ARZU

ARZU
Chapter 23


__ADS_3

Pagi hari Monik sudah sibuk membantu membereskan keperluan yang akan Arzu bawa, hari ini memang keberangkatan Arzu ke Singapura untuk beberapa minggu. Monik sangat berat untuk melepas Arzu, tapi Ia tidak bisa egois dengan keinginannya untuk melarang Arzu pergi. Tanpa Monik sadari air matanya lolos begitu saja, Monik menghapus air matanya dengan cepat karena takut Arzu melihatnya. Namun Monik salah, sedari tadi Arzu terus memperhatikan dirinya dan menyadari jika Monik menagis. Arzu mendekati Monik dan memeluknya dari belakang.


"Aku tidak akan lama, jangan takut aku pasti akan kembali." ucap Arzu mencium leher Monik.


"Monik tahu." ucap Monik sendu sambil terus memasukan pakaian Arzu ke dalam koper. Arzu mengelus perut Monik dengan lembut, ia membalikan tubuh Monik agar menghadap dirinya. Arzu berjongkok untuk menyejajarkan tubuhnya dengan perut Monik.


"Jaga mama sayang, jangan bandel dan nyusahin mama ya? Papa janji tidak akan lama disana, papa sayang kalian." ujar Arzu berbicara pada calon anaknya, ia mengecup perut Monik dengan lembut. Monik tersenyum sambil mengelus kepala Arzu, ia meneteskan air mata bahagia melihat kehangatan Arzu. Arzu kembali bangun, ia menatap mata Monik dan tersenyum manis.


"Monik tidak apa-apa kak, jangan khawatir." ucap Monik membalas senyuman Arzu, Monik mengecup bibir Arzu sekilas.


"Paling cuma rindu." ucap Monik melingkarkan kedua tangannya dileher Arzu, Arzu melakukan hal yang sama yaitu melingkarkan kedua tangannya dipinggang Monik.


"Benarkah? Rindu seperti apa?" tanya Arzu sambil meneliti seluruh lekuk wajah Monik.


"Rindu semua yang ada pada kakak." ucap Monik menenggelamkan wajahnya di dada bidang Arzu.


"Aku juga akan merindukan istriku yang manis dan super bawel." ucap Arzu yang berhasil membuat Monik mengangkat kepalanya.


"Mau Ikut." rengek Monik kembali menangis, Monik benar-benar sangat berat melepaskan Arzu saat ini.


"Tidak bisa sayang, baby masih sangat kecil dan tidak bisa melakukan perjalanan jauh. Kamu juga harus kuliah bukan?" ujar Arzu menatap Monik yang masih menangis, Arzu menghapus air mata Monik dan mengecup kening Monik.


"Jaga diri baik-baik ok? besok Elsha akan jemput kamu untuk tinggal bersama mama." ujar Arzu yang dijawab anggukan oleh Monik.


"Kakak juga jaga diri baik-baik, jangan lupa makan dan jangan terlalu lelah." ucap Monik, Arzu mengangguk dan tersenyum mantap Monik.


"Berangkat sekarang?" tanya Monik merapikan kemeja Arzu. Arzu terus menatap wajah Monik yang pasti akan selalu Ia rindukan.


"Tunggu jemputan." ucap Arzu menyelip kan rambut Monik disela telinga. Monik mengangguk tanda mengerti, ia menatap Arzu hingga pandangan keduanya saling mengunci.


"Akhhh..." pekik Monik saat merasakan perutny keram, Arzu sangat terkejut dan langsung menyuruh Monik duduk.

__ADS_1


"Apa sangat sakit?" tanya Arzu mengelus perut Monik.


"Tidak kak hanya keram biasa, mungkin Monik terlalu lama berdiri." ujar Monik mengusap perutnya yang masih keram, Arzu duduk disebelah Monik ikut mengelus perut Monik.


"Sudah mendingan." ucap Monik menahan tangan Arzu agar tidak melepaskan tangannya.


"Jika seperti ini bagaimana aku bisa pergi?" ucap Arzu khawatir, Monik yang mendengar itu tersenyum.


"Jangan khawatir kak, Monik akan menanganinya. Dia hanya merindukan papanya." ucap Monik menggenggam tangan Arzu untuk mengelus perutnya, Monik sangat menyukai hal itu karena tangan Arzu selalu membuat perutnya nyaman.


***


"Aku pergi". ucap Arzu mencium kening Monik begitu lembut, Monik tersenyum dan mengangguk pelan.


"Jaga diri disana kak, ingat jangan lupa makan." ucap Monik menatap Arzu.


"Iya." jawab Arzu mengelus kepala Monik, lalu Arzu langsung pergi menuju mobil jemputan dari rumah sakit. Monik terus menatap kepergian Arzu, Arzu berbalik sambil melambaikan tangannya. Monik tersenyum dan membalas lambaian tangan Arzu.


"Dengar-dengar istri dokter sedang hamil ya?" tanya seorang dokter wanita membuat semua orang menatap Arzu.


"Ya." ucap Arzu datar sambil menyandar di kursi.


"Wah selamat dok, sebentar lagi bakal jadi ayah." ucap dokter lain begitu semangat, Arzu yang mendengar itu hanya mengangguk. Pikirannya masih pada Monik, ia sangat takut Monik melakukan hal ceroboh lagi. Tanpa Arzu sadari sedari tadi Cella terus memperhatikan dirinya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


"Tenang bro, dia akan baik-baik aja. Percaya sama gw." bisik Aditya menepuk pundak Arzu.


"Dia sangat ceroboh." ucap Arzu pelan sambil terus menatap lurus kedepan.


"Dia pasti bisa jaga diri." ucap Aditya meyakinkan Arzu, Arzu menatap Aditya lekat yang kemudian mengangguk untuk meyakinkan diri sendiri.


Di apartemen, Monik menatap lurus kejendela dan melihat keindahan kota yang tak seindah perasaanya saat ini. Kesunyian mulai melanda dirinya, padahal baru beberapa menit Arzu pergi tapi ia merasa sangat kesepian. Monik tersadar jika separuh jiwanya sudah masuk kedalam jiwa Arzu, ia tersenyum membayangkan pertama kali bertemu dengan Arzu yang begitu dingin dan membuat Monik sangat takut saat melihat wajah datarnya. Monik juga ingat ketika Arzu menolongnya dari preman dan membawa Monik ke tempat dimana saat ini ia berdiri.

__ADS_1


"Jangan melamun terus, dia akan pulang." ujar seseorang yang berhasil membuat Monik terkejut, ia membalikan tubuhnya dan mendapatkan Inna sudah berdiri didepan pintu kamarnya.


"Mama." ucap Monik tersenyum dan menghampiri Inna, Inna memeluk Monik dengan lembut.


"Bagaimana kabar cucu mama, apa dia masih bandel?" tanya Inna melerai pelukannya dan mengelus perut Monik yang masih rata.


"Enggak ma, cuma kalau pagi sering mual dan keram". ucap Monik.


"Itu biasa sayang, dulu saat mama hamil Arzu dan Arza juga seperti itu. Sudah makan?" ucap Inna membawa Monik duduk diatas tempat tidur.


"Sudah Ma, Kak Arzu tidak pernah membiarkan Monik lupa makan. Dia sangat perhatian." ucap Monik menatap Inna sambil tersenyum, Inna pun ikut tersenyum mendengar pemaparan Monik.


"Arzu memang sangat perhatian, hanya saja sifatnya yang datar menutup semua itu. Mama juga bingung dia dapat sifat itu dari mana." ujar Inna tertawa ringan, Monik hanya tersenyum mendengar ucapan Inna.


"Kamu bosan?" tanya Inna pada Monik.


"Sedikit Ma." ucap Monik.


"Kalau begitu ikut mama belanja ya, mama juga sudah lama tidak belanja." ujar Inna mengajak Monik, Monik mengangguk begitu semangat. Lalu keduanya langsung pergi menuju Mall.


"Kita masuk kesini sebentar." ajak Inna begitu semangat sambil menarik tangan Monik masuk kedalam toko yang menjual perlengkapan bayi.


"Ya ampun ini lucu banget, ambil ini ya?" seru Inna mengambil sepatu bayi yang sangat imut.


"Ma ini sangat mahal, lagian kan ini terlalu cepat." ujar Monik saat melihat harga yang tertulis, ia tidak terbiasa membeli barang dengan harga tinggi. Lebih baik uangnya dibelikan keperluan yang lebih penting.


"Tidak jadi masalah, lagian uang suami kamu banyak. Apa jangan-jangan kamu tidak pernah menggunakan uang suami kamu untuk belanja ya?" ujar Inna yang dijawab gelengan oleh Monik. Memang benar Monik tidak pernah memakai uang Arzu untuk membeli barang pribadinya.


"Pakai saja Monik, dia bekerja untuk siapa? Buat kamu kan?" ucap Inna menatap Monik.


"Iya Ma." ucap Monik tersenyum pada Inna. Inna pun tersenyum bahagia, ia sangat tahu menantunya bukan tipe perempuan suka sopping seperti kebanyakan perempuan lainnya. Saat mereka sedang berkeliling seseorang menghampiri mereka.

__ADS_1


"Inna..."


__ADS_2