
"Mama, Elya minta maaf" ucap Elya langsung berhambur kepelukan Inna dan menagis tersedu.
"Kamu tidak salah sayang, sudah jangan menangis" ucap Inna mengelus kepala Elya.
"Elya sudah membuat mama bersedih, Elya juga tidak mempercayai keluarga Elya sendiri" ucap Elya disela isakkannya.
"Tidak perlu di bahas lagi, semuanya sudah berlalu. Mama tahu perasaan kamu sayang, bagaimana pun mereka juga keluarga kamu. Sudah jangan menangis lagi, lihat Kenzo ikut bersedih" ujar Inna menatap cucunya yang sudah mulai berlinang air mata.
"Mama, Elya kan sedang sedih" ucap Elya melerai pelukannya.
"Iya mama tau, tapi lihat tu anak kamu juga ikut sedih" ucap Inna, Elya menoleh kearah Kenzo yang ternyata benar sedang menatapnya dengan bibir dan mata yang sudah siap untuk menangis.
"Sayang anak mama, jangan nangis dong. Mama tadi cuma becanda" ucap Elya mengambil Kenzo dari gendongan suaminya.
"Sayang, mas jemput Tasya dulu" ucap Rijal mencium kening Elya.
"Iya mas, hati-hati di jalan" ucap Elya mencium punggung tangan Rijal.
"Ma, Rijal pergi dulu" ucap Rijal mencium tangan Inna.
"Hati-hati di jalan" ucap Inna yang di jawab anggukkan oleh Rijal.
__ADS_1
"Papa pergi sebentar sayang" ucap Rijal mencium pipi Kenzo dan langsung beranjak pergi.
"Setelah Rijal kembali, kita harus kerumah sakit. Mama ingin menjenguk menantu mama" ucap Inna.
"Monik sudah bangun ma?" tanya Elya.
"Sudah tadi pagi, dia sudah sedikit membaik" ucap Inna berjalan menuju dapur, Elya pun mengikuti langkah Inna.
"Elsha sama Arza disana?" tanya Elya duduk di kursi sambil sesekali mencium kepala Kenzo.
"Elsha kuliah, Arza mama tidak tahu kemana. Katanya sih ada urusan tentang lukisannya" ucap Inna sambil menyiapkan makanan untuk menantunya.
"Hmm... Mama masak apa?" tanya Elya bangun dari duduknya untuk melihat masakan Inna.
"Hmmm... Elya lapar" ucap Elya, Inna yang mendengar itu langsung tersenyum.
"Makan lah, sini biar Jojo sama nenek. Iya kan sayang, biarkan mama makan dulu" ucap Inna menggendong Kenzo, dengan gemas Inna mencium pipi cabby cucunya. Kenzo tertawa saat Inna mencium hidungnya, tanganya menyetuh wajah Inna dan Kenzo pun mengigit hidung Inna dengan gemas.
***
Di ruangan yang didominasi dengan warna putih terdengar suara alat pendeteksi detak jantung begitu nyaring. Pria yang memiliki wajah tampan terbaring di atas brankar, wajahnya kini terlihat pucat dan sama sekali tidak ada pergerakan.
__ADS_1
"Rangga, maafkan mama sayang. Bangun lah, mama janji tidak akan menyakiti kamu lagi" ucap seorang wanita paruh baya menggenggam tangan putranya.
"Buka mata kamu, mama mohon" ucap wanita itu yang tak lain adalah Rayya.
Lalu tak lama seseorang membuka pintu, Rayya menoleh kearah pintu dan mendapatkan seorang pria dan seorang wanita yang duduk di kursi roda.
"Assalamualaikum tante" ucap wanita itu dengan sangat ragu, Rayya menatap wanita itu dengan lekat. Lalu tak lama ia bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri wanita yang kini duduk di kursi roda.
"Monik, tante minta maaf atas semua sikap tante selama ini sama kamu" ucap Rayya bersimpuh di kaki Monik, Monik sangat terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Rayya.
"Tente, jangan seperti ini. Bangun lah, ini tidak benar" ucap Monik membantu Rayya untuk bangun.
"Maafkan tante yang selalu menghina kamu dan menyakiti kamu" ucap Rayya menggenggam tangan Monik.
"Tidak tante, tante tidak pernah menyakiti Monik" ucap Monik mengelus tangan Rayya.
"Rangga seperti ini karena tante, tante yang sudah membuat Rangga menderita. Dari kecil Rangga tidak pernah mendapatkan kasih sayang tante. Tante tau, Rangga sedikit ceria itu karena kamu Monik. Jadi tante mohon, bantu tante untuk membuat Rangga sadar. Hanya kamu yang bisa membuat Rangga kembali sadar, dia sangat mencintai kamu" ujar Rayya, Monik yang mendengar itu langsung menatap Arzu yang masih berdiri di belakangnya.
Arzu tersenyum dan menganggukkan kepalanya, ia tidak keberatan jika Monik menemui Rangga. Bagaimana pun Rangga sudah banyak berkorban untuk Monik. Arzu mendorong kursi roda Monik kearah dimana Rangga terbaring lemah. Monik menutup mulutnya saat melihat tubuh Rangga di penuhi oleh selang dan alat rumah sakit lainnya. Monik sangat merasa bersalah melihat keadaan Rangga, bagaimanapun Rangga seperti ini karena menyelamatkan nyawanya.
"Kak ini Monik, bangun lah. Kakak harus kuat, mana kakak yang dulu kuat? Kakak harus bangun, jika kakak seperi ini bagaimana bisa membahagiakan mama kakak. Ayo bangun kak, lihat sekarang tante Rayya sudah mau menerima kamu kak"
__ADS_1
"Bangun kak, ini bukan yang kakak mau?" ucap Monik menggenggam tangan Rangga, air matanya menetes dan tubuhnya bergetar.
"Bangun kak, jangan buat Monik merasa bersalah" ucap Monik menatap wajah Rangga dan berharap mata indah itu terbuka. Namun hal itu hanya harapan, karena Rangga sama sekali tak bergeming. Ia tetap terlelap dalam mimpi panjangnya.