ARZU

ARZU
Chapter 37


__ADS_3

Seorang perempuan cantik terlihat duduk dengan santai menunggu orang yang ingin ia temui. Matanya tak berhenti memperhatikan sekelilingnya, Ia tersenyum licik saat melihat seseorang yang di tuntun oleh seorang polisi.


"Vivian? Mau apa kamu kesini?" ucap Mona memberikan tatapan tajam pada Vivian.


"Ck, galak banget sih? Aku kan cuma mau jenguk kakak yang paling cantik disini. Gimana kabarnya? Sehat pastinya dong, secara kan tinggal di hotel mewah dan selalu mendapatkan makanan gratis" ujar Vivian tertawa renyah, Mona yang mendengar itu terlihat dadanya naik turun karena tersulut emosi.


"Jadi memang kau yang melakukan semua ini Vivian? kau memang manusia ular" teriak Mona yang berhasil membuat beberapa polisi menatap mereka.


"Ya tuhan, kenapa kau menyalahkan aku kak? Aku hanya berniat baik untuk menjenguk mu disini" ucap Vivian dengan nada memelas untuk mengelabui para polisi.


"Kau... " ucap Mona mengeratkan rahangnya, matanya mulai memerah karena menahan emosi.


"Kau tahu, satu per satu aku akan menghancurkan penghalang untuk mendapatkan Arzu. Kau sudah kalah Mona, selamat menikmati hari-hari indah di penjara. By" ucap Vivian yang langsung pergi meninggalkan Mona yang sedang di penuhi amarahnya.


"Brengsek kau Vivian, aku tidak akan mengampunimu" ucap Mona sangat pelan, ia tidak ingin polisi mendengar ucapan dirinya yang akan mempersulit untuk keluar dari tempat ini. Sedangakan Vivian tersenyum puas sambil melangkah pergi meninggalkan tempat yang sebenarnya paling malas ia datangi.


***


"Dokter Arzu, mereka keluarga pasien yang ingin bertemu" ucap seorang suster saat Arzu baru keluar dari ruang operasi. Arzu melihat ke arah dua orang tua dengan penampilan seadanya.


"Baik, mari ikut saya ke ruangan" ucap Arzu berjalan menuju ruanganya, kedua orang itu mengikuti Arzu.

__ADS_1


"Dokter, apa cucu kami baik-baik saja?" tanya wanita tua itu dengan air mata berlinang.


"Alhamdulillah, cucu kecil ibu baik-baik saja. Hanya saja kami belum bisa memastikan apakah operasi ini berhasil atau tidak. Kita bisa memastikan saat cucu ibu sudah sadar" ujar Arzu.


"Ya allah kenapa nasib cucuku sangat malang, kedua orang tuanya sudah tidak ada dan kini ia pun sakit. Dokter tolong sembuh kan cucu kami, jika harus operasi lagi kami tidak tahu harus mencari uang kemana lagi. Kami mohon dokter" ujar wanita paruh baya itu semakin kejer menangis, pria tua yang duduk di sebelah nya pun hanya bisa menenangkan wanita itu. Arzu yang mendengar semua pemaparan itu seakan hatinya tersentuh.


"Saya akan berusaha, tapi doa dari ibu dan bapak pun jangan pernah putus" ucap Arzu yang di jawab anggukkan oleh keduanya. Setelah beberapa saat keduanya pun pamit untuk melihat keadaan cucunya.


Arzu memijat pelepisnya yang terasa sangat sakit, hari ini jadwalnya sangat padat. Bahkan beberapa menit kedepan ia harus menjalankan operasi selanjutnya.


"Assalamualaikum" ucap seseorang yang muncul di balik pintu.


"Kenapa tidak bilang mau kesini?" tanya Arzu menatap wanitanya yang kini sudah duduk di pangkuan Arzu.


"Monik bosan di rumah, jadi sengaja deh kesini. Kakak makan dulu gih, pasti belum makan kan?" ujar Monik menatap wajah Arzu yang terlihat sangat lelah. Hari ini Monik memang sedang free kuliah, jadi ia memutuskan untuk menemui Arzu.


"Belum, kamu sudah makan?" ucap Arzu mencium pipi Monik, Monik mengangguk sambil tersenyum manis.


"Ya sudah kakak makan dulu, Monik tunggu di sofa" ucap Monik hendak bangun, namun dengan cepat Arzu menahan tangan Monik hingga Monik kembali duduk di pangkuan Arzu.


"Hari ini aku belum mendapatkan hadiah" bisik Arzu yang berhasil membuat Monik bingung.

__ADS_1


"Hadiah? Memangnya kakak ulang tahun?" tanya Monik begitu polos, Arzu yang mendengar itu sangat geram.


"Hadiah yang ini" ucap Arzu langsung melumat bibir Monik, Monik sangat terkejut karena ulah Arzu.


"Hah...kakak mau bunuh Monik?" seru Monik saat Arzu melepaskan ciumannya, pasalnya Monik benar-benar kehabisan oksigen karena ulah Arzu.


"Maaf, aku hanya merindukanmu, aku mau lagi" ucap Arzu sambil mengedipkan matanya, Monik yang melihat itu merinding geli. Ini adalah kali pertama Arzu begitu genit.


"Hey tuan, sejak kapan anda genit seperti ini? Apa ada sesuatu yang terjadi hari ini?" tanya Monik menatap Arzu lekat.


"Ya, hari ini aku kedatangan bidadari cantik. Jadi bawaanku hanya ingin melahap bidadari cantik yang ada di hadapanku" ujar Arzu yang berhasil mendapatkan tatapan tajam dari Monik.


"Wahai pangeran Es, sejak kapan anda menjadi mesum seperti ini Huh? Kau sangat nakal pangeran es" ujar Monik mencubit perut Arzu hingga membuat pemiliknya meringis kesakitan.


"Setiap aku melihatmu" ucap Arzu dengan santai, Monik membualatkan matanya karena tak habis pikir dengan sikap Arzu saat ini.


"Sudah lah, kakak harus makan. Sebentar lagi kakak harus bekerja bukan?" ucap Monik turun dari pangkuan Arzu, ia membuka rantang yang ia bawa tadi. Arzu menatap semua pergerakan Monik, ia sangat bahagia bisa memiliki wanita cantik yang selalu perhatian padanya.


"Makan kak, jangan cuma liatin Monik" ucap Monik kesal, Arzu hanya tersenyum mendengar ucapan Monik. Ia mengambil sendok dan mulai menyendok makanan yang terlihat sangat enak. Monik duduk di hadapan Arzu sambil menatap Arzu yang sedang makan.


Ya ampun, kenapa dia sangat tampan saat apapun yang ia lakukan. Beruntungnya kamu Monik bisa mendapatkan pria yang saat ini ada di hadapanmu. batin Monik.

__ADS_1


__ADS_2