
"MONIK... " teriak Arzu saat melihat Monik naik keatas kursi untuk memasang lukisan yang Arza berikan. Monik yang terkejut langsung limbung, untung saja Arzu dengan cepat menangkap tubuh Monik. Jika tidak entah apa yang akan terjadi. Arzu menurunkan Monik degan nafas tersenggal karena kaget.
"Apa kamu sudah gila Hah? Bagaimana kalau aku tidak ada dan kamu terjatuh?" bentak Arzu karena merasa sangat kesal dengan kecerobohan Monik. Monik yang mendengar suara keras Arzu mulai meneteskan air matanya.
"Hiks... Maaf." ucap Monik yang kini tangisannya sudah pecah, Arzu menghela nafas dan langsung memeluk Monik.
"Jangan ulangi lagi, itu sangat berbahaya. Jika kamu terjatuh bagaimana?" ujar Arzu mengelus rambut Monik yang masih menangis tersedu.
"Monik gak akan jatuh hiks hiks hiks kalau kakak gak ngagetin Monik." ucap Monik di sela isakannya.
"Tetap saja kamu itu sangat ceroboh." ucap Arzu tak mau kalah.
"Kok kakak masih marahin Monik sih." rengek Monik merasa Arzu terus menyalahkan dirinya. Arzu yang mendengar itu memijit kepalanya karena sangat pusing dengan sikap Monik yang terlalu sensitif.
"Maaf." ucap Arzu mengalah, ia tidak ingin memancing keributan. Apalagi sampai membuat Monik merajuk, ia akan sangat sulit untuk membujuknya.
"Kak Monik lapar hiks, mau makan soto usus." ucap Monik membuat Arzu terkejut.
"Apa? Soto usus? Emang ada?" tanya Arzu karena ia tak pernah mendengar nama menu seperti itu.
"Ada, tapi kakak yang buat." ucap Monik menatap Arzu sambil tersenyum dan tangisannya hilang seketika. Arzu menggelengkan kepalanya karena ia tidak tahu cara memasak soto, apa lagi soto yang diinginkan Monik.
__ADS_1
"Kakak mau anak kakak ileran?" tanya Monik yang dijawab gelengan oleh Arzu.
"Kalau gitu kakak mau ya buat soto usus? Monik lapar kak." rengek Monik yang dijawab anggukan Arzu karena terpaksa.
"Lalu dimana cari usus yang kamu maksud? Ini sudah malam." ucap Arzu duduk diranjang sambil menatap Monik menunggu jawaban. Monik kembali berfikir, Arzu benar kalau malam seperti ini pasti sangat susah mencari usus. Monik menatap Arzu begitu lama, ia tidak mungkin menyusahkan Arzu terus. Monik mendekati Arzu dan duduk dipangkuan suaminya.
"Maaf sudah buat kakak susah." ucap Monik menatap mata Arzu yang sayu karena kurang tidur.
"Tidak sayang, kamu sama sekali tidak menyusahkan. Apa pun akan aku lakukan untuk kamu." ucap Arzu begitu lembut, Monik sangat bahagia bisa mendapatkan suami yang begitu pengertian seperti Arzu. Dibalik sifat dingin Arzu terdapat kehangatan yang bisa membuat Monik begitu nyaman saat berada disisinya. Monik memeluk Arzu dengan lembut, seakan tidak ingin berpisah dengan Arzu.
"Tidak jadi makan?" tanya Arzu yang dijawab gelengan oleh Monik.
"Monik mau kakak." ucap Monik melerai pelukannya, ia menatap bibir Arzu yang berwarna Pink. Monik melumat bibir Arzu dengan lembut, Arzu sangat terkejut dengan kelakuan Monik yang begitu tiba-tiba. Setelah menyesuaikan diri Arzu membalas ciuman Monik dengan lembut, ia memejamkan matanya sambil menarik tengkuk Monik untuk memperdalam ciumannya. Monik terengah-engah saat Arzu melepaskan pagutanya karena keduanya sudah kehabisan oksigen. Monik menyatukan keningnya dan tersenyum menatap Arzu.
"I love you more... " ucap Arzu yang kembali melumat bibir Monik, Monik memejamkan matanya sambil melingkarkan kedua tangannya dileher Arzu. Arzu melepaskan ciumannya, ia mengingat kembali jika Monik belum makan. Monik menatap Arzu penuh tanda tanya, ada sedikit rasa kecewa karena Aezu menghentikan ciumannya.
"Kamu harus makan dan minum susu." ucap Arzu membuat Monik sangat lemas saat mendengar kata susu.
"Demi anak kita." ucap Arzu yang mengerti jika Monik tidak menyukai susu, Monik tersenyum sambil mengangguk. Lalu keduanya langsung beranjak menuju dapur sambil berpegang tangan.
***
__ADS_1
"Hati-hati dijalan sayang." ucap Monik mencium pipi Arzu dan mencium punggung tangan Arzu sebelum ia turun dari mobil.
"Jaga diri, ingat jangan ceroboh." ucap Arzu mengingatkan Monik, Monik menanggukkan kepalanya sambil tersenyum manis. Monik langsung turun dari mobil dengan wajah sumringahnya, ia bahagia bisa menginjakan kakinya lagi ke kampus setelah beberapa minggu tidak masuk kuliah. Sebenarnya Arzu menyuruh Monik untuk cuti tapi Monik menolak karena ujian akhir semester tinggal depan mata.
"Hai Monik, makin cantik aja." ucap seorang pria menggoda Monik, Monik mengerutkan keningnya karena bingung baru kali ini ada yang mengodanya. Biasanya juga semua pria mengabaikan dirinya, tapi kali ini Monik merasa sangat aneh karena semua orang memandang dirinya.
"Gak nyangka cewek polos kayak dia bisa berbuat serendah itu." bisik seorang wanita yang masih bisa didengar oleh Monik. Monik menghampiri wanita itu untuk menanyakan maksud dari ucapannya.
"Maaf mbak, tadi mbak bilang apa ya?" tanya Monik dengan lembut.
"Eh enggak ada kok." ucap wanita itu sedikit gugup saat melihat wajah Monik.
"Maaf mbak, jika bicara tolong dicari dulu kebenarannya. Sekarang ini hukum di Indonesia makin ketat loh, mbak gak tau ya kalau menuduh orang tanpa bukti itu namanya apa? Hehe, jangan tegang gitu mbak saya cuma becanda kok. By." ucap Monik yang langsung pergi meninggalkan dua wanita yang memsang wajah pucatnya.
"Aku gak nyangka dia orangnya sangat berani." ucap wanita itu pada temanya.
"Makanya jangan lihat orang cuma dari luarnya aja, telinga sama mulut kalian murahan banget sih mau aja dengar ucapan gosip murahan." ucap Elsha menghampiri kedua wanita itu, Elsha memang sedari tadi memperhatikan Monik dan mendengar semua bisikan tentang keburukan Monik.
"Maaf." ucap kedua wanita itu yang langsung pergi meninggalkan Elsha.
"Ya ampun, kenapa mereka begitu menyukai gosip murahan sih? Banyak banget waktu kali ya? Haduh au ah, ngapain juga ngurusin mereka." ujar Elsha yang langsung beranjak pergi. Tanpa Elsha sadari seorang wanita menatapnya dengan penuh amarah.
__ADS_1
"Kau selalu menjadi penghalang rupanya, baik lah kita lihat kau bisa melawanku atau tidak." ujar wanita itu tersenyum licik dan langsung pergi meninggalkan kampus.