ARZU

ARZU
Chapter 80


__ADS_3

Suara tangisan bayi kini memenuhi ruang persalinan. Setelah penantian dan perjuangan panjang, akhirnya bayi berjenis kelamin laki-laki lahir dengan selamat. Berat 2,5 kg dengan panjang badan 50 cm. Wajah tampan yang sepenuhnya di wariskan oleh sang papa.


"Terimakasih sayang, baby boy." ucap Arzu mengecup kening Cella begitu mesra. Ia juga mengecup bayi mungil yang tengah mencari-cari sumber asi. Cella yang kelelahan hanya tersenyum sambil memejamkan matanya, tanganya terulur untuk menyentuh bayinya. Keringatnya masih bercucuran membasahi seluruh tubuhnya, tenaganya sudah habis terkuras. Matanya juga terasa begitu berat, untuk melihat putranya saja ia sudah tidak sanggup.


Setelah di azankan, bayi mungil itu dibawa oleh sang suster untuk di bersihkan.


Cella kini sudah di pindahkan ke ruang rawat inap. Arzu terus memperhatikan wajah Cella yang masih terlelap. Sudah beberapa jam Cella belum juga terbangun. Arzu tersenyum, ia mengecup punggung tangan istrinya dengan mesra. Saat ini ia benar-benar sedang di selimuti kebahagiaan yang mendalam.


Seorang suster masuk kedalam ruangan bersama bayi mungil dalam gendonganya. Kini bayi itu sudah terbalut kain bermotif doraemon sehingga terkesan lucu dan menggemaskan.


"Tuan, putra anda sudah selesai di mandikan." Suster itu memberikan bayi mungil itu pada Arzu. Dengan hati-hati Arzu menggendong putranya.


"Kamu sangat tampan son," ucap Arzu mencium pipi merah putra kecilnya. Arzu kembali duduk di samping Cella yang masih tertidur. Ia meletakkan bayinya tepat di sebelah Cella.


"Lihat sayang, dia sangat tampan. Bangunlah, sepertinya putra kita haus." Arzu mengelus pipi Cella dengan lembut.


"Bunda masih tidur sayang," ucap Arzu bicara pada anaknya yang sedang memainkan bibir dan lidahnya. Sepertinya bayi mungil itu memang sedang haus.


"Haus ya?" Arzu kembali menggendong putranya. Ia mengecup hangat kening putra kecilnya.


"Mas,"


Arzu tersenyum lebar saat melihat Cella sudah bangun.


"Sudah puas tidurnya?" tanya Arzu begitu lembut. Cella mengangguk. Lalu tanganya terulur untuk menyetuh bayinya.


"Sepertinya anak kita haus," ucap Arzu menyerahkan anaknya pada Cella. Cella terlihat bahagia, ia mengecup lembut pipi buah hatinya.


"Tidak adil, kenapa bayi kita mirip dengan kamu semua mas. Bahkan matanya biru seperti papanya," ujar Cella menoel hidung kecil sang buah hati.


"Itu artinya dia lebih sayang papanya," gurau Arzu. Cella mengerucutkan bibirnya. Arzu yang melihat itu pun langsung tertawa renyah, ia mengecup kening Cella begitu mesra.


"Mau mirip siapapun, dia tetap putra kita."


Senyuman di wajah Arzu sedari tadi tak pernah lepas, ia menatap putra kecilnya yang sedang sibuk mencari asi. Cella sedikit meringis kesakitan saat bibir mungil itu mulai menyedot asi. Bagaimanapun ini adalah kali pertama baginya. Cella juga sudah mengetahui akan hal itu karena ia seorang dokter kandungan dan anak.


"Mas, lapar." Cella merengek seperti anak kecil, suara cacing di perutnya pun terdengar begitu jelas.


"Cuma ada makanan rumah sakit, tidak apa kan? Lagian kamu masih belum bisa makan yang aneh-aneh," ujar Arzu mengambil makanan yang di sediakan di atas nakas. Sepiring nasi putih dengan sepotong ikan, juga terdapat semangkuk sup ayam. Cella mengangguk pelan. Bagaimanapun ia tidak boleh manja dan menyusahkan suaminya, sudah cukup saat ia hamil dan sering menyulitkan Arzu.


Arzu mulai menyuapi Cella dengan hati-hati.


"Lumayan enak, mungkin efek lapar," ucap Cella mengunyah makanannya dengan perlahan.


"Mas sudah makan?" tanya Cella.


"Sudah," jawab Arzu singkat. Cella tersenyum dan menyentuh wajah Arzu. Ia tahu saat ini suaminya sedang lelah.


"Setelah ini mas harus istirahat," ucap Cella mengusap pipi Arzu. Arzu menyetuh tangan Cella sambil mengangguk. Keduanya saling mengunci pandangan cukup lama, terlihat jelas cinta yang mendalam disana. Lalu keduanya menatap sang putra yang masih asik menikmati asi pertamanya.


***

__ADS_1


"Mama, terimakasih sudah melahirkan Cella dan membesarkan Cella sampai sebesar ini. Sekarang Cella tahu bagaimana rasanya perjuangan mama untuk melahirkan Cella, itu sangat menyakitkan Ma," ujar Cella memeluk sang mama yang baru tiba beberapa jam yang lalu. Juju tersenyum, ia mengusap kepala putri semata wayangnya dengan penuh kasih sayang.


"Semua ibu akan melakukan apapun untuk anaknya sayang, walaupun nyawa taruhannya," balas Juju mengecup pucuk kepala Cella. Arzu yang melihat itu tersenyum.


"Perjuangan seorang ibu tak akan ada yang bisa menyaingi," kini Inna ikut berbicara. Ia duduk di samping menantunya.


"Terimakasih sudah melahirkan cucu yang begitu tampan," lanjutnya. Cella tersenyum dan mengangguk.


"Baby boy, dia adalah pewarisku." Samuel begitu senang, ia mencium pipi cucunya dengan gemas.


"Hey, dia cucuku juga. Pewaris masa depan perusahaanku," ujar Marcel tak terima dengan ucapan Samuel.


Arzu yang melihat pertengkaran papa dan papa mertuanya hanya bisa tersenyum dan menggeleng.


"Pa, dia masih bayi. Kenapa sudah ribut masalah pewaris. Mungkin nanti dia tidak mau menjadi pewaris kalian," ujar Cella. Kedua pria paruh baya itu hanya bisa menghela napas panjang.


"Memang masih bayi bisa ngurus perusahaan ya?" tanya Juju menatap suaminya. Marcel menatap semua orang dengan tatapan memohon. Lalu semuanya malah tertawa.


"Bisa, dia kan cucu kita," ucap Inna sambil menutup mulutnya untuk menahan tawa.


"Hebat dong cucu kita Na, kalau begitu kita harus memberi nama baby hero," celetuk Juju. Cella dan Arzu pun saling melempar pandangan.


"Ma, kami sudah punya nama untuk baby boy," ucap Cella.


"Tidak jadi masalah, mama akan tetap memanggilnya baby hero. Sini-sini biar omah hero yang gendong," ujar Juju mengambil baby boy dari tangan Samuel.


"Biarkan saja," ucap Inna mengelus pundak Cella. Cella tersenyum melihat tingkah lucu mamanya.


"Terimakasih ma, sekarang Cella juga sering lapar," ucap Cella menyantap potongan buah apel dengan lahap.


"Memang seperti itu, makan yang banyak." ucap Inna mengelus kepala Cella. Lalu tak lama Cella berhenti makan.


"Mas, bagaimana kabar Qila dan Syila? Kenapa aku bisa melupakan mereka?" Cella menatap Arzu penuh rasa bersalah. Ia tidak ada maksud untuk melupakan kedua putrinya. Sudah dua hari ia meninggalkan mereka di rumah.


"Mereka baik-baik aja sayang, ibu bersama mereka. Kita tidak bisa membawa mereka kesini, kamu tahu seperti apa Qila. Dia pasti akan cemburu dengan adik barunya," ujar Arzu.


"Tapi mereka akan menangis, sudah dua hari kita disini mas."


"Tadi pagi ibu telpon, mereka tidak menangis. Mereka sudah besar sayang," ucap Arzu berjalan kearah Cella.


Inna tersenyum bahagia saat melihat kekhawatiran Cella pada kedua cucunya. Padahal Cella kini sudah memiliki anak sendiri, tapi ia masih tetap mengingat kedua cucunya yang sudah jelas bukanlah anak kandung Cella. Wanita itu benar tulus menyayangi cucunya. Hatimu sangat tulus Cella, batin Inna.


"Mas, bisa telpon ibu sekarang?" Pinta Cella.


"Baiklah, aku akan menghubungi ibu. Semoga mereka tidak tidur," ujar Arzu mengambil ponselnya. Ia mulai menghubungi orang rumah.


Cella bernapas lega saat mendengar kabar kedua putrinya di rumah. Rasa khawatirnya sedikit meluap, namun masih ada rasa cemas karena kedua putrinya sedikit susah tidur tanpa kecupan darinya. Cella berharap mereka baik-baik saja, tanpa kehadiran dirinya.


***


Hari demi hari berlalu begitu cepat, kini Cella dan bayinya sudah bisa pulang kerumah. Cella terlihat bahagia, ia sudah tidak sabar untuk pulang karena sangat merindukan kedua putri cantiknya. Kedua orang tua mereka sudah kembali ke Indonesia karena tidak bisa meninggalkan pekerjaan lebih lama. Cella juga memahami semua itu. Jadi ia tidak keberatan kedua orang tuanya pulang. Lagian masih ada suami dan ibu yang akan membantunya dirumah.

__ADS_1


"Assalamualaikum sayang," ucap Cella menghampiri Qila dan Syila yang sedang bermain bersama ibu Yeni. Kedua putrinya itu langsung menoleh, mereka terlihat senang saat melihat Cella. Mereka yang baru bisa berjalan pun sedikit terseok untuk menghampiri Cella. Cella tersenyum dan langsung memeluk keduanya dengan penuh kehangatan.


"Bunda rindu kalian, maaf sayang. Bunda lama tidak pulang," lanjutnya. Cella mencium pucuk kepala kedua putrinya.


"Mamammam..." oceh Qila. Cella melepas pelukannya.


"Mau mamam ya?" tanya Cella mengusap kepala Qila. Qila mengangguk, ia berjalan kearah meja dan mengambil sebuah mangkuk. Cella sangat terkejut, seminggu meninggalkan kedua putrinya. Kini mereka sudah semakin pintar. Qila terlihat begitu menggemaskan saat berusaha membawa mangkuk yang lebih besar dari tangan mungilnya. Cella tertawa melihat tingkah lucu putrinya itu.


Qila tersenyum pada Cella sambil memberikan mangkuk berisi bubur.


"Mam... " ucapnya. Cella tersenyum lebar, ia benar-benar bahagia melihat kedua putrinya semakin berkembang. Cella mulai menyuapi mereka dengan begitu telaten.


"Udah minum susu?" tanya Cella menyapu makanan yang menempel di bibir Syila dan Qila. Keduanya mengangguk.


Tak berapa lama terdengar suara tangisan bayi. Cella merapikan sisa makanan kedua putrinya.


"Adek menangis, kalian tunggu disini sebentar ya?" Cella mengusap kepala mereka dan langsung beranjak pergi menuju kamar.


"Eh, kenapa menangis sayang? Haus ya?" tanya Cella mengambil putranya dari tangan sang suami. Ia mulai menyusui baby boy yang terlihat sangat haus.


"Ya ampun sayang, haus banget ya?" ujar Cella menoel pipi baby boy yang mulai sedikit cubby.


"Dia begitu rakus," ucap Arzu mengusap kepala putranya. Cella menatap Arzu sambil tersenyum.


"Baby masih dalam tahap pertumbuhan, sudah seharusnya ia banyak minum asi, iya kan sayang?" ujar Cella mencium pipi baby gemas.


Arzu tersenyum, ia menatap sang istri begitu dalam. Cella begitu asik dengan putra kecilnya. Hingga tak menyadari kedua putrinya kini sudah berdiri di depan pintu kamar dengan boneka barbie di pelukkannya.


Arzu yang menyadari hal itu langsung menoleh, ia tersenyum dan menghampiri kedua putrinya.


"Kalian mau lihat adek ya? Ayo papah antar," ujar Arzu menggendong keduanya dan membawa mereka pada Cella.


Qila dan Syila pun menatap baby boy begitu lekat. Lalu bergantian menatap Cella dan Arzu.


"Hay kakak," ucap Cella menirukan suara anak kecil. Qila terus menatap baby boy yang masih asik dengan asinya.


Puk! Cella dan Arzu terhenyak saat Qila tiba-tiba melempar boneka miliknya kearah baby boy. Kerena tekejut baby boy pun menangis kencang, Cella bangun dari duduknya untuk memenangkan.


"Sayang, kenapa melakukan itu?" tanya Arzu mengelus pipi Qila. Terlihat dengan jelas air mata Qila sudah terbendung dan siap untuk tumpah. Cella menatap Qila begitu dalam. Akhirnya tangisan Qila pun pecah. Syila yang melihat adiknya menangis juga ikut menangis. Arzu menatap Cella untuk meminta maaf. Ia menggendong kedua putrinya dan membawanya keluar dari kamar.


"Shuttt... Kaget ya? Maafin kakak ya sayang, kakak tidak sengaja.. Jangan menangis lagi," ucap Cella mengelus pelan dada putranya. Ia terlihat menghela napas berat. Tidak, Cella tidak marah pada Qila. Ia hanya tekejut dengan sikap Qila yang begitu terang-terangan menunjukkan kecemburuannya.


"Kalian anak bunda, tidak ada yang bunda bedakan," ucap Cella mengecup kening putranya.


"Jangan terlalu dipikirkan, anak kecil memang seperti itu. Sini si tampan dengan ibu, susul mereka." ujar ibu yang baru saja masuk kekamar Cella.


"Tegur Cella buk jika Cella tidak berlaku adil pada mereka, Cella ingin menjadi ibu yang baik. Cella akan berusaha adil," ujar Cella menatap ibu Yeni.


"Kamu sudah sangat adil nak, sudah sana bujuk putri manja kamu. Sini biar si tampan sama ibu, ibu belum gendong cucu tampan yang satu ini." balas ibu Yeni mengambil baby boy dari Cella.


"Titip baby sebentar buk, Cella harus membujuk mereka dulu." ujar Cella yang di jawab anggukkan oleh ibu Yeni. Ia pun langsung beranjak menuju kamar kedua putrinya.

__ADS_1


__ADS_2