ARZU

ARZU
Chapter 42


__ADS_3

Siang hari dengan cuaca yang begitu terik terlihat seorang pria berjalan dengan santai dengan memakai jaket yang menutupi tubuhnya. Ia sama sekali tidak memperdulikan bisikan orang yang menatap dan berbisik tentangnya.


"Lihat, dia sudah gila ya? Panas begini kok malah pake jaket dan menutup seluruh tubuhnya" bisik salah seorang pejalan kaki yang dapat di dengar oleh pria itu.


"Tidak perlu mengurusi urusan orang lain, perhatian saja jalanmu. Didepan sana ada lubang, jika kalian hanya memperhatikan orang lain yakin lah kalian akan terperosok di sana" ujar seorang wanita cantik yang juga seorang pejalan kaki dengan penampilan yang lumayan rapi. Sang pria yang mendengar itu pun menghentikan langkahnya dan menoleh kearah wanita itu.


"Kenapa kau membelaku?" tanya pria itu datar, wanita itu hanya memutar kedua bola matanya dan menghampiri sang pria.


"Hai tuan, aku tidak membelamu. Aku hanya tidak suka jika orang lain begitu sibuk mengurusi urusan orang lain. Sudah lah tidak perlu berterimakasih padaku, aku pergi dulu" ujar wanita itu hendak pergi, namun langsung ditahan oleh pria itu.


"Kau ingin mencari pekerjaan?" tanya pria itu menatap map yang di pegang oleh sang wanita.


"Ya, memangnya kenapa? Kau ingin memberiku pekerjaan?" tanya wanita itu menatap sang pria penuh selidik.


"Jika mau, hanya saja pekerjaan ini tidak cocok untukmu" ucap pria itu.


"Memangnya apa pekerjaannya?" tanya wanita itu begitu penasaran.


"Pelayan di sebuah kafe, bekerja dimalam hari sangat tidak cocok untuk gadis sepertimu" ucap pria itu, sang wanita pun sedikit berpikir.


"berapa gajinya, aku sangat membutuhkan uang" ucap wanita itu menatap sang pria.


"Aku tidak tahu, jika kau mau aku akan membantumu menemui pemilik kafe" ujar sang pria.


"Baiklah, kapan?" tanya wanita itu dengan tegas, ia sama sekali tidak mencurigai sang pria.


"Nanti sore, berikan aku nomor pornselmu" ucap sang pria sambil menyodorkan ponselnya. Sang wanita tanpa ragu langsung mengambil ponsel itu dan mengetik nomor miliknya di sana.


"Sudah, hubungi aku secepatnya" ucap wanita itu, sang pria hanya mengangguk pelan dan langsung pergi meninggal sang wanita yang masih terdiam di tempat.


***


"Arzu, jelaskan semuanya pada mama. Apa yang terjadi antara kamu dan Vivian?" tanya Inna menatap Arzu lekat, Monik yang duduk di sebelah Arzu pun menggenggam tangan Arzu untuk memberikan support.

__ADS_1


"Tidak pernah terjadi apa pun Ma, Vivian menjebak Arzu saat di Singapura. Bahkan Arzu berhasil keluar dari jebakkanya saat itu, tapi Arzu tidak pernah tahu jika Vivian merekam semua itu. Yang ada di Video itu memang benar, tapi Arzu sama sekali tidak menyentuhnya. Terserah Mama mau percaya pada Arzu atau tidak, Arzu hanya mencintai Monik Ma. Jadi Arzu tidak mungkin melakukan hal bodoh itu" jelas Arzu, Inna yang mendengar itu terdiam. Ia tahu dan sangat yakin jika Arzu memang tidak akan melakukan hal yang tidak benar.


"Arzu akan menyelesaikan semuanya dengan cepat, Arzu tidak ingin masalah ini terlalu lama dan berkepanjangan" ujar Arzu menatap Inna.


"Mama percaya sama kamu Arzu, selesaikan lah masalah ini dengan cepat. Mama tidak mau masalah ini membuat hubungan kalian hancur" ucap Inna menatap Arzu dan Monik bergantian.


"Arzu kamu juga harus diskusikan semua ini dengan papa, papa pasti akan membantumu" sambung Inna yang di jawab anggukkan oleh Arzu.


"Kalau begitu mama pulang dulu, Monik jaga kesehatan dan jangan memikirkan hal ini. Mama tidak mau mendengar jika kamu sakit karena hal ini" ucap Inna sambil berjalan menuju pintu.


"Iya Ma, Monik akan selalu menjaga kesehatan Monik. Hati-hati di jalan Ma" ucap Monik mencium punggung tangan Inna.


"Iya sayang, Assalamualaikum" ucap Inna tersenyum dan langsung beranjak pergi.


"Wa'alaikumusalam" ucap Monik menatap punggung Inna yang menghilang di balik lift. Lalu tak lama sebuah tangan melingkar di perut Monik dan membuatnya sangat terkejut.


"Kita masuk" ucap Arzu menarik Monik dan menutup pintu.


"Kak" ucap Monik mengalungkan tanganya di leher Arzu, Arzu menatap mata Monik begitu dalam.


"Kak, Monik lapar. Tapi mau masakan yang kakak buat, boleh ya?" ucap Monik menatap Arzu penuh harap. Arzu mengernyitkan keningnya sambil menatap wajah Monik.


"Lapar? Bukannya tadi baru saja makan?" tanya Arzu.


"Ck, itu kan tadi kak. Sekarang beda lagi, kakak masak ya? Monik mau makan masakan kakak yang paaliiingg enak" ucap Monik menaik-naikkan alisnya.


"Malas" ucap Arzu yang berhasil membuat Monik mengerucutkan bibirnya.


"Ck, padahal Monik ingin sekali masakan kakak. Ya sudah, kalu begitu biar Monik sendiri yang masak" ucap Monik merajuk dan hendak pergi, namun tanganya sudah terlebih dahulu di tahan oleh Arzu.


"Aku hanya bercanda sayang, tunggu sebentar aku akan memasak untuk mu. Apapun yang aku masak, kamu harus makan Ok?" ujar Arzu yang di jawab anggukkan oleh Monik. Lalu keduanya beranjak menuju dapur.


Monik terus memperhatikan Arzu yang terlihat begitu tampan saat memasak dengan apron yang kekecilan di tubuhnya. Monik tersenyum lebar dan mengambil ponselnya, ia mengambil gambar Arzu yang sedang memasak.

__ADS_1


Tidak perlu lama Arzu sudah selesai memasak, ia membuat omurace dan meletakkan hasil masakannya di meja.



"Hmmm...harum, pasti enak" ucap Monik menarik piring dengan mata yang berbinar.


"Makanlah" ucap Arzu sambil memberikan segalas jus pada Monik. Monik mengangguk antusias dan langsung melahap masakan ala cehf Arzu. Monik membulatkan matanya dan menatap Arzu.


"Kenapa, tidak enak?" tanya Arzu begitu khawatir, Monik seketika tertawa melihat ekspresi lucu Arzu.


"Hahaha... Wajah kakak sangst lucu, enak kok. Enak pake banget malah" ucap Monik yang kembali melahap omurace buatan Arzu dengan begitu lahap, Arzu yang melihat itu tersenyum.


"Kamu lapar apa doyan?" tanya Arzu yang begitu heran melihat Monik makan seperti orang kelaparan padahal sebelumnya Monik baru selesai makan.


"Lapar kak, masakan kakak enak banget Monik suka" ucap Monik dengan mulut di penuhi makanan.


"Ck, habiskan dulu yang di mulut baru bicara" ucap Arzu menyeka nasi yang menempel di bibir Monik. Lalu tak ada pembicaraan lagi di antara mereka. Arzu terus memperhatikan Monik tanpa berpaling sedikitpun.


"Ah kenyang" ucap Monik mengelus perutnya yang sudah di penuhi oleh makanan.


"Kalau sudah kita kekamar" ucap Arzu bangun dari duduknya dan meletakkan piring di wastfel.


"Gendong" rengek Monik mengangkat kedua tangannya sangat mirip dengan anak kecil, Arzu merasa ada yang aneh dengan sikap Monik yang begitu manja padanya akhir-akhir ini.


"Kenapa kamu begitu manja akhir-akhir ini hum?" tanya Arzu sambil mengangkat Monik dan menggendong Monik ala bridal style.


"Memangnya tidak boleh Monik manja sama kakak?" bukan menjawab Monik malah balik bertanya dan itu berhasil membuat Arzu gemas.


"Aku hanya bertanya, kau membuatku gemas Monik. Aku ingin menciummu" ucap Arzu menatap Monik.


"Siapa takut" ucap Monik begitu menantang, Arzu yang mendengar itu langsung memicingkan matanya.


"Baik, bersiaplah giliran aku yang akan memakanmu honey" ucap Arzu menyeringai mesum, Monik yang melihat itu langsung menggelengkan kepalanya karena mengerti apa yang di maksud dengan perkataan Arzu.

__ADS_1


"Tidak ada penolakan honey, kau yang menantangku" ucap Arzu mejatuhkan Monik di atas kasur. Monik terus mendorong dada Arzu agar ia terlepas dari dekapan Arzu, namun apalah daya tenaga Arzu bukanlah tandingannya.


__ADS_2