
Suara degup jantung bayi mungil yang masih bersarang di rahim Cella pun terdengar begitu jelas. Saat ini usia kandungannya sudah memasuki 20 minggu. Cella tersenyum bahagia bisa merasakan pergerakan dari anaknya.
"Mas, dia bergerak." ucap Cella menggenggam tangan Arzu. Arzu tersenyum dan mengecup kening Cella. Sang dokter yang melihat itu hanya tersenyum, lagian ia tak mengerti dengan bahasa yang digunakan pasiennya.
"Sehat selalu sayang." ucap Arzu mencium perut Cella dengan lembut. Cella meneteskan air mata bahagianya. Ia benar-benar dipenuhi rasa bahagia karena memiliki suami yang begitu perhatian seperti Arzu.
Setelah dokter mengatakan kondisi bayinya dan memberikan resep vitamin. Keduanya kembali untuk pulang karena kedua putrinya tengah menunggu. Saat ini mereka sedang belajar berjalan dan mulai bicara sedikit demi sedikit.
Benar saja, sesampainya di rumah. Kedua gadis kecil itu menyambut mereka dengan begitu bahagia. Qila si gadis manja pun terus meronta ingin di gendong oleh sang papa. Sedangakan si cengeng Syila hanya diam sambil menatap Cella dengan hidung yang memerah karena habis menangis.
"Anak bunda kenapa?" tanya Cella menghapus sisa air mata Syila.
"Biasa, berebut mainan." jawab buk Yeni. Cella tersenyum dan menggendong Syila.
"Aduh, anak bunda berat sekali. Sudah makan?" tanya Cella mencium pipi cubby Syila. Syila menggeleng, lalu ia membenamkan wajahnya di dada Cella.
"Maaaaamaaamam... " ucap Qila memukul-mukulkan tangannya di wajah Arzu. Arzu tertawa sambil mencium Qila.
"Papa sama bunda cuma keluar sebentar sayang, buat lihat adik kalian." ucap Arzu menoel hidung Qila. Arzu duduk di sebelah Cella yang sedang duduk sambil menggendong Syila.
"Sayang, sebaiknya kamu istirahat. Kamu terlihat kelelahan. Biar mereka aku yang jaga." ujar Arzu saat melihat wajah pucat Cella. Cella menggeleng pelan.
"Sudah cukup aku terus istirahat mas. Mereka juga butuh aku, iya kan sayang?" ujar Cella mengecup pucuk kepala Syila. Arzu tersenyum, ia mengusap kepala Cella dengan lembut.
"Kangen bunda ya?" tanya Cella pada Qila. Qila berusaha turun dari pangkuan Arzu karena ingin bersama Cella. Cella membantu Qila duduk di pangkuannya.
"Bunda juga rindu kalian," ucap Cella mencium pucuk kepala kedua putrinya. Selama dua minggu lebih Cella terus berada di kamar karena kondisi tubuhnya yang tidak stabil. Bahkan setiap pagi Cella selalu mengalami morning sickness.
"Sayang, sebaiknya kamu istirahat. Mereka juga sepertinya mengantuk," ujar Arzu membenarkan rambut Cella yang menutupi wajahnya.
"Disini aja, Cella bosan di kamar terus. Cella juga pengen nonton doraemon," ucap Cella. Arzu menaikkan kedua alisnya sambil menatap Cella bingung.
"Mau nonton mas," rengek Cella.
"Baiklah tuan putri, tunggu sebentar." ucap Arzu bangun dari duduknya. Jika keinginan Cella tidak terpenuhi bisa jadi repot. Seperti beberapa bulan yang lalu ia ingin makanan masakan mama mertuanya. Namun Inna tidak bisa datang karena sang suami sakit. Alhasil Cella jatuh sakit selama satu minggu. Untung saja sang mama datang dan sedikit mengobati keinginannya.
"Anak bunda sudah pada besar," ucap Cella menatap kedua putrinya yang tertidur dalam dekapan. Cella sedikit menggeser tubuhnya untuk mencari posisi nyaman.
"Biarkan mereka tidur di bawah sayang, kasian baby terjepit" ucap Arzu membawa toples berisi cemilan.
"Biarkan mereka seperti ini mas, mereka pasti rindu juga" ucap Cella menatap layar televisi dengan serius. Arzu duduk menyamping, ia menatap wajah istrinya begitu lekat. Tangannya mulai bermain di pipi sang istri.
"Sayang, sebaiknya kamu tidak perlu melanjutkan spesialis. Aku khawatir dengan keadaan kamu seperti ini. Jika kamu ingin tetap lanjut, maka untuk saat ini ambil cuti saja. Kesehatan kamu lebih penting sayang," ujar Arzu. Cella menatap Arzu sekilas, lalu kembali menatap televisi.
"Terserah kamu aja mas, aku ikut baiknya aja." ucap Cella tersenyum manis. Sejak hamil Cella memang begitu penurut. Walaupun terkadang sering membuat Arzu pusing.
"Berhenti atau cuti?" tanya Arzu memastikan jawaban Cella yang ambigu.
"Cuti mas," jawab Cella tanpa melihat suaminya. Arzu menghela napas berat karena merasa diabaikan. Arzu hendak bangun dari duduknya, namun dengan cepat di tahan oleh Cella.
"Mau kemana? Disini aja." pinta Cella menyandarkan kepalanya di pundak Arzu. Arzu tersenyum, ia mengecup pucuk kepala Cella begitu mesra.
"Mas, apa papa belum sembuh?" tanya Cella.
"Alhamdulillah sudah mulai membaik, tinggal istirahat dirumah. Papa terlalu lelah, jadi ia harus banyak istirahat," jawab Arzu.
__ADS_1
"Semoga papa selalu sehat, kasian papa. Kenapa Arza tidak pulang saja ke Indo dan meneruskan usaha papa?"
"Sejak kecil Arza memang tidak pernah memiliki niat untuk menjadi penerus papa. Dia lebih menyukai dunia seni, katanya bisa lebih bebas. Dia sangat keras kepala." ujar Arzu.
"Sama seperti kamu, keras kepala. Susah di atur dan di taklukkan." kata Cella.
"Tapi pada akhirnya pangeran es bisa mencair jika bertemu dengan ratu es. Walaupun butuh waktu yang cukup lama," ujar Arzu. Cella tersenyum, ia memejamkan matanya perlahan.
"I love you," ucap Cella pelan, namun Arzu masih bisa mendengar perkataan manis dari bibir mungil sang istri.
"I love you more honey," balas Arzu. Tak lama dari itu Qila terbangun dari tidurnya sambil menangis. Cella yang hampir terlelap pun kembali terbangun.
"Ini bunda sayang," ucap Cella mengusap kepala Qila. Cella menepuk punggung Syila agar tidak terbangun.
"Mas, bisa pegangkan Syila? Perut Cella kram." pinta Cella saat merasakan nyeri di perutnya karena sedikit tertekan. Arzu mengangkat Syila perlahan.
"Apa masih sakit?" tanya Arzu cemas. Cella mengangguk pelan. Ia membenarkan posisi Qila agar tak menjepit perutnya. Qila kembali menangis karena ia mengira Cella ingin menidurkannya di bawah.
"Sebentar sayang, adeknya kesakitan" ucap Cella mengusap kepala Qila dengan lembut. Qila mencengkram baju Cella dengan begitu erat, seakan ia tak ingin lepas dari pelukan Cella.
"Bunda minta maaf, Qila bobok lagi ya?" ucap Cella begitu lembut, ia kembali menidurkan Qila dalam dekapan nya. Cella tersenyum saat melihat Qila kembali menutup matanya.
***
"Akh, sakit sekali" ucap Cella saat meraskan perutnya mulas bukan main. Padahal usia kandungannya baru menginjak 8 bulan.
"Basah," imbuhnya saat merasakan celana yang ia gunakan sudah basah. Cella terus meringis kesakitan, tangannya berpegang erat pada pintu mobil dan membukanya perlahan. Ia baru pulang dari kampus untuk mengurus masa cuti kehamilannya. Namun ia tak pernah menyangka jika hari ini akan tiba secara mendadak. Karena tak ada tanda tanda awal dirinya akan melahirkan, jadi sedikitpun tak ada persiapan.
Sebagai seorang dokter kandungan, Cella terlihat lebih tenang. Ia mengambil ponselnya dan mulai menghubungi suaminya.
"Sayang, kamu dimana sekarang? Apa masih di jalan?" tanya Arzu mulai panik. Ia sengaja menyuruh Cella pulang lebih awal karena dirinya ada keperluan mendadak.
"Iya mas, Cella sedang menuju rumah sakit dekat rumah.. Akh, tolong segera kesini," ucap Cella mengigit bibirnya untuk menahan rasa sakit akibat desakan dari bayinya. Ia berusaha pokus mengemudi.
"Sabar sayang," sambung Cella. Ia meletakkan ponselnya kembali.
Sesampainya di rumah sakit Cella langsung berjalan masuk.
"Help me please... " seru Cella pada salah seorang suster. Suster yang melihat keadaan Cella pun langsung membantunya dan membawa Cella ke ruang bersalin.
Tak berapa lama seorang dokter cantik pun masuk.
"Oh my God, Cella. Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya sang dokter yang ternyata adalah dosen pembimbingnya.
"Saya tidak tahu dok, it's hurt." ucap Cella mencengkram ujung ranjang dengan kuat.
"Kau sendirian kesini?" tanya sang dokter sambil memeriksa keadaan kandungan Cella. Cella mengangguk, ia mengigit bibirnya untuk menahan rasa sakit.
"Dokter, katakan jika anak saya baik-baik saja kan?" tanya Cella sedikit panik. Dokter tersenyum sambil mengangguk.
"Dia sehat dan normal, tidak ada tanda masalah padanya, mungkin ia sudah tidak sabar untuk melihat dunia," jawab dokter cantik itu sambil tersenyum. Cella menghela napas lega.
"Dok, saya ingin melahirkan secara normal. Saya sudah melakukan banyak hal agar bisa normal, bisakah saya melakukan itu?" tanya Cella lagi. Bagaimanapun ia ingin merasakan menjadi wanita seutuhnya.
"Apa kamu yakin?" tanya dokter menatap Cella ragu. Kebanyakan wanita saat ini tidak ingin melahirkan secara normal, jadi sang dokter pun sedikit ragu dengan keputusan Cella.
__ADS_1
"Ya dok, saya ingin merasakan sakit yang mama saya rasakan," jawab Cella memejamkan matanya saat kontraksinya semakin menjadi.
"Baik lah, tapi ini masih pembukaan empat. Kita harus menunggu hingga pembuakaan sepuluh. Dimana suami kamu Cella?"
"Sedang dalam perjalanan dok,"
Cella mencengkram ujung ranjang sekuat tenaga. Air matanya lolos begitu saja karena menahan sakit yang luar biasa. Ini kali pertama ia merasakan rasa sakit yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Beberapa saat kemudian terlihat seorang pria masuk kedalam ruangan dengan keadaan kasut. Kedua lengan bajunya sudah naik hingga ke siku, rambutnya terlihat berantakan dan memancarkan wajah yang begitu cemas.
"Maaf sayang, aku terlambat," ucapnya mengecup kening Cella dengan lembut. Ia menatap wajah istrinya yang pucat dengan kening yang sudah dibasahi oleh keringat. Cella tersenyum, sesekali ia memejamkan matanya.
"Apa itu sakit?" tanya Arzu. Cella menatap wajah Arzu cukup lama.
"Hmmm," jawab Cella mengangguk. Arzu menggenggam tangan Cella dengan erat, kecupan demi kecupan ia hadiahi pada istri tercinta yang sedang berjuang melawan rasa sakit. Memperjuangkan hidup dan matinya demi sang buah hati.
"Aku sudah memberi kabar pada mereka, malam ini mereka langsung berangkat kesini," ujar Arzu duduk di tepi ranjang sambil mengusap kepala Cella. Cella kembali mengangguk.
"Akhhh,,,, dia terus mendesak mas, sakit..." rengek Cella dengan keringat semakin bercucuran.
"Kamu bisa melampiaskan semuanya padaku sayang," ucap Arzu terus mengecup kening Cella. Ia menempelkan keningnya pada sang istri.
"Bertahanlah, jangan pernah tinggalkan aku," sambung Arzu. Ia menatap netra sang istri begitu dalam. Cella menyetuh wajah Arzu dengan lembut. Ia membalas menatap netra itu begitu dalam. Cella tahu jika saat ini suaminya sedang durasuki rasa takut yang mendalam.
"Jangan takut, aku dan bayi kita akan baik-baik saja. Selama ada kamu disini, aku akan tetap bertahan," ujar Cella mengecup bibir Arzu. Arzu mengulurkan tangannya untuk menyentuh perut Cella. Cella memejamkan matanya saat merasakan kehangatan yang begitu mendalam, rasanya begitu nyaman.
"Tetap seperti itu, rasa sakitnya sedikit hilang. Bayi kita menyukai sentuhan tangan kamu mas, dia lebih tenang," ujar Cella membenamkan wajahnya di leher Arzu.
"Apa masih lama?" tanya Arzu saat dokter tak kunjung datang.
"Tadi baru pembukaan empat, harus menunggu hingga pembukaan sepuluh. Biasanya butuh waktu beberapa jam," jawab Cella.
"Akhhh,,," Cella kembali meringis saat meraskan bayinya terus berusaha mencari jalan keluar. Perutnya semakin mulas.
"Mas, mau kekamar mandi," rengeknya. Arzu mengangguk, ia membantu Cella untuk bangun. Dengan penuh kesabaran Arzu memapah Cella ke kamar mandi.
"Sudah?" tanya Arzu. Cella mengangguk, Arzu kembali memapah Cella menuju brankar.
"Apa perlu aku panggilkan dokter?" tanya Arzu.
"Tidak perlu, dokter akan datang jika sudah waktunya. Dia masih mencari jalan keluar, tapi ini sangat sakit," ujar Cella dengan suara yang kecil. Ia tak sanggup berbicara kuat karena rasa sakit yang luar biasa.
"Apa harus menunggu selama itu? Tidak bisa dipercepat? Aku tidak bisa melihat kamu begitu kesakitan,"
Cella tersenyum mendengar pertanyaan Arzu.
"Bisa, tapi aku tidak mau mas. Aku ingin meraskan jadi seorang ibu sesungguhnya. Merasakan rasa sakit seperti ibu-ibu kebanyakan, lagian melahirkan secara normal lebih cepat pulih," jelas Cella.
"Aku mencintaimu," ucap Arzu mengecup pipi Cella dengan lembut. Ia terus mengelus perut Cella yang membuncit sempurna.
"Hey baby boy, cepatlah keluar. Kasian bunda kesakitan, kami semua menunggu kamu di sini," Arzu berbicara pada anak yang masih dalam perut Cella.
"Mas, bagaimana jika dia perempuan?"
"Tidak, aku sangat yakin dia baby boy." ucap Arzu begitu kekeh. Memang mereka tak pernah melihat jenis kelamin anaknya saat melakukan USG. Jadi hanya bisa menerka apakah baby boy atau girl. Hanya beberapa jam lagi mereka akan mengetahui jenis kelamin bayinya.
__ADS_1