
BRUUKK
"Maaf." ucap Monik panik.
"Siapa kamu? Kenapa keluar dari ruangan dokter Arzu?" tanya seorang wanita yang Monik tabrak.
"Emmm... Saya tadi... "
"Apa kamu pencuri? Lihat wajahmu juga terlihat seperti orang ketakutan. Penampilanmu juga sangat rendahan." ucap wanita itu memperhatikan Monik dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Maaf mbak, saya memang orang tidak mampu tapi saya tidak akan mencuri barang orang lain." ucap Monik yang merasa sakit hati dengan ucapan wanita itu. Monik hendak pergi namun wanita itu mendorong Monik hingga terjatuh kelantai. Monik meringis kesakitan karena bagian kakinya terasa sangat sakit.
"Ups sorry aku gak sengaja." ucap wanita itu tersenyum licik.
"Dokter Mona, apa yang kamu lakukan?" seru seseorang yang berhasil membuat wanita yang bernama Mona itu terkejut. Arzu langsung membantu Monik untuk bangun. Namun Monik meringis kesakitan saat Arzu membantunya untuk bangun.
"Do-dokter Arzu." ucap Mona terbata. Arzu menatap Mona tajam.
"Kau sudah menyakiti calon istriku Mona, sifatmu sama sekali tidak mencerminkan seorang dokter." ujar Arzu yang langsung menggendong Monik yang meringis kesakitan. Arzu kembali membawa Monik masuk keruangannya. Mona hanya diam mematung karena masih tidak percaya jika wanita yang ia dorong tadi adalah calon istri Arzu.
"Kenapa kau memilih dia Arzu, aku lebih baik darinya." ucap Mona yang mulai menetes kan air matanya. Mona memang sudah menyukai Arzu sejak mereka duduk dibangku kuliah, namun Arzu tidak pernah mau tahu akan hal itu.
"Mana yang sakit?" tanya Arzu panik.
"Pengelangan kakiku sangat sakit." ucap Monik menyentuh pergelangan kakinya yang sudah memerah. Arzu mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.
"Keruanganku sekarang." ucap Arzu pada seseorang dibalik telpon. Arzu memutuskan sambungan telponya dan kembali menatap Monik yang kesakitan.
"Tahan sebentar, temanku akan segera datang." ucap Arzu mengelus pipi Monik. Monik hanya menganggukkan kepalanya.
"Ada apa?" seru seseorang yang tiba tiba masuk dengan wajah panik nya. Lalu ia mengernyitkan keningnya saat melihat Monik yang juga sedang menatapnya.
__ADS_1
"Dia calon istriku, kakinya terkilir." ucap Arzu yang berhasil membuat Orang itu terkejut.
"Monik?" tanya orang itu mendekati Monik dan Arzu. Monik sangat bingung karena orang itu mengenalinya. Ia menatap Arzu meminta jawaban.
"Dia dokter tulang, namanya Aditya. Sahabatku." ucap Arzu pada Monik. Monik mengangguk tanda mengerti.
"Cepat bantu dia." ucap Arzu datar.
"Baik lah." ucap Aditya menghampiri Monik. Ia melihat kaki Monik yang mulai memerah.
"Sorry." ucap Aditya menyentuh kaki Monik. Monik sedikit meringis saat Aditya menyentuh kakinya.
"Tahan sedikit." ucap Aditya yang langsung memutar kaki Monik hingga Monik teriak kesakitan. Monik meneteskan air matanya karena merasakan kakinya sangat sakit.
"Sudah, cobak sedikit digerakkan. Apa masih sakit?" tanya Aditya. Monik menggerakkan kakinya.
"Sudah tidak terlalu sakit." ucap Monik tersenyum.
"Jangan terlalu banyak bergerak dulu, setidaknya istirahat seminggu untuk memulihkan kaki kamu dan jangan sampai bengkak lagi." ucap Aditya.
"Kamu boleh cuti seminggu. Tidak perlu kekampus." ucap Arzu.
"Tidak bisa kak, kakak kan tahu Monik mendapatkan beasiswa. Jadi tidak bisa cuti." ucap Monik menatap Arzu.
"Ya ampun, kenapa kamu harus takut. Calon suami kamu yang punya kampus, jadi santai aja kali." ucap Aditya yang berhasil membuat Monik terkejut.
"Maksudnya kak Arzu yang punya kampus itu?" tanya Monik menatap Arzu tak percaya. Arzu menganggukkan kepalanya.
"Tapi bukannya pemilih kampus itu seorang Profesor? Kalau tidak salah namanya Profesor Samuel." ujar Monik.
"Apa Lo gak cerita tentang Lo sama dia Zu?" tanya Aditya pada Arzu. Arzu hanya diam menatap Aditya dan beralih memandang Monik.
__ADS_1
"Dia papaku Monik." ucap Arzu menggenggam tangan Monik. Monik membulatkan matanya karena terkejut.
"Maaf, aku sama sekali tidak tahu tentang kakak." ucap Monik merasa bersalah.
"Tidak, aku yang salah tidak berterus terang padamu." ucap Arzu menyentuh wajah Monik.
"Ekheemmm... Jadi nyamuk gw." ucap Aditya yang langsung beranjak pergi.
"Apa masih sakit?" tanya Arzu.
"Sedikit." ucap Monik tersenyum pada Arzu.
"Kita pulang." ucap Arzu yang dijawab anggukan oleh Monik. Arzu mengangkat tubuh Monik, Monik yang terkejut kangsung melingkarkan kedua tanganya dileher Arzu.
"Kak turunkan, jika orang lain lihat bagaimana?" ucap Monik saat mereka sudah keluar dari ruangan Arzu.
"Biarkan saja." ucap Arzu menatap lurus kedepan. Monik tidak bisa bicara lagi, ia menenggelamkan wajahnya didada Arzu dan menyunggingkan senyuman.
***
"Cella, ada apa sayang? Kamu menunggu siapa?" tanya Marcel pada Cella putrinya yang terus mondar mandir depan pintu.
"Arzu Pa, tapi dia sama sekali tidak kelihatan." ucap Cella menggigit jarinya.
Marcel menatap putrinya begitu lekat, ia tidak ingin jika cinta putrinya harus bertepuk sebelah tangan seperti dirinya dulu.
"Sudah lah, mungkin dia sibuk tidak bisa datang. Ayok kita langsung mulai saja acaranya." ujar Marcel yang dijawab anggukan oleh Cella. Cella Sangat kecewa karena Arzu tidak menampakkan dirinya.
Cella memotong kue ulang tahunnya dan memberikan pada Mamanya yaitu Juju. Cella tersenyum dan menyuapi Juju dengan lembut.
"Selamat ulang tahun sayang." ucap Juju mencium kedua pipi putrinya.
__ADS_1
"Terimakasih Ma." ucap Cella mencium pipi Juju.
"Maaf kami telat datang."...