
CEKLEK
Pintu kamar terbuka, Arzu masuk membawa nampan berisi sepiring nasi dan segelas susu untuk Monik. Monik tersenyum menatap Arzu, namun tak lama seseorang muncul dibelakang Arzu dan berhasil membuat senyuman Monik memudar.
"A-ariana." ucap Monik tercekat seakan tenggorokannya sangat kering, ia benar-benar melupakan tentang Ariana.
"Hai, bagaimana kondisi kamu hari ini baikan ?" tanya Ariana duduk disebelah Monik, Monik hanya menganggukkan kepalanya menatap Ariana. Ariana tersenyum saat melihat wajah Monik yang begitu tegang, ia menggenggam tangan Monik.
"Selamat atas kehamilan kamu, Tiara akan memiliki adik." ucap Ariana membuat Monik semakin tegang.
"Dira cukup, jangan membuat istriku sedih lagi. Dia sudah cukup menderita karena ulahku." ujar Arzu yang berhasil membuat Ariana tertawa. Ariana sebenarnya adalah Dira, anak dari Dita dan Reynaldi adik dari Samuel atau yang tepatnya Dira adalah sepupu Arzu. Monik mengernyitkan keningnya karena bingung dengan ucapan Arzu, Monik menatap Dira yang kini masih tertawa.
"Sorry, namaku Nadira Ariana. Aku sepupu Arzu, jangan salahkan aku kak tapi salahkan suamimu yang memaksaku untuk berakting menjadi orang ketiga. Dia memang gila, bahkan hampir membuat kakak sakit." ujar Dira mengelus tangan Monik.
"Lalu Tiara dan pernikahan itu?" tanya Monik menatap Dira untuk meminta penjelasan.
"Hahaha, jadi kak Arzu belum cerita?" tanya Dira sambil tertawa, Monik menggelengkan kepalanya karena Arzu memang belum menceritakan tentang Ariana atau Dira pada Monik.
"Ok jadi sebenarnya itu adalah acara resepsi pernikahanku dengan suamiku, kami belum sempat merayakan pernikahan kami karena suamiku sangat sibuk. Tiara adalah anak pertama kami, mereka ada diluar sekarang. Kami baru kembali dari London karena suamiku kerja disana." ujar Dira membuat Monik merasa sangat lega.
"Maaf aku sudah berburuk sangka padamu." ucap Monik menggenggam tangan Dira, Dira tersenyum menatap Monik.
"Tidak, kakak tidak salah. Tapi noh yang salah, udah buat kakak menderita." ucap Dira sambil menunjuk Arzu, Arzu hanya diam menatap Monik.
"Maaf, hanya ingin membuat kejutan. Dira, biarkan istriku makan dulu, setelah itu kalian bisa bercerita kembali." ucap Arzu mengambil makanan yang ia masak tadi. Arzu menyuapi Monik dengan begitu sabar, Monik menggelengkan kepalanya saat Arzu memberikan suapan yang kedua.
"Sedikit lagi sayang, kamu baru makan satu suap." ucap Arzu, Dira yang melihat itu tersenyum bahagia karena kakak tersayangnya mendapatkan pasangan yang cocok.
"Sudah kak, Monik takut mual." ucap Monik sambil terus mengunyah makanan yang masih ada dimulutnya.
__ADS_1
"Aku juga seperti itu saat hamil Tiara, selama beberapa bulan tidak bisa masuk makanan. Tapi aku rutin minum susu dan makan sayuran karena cuma itu yang tidak membuat mual." ujar Dira yang mendapatkan perhatian Monik, lalu pandangan Monik beralih pada Arzu.
"Kak, Monik mau makan rujak. Pasti sangat enak." ucap Monik yang berhasil membuat Arzu membulatkan matanya.
"Ini masih pagi sayang, lagian tidak ada penjual rujak sepagi ini." ucap Arzu meletakkan kembali piring keatas nakas, ia mengambil susu dan memberikannya pada Monik.
"Tapi Monik mau rujak, level 5." ucap Monik yang kembali membuat Arzu terkejut, Monik meneguk susunya hingga habis sambil memejamkan matanya. Monik memang tidak terlalu menyukai susu, tapi ia harus meminum susu demi kesehatan anak yang ada didalam perutnya.
"Ya tuhan, apa kamu gila." ucap Arzu menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Monik.
"Kakak, jangan bicara seperti itu. Orang ngidam memang seperti itu kak. Gimana kalau Dira aja yang buatkan, dijamin enak kok." ucap Dira, Monik yang mendengar itu langsung mengangguk begitu semangat.
"Baik lah, bisa kakak belikan bahanya?" tanya Dira pada Arzu, Arzu menghela nafas berat lalu ia menangguk tanda setuju. Melihat itu mata Monik berbinar karena sangat bahagia Arzu mau menuruti keinginannya.
"Ya sudah, aku pergi dulu." ucap Arzu bangkit dari duduknya, ia menghampiri Monik dan mengecup kening Monik sebelum ia beranjak pergi.
"Istrinya ngidam ya mas? Pagi-pagi udah pilih mangga muda." ucap seorang wanita paruh baya saat Arzu mengambil beberapa mangga muda di sebuah Mall.
"Iya." ucap Arzu datar, ia memang tidak terbiasa diajak mengobrol oleh orang lain yang tidak ia kenal. Kalau bukan karena istrinya, ia sangat malas untuk belanja ke mall.
"Memang gitu mas kalau hamil muda, banyak banget permintaan. Malah pas saya hamil dulu saya ngidamnya pengen meluk cowok ganteng terus." ujar wanita itu yang berhasil membuat Arzu terkejut.
"Ya ampun, jangan sampai Monik seperti itu." ucap Arzu dalam hati.
"Saya permisi duluan." ucap Arzu yang langsung beranjak menuju kasir untuk membayar berapa buah-buahan untuk bahan rujak. Setelah selesai, Arzu langsung beranjak untuk pulang, namun saat ia hendak masuk kedalam mobil seseorang terlebih dahulu menahan tangannya.
"Kak Arzu ngapain pagi-pagi disini?" tanya seorang wanita cantik dengan pakaian sedikit terbuka menatap Arzu. Arzu melepaskan tangan wanita itu dari tanganya, ia tidak menghiraukan ucapan wanita itu dan langsung masuk kedalam mobil meninggalkan wanita itu sendirian mantap kepergian Arzu dengan sangat kesal.
"Hmmm... Kau sangat sombong kak, lihat saja sampai kapan kau akan bisa sombong seperti itu padaku? Aku akan membuatmu bersujud di kakiku." ujar wanita itu menyeringai dan langsung beranjak pergi.
__ADS_1
Arzu memasuki apartment dan melihat Monik sedang menggendong Tiara diruang tamu. Monik menatap kedatangan Arzu, ia tersenyum bahagia.
"Mana, dapat?" tanya Dira yang dijawab anggukan oleh Arzu, Dira menghampiri Arzu dan mengambil kantong plastik yang Arzu pegang.
"Tunggu sebentar ya kak, 5 menit siap kok." ucap Dira begitu semangat, Monik mengangguk begitu semangat dan tidak sabar untuk memakan rujak buatan Dira. Arzu duduk disebelah Monik, ia mencubit gemas pipi Tiara yang tertidur digendongan Monik. Karena ulah Arzu Tiara terbangun dari tidurnya dan menangis. Monik menatap tajam Arzu karena sudah mengganggu Tiara.
"Ck, kan nangis dia kak." ucap Monik sangat kesal, ia bangun dari duduknya sambil menepuk-nepuk paha Tiara pelan untuk menenangkan Tiara. Arzu yang melihat itu hanya tersenyum melihat Monik yang begitu lembut menenangkan Tiara.
"Sudah pulang?" ucap Arnold suami Dira yang baru muncul sehabis dari kamar mandi.
"Ya." ucap Arzu menatap Arnold yang duduk disebelahnya.
"Bagaimana dengan keberangkatan ke Singapura?" tanya Arnold menyadarkan tubuhnya disofa.
"Hari selasa sudah berangkat." ucap Arzu menatap Monik yang kini sedang menatapnya.
"Berapa lama?" tanya Arnold.
"Mungkin dua minggu." ucap Arzu. Monik yang tadi berdiri kembali duduk disamping Arzu karena Tiara sudah tidak menangis lagi. Lalu tak berapa lama Dira datang membawa rujak buatannya dan meletakkannya di meja. Mata Monik begitu berbinar saat melihat rujak didepannya, air liurnya seakan menetes begitu deras.
"Mau cobak dong." ucap Monik memberikan Tiara pada Arzu, Arzu terkejut karena Monik dengan tiba-tiba memberikan Tiara yang masih terlelap. Dengan sedikit takut Arzu memberikan Tiara pada Arnold.
"Cup cup, anak papa pake dioper oper segala kan kasian." ucap Arnol mencium pipi cabby Tiara.
"Emm... Enak banget, kakak mau?" ucap Monik sambil menawarkan rujaknya pada Arzu, Arzu menganggukkan kepalanya karena ia juga ikut tergiur melihat rujak buatan Dira.
"Wah suami istri kompak banget ya ngidamnya." ucap Dira sambil menaikkan kedua abisnya. Monik yang mendengar itu hanya tersenyum sambil menyuapi Arzu rujak. Namun saat mereka sedang asik mengobrol seseorang datang membuka pintu dengan kasar.
BRAAKK
__ADS_1