ARZU

ARZU
Chapter 84


__ADS_3

Happy birt day to you... Happy birt day to you...


Suara musik menggema di kediaman keluarga Wilson. Hari ini adalah hari ulang tahun Qila dan Syila yang ke- 10. Rumah besar itu di sulap menjadi istana Princess. Suara riuh anak-anak terdengar begitu jelas.


"Bunda, bagaimana dengan Qila. Sudah cantik kan?" tanya Qila menunjukkan pakaian princessnya pada Cella.


"Bagus sayang, sini bunda perbaiki sedikit. Nah, sudah bangus deh."


Cella terlihat merapikan rambut Qila. Lalu tak lama Syila pun datang, membawa sebuah kado yang cukup besar.


"Happy birt day bunda, walaupun tidak ada yang mengingat. Tapi Syila dan Qila akan terus mengingat hari spesial bunda."


Cella sangat terkejut. Ia sama sekali tak mengingat jika hari ini adalah hari ulang tahunnya juga. Ia terlalu sibuk untuk mempersiapkan acara kedua putrinya.


"Terima kasih, sayang," ucap Cella memeluk ke dua putrinya dengan penuh kasih sayang.


"Bunda... Al juga bawa hadiah," teriak Althan sedikit berlari ke arah Cella. Arzu yang berjalan di belakang Althan hanya tersenyum.


"Wah, apa ini? Terima kasih, jagoannya bunda," ucap Cella mencium pipi Althan dengan lembut.


"Selamat ulang tahun sayang. Maaf, aku tidak menyiapkan hadiah untukmu," ujar Arzu menghampiri Cella.


"Bunda, papa, kami ke luar dulu ya. Ayok Al," ucap Syila menarik ke dua adiknya. Arzu tersenyum melihat putrinya begitu pengertian. Arzu menatap wajah Cella lekat.


"Kamu masih tetap cantik," ucap Arzu menarik pinggang Cella. Cella tersenyum malu. Arzu mengecup pipi Cella begitu mesra.


"Mas, sebaiknya kita keluar. Sebentar lagi acara akan segera di mulai. Jangan biarkan anak-anak menunggu," kata Cella sambil menyentuh pipi Arzu.


"Bagaimana jika Al punya adik?" tanya Arzu yang berhasil membuat Cella terkejut.


"Mas, jangan bicara yang aneh deh."


Cella melepaskan dekapan Arzu, ia berjalan menuju pintu. Namun dengan cepat Arzu menahannya. Memeluknya dari belakang.


"Tidak salahnya kita coba, apa perlu kita honeymoon lagi?"


"Lalu bagaimana dengan anak-anak?" tanya Cella sambil berputar. Menatap netra Arzu begitu dalam.


"Mama ada, kita titip mereka di sana. Lagian sekarang sudah ada Elsha. Dia bisa membantu kita menjaga anak-anak, bagaimana?"


Cella nampak berfikir.


"Paris," ucap Cella dengan semangat.


"Tidak jadi masalah," balas Arzu tersenyum.


"Lusa, kita akan langsung berangkat."


Cella mengangguk antusias. Sudah menjadi impiannya, honeymoon di Paris. Kota impian semua orang.


"Sekarang sudah saatnya acara di mulai, ayo keluar. Sebelum kedua putri menghancurkan acara," ujar Cella yang di sambut tawa oleh Arzu. Lalu keduanya pun langsung beranjak keluar.


Acara berlangsung dengan begitu meriah. Syila dan Qila tampak bahagia. Semua teman-temannya ikut hadir di acara spesial mereka.


"Selamat ulang tahun anak bunda," ucap Cella mencium pipi keduanya. Syila dan Qila pun membalas kecupan Cella.


"Ingat, jangan cengeng lagi. Kalian sudah besar," lanjut Cella sambil menoel hidung Syila dan Qila. Mereka pun mengangguk antusias.


"Bunda, Al juga mau tiup lilin seperti kakak. Tapi kuenya harus robot, gak mau gambar perempuan," oceh Althan yang di sambut tawa oleh Cella.


"Iya sayang," ucap Cella mencium kening Althan dengan gemas.

__ADS_1


"Sayang, ada tamu spesial." Bisik Arzu. Cella mengernyit bingung. Lalu pandanganya tertuju pada sosok yang sudah sangat lama tak ia temui. Cella membuka mulutnya tak percaya.


"Gerald? Ya ampun," pekik Cella menghampiri pria tampan, yang masih berdiri sambil tersenyum. Cella memeluk pria itu dengan hangat.


"Kemana saja huh? Lama tidak ada kabar, aku pikir kamu marah padaku karena masalah dulu."


"Tidak, aku hanya sibuk dengan pekerjaan. Ah iya, perkenalkan ini istri dan putriku. Reina dan si kecil Daisy," ujar Gerald memperkenalkan Cella pada wanita yang kini tengah berdiri sambil menggendong balita.


"Waw, dia sangat cantik. Bodoh jika kau melepaskanya dulu," ucap Cella menatap Reina. Reina tersenyum kikuk.


"Tidak perlu malu, nasib kita sama. Hanya saja, kau lebih beruntung dariku," lanjut Cella menatap Gerald. Gerald hanya tersenyum simpul.


"Aku sudah menceritakan tentang dirimu padanya," ucap Gerald merangkul Reina. Cella tertawa saat mendengarnya.


"Sayang, kenapa tidak mengajak mereka untuk duduk?" tanya Arzu merangkul Cella.


"Ah iya, hampir saja lupa. Ayo," ajak Cella.


"Beib, pegangkan Daisy."


Cella yang mendengar itu langsung menoleh.


"Boleh aku yang gendong?" tanya Cella dengan mata berbinar.


"Tentu," balas Reina memberikan Daisy pada Cella. Cella terlihat sangat senang, ia mencium pipi gembul Daisy dengan gemas.


"Arzu, sepertinya sudah bisa menambah satu lagi," ucap Gerald.


"Ya, kami sedang program," balas Arzu yang di sambut tawa oleh Gerald.


Satu jam telah berlalu, acara pun telah usai.


"Tunggu sebentar sayang, sabar ok?" balas Cella mengusap kepala Qila.


"Bunda, Al boleh minta satu kan? Al mau yang besar," celoteh Althan.


"Ini hadiah untuk kakak sayang, jika ingin hadiah. Minta pada papa," ucap Cella.


"Benarkah bun? kalau seperti itu Al akan minta pada papa," ujar Althan langsung berlari untuk mencari Arzu. Cella yang melihat itu hanya bisa menggeleng.


"Sayang, bunda mau bicara sesuatu. Kalian jangan marah ya?" tanya Cella menatap kedua putrinya. Syila dan Qila pun saling melempar pandangan.


"Apa bunda akan meninggalkan kami?" tanya Syila dengan raut sedih. Cella mengangguk.


Syila dan Qila pun mulai berlinang air mata. Mereka menatap Cella lekat.


"Jadi bunda tidak sayang lagi dengan kami?"


"Bunda benar-benar akan pergi?"


Cella tersenyum ramah. Ia menarik kedua putrinya ke dalam dekapan.


"Bunda hanya pergi beberapa hari sayang, papa juga ikut. Memangnya apa yang kalian pikirkan?" balas Cella. Syila dan Qila pun mengangkat kepalanya. Menatap wajah Cella lekat.


"Jadi bunda tidak akan meninggalkan kami?" tanya Syila dengan raut sedih.


"Bagaimana bisa bunda meninggalkan anak bunda, huh? Mana bisa bunda jauh dari kalian," balas Cella mengecup kening mereka bergantian.


"Lalu, bunda dengan papa mau kemana?" tanya Qila.


"Em, jalan-jalan."

__ADS_1


Syila dan Qila kembali saling melempar pandangan.


"Tapi, kali ini tanpa kalian. Cukup bunda dengan papa," lanjut Cella sambil tersenyum jahil. Syila dan Qila pun memicingkan matanya.


"Emm... Jadi bunda mau mesra-mesraan dengan papa ya? Terus gak mau ajak kita, ok. Tidak jadi masalah," ujar Syila melipat kedua tanganya. Cella tersenyum geli.


"Ih bunda, masa jalan-jalan gak ajak kita sih? Gak asik," ucap Qila mengerucutkan bibirnya.


"Dek, bunda sama papa itu pengen punya waktu berdua."


Syila membisikkan sesuatu pada Qila. Wajah Qila pun langsung berubah senang. Keduanya nampak tertawa bersama.


"Apa sih yang kalian bicarakan? Tidak mau kasih tahu bunda?" tanya Cella penasaran.


"Rahasia dong," ucap keduanya kompak.


"Hmmm, sudah berani main rahasia ya dengan bunda," ujar Cella menggelitik keduanya.


"Ampun bunda... Hahahaha... " seru Qila merasa geli akibat ulah Cella. Keduanya tertawa riang. Menikmati setiap detik kebersamaan dan setiap menit yang selalu membawa kebahagiaan.


***


"Mas, Cella kok kepikiran ya sama anak-anak," ucap Cella yang kini tengah berdiri di balkon hotel, sambil menikmati pemandangan nyata menara Eiffel. Arzu nampak memeluk Cella dari belakang.


"Mereka baik-baik saja, kamu terlalu berlebihan."


Arzu mengecup leher Cella begitu mesra.


"Hmmm... Mungkin karena mereka tak pernah jauh dari kita, jadi terasa hampa saat mereka jauh."


"Hmmm..." gumam Arzu sambil terus mengecup pundak Cella.


"Mas, ini masih siang. Kita jalan-jalan yuk," ajak Cella. Arzu mengeratkan pelukannya.


"Mas, mau ya?" lanjut Cella. Arzu masih terdiam.


"Satu ronde bagaimana?" bisik Arzu. Cella membulatkan matanya.


"Ini masih siang mas, lagian mana bisa kamu main satu ronde." Protes Cella. Arzu tersenyum mendengar ocehan istrinya.


"Kalau begitu sepuluh," ucap Arzu menggoda Cella.


"Mas...," rengek Cella. Arzu tertawa renyah. Ia memutar tubuh Cella agar menghadap dirinya.


"Tiga ronde, setelah itu kita jalan-jalan. Bagaimana?" tawar Arzu.


Cella menatap netra suaminya dalam-dalam. Ia menarik napas panjang. Lalu mengangguk pasrah. Cella tak pernah bisa menolak keinginan suaminya.


Arzu tersenyum bahagia. Ia mengangkat tubuh ramping Cella. Keduanya saling mengunci pandangan. Perlahan Arzu menurunkan Cella di atas ranjang.


"Aku selalu merindukanmu sayang," ucap Arzu mengecup kening Cella dengan lembut. Cella memicingkan matanya.


"Kamu terlalu sibuk dengan anak-anak, melupakan aku yang juga membutuhkan kasih sayang kamu."


Cella tertawa geli mendengar ucapan suaminya yang mirip gombalan itu. Sedangkan Arzu di buat bingung olehnya.


"Sejak kapan mas pandai bergombal?" tanya Cella melingkarkan kedua tangannya di leher Arzu. Arzu berdecak kesal mendengarnya. Cella kembali tertawa.


"Ok, kita lihat. Apakah kamu masih bisa tertawa," ujar Arzu membungkam bibir Cella. Cella sangat terkejut, ia terdiam saat Arzu menciumnya.


Arzu mulai melakukan keinginannya yang sudah lama terpendam. Ia menyentuh lembut setiap inci tubuh istrinya. Keduanya mulai terhanyut dalam penayatuan. Melepaskan segala kerinduan.

__ADS_1


__ADS_2