ARZU

ARZU
Chapter 14


__ADS_3

Monik melangkahkan kakinya dengan begitu gontai dilorong kampus. Pikirannya saat ini benar benar sangat kacau. Sudah seminggu Arzu terus mengabaikan dirinya. Bahkan Arzu sangat sering pulang larut malam saat Monik sudah tertidur hingga keduanya sangat jarang bertatap muka.


"Jangan ngelamun sambil jalan, nanti nabrak tembok." ujar seseorang membuat Monik sangat terkejut.


"Kak Rangga. Selalu saja buat Monik kaget." ucap Monik kesal.


"Siapa suruh kamu melamun. Apa yang kamu pikirkan?" ucap Rangga menatap Monik. Monik menghentikan langkahnya, ia membalikan tubuhnya menghadap Rangga.


"Tidak ada, lalu kenapa kakak disini?" tanya Monik.


"Aku sengaja tidak masuk kerja karena ingin menemuimu. Aku merindukanmu Monik." ujar Rangga menggenggam tangan Monik.


"Kak lepasin, banyak orang lihat. Kakak lupa Monik sudah punya suami." seru Monik melihat beberapa orang menatapnya tajam.


"Wah, enak banget ya upik abu kayak Lo banyak gaet cowok ganteng n tajir. Pake Pelet apa Lo?" seru seorang wanita dan dua orang temannya dibelakang, mereka menghampiri Monik dan Rangga. Monik melepaskan tangannya dari genggaman Rangga.


"Maaf aku permisi." ucap Monik yang hendak pergi namun ditahan oleh Rangga.


"Lepas kak." ucap Monik berusaha melepaskan tanganya.


"Hahaha... Drama banget kalian ya? Tapi kalian cocok kok. Upik abu dan si pangeran kodok. By the way apa reaksi suami Lo kalau liat istrinya selingkuh." ujar wanita itu langsung mengambil foto Monik dan Rangga.


"Nelly apa yang kamu lakukan?" tanya Monik.


"Aku hanya melakukan hal benar, kalau gitu gw pamit dulu ya. By." ucap Nelly yang langsung beranjak pergi.


"Kak, aku bilang lepaskan. Semua orang bisa salah faham." seru Monik melepaskan tanganya yang sudah memerah.


"Aku mencintaimu Monik. Tinggalkan dia, dia tidak pantas untuk kamu." ucap Rangga yang tiba-tiba mendorong Monik kedinding, ia mengunci Monik dengan kedua tangannya.


"Kakak sudah gila, lepaskan kak. Aku sudah mengatakan jika aku hanya menganggap kakak sebagai kakak kandung Monik kak. Lepas." ujar Monik mendorong tubuh Rangga, namun itu tidak menggoyahkan Rangga sama sekali. Rangga mendekatkan wajahnya dengan dengan Monik, tubuh Monik seketika bergetar dan berharap seseorang menolongnya. Monik meneteskan air matanya karena tidak menyangka Rangga yang selama ini ia jadikan perlindungan kini membuatnya ketakutan setengah mati.


BUUUGGG


Rangga terpental hingga jatuh ke lantai, Rangga menyentuh bibirnya yang robek dan mengeluarkan darah segar.

__ADS_1


"Berani sekali kau menyentuhnya."


BUUUGG


Lagi-lagi Rangga mendapatkan sebuah tinjauan yang berhasil membuatnya meringis.


"Kak, sudah hentikan. Monik mau pulang." ucap Monik memeluk orang yang memukul Rangga dari belakang. Ya, ia adalah Arzu Arlandska Willson. Arzu membalikan tubuhnya dan menatap Monik yang sudah ketakutan.


"Kita pulang." ucap Monik menundukkan kepalanya sambil menyentuh lengan Arzu. Arzu menangkup wajah Monik dan menatapnya begitu dalam.


"Ya, kita pulang." ucap Arzu menganggukkan kepalanya. Arzu merangkul Monik dan membawanya pergi. Monik menoleh kebelakang dan melihat tatapan kecewa dari Rangga.


"Monik." ucap Rangga menatap kepergian Monik.


***


Di dalam mobil suasana sangat sunyi, tidak ada pembicaraan diantara sepasang suami istri yang sedang sibuk dengan pikiran masing-masing. Monik memalingkan wajahnya kearah jendela mobil. Sedangkan Arzu hanya diam membisu dengan tatapan lurus kedepan seakan ia pokus menyetir. Sesekali Arzu melirik kearah Monik yang masih termenung menatap keluar jendela.


"Apa kamu tidak lapar?" tanya Arzu memulai pembicaraan.


"Tapi aku sangat lapar." ucap Arzu yang sama sekali tidak ditanggapi oleh Monik.


Arzu memarkirkan mobilnya disebuah restoran. Arzu turun dari mobil, Monik menghela napasnya dan ikut turun dari mobil. Monik mengikuti Arzu dari belakang dengan wajah yang kesal.


"Tidak ada romantisnya sedikit pun. Masa iya istri ditinggal dibelakang." ucap Monik didalam hati. Arzu duduk disalah satu meja paling ujung. Monik duduk dihadapan Arzu sambil menatap Arzu tajam.


"Pesan apa mas Arzu?" tanya seorang Waiters wanita sambil tersenyum pada Arzu.


"Seperti biasa, tapi kali ini dua porsi." ucap Arzu sambil menatap Monik.


"Tidak usah mbak satu aja, saya pesan jus jeruk aja satu." ucap Monik tersenyum pada sang Waiters.


"Kamu belum makan dari tadi malam, dua porsi tidak ada penolakan." ucap Arzu dingin. Monik yang mendengar itu hanya diam pasrah.


"Baik lah, mohon ditunggu sebentar." ucap sang waiters yang langsung beranjak pergi.

__ADS_1


"Siapa laki-laki tadi?" tanya Arzu datar.


"Teman kecil." jawab Monik sambil menopang dagu.


"Sedekat itu?" tanya Arzu penuh selidik.


"Ya, dia sudah Monik anggap seperti kakak sendiri." ucap Monik menatap keluar jendela.


"Tadi dia menyukaimu." ucap Arzu menatap Monik tajam, Monik hanya menatap Arzu sekilas lalu kembali menatap keluar jendela.


"Itu hak dia mau suka atau tidak, karena tidak ada yang bisa melarang hati orang lain untuk menyukai siapa pun." ucap Monik dengan santai.


"Kau menyukainya?" tanya Arzu menarik tangan Monik. Monik yang mendengar ucapan Arzu langsung menatap Arzu lekat. Monik menghela napasnya dan memejamkan matanya.


"Seorang Monik hanya akan memberikan Hatinya pada sang suami , jadi kakak mengerti kan sekarang?" ujar Monik yang kembali menatap keluar jendela. Tanpa Monik sadari Arzu tersenyum mendengar pemaparan Monik. Lalu tak berapa lama pesanan mereka pun datang.


"Selamat menikmati." ucap sang waiters tersenyum ramah.


"Terimakasih mbak." ucap Monik membalas senyuman sang waiters. Waiters pun langsung beranjak pergi meninggalkan Monik dan Arzu yang masih terdiam menatap makanan yang ada dihadapan mereka.


"Kenapa, tidak suka?" tanya Arzu menarik makanannya yang ternyata ia memesan spageti. Monik hanya menatap makanan itu tak selera, pasalnya sudah beberapa hari ini ia kurang selera makan.


"Dimakan, jangan hanya dilihat." ucap Arzu sambil menyantap makanan favoritnya. Monik tidak menjawab ucapan Arzu, ia hanya melirik Arzu sekilas lalu kembali menatap makanan yang ada dihadapannya. Arzu yang kesal dengan tingkah Monik langsung menarik piring Monik.


"Buka mulutnya." ucap Arzu menyuapi Monik. Monik menatap Arzu dan menggelengkan kepalanya.


"Makan." ucap Arzu begitu dingin. Monik yang melihat tatapan tajam dari Arzu langsung menerima suapan dan mengunyahnya dengan sangat malas.


"Habiskan." ucap Arzu kembali menyuapi Monik.


"Kak, sudah cukup. Monik masih kenyang." ucap Monik yang sudah tidak sanggup menelan makanan yang ada dimulutnya.


"Kamu belum makan dari tadi malam, apa kamu mengabaikan kesehatan kamu Monik?Aku tidak suka jika kamu sakit. Makanlah, setidaknya habiskan setengahnya." ujar Arzu meletakkan kembali piring didepan Monik. Monik kembali menatap spageti miliknya dengan malas. Saat Monik hendak menyuapkan spageti kemulutnya, seseorang datang menghampiri mereka.


"Maaf mengganggu......"

__ADS_1


__ADS_2