ARZU

ARZU
Chapter 30


__ADS_3

"hiks hiks hiks... "


Arzu terbangun dari tidurnya saat mendengar suara tangisan seseorang, ia langsung bangun dan melihat Monik sedang memeluk kedua kakinya diatas sofa degan tubuh yang bergetar.


"Ada apa sayang?" tanya Arzu menghampiri Monik, lalu pandangan Arzu beralih pada sebuah kertas yang Monik genggam. Arzu memejamkan matanya karena begitu ceroboh, ia mendekap tubuh Monik dan mencium pucuk kepala Monik.


"Jangan menangis, apa pun yang terjadi aku akan selalu disampingmu" ucap Arzu mengeratkan pelukannya, Monik semakin tersedu.


"Shhhht, jangan menangis lagi" ucap Arzu mengelus rambut Monik dengan lembut.


"Bagaimana jika Monik tidak bisa memberikan kakak anak, Monik... " ucapan Monik terpotong karena Arzu menutup mulut Monik dengan bibirnya. Arzu melumat bibir Monik begitu lembut, Monik memejamkan matanya yang masih di banjiri air mata.


"Jangan katakan apapun" ucap Arzu melepaskan ciumannya, ia menyatukan keningnya dengan kening Monik. Monik menutup mulutnya agar tidak terisak, Arzu menangkup wajah Monik dan mencium kedua mata Monik.


"Istirahat jangan memikirkan apa pun, aku akan tetap disini" ucap Arzu membawa Monik kedekapannya.

__ADS_1


"Kenapa kakak begitu mencitai Monik?" ucap Monik sedikit berbisik, Arzu melepaskan dekapannya dan menatap manik mata Monik yang masih menyisakan air mata.


"Kau adalah gadis kecil ku, gadis kecil pemilik mata besar yang sudah mencuri hatiku sejak 16 tahu yang lalu. Mungkin kamu tidak akan ingat karena saat itu kamu masih sangat kecil" ujar Arzu tersenyum pada Monik, sedangkan Monik terus menatap Arzu karena ia bingung dengan semua yang Arzu katakan. Monik sama sekali tidak mengingat tentang Arzu, bahkan Monik tidak pernah mendengar apa pun tentang Arzu sebelumnya.


"Sudah tidak perlu di pikiran, biar aku yang tahu semua itu. Saat ini yang paling penting kamu sudah menjadi milikku selamanya" ucap Arzu mengecup bibir Monik sekilas karena ia begitu gemas melihat ekspresi Monik. Monik menatap Arzu begitu lekat, air matanya kembali menetes. Namun itu bukanlah air mata kesedihan, tapi ia sangat bahagia karena memiliki suami yang benar-benar mencintai dirinya dengan tulus.


"Kenapa menangis lagi hah?" tanya Arzu begitu panik, Monik tertawa renyah saat melihat wajah Arzu yang begitu panik.


"Monik cuma bahagia bisa punya suami seperti kakak yang begitu baik, bisa punya keluarga baru yang begitu peduli dan perhatian pada Monik dan keluarga Monik" ucap Monik menyentuh lengan Arzu, Arzu tersenyum sambil mengelus wajah mulus Monik.


"Dua minggu lagi bersiap lah, kita akan pergi ke Maldives untuk honeymoon" ucap Arzu yang berhasil membuat Monik terkejut.


"Ya, kita belum pernah honeymoon. Maaf aku terlalu sibuk" ucap Arzu mantap Monik merasa sangat bersalah.


"Monik tidak pernah kepikiran untuk honeymoon kak, dirumah saja sudah cukup" ujar Monik menatap mata Arzu.

__ADS_1


"No, kamu perlu refreshing. Tidak ada penolakan" ucap Arzu menatap bibir tipis Monik yang selalu menjadi candu untuknya. Monik tersenyum dan menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Arzu. Arzu mengangkat tubuh Monik dengan tiba-tiba hingga membuat Monik sangat terkejut, Arzu yang melihat itu hanya tersenyum menatap wajah Monik yang merona.


***


Di rumah sakit terlihat Vivian berdiri didepan pintu ruangan Arzu, ia terus melihat jam ditanganya karena masih belum melihat batang hidung Arzu.


"Kemana dia? Apa dia lupa pagi ini ada jadwal operasi?" ucap Vivian begitu kesal.


"Percuma aja Lo tunggu, dia gak akan datang. Jangan ngarep deh bisa dapetin dia, dia itu cuma milik gw dan Lo itu cuma anak ingusan yang sok sokan mau rebut dia dari gw" ucap seorang yang tiba-tiba muncul dan berhasil membuat Vivian terkejut, ia adalah Mona yang terlihat cantik dengan snelli yang tergantung di lengannya.


"Hah, pd banget sih dokter Mona yang paling cantik. Jangan Lo pikir lo senior disini gw bakal takut, gw sama sekali gak pernah takut" ucap Vivian santai sambil menyilangkan kedua tanganya di dada.


"Eh Vivian, jangan mentang-mentang bokap Lo pemilik rumah sakit ini, Lo merasa berkuasa disini. Ingat sampai kapan pun lo sama sekali gak akan bisa merebut Arzu dari tangan gw" ujar Mona menatap Vivian tajam, Vivian hanya tersenyum menatap Mona.


"Ok, kita lihat saja nanti" ucap Vivian mendekati Mona.

__ADS_1


"Siapa yang akan menang, Lo atau gw?" ucap Vivian berbisik ditelinga Mona sambil menepuk pipi Mona yang sedang menahan amarah. Vivian tertawa dan langsung meninggalkan Mona yang sudah merah padam.


"Dasar wanita ular, awas aja gw gak akan lepasin Lo" ucap Mona mengepalkan kedua tanganya dan langsung beranjak pergi dengan hati yang panas.


__ADS_2