
"Elsha... " Monik memanggil nama Elsha sedikit bergetar karena ia tidak mendengar ada suara para tamu ataupun seseorang berbicara.
"Kak Arzu." ucap Monik lagi saat tidak ada jawaban dari siapapun, Monik terus memejamkan matanya karena benar-benar ketakutan.
"Happy birthday to you... happy birthday Monik... happy birthday, happy birthday, happy birthday Monik." Monik sangat terkejut dan langsung membuka matanya, ia melihat semua keluarganya sudah berdiri disana mentap Monik dengan senyuman bahagia. Monik menatap semua orang tak percaya, ia masih diam mematung seakan terpaku di tempatnya.
"Happy birthday my wife." ucap Arzu memeluk Monik dari belakang, Monik sangat terkejut dan langsung membalikan tubuhnya.
"Kak Arzu." ucap Monik menatap manik mata Arzu, Monik langsung memeluk pemilik wajah tampan yang sudah beberapa hari tidak pernah bertemu dan sangat Ia rindukan.
"Maaf." ucap Arzu melerai pelukannya dan menangkup wajah Monik, Arzu mengecup bibir Monik sekilas dan menatap mata sayu Monik.
"Aku membuatmu menderita." ucap Arzu merasa sangat bersalah melihat keadaan Monik. Monik menggelengkan kepalanya tidak membenarkan ucapan Arzu.
"Sudah-sudah, bermesraanya nanti aja. Sekarang Monik harus potong dulu kuenya." ujar Inna sambil memberikan pisau kue pada Monik. Monik tersenyum menatap Inna, Ia memotong kue ulang tahunnya dengan pelan dan meletakkan ke piring. Monik mengambil sendok dan kembali menghadap Arzu.
"Terimakasih." ucap Monik menyuapi kue pada Arzu. Arzu menerima suapan Monik dengan mata yang terus menatap wajah Monik.
"Aku mau juga dong disuapin." seru Elsha bergitu semangat.
"Ih kak Elsha mah mengacaukan suasana." ucap Moli yang disambut tawa oleh semua orang. Monik hanya tersenyum menatap keluarga besarnya dengan begitu bahagia. Namun tiba-tiba Monik merasa kepalanya sangat berat dan pandangannya menjadi kabur hingga kue yang Monik pegang terjatuh kelantai. Arzu yang menyadari itu langsung menangkap tubuh Monik yang mulai limbung.
"Monik, kamu kenapa?" tanya Arzu panik. Monik mengerjapkan matanya beberapa kali dan kemudian Monik tidak sadarkan diri. Semua orang ikut panik melihat keadaan Monik.
"Bawa kerumah sakit Arzu." seru Inna yang begitu panik. Arzu menggendong Monik dan langsung membawa Monik kerumah sakit.
"Kalian tetap disini, biar kami yang kerumah sakit." ucap Inna.
"Kami ikut." ucap Yeni yang dijawab anggukan oleh Inna, lalu mereka langsung menyusul Arzu. Elsha yang tak mau ketinggalan langsung berlari mengejar mereka.
"Tetap lanjutkan acaranya, jangan khawatir." ucap Alex yang dijawab anggukan oleh semua orang.
***
Arzu terus mondar-mandir menunggu dokter yang menangani Monik keluar, lalu tak lama Inna dan yang lain menghampiri Arzu.
"Bagaimana?" tanya Inna khawatir.
__ADS_1
"Masih ditangani oleh dokter." ucap Arzu dengan wajah pucat nya.
"Tadi kak Monik sempat muntah-muntah dijalan, dia bilang asam lambung." ujar Elsha yang mendapat perhatian semua orang.
"Kakak Monik memang punya penyakit asam lambung, dan beberapa hari ini dia jarang sekali makan." ujar Moli yang berhasil membuat Arzu semakin merasa bersalah.
"Sudah aku katakan bukan yang kamu lakukan itu keterlaluan Arzu, dari awal aku memang tidak setuju kamu melakukan rencana ini." seru seseorang yang tiba-tiba muncul. Semua orang menatap kearah orang itu, ia adalah Elya.
"Aku tidak akan mengampunimu jika terjadi sesuatu pada adik Ipar." ucap Elya ketus.
"Sudah lah Elya, jangan bicara seperti itu, Monik akan baik baik saja." ujar Inna menghampiri Elya yang masih menatap Arzu tajam. Lalu tak berapa lama dokter yang menangani Monik pun keluar.
"Dokter Arzu bisa masuk sebentar?" ucap sang dokter yang bernama Reva.
"Ya dok." ucap Arzu yang langsung beranjak masuk bersama dokter Reva.
Arzu semakin merasa bersalah saat melihat Monik terbaring lemah diatas barankar.
"Dokter Arzu, keadaan istri anda sangat lemah. Ia kekurangan asupan nutrisi, anda harus memperhatikan istri anda karena hal ini sangat fatal bagi ibu hamil." ujar dokter Reva yang berhasil membuat Arzu terkejut.
"Ha-hamil dok?" tanya Arzu gugup.
Arzu masih tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Jadi aku akan menjadi seorang ayah?" ucap Arzu tersenyum bahagia. Dokter Reva yang melihat itu tersenyum karena selama ia bekerja tidak pernah melihat Arzu tersenyum.
"Selamat dokter Arzu, sebentar lagi akan ada Arzu Junior." ucap dokter Reva mengulurkan tangan pada Arzu.
"Terimakasih dok." ucap Arzu membalas uluran tangan Reva.
"Kalau begitu saya pamit dulu." ucap dokter Reva yang dijawab anggukan oleh Arzu. Arzu menatap Monik yang masih tertidur pulas, Ia menghampiri Monik dan duduk tepat disebelah Monik. Arzu mencium pucuk kepala Monik dengan lembut.
"Terimakasih." ucap Arzu mengelus pipi Monik.
"Bangunlah." bisik Arzu menyatukan keningnya dengan kening Monik.
"Hmmmm..." gumam Monik saat ia sudah tersadar, Arzu yang mendengar itu langsung menatap Monik. Monik mengerjapkan matanya beberapa kali karena merasa silau. Ia menyentuh kepalanya yang terasa sangat sakit.
__ADS_1
"Kak, kenapa kita ada disini?" tanya Monik saat sudah benar-benar sadar.
"Tadi kamu pingsan." ucap Arzu tersenyum pada Monik. Monik yang melihat ekspresi Arzu merasa sangat aneh. Monik menatap Arzu dengan penuh tanda tanya. Arzu mencium kening Monik begitu dalam, monik memejamkan matanya meraskan desiran hangat dalam tubuhnya.
"Terimakasih." ucap Arzu menatap mata Monik yang bingung mendengar ucapan Arzu. Arzu tersenyum dan mengelus perut Monik yang masih rata.
"Kamu memberikan hadiah terindah." ucap Arzu membuat Monik semakin bingung.
"Kamu hamil sayang." ucap Arzu mengelus pipi Monik, Monik sangat terkejut mendengar ucapan Arzu.
"A-aku hamil?" tanya Monik tak percaya, Arzu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Monik meneteskan air mata bahagianya, Monik langsung memeluk Arzu sambil terisak.
"I Love You." ucap Arzu mencium lekuk leher Monik.
"I Love You too." ucap Monik semakin mengeratkan pelukannya.
"Ekheemmm... "
Monik sangat terkejut saat mendengar seseorang mendeham dan langsung melepaskan pelukannya. Monik melihat Elsha dan keluarganya yang lain sudah berdiri didepan pintu.
"Selamat sayang." ucap Inna memeluk Monik begitu bahagia saat mendengar jika Monik tengah mengandung.
"Yeee... Ponakan baru nih, kasih lima baby ya kakak." ujar Elsha begitu riang, semua orang langsung menatap Elsha.
"Emangnya kamu pikir Monik kucing apa bisa beranak banyak." omel Inna mencubit pipi Elsha.
"Aduh sakit mama, kan siapa tau aja bisa. Kak Arzu kan kembar, pasti anaknya juga kembar." ujar Elsha mengelus pipinya yang di cubit Inna. Semua orang yang mendengar ucapan Elsha hanya menggelengkan kepalanya dan tertawa.
"Arzu mulai sekarang jaga istri kamu baik-baik, jangan biarkan dia kurus seperti ini. Ibu hamil butuh perhatian penuh, ingat jangan sampai Monik sakit." ucap Elya merangkul Arzu.
"Ya." ucap Arzu menatap Monik lekat, tanganya terus mengelus kepala Monik.
"Ibu." ucap Monik saat melihat Yeni menangis menatap putrinya, Ia sangat bahagia Monik bisa mendapatkan keluarga Willson yang begitu baik. Yeni mendekati Monik dan memeluk putrinya yang masih pucat.
"Selamat nak, ibu bahagia mendengar kamu hamil. Ingat jaga kesehatan, jangan lupa makan dan hilangkan kebiasaan itu." ucap Yeni mencium kening Monik.
"Iya ibu. Monik sayang ibu." ucap Monik memeluk Yeni erat. Semua orang yang melihat itu sangat terharu dan meneteskan air matanya. Lalu tak berapa lama seseorang membuka pintu dengan kasar hingga menimbulkan suara yang keras dan membuat semua orang terperanjat.
__ADS_1
BRAAKK