
BRAAKK
Arzu sangat terkejut saat seseorang mendobrak pintu ruanganya dengan kasar.
"Apa seperti ini cara kakak memperlakukan istri kakak Hah? seharian tidak pulang kerumah? Kakak kira cuma kakak yang sedih dan kecewa saat mendengar jika bayi kalian tidak selamat hah? Kakak kira kak Monik tidak kecewa, dia begitu terpukul kak" teriak Elsha menatap Arzu tajam, Elsha memang pergi ke apartemen Arzu untuk melihat keadaan Monik. Namun ia sangat terkejut saat melihat Monik menagis dengan wajah sembab. Keadaan Monik juga sangat berantakan, ia tidak tidur semalaman karena terus memikirkan Arzu karena rasa bersalah kembali menyelimuti dirinya.
"Jika itu yang ingin kamu bicarakan sebaiknya kamu pulang, aku masih banyak pekerjaan" ucap Arzu datar, Elsha yang mendengar itu menatap Arzu tajam.
"Baca ini, apa sekarang kakak akan tetap marah pada kak Monik" ucap Elsha melempar sebuah amplop yang berlogo rumah sakit ke atas meja Arzu. Arzu menatap amplop itu penasaran dan langsung mengambil amplop untuk membukanya. Ia membaca semua tulisan yang ada didalam surat dan membulatkan matanya, ia langsung menatap Elsha yang juga sedang menatapnya tajam.
"Apa kakak puas sekarang hah? Harusnya kakak mendukung dan menjadi kekuatan dengan apapun yang terjadi pada kak Monik, bukan meninggalkan kak Monik seperti ini. Dia sangat terpukul kak, kak Monik sangat membutuhkan dukungan kita" ujar Elsha yang kini sudah menumpahkan air matanya, Arzu menatap Elsha dengan penuh rasa bersalah.
"Apa dia tahu semua ini?" tanya Arzu, Elsha menggelengkan kepalanya karena memang belum ada yang menceritakan tentang Monik yang akan sulit untuk hamil lagi.
"Jangan katakan ini padanya" ucap Arzu mengantongi surat itu dan langsung berlari untuk pulang.
Arzu membuka pintu apartemennya dengan cepat, ia berlari menuju kamarnya. Ia menatap Monik begitu penuh rasa bersalah karena saat ini seorang dokter sedang menangani Monik.
PLAAKK
__ADS_1
Sebuah tamparan tepat mendarat di pipi Arzu, Arzu sangat terkejut karena Inna lah yang menamparnya. Ini adalah kali pertama Inna menampar wajah Arzu, itu artinya Inna sangat marah pandanya.
"Apa kamu tidak punya hati Arzu? Apa kamu tidak punya perasaan meninggalkan istri kamu yang masih lemah dan membutuhkan dukungan kamu disampingnya sendirian? Apa kamu pikir Monik tidak terpukul dengan semua yang terjadi?" bentak Inna menatap Arzu tajam, hari ini Arzu mendengar kata-kata yang sama dari mulut orang yang paling ia sayang.
"Arzu minta maaf Ma, Arzu memang salah" ucap Arzu menatap Inna dengan wajah bersalahnya, Inna menggelengkan kepalanya karena tidak percaya dengan sikap putranya.
"Minta maaf lah pada istrimu" ucap Inna dengan mata yang sudah memerah karena ia sangat marah pada putranya. Arzu mengangguk dan langsung mendekati Monik yang masih tertidur karena efek obat yang di berikan oleh dokter.
"Maaf pak, sebaiknya jangan biarkan ibu Monik kembali drop. Kondisi tubuhnya belum pulih benar, jadi ia harus banyak istirahat dan jangan stres karena akan membahayakan kesehatan buk Monik. Kalau begitu saya pamit dulu" ujar dokter yang menangani Monik pada Arzu, Arzu mengangguk pelan sambil terus menatap Monik.
"Maaf" ucap Arzu mencium tangan Monik, ia mencium kening Monik begitu dalam.
"Terimakasih mama selalu ada untuk kami" ucap Arzu bangun dari duduknya dan langsung memeluk Inna, Inna tersenyum membalas pelukkan Arzu.
"Selalu behagia sayang, setiap rumah tangga pasti akan ada badai yang menghadang. Kuatkan pondasi kalian agar rumah tangga kalian tetap utuh" ujar Inna mengelus pundak Arzu.
"Iya ma, terimakasih selalu ada untuk anak-anak mama" ucap Arzu mengelus tangan Inna.
"Itu sudah tugas mama sayang, sudah lah kalau begitu mama pulang dulu. Jaga monil baik-baik" ujar Inna yang di jawab anggukkan oleh Arzu, Inna langsung beranjak untuk pulang karena Samuel akan pulang dari luar kota.
__ADS_1
Arzu terus menatap wajah Monik yang masih tertidur pulas, sesekali ia mengelus pipi Monik dan mencium tangan Monik.
"Monik minta maaf kak... Monik minta maaf.... " Monik mengigau dengan suara yang sangat pelan, namun Arzu bisa mendengar itu karana posisinya sangat dekat dengan wajah Monik.
"Bangun sayang, aku disini" ucap Arzu berbisi di telinga Monik, Monik menggerakkan mulutnya seakan ingin bicara namun tertahan. Arzu bisa melihat keringat sebesar biji jagung keluar dari kening Monik, Arzu menepuk pipi Monik agar membuka matanya.
"Sayang, buka mata kamu" ucap Arzu memeriksa keadaan Monik, suhu tubuh Monik sangat tinggi.
"Tidak... " teriak Monik yang langsung bangun dari tidurnya, napasnya tersenggal dan keringat di keningnya mulai mengucur di wajah Monik.
"Aku disini" ucap Arzu yang langsung memeluk Monik, Monik menangis dan memeluk Arzu begitu erat.
"Jangan tinggalkan Monik, Monik takut" ucap Monik sedikit berbisik, ia bergetar karena sangat ketakutan.
"Tidak, aku akan selalu disini" ucap Arzu mengelus rambut Monik dan mencium pucuk kepala Monik begitu lembut. Monik mulai tenang, Arzu melerai pelukannya dan menangkup wajah Monik.
"Aku akan selalu ada disini. Aku minta maaf" ucap Arzu mengecup bibir Monik, Monik kembali memeluk Arzu dengan erat sambil menangis.
"Shhhht, jangan menangis sayang. Istirahat lagi ya, aku akan menemanimu" ucap Arzu yang dijawab anggukan oleh Monik. Arzu membantu Monik berbaring dan dirinya pun ikut berbaring disamping Monik sambil memeluk tubuh Monik dengan erat.
__ADS_1