu meletakkan pulpen nya dan melihat layar ponsel, ia tersenyum bahagia saat melihat Elsha yang menelepon dirinya. Sudah seminggu lebih Elsha dan kedua orang tuanya di London. Dua hari yang lalu Arzu mendapat kabar jika Elsha sudah kembali normal. Arzu menggeser tombol hijau dan meletakkan ponselnya di telinga.


"Kak Zuuuuuu... " teriak Elsha di seberang sana. Arzu yang terkejut langsung menjauhkan ponselnya dari telinga.


"Ini siapa?" tanya Arzu bergurau.


"Ya ampun, mama lihat lah. Kak Arzu sudah tidak mengenal Elsha, dia sangat jahat" seru Elsha yang berhasil membuat Arzu tersenyum, ia sangat bahagia ternyata adiknya sudah kembali seperti dulu.


"Kakak bercanda, apa kabar?" ucap Arzu.


"Ish...baik kak, kakak sama kak Mon gimana?" ucap Elsha begitu semangat.


"Baik, kapan kalian akan pulang?"


"Minggu depan, kak Za ingin membawa Elsha, mama dan papa keliling dulu" ucap Elsha begitu riang.


"Arza? Jadi dia disana?" tanya Arzu yang terkejut mendengar Arza ada di London.


"Iya kak, dua hari yang lalu kak Za datang ke sini. Kakak mau oleh-oleh apa?" tanya Elsha.

__ADS_1


"Kakak tidak perlu oleh-oleh, cukup dengar kamu sehat saja sudah alhamdulillah" ucap Arzu yang berhasil membuat Elsha terdiam.


"Hey, kamu masih di sana?" tanya Arzu yang tak mendengar suara Elsha.


"Maaf, Elsha sudah membuat semua orang khawatir. Elsha... "


"Jangan banyak bicara, nikmati liburan kamu. Kakak harus kerja, jangan bersedih ok" ucap Arzu.


"Terimakasih kak, Elsha sayang kak Zu.. Muaaahhh" ucap Elsha mematikan sambungan telponya, Arzu yang mendengar itu hanya tersenyum.


"Dasar gadis aneh" ucap Arzu menggelengkan kepalanya, ia kembali berkutat pada kertas laporan miliknya yang harus segera di serahkan sore ini.


***


"Siang" ucap wanita itu membuka pintu ruangan tanpa meminta izin pemiliknya, dengan santai ia berjalan masuk ke dalam ruangan yang memiliki aroma khas pemiliknya.


"Sudah aku katakan beberapa kali jangan masuk sembarangan ke dalam ruangan orang lain" ujar pemilik ruangan dengan nada dingin.


"Hmmm... Mungkin anda lupa ruangan ini milik siapa?" ucap wanita itu duduk sambil menyilangkan kakinya, pandangannya tak pernah lepas dari pria tampan yang masih sibuk dengan kertas-kertas nya tanpa menghiraukan keberadaan wanita itu.


"Tidak perlu sombong, walaupun rumah sakit ini milik ayahmu. Tapi jangan lupa siapa yang ada di belakangnya selama ini" ucap pria tampan itu datar, ia membereskan semua laporan miliknya yang sudah selesai ia kerjakan.

__ADS_1


"Mana tugas kamu yang saya berikan dua hari yang lalu?" ucap pria itu menatap sang wanita tajam.


"Ck, aku kesini bukan untuk membahas tugas. Tapi aku sangat merindukanmu, dokter Arzu" ucap wanita itu berjalan menghampiri Arzu.


"Jangan lancang Vivian, pergi dari ruanganku sekarang. Atau security yang akan menyeret kamu keluar" ucap Arzu yang berhasil membuat Vivian menghentikan langkahnya, ia mengepalkan kedua tangannya karena tidak terima dengan ancaman Arzu.


"Dalam dua puluh menit kamu tidak menyerahkan tugasmu, maka kau akan aku pindahkan pada dokter yang lain. Aku tidak menyukai orang yang malas dan suka membuang waktu" ujar Arzu, Vivian yang mendengar itu semakin kesal.


"Baik lah" ucap Vivian kesal, ia langsung melangkah pergi meninggalkan ruangan Aezu. Vivian membanting pintu dengan kasar, Arzu yang mendengar itu hanya menggelengkan kepalanya.


"Lihat saja, aku akan mendapatkanmu. Kau tidak bisa aku dapatkan dengan cara baik, maka akan aku dapatkan dengan cara licik. Kita lihat apa kau masih menolakku?" ujar Vivian tersenyum licik, ia melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan Arzu.


Monik melangkahkan kakinya dengan santai keluar dari gerbang kampus, biasanya ia akan pulang bersama Elsha. Namun sudah seminggu ini ia harus pulang dengan taksi karena Elsha masih di London.


Saat Monik hendak menghentikan sebuah taksi, pandangannya tak sengaja melihat seseorang yang sangat ia kenal dan sudah lama tak ia lihat. Ia mengurungkan niatnya untuk menyetop taksi. Ia sedikit berlari menyebrang jalan yang lumayan sepi.


"Kak Rangga" teriak Monik melambaikan tangannya pada seorang pria yang tak lain adalah Rangga. Rangga yang menyadari keberadaan Monik langsung menutup kepalanya dengan jaket, ia langsung berlari untuk menghindari Monik. Monik mengernyit bingung saat melihat Rangga berlari menjauhinya.


"Kak Rangga? Kenapa dia tidak menemuiku dan malah berlari?" ucap Monik menatap punggung Rangga yang semakin menjauh. Monik menghela napas, ia berjalan dengan lemas untuk menyetop taksi.


Sesampainya di rumah, Monik langsung merebahkan tubuhnya di sofa. Hari ini ia merasa sangat lelah, padahal ia hanya masuk satu kelas hari ini. Namun tubuhnya sangat lelah dan ingin istirahat, Monik melihat jam dinding masih menunjukkan pukul tiga sore. Ia menghela napas karena Arzu masih sangat lama pulang, hari ini Arzu bekerja hingga malam karena kena ship malam.

__ADS_1


"Ah, kenapa aku sangat merindukan kak Arzu?" ucap Monik mengerucutkan bibirnya. Lalu Monik juga sangat menginginkan masakan Arzu yang selalu membuat air ludahnya meleleh.


"Ck, udah gak waras kamu Monik" ucap Monik menepuk jidatnya, ia menepis semua keinginannya dan beranjak menuju kamar. Mungkin saat ini ia memang membutuhkan istirahat yang cukup agar tidak memikirkan hal aneh.


__ADS_2