
"Ukhuuk Ukhuuk... " Elsha tersedak saat melihat Arzu mencium bibir Monik. Monik sangat terkejut dan melepaskan ciuman Arzu dan langsung menatap Elsha dan Arza yang pura pura tidak melihat kejadian tadi. Arzu menarik dagu Monik dan menatap mata Monik dengan penuh kehangatan.
"Aku tidak perduli kau seperti apa dan asalmu dari mana. Aku hanya menginginkanmu Monik, hanya dirimu. Aku mencintaimu Monik." ucap Arzu begitu tulus. Monik menatap mata Arzu untuk mencari sebuah kebohongan, namun tidak ada kebohongan disana.
"Sa-saya tidak tahu harus bicara apa lagi." ucap Monik yang berhasil membuat Arzu tersenyum. Monik sangat terkejut dan sekaligus takjub saat melihat senyuman Arzu. Pasalnya sejak bertemu dengan Arzu, ia tidak pernah melihat Arzu tersenyum. Jantung Monik berdetak semakin kencang.
"Ya tuhan, kenapa dengan jantungku?" ucap Monik dalam hati.
"Berhentilah bekerja seperti ini, aku tidak suka jika kamu memperlihatkan tubuhmu pada orang lain." ujar Arzu menatap gaun Monik yang begitu seksi. Monik yang menyadari itu langsung menutup dadanya yang sedikit terbuka.
"Ya ampun panas banget." teriak Elsha sambil mengipas ngipas wajahnya dengan tangan. Arza hanya menghela napasnya sambil menatap Arzu.
"Semoga kalian benar benar berjodoh kak." ucap Arza didalam hati.
"Apa sudah selesai?" tanya Monik pada Arza.
"Sudah, kalian sudah bisa ganti pakaian." ucap Arza.
"Kak, aku tidak bisa mengatar Monik. Kakak yang antar ya. Dah kak aku pulang duluan." ucap Elsha saat mereka sudah selesai berganti pakaian.
"Elsha tunggu." seru Monik, namun Elsha sudah terlebih dahulu pergi meninggalkan Monik dan Arzu. Sedangakan Arza masih sibuk dengan barang-barang miliknya. Arzu sudah mengerti bahwa semua ini memang permainan Elsha dan Arza.
"Kita pulang." ucap Arzu menatap Monik. Monik menghela napasnya dan mengangguk tanda setuju. Lalu keduanya beranjak menuju parkiran.
"Ini rumahmu?" tanya Arzu saat mereka sudah sampai didepan rumah yang sangat kecil namun terlihat rapi.
"Ya, ini rumah saya. Saya sudah bilang, saya bukan orang berada seperti anda. Jadi saya rasa, saya tidak pantas berbanding dengan anda tuan. Terima kasih sudah mau mengatar saya." ujar Monik yang langsung turun dari mobil Arzu. Arzu langsung menyusul Monik turun dari mobil dan menarik tangan Monik. Arzu membawa Monik kepelukannya.
"Aku mencintai kamu Monik, aku akan menerima apapun keadaan kamu." ucap Arzu memeluk Monik erat.
"Saya mohon lepaskan, nanti ada orang lihat." ucap Monik berusaha melepaskan pelukan Arzu.
"Aku tidak akan melepaskanmu." ucap Arzu memeluk Monik erat.
__ADS_1
"Ja-jangan seperti ini, jika orang lain lihat bagimana?" ucap Monik begitu gugup.
"Sebentar saja, aku mohon." ucap Arzu begitu lembut. Monik yang mendengar ucapan Arzu merasa hatinya begitu hangat. Ia tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya, hangat tubuh Arzu membuat Monik begitu nyaman. Arzu melerai pelukannya dan mengecup kening Monik dengan begitu lembut. Tanpa Monik sadari ia memejamkan matanya dan merasakan kecupan hangat Arzu.
***
"Ini rumahnya Zu?" tanya Inna saat melihat rumah kecil yang berhasil membuat hatinya iba.
"Iya Ma, dia memang gadis biasa. Apa mama dan papa keberatan?" tanya Arzu pada Inna dan Samuel.
"Tidak ada perbedaan antara kita dengan mereka Arzu, papa akan selalu mendukung keputusan kamu." ujar Samuel tersenyum. Arzu hanya mengangguk.
"Bahkan kamu tidak memberi tahu siapa nama calon menantu mama Arzu." ucap Inna kesal.
"Sebentar lagi mama akan tahu." ucap Arzu yang langsung turun dari mobil. Samuel dan Inna pun ikut turun dari mobil. Arzu melangkahkan kakinya menuju rumah Monik. Ia mengetuk pintu rumah Monik beberapa kali.
"Assalamualaikum." ucap Arzu.
"Wa'alaikumusalam." ucap seseorang dari dalam rumah.
Seorang wanita paruh baya mulai terlihat dibalik pintu. Inna membualatkan matanya saat melihat orang yang membuka pintu.
"Buk Yeni?" Seru Inna terkejut.
"Eh buk Inna, silahkan masuk buk." ucap Yeni yang juga terkejut dan mempersilahkan mereka untuk masuk. Arzu berjalan terlebih dahulu mesasuki rumah, pandangannya tertuju pada sebuah foto gadis kecil yang sedang tersenyum manis.
"Itu foto anak Sulung saya den." ucap Yeni saat menyadari Arzu memperhatikan foto putrinya.
"Siapa buk?" seru seseorang dari arah dapur. Betapa terkejutnya ia saat melihat Arzu sedang berdiri menatapnya. Lalu ia beralih memandang Inna dan Samuel.
"Bu-buk Inna." ucap Monik gugup. Inna hanya tersenyum menatap Monik.
"Silahkan duduk, saya minta maaf tidak ada kursi." ucap Yeni sedikit tidak enak.
__ADS_1
"Tidak jadi masalah buk, kami bisa duduk dibawah." ucap Inna yang langsung duduk diatas tikar. Monik hanya diam mematung karena masih tidak percaya dengan apa yang saat ini ia lihat.
"Aku membuktikan ucapanku." ucap Arzu yang kemudian ikut duduk disebelah Samuel.
"Monik buatkan teh untuk tamunya." ucap Yeni begitu lembut, Monik pun mengangguk dan langsung beranjak kedapur.
"Maaf buk kami merepotkan." ucap Inna.
"Tidak ada yang merepotkan disini buk." ucap Yeni tersenyum ramah.
"Bagaimana keadaan ibu? kemarin Monik bilang ibu sakit." tanya Inna.
"Alhamdulillah sudah sedikit baikan, hanya saja belum bisa pergi terlalu jauh." ujar Yeni. Lalu tak lama Monik muncul dari dapur membawa nampan berisi teh dan kue.
"Maaf hanya ini yang bisa kami hidangkan." ucap Monik begitu lembut.
"Tidak jadi masalah, ini sudah lebih dari cukup." ucap Samuel yang mulai berbicara.
"Emm... Maaf sebelumnya kami mengganggu waktu ibu dan juga nak Monik. Jadi langsung saja, tujuan kami kemari itu untuk melamar anak ibu untuk putra kami Arzu." ujar Samuel to the point, Yeni yang mendengar itu sangat terkejut dan langsung menatap Monik.
"Ma-maksudnya, anak bapak dan ibu ingin menikahi putri saya?" tanya Yeni tak percaya.
"Iya buk, saya juga sudah mengatakan ini pada Monik." ucap Arzu menatap Monik yang sedang menunduk.
"Monik?" ucap Yeni menyetuh lengan Monik. Monik sangat terkejut dan mengangkat kepalanya.
"Monik ikut keputusan ibu." ucap Monik dengan cepat, Yeni yang mendengar itu hanya menggelengkan kepalanya.
"Tapi apa nak Arzu yakin ingin menikahi putri saya? seperti yang kalian lihat. Kami bukan orang berada, buk Inna juga tau saya hanya tukang cuci keliling." ujar Yeni.
"Keluarga kami tidak pernah mempermasalahkan hal itu buk, kami tulus untuk melamar anak ibu untuk putra kami." ujar Samuel tersenyum menatap Monik.
"Saya jadi bingung mau bicara apa lagi, tapi saya serahkan kembali pada Putri saya karena dia yang akan menjalani semuanya nanti." ujar Yeni menyentuh tangan Monik.
__ADS_1
"Bagaima Monik?" tanya Inna. Monik menatap Inna dan Arzu bergantian. Monik mengangguk tanda setuju, Arzu bernapas lega saat melihat itu. Inna dan Samuel saling menatap dan tersenyum bahagia. Monik sangat bingung dengan dirinya sendiri kenapa begitu mudah menerima lamaran Arzu. Tapi hatinya juga tidak bisa berbohong jika ia mulai menyukai pria yang sudah mencuri ciuman pertamanya.
Tanpa mereka sadari, seseorang sedari tadi mendengar semua ucapan mereka dan mengepalkan tanganya. Dimatanya terlihat kilatan amarah yang begitu besar. Ia mengeratkan rahangnya dan langsung beranjak pergi.