
Suara hening begitu mencekam di rumah keluarga besar Willson, semua orang hanya saling menatap seakan enggan untuk bicara.
"Kak Arzu secepatnya harus menikahi aku...aku tidak mau tahu" ucap Vivian begitu lantang, Arzu yang mendengar itu menatap Vivian tajam.
"Jangan menatap anakku seperti itu, seharusnya kau bertanggung jawab atas semua perbuatanmu" bentak Mayya yang tak terima putrinya mendapatkan tatapan tajam dari Arzu.
"Kenapa kalian meminta pertanggungjawaban dari orang yang tak pernah salah. Seharusnya kalian tanyakan siapa ayah dari anak yang ada dalam kandungan putri kalian. Kalau berani kita tes DNA, berapa usia kandungannya?" ujar Arza begitu santai, Ia tersenyum saat melihat gelagat Vivian yang mulai gelisah saat mendengar ucapan Arza.
"Hah, bahkan kau tidak berani menjawab" ucap Elsha menatap Vivian tak suka. Arzu dan Monik hanya diam seakan enggan untuk bersuara.
"Kenapa kalian begitu membeci ku hiks,,, bahkan kalian tidak percaya jika anak ini adalah anak kak Arzu. Tante, Om kalian harus percaya ini adalah anak Kak Arzu. Jika kak Arzu tidak mau bertanggung jawab, lebih baik aku mati. Aku tidak mau menanggung malu ini sendirian" ujar Vivian yang langsung bangkit dari duduknya dan berlari keluar.
"Vivian tunggu" teriak Firman yang langsung mengejar Vivian, Mayya bangkit dari duduknya dan menatap tajam Arzu.
"Kau manusia tidak punya hati Arzu, kau memberikan semua beban itu pada putriku. Dan kau Inna, aku tahu di masa lalu aku sudah berbuat jahat padamu, aku juga mengakui jika aku tidak pantas memiliki ikatan dengan keluarga Willson. Tapi kalian semua sangat kejam, kalian terlalu egois dan melepaskan tanggung jawab. Aku kecewa padamu El, aku juga tidak menyangka jika kau mendidik anakmu dengan salah dan tidak bertanggung jawab. Aku tidak akan memaafkan kalian jika terjadi sesuatu pada putriku" ujar Mayya yang langsung pergi meninggalkan kediaman Willson, Inna yang mendengar itu merasa kepalanya sangat sakit. Ia tidak menyangka jika maslah ini akan sangat rumit.
"Mama" teriak Elsha saat melihat Inna pingsan, Samuel dengan sigap menangkap tubuh Inna.
"Bawa ke kamar Pa, biar Arzu yang periksa" ucap Arzu panik, lalu mereka langsung beranjak menuju kamar. Monik berjalan begitu pelan, ia sangat bingung dengan semua yang terjadi. Ia juga sangat takut jika Arzu akan meninggalkan dirinya.
"Mama hanya syok, biarkan mama istirahat. Pa, Arzu tinggal sebentar" ucap Arzu menarik tangan Monik keluar.
__ADS_1
"Kak" ucap Monik menghentikan langkahnya dan menarik tangannya dari Arzu.
"Ada apa?" tanya Arzu menatap Monik penuh tanda tanya. Monik menunduk dan menggigit bibirnya, ia sangat gugup.
"Menikahlah dengan Vivian" ucap Monik yang berhasil membuat Arzu terkejut.
"Apa yang kau katakan huh? Aku tidak mungkin menikahi dia, itu bukan kesalahanku" ucap Arzu dengan nada tinggi.
"Monik tahu kak, tapi Monik tidak mau melihat mama sakit seperti ini gara-gara masalah ini. Kak Elya juga bahkan tidak pernah datang lagi ke ke sini kak. Monik tidak mau melihat keluarga kita pecah. Monik mohon kak" ujar Monik yang mulai menangis sambil menggenggam tangan Arzu.
"Kau sudah gila, aku tidak akan melakukan hal itu" ucap Arzu menggelengkan kepalanya.
"Monik mohon, mungkin ini jawaban dari Allah kak. Monik belum bisa memberikan kakak anak, tapi Allah memberikannya melalui Vivian" ucap Monik menatap manik mata Arzu.
"Cukup... Apa yang kau katakan Hah? Jadi kau mempercayai jika anak itu adalah anakku? Apa yang sebenarnya ada dalam pikiranmu Monik?" tanya Arzu menyentuh pundak Monik, Monik menunduk dan tubuhnya bergetar karena menangis.
"Menikahlah dengan Vivian kak, jangan pikirkan Monik" ucap Monik kembali menatap Arzu. Arzu menggelengakan kepalanya, ia benar-benar sangat kecewa mendengar ucapan Monik.
"Aku sangat kecewa padamu, itu artinya kau tidak memepercayaiku Monik. Kau tidak mempercayaiku" ucap Arzu tersenyum getir.
"Bukan seperti itu kak.. Monik.. " belum selesai bicara, Arzu sudah terlebih dahulu pergi meninggalkan Monik.
__ADS_1
"Monik minta maaf kak, Monik selalu mempercayai kakak" ucap ucap Monik menjatuhkan tubuhnya ke lantai, saat ini ia sangat bingung. Bingung harus melakukan apa, di lain sisi hatinya tidak rela jika Arzu harus menikahi Vivian. Tapi di sisi lain keluarganya akan benar-benar hancur masalah ini terus berlarut.
"Bangun" ucap seseorang membantu Monik untuk bangun, Monik menatap orang itu dan langsung memeluknya. Ya, dia adalah Elsha yang tak sengaja mendengar semua pembicaraan Arzu dan Monik
"Maaf kak, sebaiknya kakak jangan mengatakan hal itu. Tunggu hingga kebenarannya terungkap, kita akan mencari solusinya" ucap Elsha mengelus punggung Monik yang bergetar.
"Mau sampai kapan? Aku tidak mau cuma gara-gara keegoisan semuanya hancur. Aku tidak mau menjadi penyebab kehancuran keluarga kalian, dari awal aku hanya menjadi beban untuk kak Arzu. Aku selalu menyusahkan kalian" ujar Monik begitu pilu.
"Cukup kak, jangan menyalahkan diri sendiri, ini semua cobaan untuk kita. Jangan pernah mengatakan hal itu, sekarang kita masuk ya? Mama sudah mulai sadar, ayok" ucap Elsha menghapus air mata Monik, ia sangat tahu sekarang Monik sedang di landa kebingungan. Elsha merangkul Monik dan membawanya masuk ke dalam rumah.
***
"Apa yang kakak lakukan di sini?" tanya Elsha berdiri di samping Arzu yang sedang menatap lurus ke depan. Saat ini mereka berada di atas loteng tempat favorit mereka saat kecil.
"Mencari ketenangan" ucap Arzu datar, Elsha yang mendengar itu berdecih seakan ucapan Arzu tiada arti.
"Kak Monik sangat terluka kak, jangan marah padanya. Dia mengatakan hal itu karena dia perduli dengan keluarga kita yang sedikit goyah. Jangan meninggalkan dia seperti tadi lagi, itu sangat sakit kak. Bicarakan semuanya baik-baik, Elsha dan kak Za akan membantu kakak untuk mencari kebenarannya. Sebaiknya kakak terima saja saran dari kak Monik, katakan pada Vivian jika kakak akan menikahi dia. Ini demi kebaikan bersama, secepatnya kami akan mencari bukti yang kuat jika kakak tidak bersalah. Elsha yakin ada sesuatu yang Vivian sembunyikan" ujar Elsha panjang lebar, ia melipat kedua tanganya di dada dan ikut menatap lurus ke depan.
"Jangan takut, Elsha akan menjamin pernikahan itu tidak akan terjadi" sambung Elsha menatap Arzu yang masih terdiam seribu bahasa.
Arzu sama sekali tidak bergeming, saat ini dalam pikirannya hanya Monik. Monik sudah sepenuhnya berada di hati Arzu, dan tidak akan bisa tergantikan dengan orang lain.
__ADS_1