ARZU

ARZU
Chapter 85


__ADS_3

"Mas..." teriakan itu memenuhi seisi kamar. Arzu yang masih terlelap pun langsung terbangun.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Arzu mencari keberadaan Cella.


"Ke sini mas...," teriak Cella dari kamar mandi. Arzu bergegas menuju kamar mandi.


"Ada apa?" tanya Arzu cemas. Cella tersenyum lebar sambil menunjukkan benda tipis di tanganya.


"Positif," ucap Cella dengan semangat. Arzu menghela napas lega. Ia kira terjadi sesuatu pada istrinya.


"Aku hamil mas, kamu tidak senang?" Cella mengerucutkan bibirnya saat tak mendapat respon dari Arzu. Arzu yang melihat itu langsung menarik Cella dalam pelukannya.


"Terima kasih," ucap Arzu mencium pucuk kepala Cella begitu dalam.


"Aku kira kamu jatuh, aku sangat khawatir. Lain kali, jangan berteriak seperti itu," lanjut Arzu. Cella tertawa renyah mendengarnya.


"Terlalu senang mas, refleks," ucap Cella membenamkan wajahnya di dada bidang Arzu.


"Jadi kita berhasil?" tanya Arzu begitu senang. Cella mengangguk antusias.


"Kita akan memberi kabar bahagia ini pada anak-anak," lanjut Arzu. Tidak henti-hentinya Arzu mencium kening Cella.


"Mas, aku takut mereka tidak akan menerimanya?" ucap Cella. Arzu tersenyum sambil menangkup wajah Cella.


"Mereka akan senang, yakinlah." Arzu kembali mencium kening Cella.


"Bagaimana jika Al akan cemburu?" tanya Cella sedikit khawatir.


"Kita akan menanganinya sama-sama, lama-lama juga dia akan menerima. Aku rasa, Al akan sangat senang, percayalah."


"Aku harap seperti itu, mas," ucap Cella meyakinkan diri sendiri.


"Ya sudah, ayo keluar. Sudah cukup kamu berdiri," ujar Arzu yang di Jawab anggukkan oleh Cella.


***


Saat ini Arzu, Cella, Syila, Qila dan Althan sedang berkumpul di ruang keluarga. Athan terlihat sedang asik bermain mobil remot. Sedangkan si kembar tengah membaca buku.


Cella menatap Arzu lekat. Ia bingung harus memulai dari mana. Arzu merangkul Cella dengan penuh kehangatan.


"Syila, Qila, Althan! Ada yang ingin bunda dan papa sampaikan. Mendekatlah," ujar Arzu membuka pembicaraan. Syila dan Qila langsung menutup bukunya. Tanpa banyak bicara, mereka menghampiri kedua orang tuanya. Althan sedikit berlari. Ia duduk di pangkuan Cella.


"Apa papa mau mengajak kami berlibur?" tanya Qila dengan mata berbinar.


"Ide bagus, hari minggu kita akan jalan-jalan. Tempat, sesuai keinginan kalian," balas Arzu. Ketiganya pun langsung bersorak riang.


"Em, bunda mau mengatakan sesuatu. Tapi harus janji, jangan marah pada bunda," ujar Cella menatap putra dan putrinya bergantian. Ada rasa waswas dalam hati Cella.

__ADS_1


"Janji," ucap ketiganya kompak. Cella tersenyum. Menarik napas panjang.


"Ok. Sebentar lagi, kalian akan mempunyai adik." Cella menatap lekat ketiga anaknya. Mereka nampak terdiam. Membuat Cella sedikit khawatir.


"Kalian marah?" tanya Cella semakin khawatir. Cella menatap Arzu lekat. Arzu menghela napas berat. Ia mengelus pundak Cella dengan lembut. Mata Cella mulai memanas, ia menunduk lesu.


Bagaimana jika mereka benar-benar tidak bisa menerima adiknya? Apa yang harus aku lakukan?


"Bunda, terima kasih...," ucap Syila berjalan menghampiri Cella. Cella sangat terkejut, ia mengangkat kepalanya. Menatap Syila, Qila dan Althan bergantian.


"Kenapa bunda nangis?" tanya Qila mengusap air mata Cella.


"Kalian diam semua, bunda kira tidak ada yang mau punya adik." Cella semakin terisak.


"Kami terkejut, Bun. Kenapa bunda jadi cengeng, sih?" ucap Syila memeluk Cella dengan lembut.


"Bunda, jangan nangis." Althan ikut menangis. Arzu yang melihat itu tersenyum. Menarik Althan dalam dekapannya.


"Bunda takut, kalian akan marah lagi. Bunda tidak mau kalian mengabaikan bunda lagi," ujar Cella memeluk kedua putrinya.


"Qila minta maaf, Bun. Bunda ketakutan pasti karena Qila kan?" ucap Qila membenamkan wajahnya di leher Cella.


"Enggak sayang," ucap Cella mengecup kening Qila begitu dalam. Syila yang melihat itu tersenyum.


"Bunda, kapan adik akan keluar?" tanya Althan, ia sudah tidak lagi menangis.


"Masih lama sayang," balas Cella.


"No! Al mau laki-laki. Biar bisa main robot, Al tidak mau main masak-masak terus," protes Althan dengan bibir manyun. Cella yang mendengar itu tertawa. Rasa sedihnya menguap begitu saja.


"Doakan adik kalian sehat terus di dalam perut bunda," ujar Cella. Syila dan Qila mengangguk antusias.


"Bunda, apa adik sudah bisa menendang?" tanya Qila mendekatkan wajahnya dengan perut Cella.


"Belum sayang, beberapa bulan lagi baru bisa menendang." Cella mengusap kepala Qila dengan lembut.


"Bunda, Syila dengar. Mama meninggal saat melahirkan kami kan? Apa bunda juga akan meninggalkan kami?" tanya Syila yang berhasil membuat Cella dan Arzu terkejut. Cella memeluk dan terus mencium pucuk kepala Syila dan Qila bergantian.


"Jika Allah mengizinkan bunda untuk tetap bersama kalian, maka bunda akan tetap bersama kalian. Saat ini, bunda membutuhkan doa kalian. Doakan bunda dan adik sehat, sampai adik lahir. Bunda sayang kalian, tidak ada seorang ibu yang ingin meninggalkan anaknya sayang."


Cella kembali meneteskan air matanya.


"Syila akan terus berdoa pada Allah, supaya bunda terus bersama kami. Bunda tidak boleh pergi seperti mama, siapa yang akan merawat kami jika bunda pergi? Syila sayang bunda," ujar Syila mencium pipi Cella.


"Bunda juga sayang kalian," ucap Cella memeluk mereka dengan erat.


"Papa, kenapa perempuan selalu menangis?" tanya Althan pada Arzu. Ia duduk di pengakuan Arzu. Menatap para wanita yang sedang menangis.

__ADS_1


"Karena hati mereka sangat lembut, kita sebagai lelaki harus menjadi sandaran bagi perempuan," balas Arzu.


"Satu lagi, tugas kita adalah menghapus air mata kesedihan mereka," lanjut Arzu sedikit berbisik. Althan mengangguk. Ia bangun dari duduknya. Menghampiri Cella yang masih menangis sambil memeluk Syila dan Qila.


"Bunda," panggil Althan dengan lembut. Cella menatap Althan lekat.


"Ada apa sayang?" tanya Cella sambil mengulurkan tanganya. Althan duduk di pangkuan Cella. Menatap wajah Cella lekat.


"Bunda tidak boleh nangis, Al akan selalu menemani bunda. Al juga mau kok jadi sandaran saat bunda sedih. Papa bilang, tugas laki-laki itu menghapus air mata wanita. Jadi, bunda jangan nangis lagi ya?" ujar Althan seperti orang dewasa. Ia menghapus air mata di pipi Cella. Cella tersenyum. Ia mengecup kening putranya yang sangat pintar.


"Anak pintar, bunda sangat beruntung bisa memiliki anak-anak pintar seperti kalian. Cium bunda," pinta Cella sambil menunjuk pipinya. Lalu, Althan, Syila dan Qila pun mencium pipi Cella bergantian.


"I love you bunda," ucap mereka kompak.


"Jadi cuma bunda aja? Papa tidak?" tanya Arzu pura-pura ngambek.


"Enggak," jawab mereka kompak. Cella yang mendengar itu tertawa.


"Ok, kalau begitu tidak ada liburan. Semua dibatalkan," ucap Arzu dengan santai.


"Yah, tidak bisa begitu dong pa. Iya deh, kami sayang papa," ucap Qila menghampiri Arzu yang masih memasang wajah marah.


"Iya pa, Al juga sayang papa kok. Cuma lebih sayang bunda," ucap Althan memeluk Cella dengan erat.


"Sayangnya tidak ikhlas, tetap tidak jadi liburan," ucap Arzu hendak pergi. Namun dengan cepat di tahan oleh si kembar.


"Papa sayang, kita sayang banget kok sama papa. Liburannya tetap jalan kan? Lagian kan papa sama bunda selalu sibuk, sekali-kali kita kumpul bareng kan asik."


Arzu tersenyum mendengarnya. Ia mengusap kepala kedua putrinya.


"Papa cuma bercanda, kemana kita akan pergi?" tanya Arzu. Syila dan Qila pun berpikir keras.


"Sudah lama kita tidak ke laut, sepertinya seru," ucap Qila dengan antusias.


"Em... Setuju! Kalau begitu ke laut aja ya pa?" sarkas Syila.


"Bagaimana ibu ratu dan pangeran? Apa setuju kita pergi ke laut?" tanya Arzu pada Cella dan Althan yang masih duduk di pangkuan Cella.


"Sang ratu akan ikut kemanapun yang mulia pergi," ucap Cella.


"Al mau main banana boat, boleh kan pa?" tanya Althan dengan semangat. Ia turun dari pangkuan Cella dan berlari pada Arzu.


"Tidak takut?" tanya Arzu menarik Althan dalam pangkuannya.


"Enggak dong pa, kan Al laki-laki. Jadi tidak boleh takut," balas Althan sambil tersenyum lebar.


"Benarkah? Bagaimana dengan ular?" tanya Qila tersenyum jahil.

__ADS_1


"Kakak!" seru Althan memanyunkan bibirnya. Pasalnya Althan sangat takut dengan yang namanya ular.


Arzu, Cella, Syila dan Qila pun tertawa bersamaan melihat ekspresi lucu Althan. Mereka telihat begitu menikmati kebersamaan yang sangat sulit terjadi. Sebagai seorang dokter, Cella dan Arzu selalu disibukan dengan tugasnya di rumah sakit. Beruntung putra dan putri mereka memahami keadaan orang tuanya. Oleh karena itu Arzu selalu memberikan dan mengiyakan apa pun keinginan anak-anaknya.


__ADS_2