ARZU

ARZU
Chapter 35


__ADS_3

Arzu diam seribu bahasa sambil terus menatap Elsha yang terbaring di ranjang degan wajah yang pucat dan sembab.


"Kenapa tidak ada yang memberi tahuku jika hal ini terjadi? Kenapa kalian diam saja" ujar Arzu begitu dingin, Samuel dan Inna yang mendengar itu hanya diam. Sedangkan Arza duduk terdiam di sofa sambil memijat pelepisnya. Monik menyetuh pundak Arzu untuk menenangkan suaminya.


"Jangan emosi, masalah tidak akan terselesaikan jika dengan kemarahan" ucap Monik menatap Elsha begitu sedih, bagaimana pun Monik sangat menyayangi Elsha.


"Aku bukan kakak yang baik, aku tidak bisa menjaga adikku dengan baik" ucap Arzu begitu prustasi, bagai tersambar petir saat dirinya tiba di Indonesia dan mendapatkan kabar tentang Elsha.


"Tidak kak, kakak adalah kakak terbaik. Jangan berkata seperi itu, Elsha hanya shock dan dia pasti akan sembuh. Kita harus menyemangati Elsha" ucap Monik memeluk Arzu dengan lembut, Arzu mencium tangan Elsha dengan lembut.


"Bangun lah, kakak disini" ucap Arzu menatap Elsha yang masih tertidur pulas, Arzu merindukan Elsha yang selalu ceria. Elsha si pemberani dan selalu membuat Arzu kesal karena kajahilanya.


"Besok papa akan bawa Elsha ke London, disana ada teman papa yang bisa menolong Elsha, Elsha juga butuh suasana baru" ucap Samuel menatap putrinya begitu pilu, ia tidak pernah menyangka jika hal ini akan menimpa putri kesayangan.


Lalu tak berapa lama ponsel Samuel berdering, ia langsung melihat ponselnya. Ia menatap Inna sekilas lalu beranjak keluar kamar untuk menerima panggilan.


"Kita sudah menemukan dalang dibalik ini semua" ujar Samuel yang berhasil mendapatkan perhatian semua orang, Arza yang sedari tadi duduk kini lagsung bangkit menghampiri Samuel.


"Siapa pa?" tanya Arzu yang ikut bangun dari duduknya menghampiri Samuel yang menatapnya kedua putranya bergantian.

__ADS_1


"Dokter Mona, dia dalang dari semua ini. Beberapa preman dan barang bukti menunjukkan jika dokter Mona yang melakukan hal ini" ujar Samuel yang berhasil membuat Arzu terkejut.


"Mona? Gadis yang menghina Monik saat pesat ulang tahun Cella?" ucap Inna tak percaya, Arzu yang masih bingung hanya bisa diam menatap Arza.


"Kenapa dia melakukan ini pada Elsha?" tanya Arzu sambil berfikir keras, Arzu sangat tahu jika Mona hanya mengenal dirinya dan tidak pernah mengenal Elsha.


"Apa dia memiliki dendam padamu Arzu?" tanya Inna menatap Arzu penuh tanda tanya.


"Tidak ma, hanya saja Mona beberapa kali mengungkapkan perasaannya. Tapi Arzu menolaknya" ujar Arzu yang berhasil membuat semua terkejut dan bisa menarik kesimpulan dari apa yang Arzu ungkapkan.


"Dia ingin membalas sakit hatinya melalui Elsha, aku sangat yakin itu" ujar Arza menatap Arzu dan Samuel bergantian.


"Tunggu disini sebentar" ucap Arzu menatap Monik, Monik pun tersenyum dan mengangguk pelan. Arzu mencium kening Monik dengan lembut lalu beranjak pergi menuju kantor polisi.


***


"Aku tidak bersalah, lepaskan aku. Mereka semua berbohong" teriak seorang wanita cantik dengan air mata yang sudah berlinang. Lalu tak berapa lama tiga pria tampan muncul, ketiganya menatap sang wanita dengan tatapan marah.


"Arzu, aku tidak bersalah. Aku benar-benar tidak tahu apa-apa, percayalah Arzu" ucap wanita itu menatap Arzu memohon. Ya, ia adalah Mona yang menjadi tersangka dalam kasus penculikan Elsha.

__ADS_1


"Kenapa kau melakukan itu pada adikku Mona? jika kau marah dan memiliki dendam padaku maka aku yang seharusnya kau jadikan sasaran. Kenapa harus adikku yang tidak bersalah?!" bentak Arzu yang benar-benar sangat marah. Mona menggelengkan kepalanya, dan mulai menangis.


"Aku tidak melakukan apa-apa Arzu, aku berani sumpah" ucap Mona dengan tubuh bergetar karena menangis.


"Tapi semua bukti dan ketiga preman itu adalah bukti yang kuat jika kau yang melakukan semua ini" ucap Arzu enggan untuk menatap Mona.


"mereka semua penipu, aku tidak bersalah. Om, saya tidak melakukan apa pun percayalah" seru Mona menatap Samuel yang sedang menatapnya dengan penuh kecewa.


"Kamu jelaskan saja di pengadilan, bawa mereka pak" ucap Arza yang sudah tidak tahan melihat wajah Mona. Jika Mona seorang pria mungkin Arza sudah terlebih dahulu menghabisi Mona.


"Arzu,,, tolong aku, aku tidak bersalah" teriak Mona saat tubuhnya di bawa oleh polisi untuk di tahan. Arzu hanya diam menatap Mona yang menghilang di balik dinding.


"Kau pulang saja Arzu, papa tahu kamu sangat lelah" ucap Samuel menepuk pundak Arzu.


"Tapi Pa..."


"Bawa istri kamu pulang, dia juga sudah sangat lelah" ucap Samuel memotong ucapan Arzu, Arzu menghela napas dan langsung mengangguk.


"Kalau begitu Arzu pulang Pa, Arza temani papa" ucap Arzu menepuk pundak Arza. Arza menatap Arzu sambil mengangguk, tanpa pikir panjang Arzu langsung beranjak untuk pulang.

__ADS_1


__ADS_2