
Malam semakin larut. Namun pemilik mata indah itu sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Ia terus mencari poisis tidur yang nyaman. Namun sudah satu jam ia masih tetap gelisah.
"Ada apa dengan ku? Kenapa aku tidak bisa tidur?" ucapnya. Ia bangun dan beranjak menuju kamar mandi.
Ia menatap wajahnya sendiri di balik cermin. Lingkaran hitam kian jelas terlihat di matanya.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan Arzu?" ucapnya menatap diri sendiri.
Sudah dua hari ia tak melihat wanita yang selalu mengganggu hidupnya. Ada rasa kecewa dan rasa hampa dalam hatinya. Ia kehilangan sosok itu.
Kenapa baru sekarang kau menyadarinya Arzu? Kenapa?
Arzu mengusap wajahnya dengan kasar. Semakin ia menghindar dari perasaannya, semakin besar perasaan itu timbul. Selama ini ia sama sekali tak pernah mengalami hal semacam ini. Arzu sangat mencintai Monik. Tapi wanita itu tak pernah membuat hatinya gundah seperti saat ini. Arzu tidak mengerti dengan hatinya. Kenapa begitu mudah ia mencintai wanita lain. Apa mungkin benar yang diakatakan Monik, jika Arzu memang sudah memiliki perasaan itu sejak lama. Namun ia tak menyadarinya. Selama ini ia hanya di selimut rasa penasaran pada gadis kecilnya. Lalu rasa cintanya selama ini apa?
"Hentikan Arzu, kau hanya mencintai Monik. Tidak akan ada orang lain." ujarnya penuh penekanan.
Arzu menyambar kunci mobilnya. Ia tidak perduli jika ini sudah larut malam. Ia hanya ingin mencari angin segar. Arzu melajukan mobilnya tanpa arah. Hingga tanpa sadar ia memasuki sebuah perumahan.
"Kenapa aku kesini?" tanyanya pada diri sendiri. Ia melihat keluar jendela. Matanya langsung tertuju pada seseorang yang tengah duduk di balkon kamar sambil memeluk kedua kakinya.
"Sedang apa dia disana?" ucap Arzu keluar dari mobil. Ia menyandarkan tubuhnya di mobil. Tatapannya terus tertuju pada wanita itu.
Angin malam menerpa wajah wanita yang tengah termenung itu hingga rambutnya melambai. Seakan ia sadar dengan kehadiran sang pujaan hati. Ia mengusap pipinya yang sudah basah. Ya, dia menangis. Entah sudah berapa lama air matanya terus mengalir.
"Hah, aku sangat lelah." ucapnya hendak beranjak dari sana. Namun matanya tak sengaja menangkap sosok yang selalu Ia rindukan.
"Ck, kenapa dia ada lagi. Cukup Cella, kau sudah berjanji untuk melupakannya." ucapnya sambil menggeleng pelan. Ia berjalan perlahan menuju kamar. Namun kedua kakinya kembali berhenti. Kedua kaki itu kembali berputar dan kembali ketempat semula. Kedua mata indahnya membulat sempurna. Cella mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
"A... Arzu?" ucapnya gugup.
'Jadi aku tidak sedang menghayal. Dia nyata.'
Cella menelan air ludahnya. Mendadak kakinya lemas. Ini adalah pertama kalinya Arzu datang kerumah. Dan ini sudah larut malam.
Cella berlari kedalam kamar. Ia mengambil ponselnya dan kembali ke balkon. Tangan lentiknya menekan sebuah nomor. Ia menempelkan ponselnya di telinga.
__ADS_1
Arzu yang mengerti maksud Cella pun merogoh ponselnya. Namun ia tak menemukan benda itu. Arzu menatap Cella dan menggeleng. Arzu memang tidak membawa ponselnya.
Cella menurunkan ponselnya. Ia memberikan kode pada Arzu bahwa ia akan turun untuk menemuinya. Arzu mengangguk pelan. Mungkin kali ini ia harus mengenyampingkan egonya. Kali ini Arzu mengakui, jika dirinya sangat merindukan wanita bodoh itu.
Tak lama pemilik tubuh ramping itu keluar dari pintu dan berjalan menghampiri Arzu.
"Arzu? Ada apa? Apa terjadi sesuatu pada si kembar? Aku akan ganti baju dulu." ucapnya dengan wajah cemas.
'Dasar bodoh, jadi dia turun itu hanya ingin menanyakan si kembar?'
"Mereka baik-baik saja." ucap Arzu datar. Namun tatapannya terus tertuju pada Cella. Malam ini Cella terlihat lebih cantik dengan gaun tidur selututnya. Mungkin gadis itu belum menyadari jika penampilannya cukup terbuka.
"Ah, syukurlah aku kira mereka sakit. Aku sangat merindukan mereka." ucapnya menghela napas gusar.
"Jika kau merindukannya kenapa tidak menjenguknya?" Arzu menatap Cella lekat.
"Maaf, aku sibuk." ucap Cella menunduk.
"Sibuk dengan kekasihmu?"
Cella sangat terkejut mendengar pertanyaan yang lebih mirip pernyataan dari Arzu. Ia menatap Arzu bingung.
"Batalkan!" potong Arzu yang kembali membuat Cella bingung.
"Batalkan? Apa maksud kamu?" tanya Cella menautkan kedua alisnya.
"Batalkan pernikahan itu dan menikahlah denganku. Syila dan Qilla membutuhkan kamu." ujar Arzu. Cella menatap Arzu tak percaya. Ia menggeleng pelan. Bukan, bukan itu yang ingin ia dengar. Jika Arzu mengatakan dirinya lah yang membutuhkan Cella, mungkin gadis itu akan berfikir dua kali.
"Maaf Arzu, aku tidak bisa. Ada yang lebih membutuhkan aku. Sebagai seorang istri, bukan ibu pengganti." ucap Cella tersenyum getir.
"Maaf, aku tidak bisa." imbuh Cella. Ia langsung berlari dan meninggalkan Arzu yang masih terdiam.
Arzu mengusap wajahnya dengan kasar.
"Dasar bodoh, apa yang kau katakan Arzu. Akhhh... " Arzu memukul udara dengan kesal. Tidak seharusnya ia mengatakan hal bodoh itu. Kenapa mulutnya harus membawa kedua putrinya.
__ADS_1
'Dasar bodoh!!'
Arzu memukul kaca mobil hingga tanganya memerah. Ia sangat kesal dengan dirinya sendiri. Kenapa dirinya mengucapkan kata-kata yang bisa membuat wanita itu sakit hati.
'Kau sudah menyia-nyiakan kesempatan Arzu, kau sangat bodoh.'
Arzu membuka pintu mobil dengan kasar. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Perasaan saat ini semakin memburuk. Ia menyesal sudah melakukan kesalahan terbesar. Sepertinya ia tak akan pernah mendapat kesempatan lagi. Tidak akan pernah.
***
Pagi hari Arzu sudah berada di rumah sakit. Hari ini jadwal operasi lumayan penuh. Pekerjaan mambantunya untuk melupakan masalahnya.
"Eh, kalian tahu. Dokter Cella mempercepat keberangkatannya. Katanya sih dia mau melangsungkan pernikahan disana. Jadwalnya dimajukan. Aku tidak tahu bisa hadir atau tidak. Semoga saja suamiku mau pergi, kan sekalian liburan."
Arzu tak sengaja mendengar ucapan sang suster yang lewat. Arzu memejamkan matanya. Ia tidak boleh terbawa emosi. Biarlah, mungkin gadis itu memang berhak untuk bahagia dengan orang lain.
Arzu melangkah dengan cepat menuju ruangannya. Ia tak mau mendengar sesuatu yang dapat merusak suasana hatinya. Sudah cukup tadi malam ia tak bisa tidur.
"Arzu!" tiba-tiba pintu ruangan Arzu terbuka lebar. Arzu sedikit tekejut.
Siapa lagi kalau bukan Aditya. Si tukang rusuh. Arzu menatap Aditya kesal. Sudah sangat sering pria itu masuk tanpa permisi.
"Gawat, ini beneran gawat." ucap Aditya dengan napas tersenggal. Ia pun duduk di hadapan Arzu. Arzu menatap Aditya sekilas. Lalu ia kembali pada benda pipih di hadapannya.
"Cella akan pergi dua hari lagi. Pernikahannya juga di percepat minggu depan. Aku tidak tahu apa yang terjadi? Apa jangan-jangan...
Belum selesai Aditya bicara. Arzu sudah terlebih dahulu melempar sebuah map pas di wajahnya.
"Jangan berfikir yang bukan-bukan." ucap Arzu bangun dari duduknya.
"Mau kemana, gw belum selesai bicara. Wah, tamat lo Zu. Cella beneran ninggalin Lo." teriak Aditya. Namun Arzu sama sekali tak menanggapi.
"Bro, tunggu! Lo harus perjuangin tu anak. Dia udah lama ngincar Lo, masak iya lo lepas gitu aja. Kalau gw jadi Lo udah gw ikat tu anak. Jarang banget yang setia kayak dia." ujar Aditya mengejar Arzu. Lagi-lagi Arzu tak menggubris ucapan Aditya.
"Arzu, ini terakhir kalinya gw ingatin Lo. Kejar dia sebelum terlambat, jangan sampai lo nyesel." teriak Aditya berhenti mengikuti Arzu.
__ADS_1
Arzu mencerna semua perkataan sahabatnya. Diam bukan berarti ia tak mendengar semua perkataan sahabatnya itu. Arzu memijat keningnya karena kepalanya terasa sakit. Ia sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa.
'Biarkan dia bahagia Arzu. Jangan mengganggunya lagi. Biarkan di bahagia.'