ARZU

ARZU
Chapter 15


__ADS_3

"Maaf mengganggu..." ucap seorang wanita yang sudah tidak asing dimata Monik, Monik kembali meletakkan sendok dipiring karena moodnya untuk makan benar-benar sudah hilang.


"Aku permisi." ucap Monik yang hendak pergi, namun dengan cepat Arzu menahan tangan Monik.


"Kita harus bicara, ini penting." ucap Arzu menatap Monik yang sudah menahan air matanya agar tidak tumpah.


"Kalian saja yang bicara, lepasin kak. Monik mau pulang, Monik capek." ucap Monik melepaskan tangan Arzu dan langsung beranjak pergi. Arzu mengejar Monik dan menarik tangan Monik.


"Lepasin kak." ucap Monik menatap Arzu tajam.


"Kamu tidak bisa lari dari kenyataan Monik. Kita harus bicara." ujar Arzu menarik tangan Monik dan membawa Monik kembali kemeja tempat tadi mereka duduk.


"Duduklah." ucap Arzu. Monik dengan sangat kesal duduk ditempatnya semula, ia menatap sekilas wajah perempuan yang ada di hadapanya.


"Monik maafkan aku, aku tidak ada maksud untuk menyakitimu. Tapi aku juga tidak bisa berbohong pada diriku sendiri, aku mencintai Arzu dan Tiara juga membutuhkan seorang ayah." ujar wanita itu yang tak lain adalah Ariana. Monik yang mendengar itu hanya diam mematung. Ia sendiri bingung harus bicara apa, dalam hatinya Ia belum iklas untuk berbagai cinta dengan orang lain.


"Terserah kalian, aku tidak bisa melarang hubungan kalian." ucap Monik yang langsung bangkit dari duduknya dan hendak pergi. Memang benar, Monik tidak bisa melarang Arzu untuk menikah lagi. Monik juga tidak tahu menahu tentang masa lalu Arzu dan kisah cinta Arzu.


"Monik tunggu." ucap Ariana, Monik menghentikan langkahnya tanpa berbalik.


"Jika kalian ingin menikah, menikahlah. Aku baik baik saja." ujar Monik yang langsung beranjak pergi.


"Kak kejar dia." seru Ariana menatap Arzu lekat yang masih diam mematung.


"Dia butuh waktu sendiri, biarkan dia pergi." ujar Arzu. Ariana kembali diam dan menatap kearah pintu menatap kepergian Monik. Ia benar benar sangat merasa bersalah.


Monik melangkahkan kakinya dengan begitu malas, ia menghentikan langkahnya saat sudah tiba didepan rumah ibunya. Monik memejamkan matanya dan mencoba untuk menormalkan ekspresi wajahnya.


CEKLEK


Monik sedikit terperanjat saat tiba-tiba pintu terbuka dan menampakkan seorang gadis cantik dengan rambut sebahu. Ia adalah Moli, adik kandung Monik yang kini baru menginjak bangku SMP.


"Kakak?" ucap Moli tak percaya. Monik hanya tersenyum dan mendekati adiknya itu.


"Ibu mana?" tanya Monik sambil masuk kedalam rumah. Sedangakan Moli masih celinggak celinguk mencari sosok tampan yang tak lain adalah Arzu.


"Ibu lagi antar baju dikomplek kak, oh iya suami kakak gak ikut?" ucap Moli sambil menutup pintu. Monik masuk kekamarnya dan melempar tasnya asal. Monik merebahkan tubuhnya diatas kasur dan memejamkan matanya karena merasa sangat pusing.

__ADS_1


"Kakak lagi ada masalah?" tanya Moli yang sedikit curiga dengan sikap Monik. Monik yang mendengar ucapan Moli kembali membuka matanya.


"Tidak ada, kakak cuman capek aja. Kenapa nanya gitu?" ucap Monik menatap Moli yang duduk disebelahnya.


"Tidak, aku cuma curiga aja kakak pergi kesini sendiri." ucap Moli menatap Monik.


"Kayak gak tau aja apa pekerjaan suami kakak. Kak Arzu sedang sibuk di rumah sakit, banyak pasien yang harus menjalankan operasi." ujar Monik berbohong.


"Tumben gak diantar supir?" tanya Moli yang masih tidak percaya dengan ucapan Monik.


"Kakak gak mau ngerepotin orang. Udah ah kakak ngantuk mau tidur." ucap Monik mengambil bantal dan menutup wajahnya. Moli yang melihat tingkah aneh kakaknya hanya menggelengkan kepalanya.


***


Arzu melihat jam ditangannya mulai menunjukkan pukul 12.00 WIB. Ia memijit pelepisnya karena merasa sangat lelah dan terus memikirkan Monik.


"Sedang apa dia sekarang?" tanya Arzu sambil mengambil foto Monik yang sedang tersenyum manis memeluknya dari belakang. Arzu tersenyum saat mengingat kenangan manis bersama Monik. Hingga tanpa ia sadari sedari tadi Rehan sudah masuk keruangannya.


"Ekheemmm... Kangen istri ya pak?" tanya Rehan yang berhasil membuat Arzu terperanjat kaget.


"Ya tuhan paman, kenapa tidak mengetuk pintu dulu saat ingin masuk?" seru Arzu yang terlihat sangat kesal.


"Ada apa paman? Tumben sekali datang kesini?" tanya Arzu penuh curiga.


"Tidak ada, hanya rindu pada ponakan aja." ujar Rehan tersenyum sambil menatap Foto Arzu dan Monik. Arzu yang mendengar ucapan Rehan hanya menggelengkan kepalanya.


"Dua minggu kedepan ada pelatihan di Singapura, kamu wajib ikut." ucap Rehan menatap Arzu yang sedikit terkejut.


"Kenapa mendadak?" tanya Arzu bingung.


"Ada sedikit miskomunikasi, jadi paman harap kamu harus siap meninggalkan istri kamu selama dua minggu." ucap Rehan sambil memainkan buku dimeja Arzu.


"Akan aku pikirkan." ucap Arzu memijit pelepisnya. Rehan yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya, ia tahu Arzu sangat berat meninggalkan istrinya. Apalagi umur pernikahan mereka masih seumur jagung.


"Ya sudah kalau begitu paman harus pulang, jika tidak nenek kamu akan ceramah sepanjang malam." ujar Rehan terlalu berlebihan.


"Makanya cepat cari istri paman." ucap Arzu yang berhasil membuat Rehan terdiam.

__ADS_1


"Perlu waktu." ucap Rehan yang langsung beranjak pergi. Arzu menatap kepergian Rehan dengan tatapan kosong. Ia kembali mengingat Monik, akhir-akhir ini ia sangat jarang berbicara dengan Monik. Terakhir ia bicara dengan Monik tadi siang dan itu pun hanya sebentar. Arzu bangkit dari tempat duduknya dan langsung beranjak untuk pulang.


Sesampainya diapartemen, Arzu melihat keadaan apartemen masih galap. Arzu mengerutkan keningnya saat tidak menemukan Monik. Arzu mengambil ponselnya dan berharap Monik mengirim pesan, namun ia salah. Monik sama sekali tidak memberinya kabar, seketika perasaan Arzu dipenuhi rasa bersalah dan khawatir. Arzu melangkahkan kakinya keluar dari apartemen.


Arzu sedikit berlari menuju mobilnya dan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Suasana jalan terlihat sepi karena sudah larut malam. Arzu mengambil ponselnya dan menekan nomor Monik, terdengar suara nada sambung disana. Namun Monik tidak menjawab panggilan Arzu.


"Pliss angkat telponya." ucap Arzu menatap jalanan yang senggang. Arzu kembali menghubungi Monik, namun hasilnya sama. Arzu tidak menyerah, ia terus menghubungi Monik dan terdengar suara Monik menerima panggilannya.


"Halo." ucap Monik di seberang telpon dengan suara serak nya khas orang bangun tidur. Arzu tersenyum bahagia saat mendengar suara Monik.


"Halo." Monik kembali bicara saat tidak ada jawaban dari Arzu.


"Maaf mengganggu tidurmu." ucap Arzu, Monik terdiam saat mendengar suara Arzu.


"Halo sayang, kamu masih disana?" tanya Arzu saat tak mendengar suara Monik.


"Ya." jawab Monik datar.


"Aku merindukanmu." ucap Arzu.


"Tadi baru ketemu. Monik dirumah Ibu, jadi kakak jangan khawatir." ucap Monik menarik selimutnya karena merasa kedinginan.


"Aku akan kesitu." ucap Arzu semakin kencang melajukan mobilnya.


"Tidak perlu kak... " belum selesai Monik bicara Arzu sudah memutuskan panggilannya. Monik meletakkan kembali ponselnya dan langsung bangun dari tidurnya. Ia melangkahkan kakinya menuju dapur karena merasa sangat haus. Lalu tak berapa lama ia mendengar suara deru mobil berhenti didepan rumah. Monik berjalan menuju pintu depan, saat ia membuka pintu terlihat Arzu sudah berdiri disana.


"Aku merindukanmu." ucap Arzu yang langsung memeluk Monik dan menenggelamkan wajahnya diceruk leher Monik.


"Kita masuk dulu kak, diluar sangat dingin." ucap Monik melerai pelukan Arzu. Arzu menganggukkan kepalanya tanda setuju, lalu keduanya langsung beranjak kekamar.


"Kakak mau minum?" tanya Monik sambil menggelung rambut panjangnya.


"Tidak." ucap Arzu yang kembali memeluk Monik dari belakang. Monik sangat terkejut dengan sikap Arzu.


"Kak." ucap Monik mengelus tangan Arzu yang melingkarkan diperutnya. Monik membalikan tubuhnya menghadap Arzu, ia melihat mata Arzu yang sedikit sayu dan terlihat kantung mata yang mulai menghitam. Ada rasa bersalah dalam diri Monik karena tidak memperhatikan kondisi Arzu.


"Kita tidur, kakak pasti lelah." ucap Monik begitu lembut. Arzu menatap mata Monik begitu dalam dan menganggukkan kepalanya. Monik menarik tangan Arzu untuk berbaring dikasur. Monik menjadikan dada Arzu sebagai bantal untuknya tidur. Entah kenapa setiap kali dekat dengan Arzu, Monik selalu merasa nyaman dan bahagia. Ia memeluk Arzu dan mulai memejamkan matanya.

__ADS_1


Arzu mencium pucuk kepala Monik, ia melingkarkan tanganya di pinggang Monik dan ikut memejamkan matanya.


__ADS_2