
Monik berjalan menuju kamarnya dengan lemas, setelah berkeliling beberapa jam berhasil menguras semua tenaganya.
"Akhhh lelah sekali" ucap Monik menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, ia memejamkan matanya karena memang sangat kelelahan. Namun tak lama Monik merasakan sesuatu menetes di wajahnya, Monik membuka mata dan betapa terkejutnya ia saat melihat Arzu dengan rambut basahnya sudah berada di atas Monik sambil tersenyum.
"Aaaaa... Kenapa kakak buat Monik kaget sih, kalau Monik jantungan gimana?" ucap Monik sangat kesal, Arzu yang mendengar itu hanya tersenyum dan mendekatkan wajahnya dengan Monik. Monik memejamkan matanya saat benda kenyal itu menyetuh bibirnya, ia mengalungkan kedua tanganya di leher Arzu.
"Aaaaaaa... " teriak seseorang yang berhasil membuat Arzu dan Monik terkejut. Arzu mengangkat tubuhnya menjauh dari Monik karena melihat Elsha berdiri di ambang pintu sambil menutup wajahnya dengan tangan.
"Elsha apa yang kamu lakukan? Kenapa tidak ketuk pintu dulu" ucap Arzu kesal, Monik bangun dari tidurnya sambil merapikan pakaiannya.
"Maaf, Elsha cuma mau antar ini punya kak Monik ketinggalan" ucap Elsha meletakkan sebuah paper bag di atas meja dan langsung berlari keluar. Arzu menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah adiknya itu.
"Besok kita pulang, disini banyak sekali pengganggu" ucap Arzu yang langsung beranjak menuju kamar ganti. Monik yang melihat wajah kesal Arzu pun hanya tersenyum geli. Monik melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk merendam tubuhnya yang pegal-pegal.
"Sayang kamu di dalam?" tanya Arzu saat tak mendengar suara Monik di kamar mandi. Monik yang tadinya memejamkan matanya kini terpaksa membukanya, Monik menarik handuk dan melingkarkan di tubuhnya. Ia membuka pintu kamar mandi dan terlihat wajah khawatir Arzu.
"Monik di dalam kak, monik mau mandi dulu" ucap Monik yang hendak menutup pintu kamar mandi, namun dengan cepat di tahan oleh Arzu.
"Kak, Monik mau mandi" rengek Monik mencoba mendorong tubuh Arzu.
"Malam ini aku tidak akan melepaskanmu" ucap Arzu di telinga Monik hingga pemilik telinga pun membulatkan matanya.
"Ish dasar mesum, sana ah" seru Monik mendorong tubuh Arzu dan langsung menutup pintu kamar mandi dengan keras.
"Kau sangat menggemaskan sayang, aku ingin mengigitmu" teriak Arzu, Monik yang yang mendengar itu hanya memutar kedua bola matanya dan kembali melakukan rintual mandinya.
__ADS_1
***
"Kak, bagaimana kabar Mona? Apa dia baik-baik aja?" tanya Monik memeluk Arzu dengan erat.
"Terakhir aku menemuinya dia baik-baik saja. Tapi keadaannya sangat berantakan" ucap Arzu yang berhasil membuat Monik menatap Arzu.
"Berantakan?maksud kakak?" tanya Monik penasaran.
"Sepertinya dia sangat terpukul, dia sama sekali tidak mengurus dirinya" ucap Arzu menatap mata Monik.
"Ya ampun, kasian kak. Pasti dia sangat ketakutan di sana. Jujur Monik seperti tidak percaya jika Mona yang melakukan hal itu" ucap Monik yang kembali memeluk Arzu.
"entah lah, kita masih menyelidiki semuanya" ucap Arzu mengelus kepala Monik dan mencium pucuk kepala Monik dengan lembut.
"Tapi itu kesalahan Monik juga kak, Monik juga ikut tersulut emosi" ucap Monik menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Arzu.
"Kita akan lihat nanti, secepat kita harus mengungkap kebenaran" ucap Arzu yang di jawab anggukkan oleh Monik.
"Kak, kakak pake parfume apa sih? Kok beda?" tanya Monik sambil menghirup aroma tubuh Arzu.
"parfume? Seperti biasa, tidak ada yang baru" ucap Arzu mencium tubuhnya sendiri.
"Monik suka parfum kakak, besok Monik pake ya?" ucap Monik yang mendapatkan tatapan bingung dari Arzu.
"Untuk apa? Kan kamu punya sendiri" ucap Arzu membuat Monik mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Ya sudah kalau tidak boleh, kakak pelit. Padahal kan cuma minta sedikit" ucap Monik melepas pelukannya dan tidur membelakangi Arzu.
"Hey, kenapa marah? Kan cuma bertanya, kamu sangat aneh sayang" ucap Arzu memeluk Monik dari belakang dan mencium ceruk leher Monik. Monik membalikan tubuhnya dan menatap Arzu dengan tajam.
"Monik tidak aneh kak, Monik cuma mau parfum kakak. Monik juga mau makan di luar" rengek Monik yang semakin membuat Arzu bingung.
"Makan di luar? tumben" ucap Arzu menarik pinggang Monik agar tak ada jarak diantara mereka.
"Monik mau makan masakan Jepang, boleh ya?" rengek Monik sambil mengelus rahang tegas Arzu.
"Sekarang?" tanya Arzu yang di jawab anggukkan antusias Monik. Arzu melihat jam dinding yang masih menunjukan pukul 21.20 WIB.
"Baik lah, kita bersiap" ucap Arzu, Monik begitu semangat dan langsung bangkit dari tidurnya.
"Hati-hati sayang" ucap Arzu saat melihat Monik berlari kearah Walk-in closet.
Setelah beberapa saat, Arzu sudah siap dengan pakaian santainya.
"Honey kamu sudah siap?" tanya Arzu pada Monik yang sudah siap dengan gaun simpel miliknya sedang duduk di sofa menunggu Arzu. Monik tersenyum sambil menatap Arzu.
"Kamu sangat cantik, tanpa kaca mata" ucap Arzu mencubit pipi Monik.
"Ck, sakit kak. Ayok cepat, Monik lapar" rengek Monik yang langsung menggandeng Arzu. Lalu keduanya langsung beranjak pergi menuju restoran Jepang sesuai keinginan Monik.
__ADS_1