ARZU

ARZU
Chapter 58


__ADS_3

"Tidak mungkin, bagimana ini bisa terjadi!!?" seru seorang wanita paruh baya menatap dua pria berseragam di hadapannya.


"Maaf buk, anak ibu lari dari tahanan. Lalu kami menemukan anak ibu sudah tak bernyawa di pinggir jalan dengan keadaan yang mengenaskan" ujar salah seorang pria tersebut dan tidak berhasil membuat wanita itu terjatuh kelantai.


"Hukum karma akan selalu berlaku kak, kau dulu melakukan hal kejam itu padaku. Tapi tuhan membalas semuanya lebih dari apa yang kau lakukan, aku memang membencimu kak. Tapi kau tetap kakakku" ujar seorang wanita yang baru saja muncul. Wanita itu berjalan mendekati wanita yang terduduk dilantai, ia membantu wanita itu berdiri.


"Mulai sekarang kita harus memperbaiki semuanya kak, aku minta maaf" ucap wanita itu memeluk sang kakak yang masih menangis.


"Maafkan aku, aku yang salah dari awal. Aku yang menyebabkan keluargaku hancur, aku... "


"Cukup, jangan banyak bicara. Kita kerumah sakit, kau harus melihatnya untuk yang terakhir kali"


"Lalu? Siapa yang akan menemaniku sekarang? Siapa yang akan menjagaku jika aku sakit nanti?"


"Elya ada disini ma, apa mama melupakan anak mama?" ucap seorang wanita cantik yang kini berdiri diambang pintu. Ya, dia adalah Elya yang kini tengah menatap Mayya penuh kecewa.


"Elya" ucap Mayya yang langsung berlari memeluk putri sulungnya. Elya ikut menagis dan membalas pelukkan Mayya dengan begitu erat.


"Kita harus kerumah sakit, kita harus mengurus pemakaman Vivian" ucap Elya, Mayya menatap Elya penuh luka. Namun pada akhirnya Mayya mengangguk menyetujui ucapan Elya.


"Tante, mari ikut" ucap Elya menatap Rayya, Rayya pun ikut mengangguk. Lalu mereka langsung beranjak menuju rumah sakit.


Sore hari awan terlihat sangat mendung seakan paham dengan keadaan yang sedang berduka.


"Ma, kita pulang ya? Mama sangat pucat, mama harus istirahat" ucap Elya merangkul pundak Mayya yang masih terduduk didepan pusaran putri bungsunya.

__ADS_1


"Andai waktu bisa diulang, mama akan memperbaiki semuanya dan adik kamu tidak akan mengalami ini semua" ucap Mayya dengan nada yang parau, ia begitu terpukul atas kehilangan Vivian.


"Sudah lah mbak, semua sudah terjadi dan waktu tak akan bisa diputar kembali. Kita yang masih diberikan kesempatan untuk bisa memperbaiki diri, maka manfaat waktu itu" ujar Inna ikut merangkul pundak Mayya.


"Kenapa kalian begitu baik padaku? Aku sudah... "


"Ma, cukup bicara hal yang tak penting. Ayok kita pulang, mama harus iklas menerima ini semua. Papa Firman akan pulang besok" ucap Elya, Mayya mengangguk pelan.


"Ayok ma" ucap Elya membantu Mayya untuk bangun, Elya juga sangat terpukul namun ia menyembunyikan semua itu.


"Ayo kita pulang" ajak Inna pada Monik dan Arzu yang masih diam menatap pusaran terakhir Vivian. Mayya menghampiri Monik dan langsung menggenggam tangan Monik.


"Tolong maafkan semua kesalahan yang sudah anak saya lakukan pada kalian" ucap Mayya memohon pada Monik.


"Kami sudah memaafkan semuanya tante, tante jangan khawatir. Kami juga minta maaf atas semua yang sudah terjadi" ucap Monik menggenggam tangan Mayya. Mayya menatap Monik begitu dalam, lalu tak lama Mayya memeluk Monik dengan lembut.


"Sekarang kita pulang, hari sudah mulai gelap" ucap Arzu, Mayya melerai pelukannya dan menatap Arzu.


"Semoga kalian selalu bahagia, kalian semua orang yang baik dan pantas mendapatkan kebahagiaan" ucap Mayya tersenyum dan langsung beranjak pergi.


"Kak, bagaimana hal ini bisa terjadi?" tanya Monik pada Arzu, Arzu menatap Monik dan mencium kening Monik.


"Kita pulang, dirumah aku akan menceritakan semuanya" ucap Arzu yang dijawab anggukan oleh Monik.


***

__ADS_1


Monik duduk disebelah Arzu yang kini tengah memainkan ponselnya. Arzu yang menyadari hal itu langsung menatap Monik dan tersenyum.


"Kakak hutang cerita" ucap Monik duduk di pangkuan Arzu dan menyadarkan kepalanya didada Arzu, Monik tersenyum saat mendengar suara detak jantung Arzu yang tak beraturan.


"Aku kira sudah lupa" ucap Arzu meletakkan ponselnya di atas nakas, Monik yang mendengar itu berdecak kesal.


"Baik lah tuan putri, aku akan menceritakan semuanya" ucap Arus melingkarkan lengannya di pinggang Monik.


"Vivian kabur dari penjara, tidak ada yang tahu siapa yang membantunya. Tapi dari hasil penyelidikan, Vivian diperkosa oleh beberapa preman. Vivian mengalami kekerasan hingga ia pendarahan dan dia meninggal" ujar Arzu menjeda ucapannya, Monik yang mendengar itu sama sekali tak bersuara.


"Polisi menemukan Vivian tergeletak di pinggir jalan dengan keadaan yang mengenaskan, seluruh tubuhnya dipenuhi lembam. Beberapa preman sudah ditangkap, mereka adalah suruhan Vivian sendiri. Dari pengakuan mereka, Vivian sudah menjebak mereka hingga mereka masuk kepenajar. Lalu mereka kabur dari tahanan dan membalaskan dendam pada Vivian. Hanya itu yang aku dapat" ujar Arzu mengelus kelapa Monik.


"Mereka sangat kejam, bagaimana pun Vivian itu perempuan. Apa mereka lupa jika mereka terlahir dari rahim seorang perempuan. Mereka tak punya hati, bagimana jika hal itu terjadi pada anak mereka? Lalu bagaimana.... "


Arzu terdiam seribu bahasa, ia tak pernah menduga jika Monik akan sebawel ini dan tak berhenti bicara. Arzu menutup mulut Monik dengan jari telunjuknya, sontak Monik pun langsung terdiam.


"Sudah, tidak perlu diteruskan. Semua masalah itu sudah ditangani oleh polisi. Sekarang masalah suamimu ini yang harus kamu tangani" ujar Arzu membuat Monik mengernyit bingung.


"Memangnya kenapa dengan kakak?" tanya Monik begitu polos, Arzu yang mendengar itu hanya bisa menghela napas.


"Aku... Ingin... Memakanmu" bisik Arzu ditelinga Monik, Monik pun membulatkan matanya.


"Ish, mulai deh otak mesumnya keluar. Awas ah, Monik mau tidur dengan ibu saja. Disini mengerikan, ada buaya darat" ucap Monik turun dari tempat tidur dan hendak pergi, namun dengan cepat Arzu menahan tangannya.


"Hey, mau kemana sayang. Apa kau lupa jika buaya darat ini adalah suamimu hah? Kau membuatku marah dan ingin langsung melahapmu" ujar Arzu yang langsung menarik tangan Monik dan menghimpit tubuh Monik.

__ADS_1


"Ih lepasin kak, baby nya kejepit" ucap Monik yang sedikit merasa takut saat melihat mata tajam Arzu.


"Jangan menggunakan dia untuk menghindar dariku sayang" ucap Arzu menyeringai, Monik yang melihat itu hanya bisa pasrah dan memejamkan matanya.


__ADS_2