
BRAAKK
Semua orang terperanjat kaget dan langsung menatap kearah pintu. Disana sudah berdiri seorang perempuan paruh baya dengan mata yang memerah, ia menatap Monik begitu tajam.
"Rayya/tante Rayya?" ucap Inna dan Monik bersamaan saat melihat wanita paruh baya yang tak lain adalah Rayya. Rayya pun sangat terkejut saat melihat keberadaan Inna disana. Namun ia langsung menghilangkan rasa kagetnya dan kembali menatap Monik. Arzu yang melihat itu langsung berdiri menutupi Monik.
"Diamana kau sembunyikan Rangga?" teriak Rayya menghampiri Monik, namun dengan cepat langsung Inna tahan.
"Apa maksud kamu Rayya? Siapa Rangga?" tanya Inna menatap Rayya tajam.
"Gadis ini yang sudah menghasut putraku hingga dia melawanku dan tidak mau mendengarkan ucapanku." ucap Rayya penuh penekanan. Monik yang mendengar itu menggelengkan kepalanya karena ia tidak pernah merasa seperti apa yang Rayya katakan.
"Jaga ucapan kamu Rayya." ucap Inna tak terima dengan ucapan Rayya.
"Maaf mbak, tapi anak saya tidak pernah melakukan itu pada siapapun. Lagian nak Rangga yang selalu datang kerumah dan menemui Monik. Mereka juga berteman dengan baik." ujar Yeni mendekati Rayya.
"Kamu membelanya karena dia anak kamu, aku melihat sendiri saat Rangga mengenal gadis ini dia berubah dan berani melawanku." bentak Rayya sambil menunjuk Monik.
"Kak Rangga sakit tante, dia depresi karena tante selalu memukulnya sejak kecil." ucap Monik yang berhasil membuat semua orang menatapnya.
"Omong kosong, aku tidak pernah kasar padanya. Katakan diaman Rangga berada?" seru Rayya menatap Monik dengan tatapan yang tak suka.
"Monik tidak tahu tante, terakhir ketemu kakak Rangga itu minggu lalu. Monik tidak bertemu lagi dengannya." ujar Monik menggenggam tangan Arzu. Arzu duduk disebelah Monik dan merangkul Monik.
"Jangan takut." bisik Arzu menatap Monik, Monik tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Aku tidak akan melepaskanmu jika sesuatu terjadi pada putraku." seru Rayya yang langsung pergi dan membanting pintu dengan kuat. Semua orang sangat terkejut akibat ulah Rayya.
"Kenapa dia tidak berubah." ucap Inna menggelengakan kepalanya.
"Siapa Rangga?" tanya Arzu.
"Yang kemarin kakak pukul di kampus." ucap Monik pelan. Arzu kembali mengingat kejadian minggu lalu saat Ia pergi kekampus dan mendapatkan Monik sedang dihimpit oleh seorang pria.
"Jadi dia Rangga." ucap Arzu menatap Monik, Monik kembali menatap Arzu dan menganggukkan kepalanya.
"Arzu biarkan Monik istirahat, sudah larut. Mama dan yang lain pulang dulu. Monik besok kami akan kembali, istirahat lah." ujar Inna mengecup kening Monik.
"Ibu juga pulang dulu sayang, besok Moli harus sekolah." ucap Yeni mencium kedua pipi Monik.
"Nak Arzu tolong jaga anak ibu." ucap Yeni menatap Arzu.
"Iya bu." ucap Arzu mencium tangan Yeni.
"Mama pulang sayang." ucap Inna yang dijawab anggukan oleh Monik , Arzu mencium kedua pipi Inna.
"Hati-hati dijalan Ma." ucap Arzu yang dijawab anggukan oleh Inna.
"Kak Monik Elsha pulang dulu ya." ucap Elsha mencium pipi Monik dan langsung berlari menyusul Inna.
"Kakak juga pamit pulang." ucap Elya mencium pipi Monik, Rijal menepuk punggung Arzu dan keduanya langsung beranjak pulang. Kini hanya tinggal Monik dan Arzu didalam ruang rawat inap.
"Kak." panggil Monik menarik tangan Arzu.
"Ada apa? Apa ada yang sakit?" tanya Arzu khawatir, Monik yang melihat itu tersenyum.
"Mau dipeluk." ucap Monik pelan karena malu untuk mengatakan hal itu.
"Tidak." ucap Arzu yang berhasil membuat Monik terkejut dan menatap Arzu sangat kecewa. Monik membalikan tubuhnya membelakangi Arzu, Ia meneteskan air matanya karena sangat sedih Arzu menolak keinginannya. Namun tak lama Monik meraskan ranjangnya bergoyang dan merasakan sebuah tangan melingkar diperutnya.
__ADS_1
"Maaf aku hanya ingin mengerjaimu." ucap Arzu mencium leher Monik. Monik yang mendengar ucapan Arzu malah terisak.
"Sayang, aku minta maaf. Tidak ada maksud untuk membuat kamu nangis." ucap Arzu membalikan tubuh Monik. Arzu menghapus air mata Monik yang sudah membasahi pipi Monik.
"Jahat." ucap Monik memukul dada Arzu. Arzu menahan tangan Monik dan menciumnya.
"Sorry." ucap Arzu mengecup bibir Monik yang kini sudah menghadap Arzu. Monik masih menangis sambil menenggelamkan wajahnya didada Arzu.
"Jangan menagis lagi." ucap Arzu memeluk Monik dengan lembut. Monik membalas pelukan Arzu dan mengigit leher Arzu.
"Ahhh sakit sayang." ucap Arzu melepaskan pelukannya dan memegang lehernya yang Monik gigit.
"Satu sama woee... " ucap Monik yang langsung membalikan tubuhnya membelakangi Arzu. Arzu mengerutkan keningnya karena perubahan Monik yang tadi menangis kini kembali ceria.
"Apa semua wanita hamil seperti itu." ucap Arzu dalam hati.
"Akhhh..." Monik memekik sambil memegang perutnya.
"Ada apa?" tanya Arzu panik.
"Perutnya keram." ucap Monik meringis kesakitan. Arzu yang panik hendak bangun untuk memanggil dokter, namun dengan cepat Monik menahan tangan Arzu. Monik tersenyum dan meletakkan tangan Arzu diperutnya.
"Dia merindukan papanya." ucap Monik
Arzu menatap Monik tajam karena ia kembali dikerjai oleh Monik.
"Jangan lihat Monik seperti itu, ini kan maunya anak kamu." rengek Monik memeluk Arzu. Arzu yang mendengar ucapan Monik hanya bisa tersenyum, ia membalas pelukan Monik.
"Kamu harus tidur, ini sudah malam." ucap Arzu mengelus kepala Monik. Monik menengadahkan kepalanya menatap Arzu.
"Tapi Monik lapar kak." rengek Monik sambil memainkan bibir Arzu.
"Ya sudah, kamu tunggu disini sebentar." ucap Arzu melepaskan pelukannya dan langsung turun dari atas brankar.
"Mau ikut." rengek Monik menatap Arzu penuh harap.
"No, Ini sudah malam. Kamu tunggu disini." ucap Arzu tersenyum sambil mengelus pipi Monik.
"Mau ikut, kalau gak ikut gak jadi makan deh." ucap Monik pura-pura merajuk. Arzu memijit pelepisnya karena bingung dengan sikap Monik yang begitu manja.
"Ini sudah malam sayang, kamu tidak... "
"Kalau gitu kakak pergi aja, Monik udah gak lapar." ucap Monik menarik selimutnya dan kembali membelakangi Arzu. Arzu menggelengkan kepalanya dan langsung beranjak pergi. Monik yang menyadari Arzu pergi langsung membalikan tubuhnya dan melihat Arzu menutup pintu. Monik bangkit dari tidurnya dan menyandar ditempat tidur.
"Lihat lah sayang, papa kamu jahat banget. Padahal mama mau makan di luar." ucap Monik mengelus perutnya. Monik mengerucutkan bibirnya sambil melihat kearah pintu. Lalu tak berapa lama pintu kembali terbuka dan menampakkan Arzu membawa kursi roda dan seorang dokter paruh baya yang masih terlihat cantik.
"Hai manis." ucap sang dokter menghampiri Monik, Monik menatap dokter itu dan tersenyum. Lalu Monik kembali menatap Arzu yang kini sudah berada di sebelah Monik.
"Perkenalkan ini dokter Yola. Kamu bisa memanggilnya tante." ujar Arzu duduk disebelah Monik. (Baca I Love You Professor Handsome)
"Kamu sangat manis, pantas saja Arzu begitu tergila-gila padamu." ucap Yola sambil memegang tangan Monik yang diinfus.
"Tahan sendikit." ucap Yola mencabut jarum infus ditangan Monik, Monik sedikit meringis sambil menggenggam tangan Arzu.
"Harus dibuka?" tanya Arzu pada Yola.
"Monik sudah membaik, satu infus sudah cukup. Dengan makan sedikit dia akan kembali normal. Kamu boleh membawanya keluar, tapi jangan terlalu jauh. Angin malam tidak bagus untuk kesehatan." ujar Yola membersihkan darah ditangan Monik.
"Terimakasih dok." ucap Monik tersenyum manis.
__ADS_1
"Panggil tante sayang, jangan panggil dokter. Itu terlalu formal. Kita masih keluarga." ucap Yola mengelus kepala Monik. Monik yang mendengar ucapan Yola hanya bisa tersenyum.
"Ayok, katanya lapar." ucap Arzu mengangkat tubuh Monik dan mendudukan Monik dikursi roda.
"Hati-hati dijalan." ucap Yola yang dijawab anggukan oleh Arzu.
***
"Mau makan apa?" tanya Arzu saat keduanya sudah tiba disebuah restoran. Monik hanya melihat kiri dan kanan karena tidak menyukai suasana di restoran ini.
"Kak, Monik gak mau disini. Mau makan bakso mang Ujang aja deh." ucap Monik menatap Arzu penuh harap. Arzu mengernyitkan keningnya karena bingung dengan tempat yang Monik katakan.
"Bakso mang ujang?" tanya Arzu bingung karena ia tidak pernah makan yang namanya bakso. Arzu hanya tahu namanya saja namun ia tidak pernah tahu rasanya seperti apa.
"Iya, tukang bakso yang ada didekat kampus." ucap Monik dengan mata berbinar.
"Bakso tidak bagus untuk kesehatan, lagian jarak kesana lumayan jauh. Makan yang lain saja." ujar Arzu sambil melihat menu makanan. Monik yang mendengar ucapan Monik langsung merubah raut wajahnya menjadi sedih. Monik memang sangat menginginkan bakso dan hanya membayangkan saja Monik sudah meneteskan air ludahnya. Arzu melirik Monik yang kini sudah menunduk, Arzu menarik dagu Monik dan melihat air mata Monik yang sudah berlinang.
"Baik lah, kita kesana sekarang. Tapi kamu yakin masih buka?" ucap Arzu membuat Monik kembali berbinar.
"Heem... Kata mang ujang dia buka sampe jam 12." ucap Monik begitu semangat. Arzu menghela napasnya karena bingung dengan perubahan Monik yang drastis. Arzu tahu ini semua efek dari hormon ibu hamil. Arzu mendorong kursi roda Monik dan membawanya kembali kemobil. Arzu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju tempat yang Monik katakan.
"Yeee...Masih buka." sorak Monik yang begitu bahagia saat melihat warung bakso mang Ujang masih buka, Monik hendak turun dari mobil namun dengan cepat ditahan oleh Arzu.
"Tunggu, kamu belum bisa jalan sendiri." ucap Arzu yang langsung turun dari mobil dan mengambil kursi roda dibelakang. Namun tanpa Arzu sadari Monik sudah turun dari mobil dan menghampiri Arzu.
"Ya tuhan, kenapa kamu begitu keras kepala. Aku sudah katakan tunggu dulu, kamu masih belum sehat." ucap Arzu dengan nada sedikit meninggi. Monik yang mendengar itu langsung meneteskan air matanya.
"Monik udah sehat kak, hiks. Kakak jahat." ucap Monik menundukkan kepalanya. Arzu memijit kepalanya karena tidak tahu lagi harus berbuat apa. Arzu meletakkan kembali kursi roda kedalam mobil, Ia memeluk Monik untuk menenangkannya.
"Maaf." ucap Arzu mencium pucuk kepala Monik, Monik mengangkat kepalanya menatap Arzu.
"Mau makan bakso." rengek Monik yang kini air matanya hilang entah kemana.
"Ayok." ucap Arzu merangkul pinggang Monik dan membawanya kewarung bakso mang Ujang.
"Eh neng Monik, udah lama gak keliatan. Ini siapa neng kasep amat? Pacarnya yak?" seru mang Ujang saat melihat Monik. Monik yang mendengar ucapan mang Ujang malah tertawa.
"Bukan atuh mang, ini mah bodyguard saya." ucap Monik yang berhasil membuat Arzu terkejut dan menatap Monik tajam. Monik yang menyadari itu langsung memeluk Arzu.
"Ini suami saya mang. Kasep kan mang?" ucap Monik begitu riang.
"Owalaah... Mamang kira teh pacar eneng, rupana mah suami nya. Kasep pisan atuh neng, cocok sama neng Monik mah. Sok atuh duduk dulu neng." ujar mang Ujang sambil menunjuk bangku yang masih kosong. Memang warung bakso mang Ujang tidak pernah sepi, soalnya baksonya memang maknyus.
"Baksonya dua mang." ucap Monik saat sudah duduk. Arzu yang mendengar itu langsung menatap Monik.
"Satu aja, saya tidak makan Bakso." ucap Arzu.
"Ih dua mang, siapa juga yang mau pesan buat kakak." ucap Monik ketus.
"No, satu aja." ucap Arzu yang berhasil membuat mang Ujang bingung.
"Dua kak, Monik lapar belum makan dari kemarin. Pokoknya dua mangkok ya mang Ujang." ucap Monik menatap Arzu.
"Ya sudah, dua mangkok mang." ucap Arzu mengalah, ia tidak mau jika Monik akan merajuk lagi. Monik yang mendengar ucapan Arzu tersenyum bahagia.
"Baik, tunggu sebentar nya?" ucap mang Ujang yang dijawab anggukan oleh Monik. Arzu menatap Monik yang sedang melihat kiri dan kanan, lalu pandangan Monik beralih pada Arzu hingga pandangan keduanya saling mengunci.
"Arzu... "
__ADS_1