ARZU

ARZU
Chapter 82


__ADS_3

Arzu bergegas menuju kamar putrinya. Ia membuka pintu kamar perlahan. Qila terlihat sedang menangis sambil memeluk sesuatu. Arzu melangkah perlahan untuk menghampiri Qila yang tengah terisak.


"Jangan seperti ini sayang," ucap Arzu mengusap kepala Qila dengan lembut. Qila semakin mengeratkan pelukannya pada benda itu. Arzu menghela napas panjang. Sebuah kecupan ia hadiahi pada putrinya.


"Bunda sangat menyayangi kalian, kamu harus tahu. Bunda tidak pernah merebut siapapun, justru kita yang sudah merebut kebahagiaan dan kebebasan bunda. Sejak kalian bayi, bunda selalu menjaga kalian seperti anak sendiri. Bahkan bunda sampai tidak tidur jika kalian sakit," jelas Arzu mengusap kepala Qila.


"Papa bohong, jika bunda tidak ada mama pasti tidak akan pergi. Qila mau mama, Qila mau ketemu mama. Qila tidak mau bunda, bunda jahat... "


Arzu tersentak kaget saat melihat foto Monik lah yang Qila peluk. Arzu mengambil foto itu.


"Siapa yang memberikan ini?" tanya Arzu menatap Qila penuh tanda tanya. Qila menarik foto itu dari tangan Arzu dengan kasar.


"Papa tidak perlu tahu, papa sama saja dengan bunda. Menyembunyikan mama dari kita, apa papa tidak sayang mama lagi?" bantak Qila dengan air mata yang terus mengalir. Arzu memijat pelepisnya, kepalanya berdenyut hebat. Ini memang salahnya, sudah seharusnya ia berterus terang pada kedua putrinya.


"Papa tidak pernah berniat untuk menyembunyikan ini pada kalian, waktunya belum tepat. Kalian belum bisa mengerti apa yang terjadi," jelas Arzu menatap Qila lekat. Qila mengusap air matanya dengan kasar.


"Qila tidak percaya papa ataupun bunda, kalian semua jahat... " teriak Qila hendak berlari keluar. Namun langkahnya terhenti saat Syila tiba-tiba masuk dengan wajah pucat. Arzu bangun dari duduknya sambil menatap Syila.


"Bunda pingsan," ucap Syila sedikit tersenggal. Arzu sangat terkejut, ia langsung melangkah pasti menuju kamarnya untuk melihat keadaan Cella. Syila yang masih berdiri diambang pintu menatap Qila penuh kecewa. Lalu ia langsung berlari menyusul sang papa. Sedangkan Qila masih berdiri mematung di tempatnya. Ia menjatuhkan foto sang mama. Qila sedikit berlari untuk melihat keadaan sang bunda.


"Sayang, bangunlah." ucap Arzu mengusap pipi Cella dengan lembut. Ia kembali memeriksa keadaan sang istri. Althan yang duduk disebelah Cella terus menangis. Syila menyentuh tangan bundanya dengan lembut.


"Bunda, Syila sayang bunda. Bunda bangun," ucap Syila mencium tangan bundanya.


Diambang pintu terlihat Qila sedang berdiri menatap sang bunda yang terbaring lemah.


"Syila bisa ambilkan air hangat?" tanya Arzu pada Syila. Syila pun langsung mengangguk, ia berlari menuju dapur tanpa memperdulikan keberadaan Qila.


Selang beberapa waktu, terlihat dokter cantik masuk kedalam kamar. Tanpa bertanya ia langsung memeriksa kondisi Cella. Beberapa kali terdengar helaan napas beratnya. Ya, dia adalah Mona.


"Tekanan darahnya sangat rendah, sejak kemarin aku sudah mengatakan ini padanya. Sepertinya istrimu sangat keras kepala, dia tidak mendengarkan perkataanku. Apa tadi malam ia tidak tidur?" ujar Mona menatap Arzu.


"Tidak, setahuku dia tidur lebih cepat." jawab Arzu. Mona menatap Cella yang masih terlelap.


"Jika diabaikan ini akan membahayakan kondisi tubuhnya, dia terlalu lelah bekerja dan sekarang sepertinya ia sedang menyimpan beban yang berat. Tolong jaga kondisinya," ujar Mona duduk di sebelah Cella.


"Apa ada masalah?" tanya Mona melihat ke arah Qila yang masih berdiri di depan pintu. Arzu mengikuti arah pandangan Mona. Ia menatap Qila begitu dalam.

__ADS_1


"Papa, ini air hangatnya." ucap Syila yang baru saja masuk. Arzu mengambil gelas di tangan Syila.


"Terimakasih sayang," ucap Arzu mengusap kepala Syila. Qila yang melihat itu terlihat sangat kesal, ia langsung berlari ke kamarnya. Syila sadar akan hal itu.


"Pa, Syila ke kamar dulu sebentar." ucap Syila, Arzu tersenyum dan mengangguk. Syila pun langsung bergegas menuju kamarnya.


"Jadi mereka sudah tahu?" tanya Mona menatap Arzu penuh selidik.


"Ya, tapi aku tidak tahu siapa yang memberi tahu. Ini yang menjadi masalah sekarang, Qila tidak bisa menerima semuanya. Dia sudah salah faham," jelas Arzu. Mona menghela napas berat, ia menatap Cella yang masih belum sadarkan diri.


"Semuanya akan baik-baik saja, mereka butuh penjelasan." Mona mengusap kepala Cella dengan lembut.


"Bagaimana kabar paman?" tanya Arzu menatap Mona.


"Baik, besok ia akan pulang dari Kanada. Anak-anak sudah merindukan ayahnya," jawab Mona.


"Hmmm... Salam dariku untuk paman," ujar Aruz, Mona pun mengangguk.


Di kamar terlihat Qila tengah menangis sendirian sambil memeluk bantal. Syila yang sudah berdiri di depan pintu pun langsung masuk dan menghampiri saudara kembarnya.


"Kenapa melakukan ini? Bunda sakit, apa kamu tidak merasa bersalah? Bunda sangat menyayangi kita, kamu ingat bagaimana bunda merawat kita saat sedang sakit? Apa lagi yang kamu ragukan? Walaupun kita tahu bunda bukan mama kandungan kita, tapi bunda sangat menyayangi kita Qila. Seharusnya kamu tahu itu," tegas Syila menatap adiknya begitu dalam.


"Kakak tidak tahu apa-apa, bunda itu jahat! Bunda sudah merebut papa dari mama, bunda...


"Cukup Qila, kamu tidak tahu apa-apa. Sudah kakak bilang jangan dengarkan perkataan tante Moli. Kita harus mendengar kebenaran dari papa, bukan dari tante Moli. Sejak kecil kita tinggal bersama bunda, bunda selalu sibuk tapi masih juga meluangkan waktu untuk kita. Bunda sangat menyayangi kita, sekarang bunda sakit. Siapa yang akan mengurus kita, apa kamu bisa melakukan semuanya tanpa bunda? Apa kamu bisa jauh dari bunda?" Syila sedikit meninggikan suaranya. Air matanya mengalir begitu deras. Sebenarnya ia juta bingung dengan apa yang terjadi. Tapi, Syila tak mau mengambil keputusan yang salah.


Qila tampak menundukkan kepalanya, tubuhnya bergetar hebat. Ia terus memeluk foto sang mama dengan erat.


"Dengar, kita harus menanyakan ini dengan papa. Papa lebih tahu apa yang terjadi, kamu harus percaya. Kakak yakin bunda bukan orang jahat, bunda orang baik. Buktinya bunda mau merawat kita sampai sebesar ini," ujar Syila menarik sang adik kedalam dekapannya.


"Tapi kenapa papa tidak mau menceritakan semuanya pada kita?" tanya Qila sambil menangis dalam pelukkan Syila.


"Papa akan menceritakan semuanya," keduanya sangat terkejut saat mendengar suara sang papa bicara. Arzu yang sudah beridiri diambang pintu pun berjalan masuk. Arzu menarik kedua putrinya untuk duduk.


"Papa dan bunda tidak bermaksud untuk menyembunyikan semuanya. Hanya saja waktunya belum tepat, kalian masih sangat kecil dan tidak akan mengerti semuanya. Papa tidak menyangka jika kalian akan tahu secepat ini dan pada akhirnya salah faham." ujar Arzu memeluk kedua putrinya. Lalu Arzu menceritakan semua kebenarannya. Syila terus mendengarkan cerita yang keluar dari mulut sang papa. Sedangkan Qila menangis histeris saat mendengar semua cerita Arzu.


"Bunda bukan orang jahat, dialah malaikat yang hadir dalam hidup kita. Bunda merelakan kebahagiaannya hanya untuk kita, bunda adalah malaikat tak bersayap kita sayang. Jangan membuat bunda kalian sedih lagi," ujar Arzu mengecup kening Qila dan Syila bergantian.

__ADS_1


"Qila minta maaf papa," ucap Qila semakin histeris. Ia memeluk sang papa begitu erat.


"Tidak apa, jangan ulangi lagi. Minta maaf pada bunda. Setelah bunda sembuh, kita akan mengunjungi mama kalian." balas Arzu. Ia kembali mengecup kening kedua putrinya.


Setelah mendengar penjelasan dari papanya. Qila langsung berlari menuju kamar sang bunda. Ia duduk di tepi ranjang sambil menatap sang bunda yang masih belum sadarkan diri. Qila terus menangis sembari mengamit tangan Cella.


"Bunda, Qila minta maaf. Qila salah, bunda harus bangun. Qila minta maaf, bunda jangan marah dengan Qila." ujarnya. Qila memeluk Cella dengan erat, ia terus mencium pipi sang bunda.


"Qila minta maaf," lanjutnya terus menangis.


"Sudah, biarkan bunda istirahat." ujar Arzu menarik Qila agar tak mengganggu Cella. Bagaimanapun Cella butuh istirahat yang baik, agar kondisinya kembali pulih.


"Papa, bunda marah ya dengan Qila? Kenapa bunda belum bangun juga? Qila jahat pa sama bunda," ujar Qila menatap Arzu. Arzu tersenyum, ia mengusap wajah Qila dengan lembut.


"Bunda tidak marah, bunda hanya lelah. Butuh istirahat, biarkan bunda tidur." Arzu menghapus air mata Qila dengan lembut.


"Jangan menangis lagi ya?" ucap Arzu yang di jawab anggukkan oleh Qila.


Qila menatap Althan yang kini sedang menatapnya sambil bersembunyi di belakang Syila.


"Kakak minta maaf," ucap Qila berjalan menghampiri Althan. Althan terus bersembunyi di belakang Syila.


"Jangan takut, kak Qila sudah minta maaf. Sana peluk," titah Syila. Althan menatap Syila, lalu ia kembali menatap Qila yang masih berdiri. Perlahan Althan berjalan untuk mendekati Qila.


"Janji tidak marahi Al lagi?" Althan menunduk, masih ada perasaan takut dalam dirinya.


"Ya, kakak janji." ucap Qila menarik Althan ke dalam pelukkannya. Arzu dan Syila pun tersenyum saat melihat mereka berdua saling berpelukan.


"Al sayang kakak, jangan marahi Al terus, nanti Al sedih." ujar Althan. Qila tersenyum dan mengecup kepala sang adik.


"Kakak tidak akan marahi Al lagi, kecuali Al nakal dan terus ganggu kakak saat belajar," balas Qila. Syila yang mendengar itu langsung terkekeh.


"Sudah, jangan ribut disini. Bunda masih tidur, kalian main lagi ya di luar?" ujar Arzu.


"Qila mau disini pa, Qila mau jaga bunda." Qila berjalan menghampiri Cella. Ia memilih duduk di samping bundanya. Tangan kecilnya kini menyentuh pipi Cella.


"I'm sory bunda, Qila sayang bunda. Jangan marah ya dengan Qila? Qila sayang bunda." Qila mencium pipi Cella dengan lembut. Ia memeluk bundanya dengan erat. Arzu yang melihat itu tersenyum, perlahan ia berjalan keluar. Arzu menutup pintu kamar perlahan. Ia membiarkan Qila bersama Cella untuk beberapa waktu.

__ADS_1


__ADS_2